
Ali tertegun melihat tubuh Keti yang terbaring di atas ranjang tidur besi yang bersprei warna putih.
Keti yang memakai gaun panjang berwarna putih polos terlihat begitu cantik meskipun dalam keadaan seperti orang yang sedang tertidur pulas.
Ali terkesiap.
Seorang perempuan tua yang telah ia kenal dekat ada bersama Keti.
Dia adalah Simbah Marsinah.
"Simbah?!?"
Ali mencium punggung tangan Simbah Marsinah yang terlihat lebih tua dari sebelumnya. Tatapan matanya tampak begitu lelah. Bahkan setelah netra mereka saling bersirobok, ada cairan bening yang menetes dari kiri kanan bola matanya.
Namun bibirnya bungkam seribu bahasa.
Entah apakah Marsinah kecewa dengan Ali Akbar yang menyebabkan putrinya jadi seperti ini? Semua masih penuh tanda tanya.
"Boleh Ali sentuh tangan Keti, Mbah?" tanya Ali dengan sopan pada Neneknya Keti yang memang benar tidak terlihat tanda-tanda pergerakan nafasnya.
Marsinah mengangguk.
Jemari keriputnya mengusap butiran halus air mata di pipi tirus yang cekung.
Tapi sebelum Ali menyentuh tangan Keti, ia lebih dahulu menggenggam hangat jemari perempuan yang pernah memberinya makan di beberapa kesempatan.
Ali ingin memberi sedikit kekuatan, Tuhan pasti punya rencana lain jauh lebih hebat dan akhir yang indah. Ali ingin berhusnuzon.
Setelah melepas genggamannya pada Marsinah, Ali kemudian meraih jemari dingin milik Keti yang terbujur di atas ranjang.
Keti benar-benar secantik bidadari surga yang sedang istirahat di sana.
Bulu matanya yang lentik membuat Ali memperhatikannya lebih dalam.
Ali mengingat warna kedua bola mata Keti yang mirip orang bule. Warna hijau yang kebiru-biruan. Cantik sekali.
"Keti...! Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi, Aku selalu memohon pada Tuhan. Kuharap doaku dikabulkan Tuhan dan kita semua hidup dalam kebahagiaan."
Kini ia meletakkan kembali tangan Keti di atas tangan satunya di bagian perut Keti yang ramping.
Ali berharap Keti masih bernafas. Berharap Keti sadar dan terbangun dari tidur panjangnya.
Ali sangat ingin Keti kembali hidup seperti dahulu.
"Ali Akbar keturunanku! Ali! Ali Akbar! Dengarlah! Aku adalah Eyangmu. Kamu adalah penerus ku. Kamu harus membuka tabir system galaksi dan lanjutkan terus perjalananmu memasuki setiap pintu portal yang terbuka. Kami semua membutuhkan dirimu. Keti! Keti keturunan Asilah! Bantulah Ali! Bantu cucuku untuk terus mengikuti arahan Sang Maha Pencipta. Tetap berjalan di relnya. Jangan tinggalkan sholat! Jangan lupa mengaji dan mengkaji diri!"
Suara Eyang Toro terasa masih ada diujung telinga Ali. Masih terngiang-ngiang dan masih seperti barusan saja nasehat itu terlontar untuk Ali dan Keti.
Permasalahan ini membuat Ali menghela nafas panjang.
Yadi memberi kode agar Ali segera keluar dari kamar rumahnya. Dan Ali menurut.
"Izinkan Aku mengambil raga Keti dan juga Simbah Marsinah!"
"Barter dengan cermin ajaib!"
Ali menelan ludahnya.
Ia harus mempertahankan cermin ajaib. Harus.
Perjalanannya masih panjang dan jauh. Masih harus terus melakukan perjalanan waktu agar bisa menyelamatkan Keti kembali hidup seperti kisah di masa depannya.
Ali meyakini Keti adalah jodohnya yang wajib Ia perjuangkan.
Meskipun saat ini kondisi Keti terlihat sudah dingin karena meninggal dunia, tapi Ali ingin sekali mengubahnya kembali di tempat yang seharusnya.
Ali menggeleng.
"Tidak."
"Kuberikan kau waktu satu pekan untuk berpikir!"
"Berfikir apa?"
"Berikan cermin ajaib, kau bisa hidup tenang dan bebas tanpa gangguanku! Atau kau lebih memilih hidup seperti sekarang ini? Hidup dalam keadaan tak menentu dan tak tahu apakah kehidupan ini benar atau semu?!? Semua tergantung pilihanmu!"
"Aku pamit permisi.. Akan kukabari langkahku nanti!"
"Kita akan bertemu lagi minggu depan di lapangan sepak bola waktu itu! Jika tidak, Keti benar-benar akan Aku musnahkan jasadnya. Dan kita akan terus hidup seperti ini, selamanya."
Ucapan seorang yang mulai pesimis. Tapi Ali masih belum bisa digoyang keputusannya.
Yadi hanya bisa menatap punggung Ali yang kian menjauh dari rumahnya. Ali melangkah pergi setelah berpamitan pada para sesepuh kampung yang ikut bersama Yadi.
BERSAMBUNG