
Ternyata, Firman sudah pindah rumah! Dia dan ketiga adiknya rupanya diurus oleh istri tua Bapaknya!
"Firman! Tolong jangan jadi provokator dengan menghasut ketiga adikmu! Aku memang membenci ibu kalian, tapi setidaknya kini kita hanya tinggal berempat saja! Setidaknya, hargailah Aku meskipun sedikit. Karena sekarang aku-lah wakil kalian sampai kau cukup umur dan bisa mengurus harta warisan perusahaan percetakan yang bapakmu berikan!"
Ali termenung.
Banyak kisah misteri di kehidupan Firman rupanya.
Ibunya adalah istri muda Bapaknya. Dan ternyata Bapaknya memiliki perusahaan percetakan walaupun masih skala kecil saja.
Aku kembali teringat kepada kedua orang tuaku.
Ketika meninggal dunia tahun 2020 karena virus covid, Bapaknya ternyata memiliki warisan sebuah rumah besar di kampung. Rumah yang sangat besar. Bahkan jika dijual pun harganya bisa sekitar ratusan juta rupiah. Pertanda Bapaknya Ali juga bukan orang biasa.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda itu menghela nafas. Ia hanya bisa menatap Firman yang berjalan menjauh meninggalkan teras rumah mereka.
Ali tidak ingin memanggil Firman.
Hubungan mereka sedang tidak baik, jika sampai mereka berbicara empat mata lagi, kemungkinan bisa menimbulkan keributan besar. Ali tidak inginkan itu.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Ibu tiri Firman terkejut. Ia menatap Ali dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seksama sekali.
"Saya sahabatnya Firman, Bu. Bisakah kita berbincang sebentar?"
Wanita yang diketahui bernama Ratih itu mengangguk.
Ia mempersilahkan Ali duduk di kursi rotan teras rumahnya.
"Saya ikut prihatin, atas wafatnya Ibu dan Bapak Firman."
"Terima kasih. Duduklah. Aku siapkan secangkir teh dulu!"
"Tidak perlu, Bu! Saya hanya ingin berbicara sebentar. Tentang Firman yang berubah jadi seperti sekarang ini.".
Terdengar helaan nafas Ratih.
"Dulu Firman adalah pribadi yang baik. Itu yang saya kenal sedari kecil, Bu!"
Ratih menunduk.
"Dia tidak bisa terima karena Bapaknya menikahi Ibunya dan diberi anak yang banyak. Aku tidak bisa memberi suamiku keturunan. Itu sebabnya, suamiku diam-diam menikah siri dengan ibunya. Dan Allah memberi mereka empat orang anak. Aku pernah melabrak keluarga mereka, sayangnya sangat terlambat. Harusnya Aku melakukan itu ketika anak mereka masih satu atau dua. Mungkin Aku bisa kembali jadi yang satu-satunya. Mungkin! Tapi..., aku tidak seberani itu. Aku selalu dihantui pikiran buruk kalau suamiku justru akan menceraikan Aku dan memilih mereka. Aku menunggu mereka sadar dan bercerai sendiri. Ternyata, cinta mereka semakin kental dan melekat sebab ada empat anak yang dihasilkan dari pernikahan itu. Hingga suatu hari, suamiku meminta kerelaan Aku menandatangani surat pernikahan mereka secara resmi untuk mengurus akta kelahiran putra-putri mereka yang akan sekolah. Firman salah satunya."
Ratih menarik nafas panjang.
Ali menunduk.
"Aku melabrak mereka dan ternyata anak sulung mereka turut ikut campur dalam perseteruan kami padahal Ibunya justru diam seribu bahasa ketika kusebut pelakor, perebut laki orang. Jadi disini siapa yang salah? Aku? Atau dia? Dan disaat Allah kasih lagi kami cobaan yang lebih dahsyat dengan kepergian mereka meninggal dunia karena covid, Firman semakin menyalahkan Aku. Padahal aku mendapat surat kuasa sebagai wali yang wajib bertanggung jawab sampai usianya 25 tahun dan perusahaan percetakan jatuh sepenuhnya ke tangan Firman."
"Siapa namamu, Nak?" tanyanya pada Ali.
"Ali Akbar, Bu!"
"Dulu Aku sangat egois. Tapi setelah melihat kenyataan bahwa hidup ini adalah cuma persimpangan saja, Aku mulai berfikir untuk masa depan di akhirat kelak. Aku terima takdirku mengurus keempat anak maduku. Apakah Aku ini jahat? Tapi ternyata, di Firman yang sudah berumur 19 tahun dan seharusnya bisa berfikir dewasa justru seringkali menghasut ketiga adiknya untuk membangkang kepadaku. Apakah Aku berhak mendapatkan itu? Padahal Aku sudah menyediakan hatiku tersakiti oleh kelakuan suami dan juga Ibunya. Apa kamu bisa mengerti ceritaku?"
Ali terdiam.
Sesungguhnya Ia mengerti.
Sangat mengerti perasaan Ratih.
Dia lah perempuan yang tersakiti tapi justru selalu dituduh sebagai perempuan yang menyakiti.
Mengapa dunia jadi sekejam ini?
Mengapa hidup harus serumit ini?
Mengapa?
Mengapa dirinya harus merubah takdir yang sudah Allah tentukan dengan system Galaksi Kehidupan lewat Cermin Ajaib yang penuh misteri.
Bahkan cermin yang menjadi sarana system Galaksi Kehidupan itu membuat Eyangnya dan Eyang si Yadi bersiteru.
Mungkinkah karena cermin ajaib itu? Adakah misteri lain yang belum terungkap hingga terjadi hal-hal yang mustahil dengan menghilangnya sebagian kehidupan desa Kandut di belahan dunia yang lain?
Ali terkesiap.
Tiba-tiba kepalanya pusing dan...
Wusss wusss wusss
Syuuunggg...
Putaran dimensi lain tiba-tiba membuat tubuhnya kembali tertarik dan...
"Ini adalah waktunya! Apakah kau menyimpan cermin ajaib itu?"
Ali terperangah.
Wajah Yadi ada didepan mata dan sedang menanyainya dengan ratusan orang pendukung Embah Kandut yang rata-rata membawa obor dan senjata tajam.
A_ada apa ini???
BERSAMBUNG