
Ali menunggu putaran dimensi portal datang. Tapi nyatanya, sampai hari menjelang malam, Dia masih ada di dunianya yang sekarang.
Masih duduk di atas rumah pohon dengan kepala dipenuhi lamunan.
Hingga Maghrib menjelang dan dia pun turun dari rumah pohon.
Ali masuk ke dalam rumah kontrakan keluarganya.
Hatinya diliputi kesedihan, mengingat almarhum Bapak dan almarhumah Ibunya.
Di bukanya lemari kayu yang sudah usang itu untuk mengambil sarung dan peci. Ali ingin pergi sholat di masjid yang tak begitu jauh letaknya dari rumah.
Krieeet...
Mata Ali terbelalak.
Cermin ajaib!?!
Betapa terkejutnya Ia, cermin ajaib ada di balik pintu lemari bututnya.
Dengan jantung berdetak kencang, segera ditutupnya pintu lemari butut itu.
Brukk
Ali menghela nafas sejenak. Memberi jeda pada jiwanya yang sempat guncang.
Dia bergegas pergi ke luar rumah. Menuju masjid karena teringat kembali pesan Eyang Toro.
"Ali! Tetaplah jadi orang baik. Jangan pernah lalaikan perintah Allah. Karena itu semua demi kebaikan dirimu sendiri. Sholat adalah tiang agama. Sebagai penguat imanmu agar tidak mudah lengah. Sehebat apapun dirimu, nol jika kau tidak berpihak kepada keridhoan-Nya. Sesusah apapun dirimu, ketika kamu tetap berpegang teguh bahwa Allah Maha Baik, semuanya perlahan akan bisa kamu atasi. Badai kesulitan akan berlalu berganti dengan kebahagiaan. Percayalah, Allah Maha Baik."
Azan Maghrib baru saja usai.
Ali tidak ingin tertinggal waktu sholat berjamaahnya bersama para tetangga sekitar.
Dia lupakan sarung dan peci hitamnya. Bergegas lanjutkan langkah namun terhadang seseorang.
"Ternyata disini gubuk butut Lo itu!"
Anton Darmawan!
"Selamat datang di gubuk butut gue yang bagi gue adalah istana ternyaman. Tapi sorry, gue mau ke mesjid dulu. Lo mau ikutan ga? Atau berani nunggu?"
Sambutan Ali yang santai tentu saja membuat Anton termangu.
E buset ni bocah! Sekarang ga da takut-takutnya sama gua! Begitu pikir Anton.
Seorang teman yang ternyata sedari tadi berdiri di belakang Anton maju, dan hampir saja akan melayangkan jotosannya ke wajah Ali. Tapi...
Grep.
"Pending dulu, Boss! Ga denger apa Lo suara azan baru beresan? Non muslim Lo ya? Tar kalo Lo udah niatan banget ngehajar gue. Gue laksanakan dulu kewajiban! Bisa kan Lo nahan diri? Anggap ja boker Lo tunda dulu!"
Ali menghempaskan kepalan tangan bodyguard Anton yang melongo.
Dengan langkah santai Ali berjalan meninggalkan Anton dan temannya yang tertegun bingung. Ia berlalu tanpa merasa salah apalagi takut.
"Gila! Bisa-bisanya gue nurut sama tu bocah sampah!" gerutu Anton dengan suara kesal.
"Gimana?" tanya temannya.
"Tunggu dulu! Dia mau sholat katanya!"
"Kita gimana? Gue Islam, bukan non muslim!"
"Serah Lo! Mau sholat? Ya Sono Lo ikutan si sampah itu!" cetus Anton dengan sombongnya.
Temannya pun ikutan melangkah menyusul Ali. Tinggalkan Anton yang jadi bengong. Dan akhirnya celingukan di depan rumah kontrakan Ali.
"Dasar si Pe'a! Gue juga muslim, bukan Non muslim! Ngucluk aja Lo sendirian, ga ajak-ajak gua!" gerutu Anton lagi.
Bulu kuduknya meremang. Bola matanya mengedarkan pandangan. Tiba-tiba suara seperti plastik yang digesek perlahan kian membesar.
Kreseekkk kresekkk kreseekkk
"Hihihihiii... hihihihiii...!!!"
"Anjriiiittt apaan tuh?"
Sontak Ia berlari terbirit-birit. Suara tawa cekikikan dari atas pohon membuat Anton ambil langkah seribu. Ia ketakutan.
........
Seperempat jam kemudian, Ali selesaikan sholat dan doa setelah sholatnya lalu kembali pulang.
"Li!"
Ali menoleh.
Temannya Anton memanggilnya, hingga Ali berdiri menunggu.
"Mana si Anton?" tanya Ali dengan santainya.
"Dia nunggu di depan rumah Lo! Gue kan sholat bareng Lo, tapi di shaf belakang!"
"Oh!"
Keduanya kini berjalan berdampingan.
Seperti dua kawan lama. Tidak terdeteksi pernah ada masalah atau akan ada pertarungan setelah ini.
Sungguh dua orang yang cukup aneh.
Treeet treeet treeet
Ponsel temannya Anton berdering.
"Si Anton!"
Klik.
...[Lo dimana? Gue di depan jalan! Gue tinggalin nih!]...
"Lha? Nton?!? Eksekusi dibatalin nih?"
Klik.
"Dihh?!? Hadeuh, orang kaya mah bebas ya!? Suka-suka Elo aja deh, Nton!"
Ali tersenyum lebar.
"Next time deh, Li! Hehehe..."
"Ga mau ngopi santui dulu nih, di gubuk gue?"
"Thanks, Li! Lain kali deh! Yok, gue pamit. Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam!"
Ali terkekeh sendirian. Menertawakan Anton dan temannya yang akhirnya pergi usai sholat Maghrib berjamaah di masjid.
"Dasar emang orang kaya itu aneh!" gumam Ali.
Krieeet...
"Assalamualaikum!" salam Ali.
"Waalaikum salam!" dijawabnya pun sendiri.
Ia ingat cerita Bapaknya, kalau masuk rumah itu wajib ucapkan salam. Meskipun rumah itu kosong melompong tak ada orang. Karena kemungkinan di dalam rumah, ada makhluk lain yang menghuni meskipun dia makhluk astral yang tak kelihatan.
Ali duduk di atas karpet plastik di ruang tamu.
Menatap pintu rumah yang sengaja Ia buka lebar agar udara masuk ke rumah meskipun tercium bau semriwing, bau-bau sampah.
"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim”
Tiga kali bibirnya membaca ayat kursi lalu meniupkan ke udara.
Ia kembali teringat lemari pakaiannya yang ada cermin ajaib.
Rasa penasaran kembali menyeruak.
Diayunkan langkahnya menuju ruang tengah tempat lemari pakaian berdiri tegak.
Krieeet...
Hati kecilnya mengucap kalimat basmalah.
Matanya terkesiap.
Ali seperti melihat adegan film di layar televisi. Firman... sedang dikeroyok Anton dan lima temannya disaksikan Laila yang menjerit-jerit berteriak minta tolong.
"Firman!!!"
Ali menatap dengan seksama. Tempatnya seperti dia kenal. Lokasi yang tidak begitu jauh dari rumah kontrakannya ini.
Ali berdiri dan berjalan cepat ke luar rumah.
Dia menutup pintu rumah, lalu bergegas pergi.
Langkah cepatnya berubah menjadi cepat dan berubah makin cepat.
Ali berlari dengan segenap kekuatannya.
Wussss...
Suara tawa Anton yang puas karena telah membuat Firman terkapar dengan wajah berlumuran darah.
"Anjinnngggg!!!" pekik Ali naik pitam.
Ia langsung menerjang Anton dan para kroconya.
Bug bug bug bug!
Ali menjotos telak hidung Anton Darmawan hingga mengucur darah segar.
"Bangs++attt!!!"
Dua orang teman Anton berhasil menarik tungkai lengan Ali dan memeganginya dengan kencang.
"Lepas!!! Lepaassss!!!" seru Ali seraya menghentakkan tubuhnya.
Bismillahirrahmanirrahim...
Ali mengerahkan tenaga dalamnya. Dan...
Wussss...
Dua teman Anton seperti kertas yang melayang.
Tentu saja semua orang yang ada di situ bengong terkaget-kaget. Termasuk juga Firman dan Laila yang terduduk di pinggir jalan.
"Weih? Punya ilmu apa Lo sekarang?" teriak Anton mulai was-was.
"Serang dia!!!" perintahnya pada tiga orang temannya yang lain.
Ketiganya langsung maju, hendak merangsek Ali. Tapi...
"Allaaahu Akbaaarrr!!!"
Ali mengerahkan tenaganya. Dia menghentakkan tangan kanan dan...
Wussss...
Ketiga teman Anton seperti terhempas angin yang super kencang dan terbang lalu terhempas berjatuhan dari ketinggian sekitar tiga meteran.
"Siallan!!!"
Anton panik. Dia mulai cari cara untuk kabur melarikan diri. Darah di hidungnya masih mengucur.
"Pergilah! Sudahi kebencianmu padaku, Anton! Hanya karena Aku lemah, tidak pernah melawanmu, sama seperti dirimu yang tak pernah bisa melawan kekejaman kedua orang tua serta saudara-saudaramu yang terus meremehkan dirimu. Jangan hidup terus seperti pecundang! Karena pada akhirnya, kau sendiri yang akan hancur karena hidup terus tanpa ada kebanggaan dan terus-terusan melakukan keburukan! Jadilah orang yang berguna. Minimal untuk dirimu sendiri! Jagalah bakat terbaik yang ada dalam dirimu! Kembangkan itu! Aku yakin, Tuhan Maha Baik. Suatu saat nanti, jika kau teguh pada kemampuan melukis mu,... kau bisa punya perusahaan komik terbesar di Indonesia!"
Ali kini tak lagi pedulikan lagi Anton yang berjongkok dan menangis sesegukan.
Fokusnya kini pada Firman dan Laila.
"Firman!!! Laila, bantu Aku papah Firman! Kita harus bawa dia ke klinik 24 jam!"
Firman pingsan.
Ali cemas sekali melihat keadaan sahabatnya itu.
Sepertinya... Firman luka berat sampai nafasnya terlihat sesak dan berat.
BERSAMBUNG