
Ali tertegun ketika membuka pintu rumah kontrakannya.
Ada sosok Keti berdiri memunggungi lengkap dengan seragam putih abu-abu yang panjang. Rambut agak pirangnya lurus diurai.
Seketika jantung Ali berdegup kencang.
Mau apa bocil ini ada di sini?
Keti menoleh ke belakang.
Kini mereka saling bertatapan.
Ali merasa gugup, ingat semalam. Bahkan cangkir teh manisnya nyaris tumpah isinya.
"Ke_Keti? Ngapain ada di sini?" tanya Ali dengan jantung berdebar.
"Nyamper temen!" jawab Keti singkat dan terdengar ketus, dingin.
Ali gelagapan.
Entah mengapa dirinya merasa menjadi orang yang bersalah pada gadis muda yang masih bau kencur itu saat ini.
Ali masuk kembali ke dalam rumah. Tak ingin hatinya berasa diintimidasi.
Dug Dig dag Dig dug
Ali menghela nafasnya panjang.
Laila keluar dari kamar dengan wajah segar.
Ali tersedak melihat tanda merah di ceruk leher dan area dada Laila yang kaos oblongnya berbentuk V.
"Ganti baju, La!" seru Ali panik.
"Kenapa?" tanya Laila bingung. Ia mematut dirinya. Celana seperempat dan kaos oblong besar justru terasa nyaman, tidak memperlihatkan lekuk tubuh.
"Lihat lehermu, Yang!" bisik Ali mulai berani panggil 'Sayang'.
"Haish..."
Laila teringat adegan semalam, juga adegan barusan di pukul enam pagi. Senyumnya mengembang indah.
"Kamu sih, nakal!" ujar Laila kembali ke kamar yang ukurannya sangat kecil itu.
Ali duduk lesehan di ruang tamunya yang hanya ada hamparan permadani kecil yang di bawa Laila dari rumahnya. Tapi permadani tebal dengan harga yang mahal. Bukan permadani sembarangan karena mama Laila pesan langsung di Turki, saat ekonomi mereka sedang di atas daun (hasil dari korupsi).
Ali mengintip dari balik kaca jendela. Tubuh mungil itu kini berdiri menyamping. Senyumnya mengembang indah, membuat Ali seketika merona pipinya. Padahal saat itu Keti sedang tersenyum dengan putri pemilik kontrakan yang tinggal tepat di sebelah. Mereka satu sekolah dan ternyata, Keti sering menyambangi dan mereka berangkat sekolah bersama.
La? Bukannya si Keti itu rumahnya di Menteng katanya kemarin? Menteng ke sini? Lumayan jauh? Dia kan sekolah di SMA Smanit? Kok bisa jauh-jauh pagi-pagi sudah ada dimari?
Seketika Ali berfikir keras namun mata masih tak berkedip menatap Keti.
Tiba-tiba,
Seperti ada setrum listrik tegangan tinggi. Ali merasakan kerongkongannya kering hingga sulit untuk menelan ludah. Keti menatapnya tajam.
Laila sudah keluar kamar.
Kali ini kaos oblongnya v neck nya telah berganti dengan kemeja lengan pendek.
Kancing atas kemeja Laila bahkan dikaitkan setelah Laila melihat noda-noda merah cukup banyak di area lehernya.
"Kamu sih!" tuturnya dengan wajah merah karena malu.
Ali tersipu. Tapi kemudian melemparkan pandangannya ke luar jendela. Sontak Laila ikutan menoleh.
"Hm!"
Deheman khas Laila membuat Ali menunduk.
Wadidau banget ini!!! Hadeuh!
"Keti! Mau berangkat sekolah?" tanya Laila tanpa Ali bisa cegah agar tidak keluar rumah.
Jantung Ali berdegup kencang. Khawatir kedua betina itu saling lempar sindiran dan berakhir jadi huru-hara jenggut-jenggutan.
"Iya, Kak!" jawab Keti sambil tersenyum manis.
"Kalian satu sekolah?" tanya Laila lagi pada Keti dan putri pak Mansyur pemilik kontrakan.
"Satu bangku malah. Hehehe... Kakak baru pindah semalam ya?"
"Iya. Hehehe... Nama Kakak Laila Purnama, suami kakak Ali Akbar. Adek ini namanya siapa?"
"Anggun Chintami. Kak, kami berangkat dulu sekolah, takut telat. Hehehe... Bye!"
"Oh oke, bye!"
Ali lega. Tanpa sadar tersenyum sembari mengusap dada.
"Kenapa gitu? Takut Aku maki-maki bocah ingusan yang naksir kamu itu ya?" tanya Laila setelah kembali masuk rumah dan menutup pintu.
"Dia belum tentu naksir, dia cuma kagum dan menghormatiku karena Aku pernah menolongnya dulu. Kamu kan tau sendiri ceritanya tempo hari itu!" Ali berusaha memberikan pengertian.
"Dia bukan pacar si Anwar. Aku udah desak juga si Anwar via japri. Dia sepupunya."
"Kamu japri Anwar? Tanpa tanya aku dulu?" Ali geram.
Ulala... Baru juga menyandang status bini gue, berani-beraninya dia chatting sama si Anwar!
"Ya cuma gitu aja. Nanya soal si Katrina itu yang kenapa akhir-akhir ini koq kayak sering terlihat wara-wiri di sekitar kita!? Aneh gak sih? Aku sih aneh! Dia mau apa? Harus diselidiki!"
"Itu cuma kebetulan. Kenapa berprasangka buruk sama orang?"
"Jadi kamu nuduh Aku dzolim sama orang karena punya fikiran jelek? Kamu lebih percaya orang ketimbang Aku, sahabat SD mu yang sekarang jadi istrimu ini? Ya Allah ya Tuhanku! Baru kemarin kita nikah, kamu udah berani hardik Aku demi cewek ingusan itu? Ali!!!"
Laila menghentakkan kakinya, kesal.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ini sarapan pagi kita? Ribut karena hal sepele yang ga jelas? Beginilah konsep rumah tangga yang ingin kamu bangun bersamaku?"
Laila yang tadinya hendak beranjak masuk kamar kemudian tertegun bak patung Pancoran.
Ali menghela nafas. Ia berdiri dan menghampiri Laila.
Diusap ujung kepalanya hingga turun ke bawah rambut panjang Laila.
"Cemburu tanda cinta. Aku suka sekali dicemburui. Tapi tolonglah, cemburu kamu sudah sangat berlebihan. Bahkan diawal pernikahan kita yang baru hitungan jam. Bisakah kita singkirkan perasaan yang seperti itu dan berfikir dewasa gimana caranya kita cari makan, bertahan hidup dan bayar kontrakan buat bulan depan?!"
Laila merangkul pinggang Ali.
Terdiam namun matanya basah.
"Jangan tinggalkan Aku! Jangan banding-bandingkan Aku dengan perempuan lain! Jangan pernah melirik perempuan lain sedangkan Aku ada di sampingmu. Tanya perempuan lain! Tanya! Apakah dia akan cuek melihat suaminya mengobrol santai dan terlihat nyaman cenderung senang ketika berbincang dengan perempuan lain!?"
Ali tersenyum geli. Ia menepuk dahinya.
Antara kesal, sebal tapi lucu. Tingkah Laila imut menggemaskan.
"Ternyata begini ya rumah tangga itu! Hadeeuh! Tapi perut ini lapar keroncongan, Istriku Sayang!"
Krucuuuuuk...
Sontak keduanya tertawa.
"Aku juga. Hahaha..."
"Masih ada uang buat beli sarapan kan?" tanya Ali pada Laila.
"Ada. Yuk cari sarapan!"
Keduanya tersenyum penuh arti.
Cup.
Ali mengecup kening Laila tanpa kata, tapi dalam membekas di hati Laila karena sungguh terasa bermakna.
Keduanya saling bergandengan keluar rumah. Mereka berniat ke luar sekitar mencari warung atau apapun orang yang jual sarapan pagi.
BERSAMBUNG