Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 99.


Pukul 6 pagi Yuna sudah selesai membersihkan diri. Setelah mengenakan pakaian dan merapikan rambut, dia berjalan ke kamar si kembar untuk memastikan keduanya tidur kembali setelah menyusu tadi.


Pukul 4 subuh Elga sudah menangis hingga membuat Yuna terbangun dan segera menyusuinya. Dan pukul 5 subuh giliran Edgar yang menangis menyusul adiknya.


Semakin ke sini, Yuna semakin lincah mengurusi kedua anaknya. Tidak ada canggung lagi meski harus merawat dua bayi sekaligus. Bahkan tubuh Yuna semakin semok berisi karena nafsu makannya yang meningkat drastis, kecantikannya kian memancar dengan tubuh bohai nya itu.


Potret terbaru Yuna setelah melahirkan 👇



"Pagi Diah, Lili." sapa Yuna setelah tiba di dapur, lalu menuang teh yang ada di atas meja dan duduk di kursi dapur sembari meneguknya sesekali.


"Pagi Nyonya," sahut kedua wanita itu bersamaan. Keduanya tengah asik menyiapkan bahan yang akan diolah menjadi makanan untuk sarapan pagi ini.


"Ih, cantik banget sih Nyonya Elkan ini. Pagi-pagi udah bikin mata silau aja," seloroh Diah hingga membuat Yuna membelalakkan matanya.


"Apaan sih Diah? Pagi-pagi udah ngelantur aja," keluh Yuna.


Yuna mengalihkan pandangannya ke arah pintu dapur. Nampak Reni yang tengah melangkah ke arah mereka sembari tersenyum kecil.


"Pagi Bu Yuna, Diah, Lili." sapa Reni dengan suara lembutnya.


"Pagi Nyonya Beno," sahut kedua pelayan itu dengan ramah.


"Apaan sih? Kenapa masih manggil Ibu? Kamu ini Nyonya muda di rumah ini, panggil Kakak aja!" terang Yuna.


"Tapi Bu-"


"Gak ada tapi tapi, mulai hari ini panggil Kak Yuna oke!" tegas Yuna.


Seulas senyum terurai di bibir Reni. "Baiklah, Kak Yuna."


"Nah, gitu dong. Itu baru pas," Yuna terkekeh, dia masih tak menyangka bahwa baby sister kedua anaknya itu sekarang sudah resmi menjadi iparnya.


"Duduklah, minum teh dulu biar hangat!" ajak Yuna sembari menuangkan teh ke dalam cangkir, lalu menyodorkannya ke tangan Reni.


Setelah mengambil cangkir itu, Reni duduk di sebelah Yuna. Keduanya asik bercengkrama menceritakan bagaimana Beno bisa tertarik pada wanita itu.


Awalnya Reni terlihat canggung, lama-kelamaan dia mulai leluasa bahkan menceritakan semuanya dari A sampai Z. Yuna nampak antusias mendengar penuturan Reni, dia tidak menyangka bahwa Beno senekat itu. Dia pikir Beno pria yang kalem tapi ternyata lebih beringas dari pada Elkan. Sebelas dua belas lah sama suaminya itu.


Dalam obrolan yang terdengar semakin serius itu, Sari muncul bersama Amit. Keduanya menghampiri Reni dan menyapa Yuna yang mereka tau sebagai nyonya besar di rumah itu.


"Pagi Bu," sapa keduanya bersamaan.


"Pagi juga," Yuna mengukir senyum melihat kedua remaja itu.


Sari menyampaikan maksudnya kepada Reni. Keduanya harus pergi ke sekolah tapi barang-barang dan perlengkapan sekolah mereka masih ada di rumah lama. Reni yang mendengar itu langsung berdiri dan merogoh kantong celananya mengeluarkan selembar uang pecahan ratusan.


"Kalian naik ojek aja ya," ucap Reni sembari menyodorkan uang itu ke tangan Sari.


Yuna menautkan alisnya dan menatap Reni dengan intens. Apa Reni sebodoh itu atau terlalu polos jadi perempuan? Ingin sekali Yuna menjitak kepalanya agar posisi otaknya kembali bergeser pada tempatnya.


"Ngapain naik ojek? Suamimu itu orang kaya Reni, mobilnya aja berjejer di garasi sana. Jangan bodoh-bodoh amat jadi istri!" geram Yuna.


Yuna menggertakkan giginya geram. "Yang nyuruh kamu bangunin dia siapa? Di luar ada sopir, tinggal minta tolong anterin mereka pulang."


"Tapi aku gak enak Kak," sahut Reni.


"Apanya yang gak enak? Sopir digaji buat nganterin kita ke mana-mana." Yuna mengalihkan pandangannya ke arah Lili.


"Lili, minta tolong Pak Zul ngantar mereka pulang! Suruh tungguin, lalu antar ke sekolah mereka. Nanti jam pulang sekolah suruh Pak Zul jemput lagi!" titah Yuna.


"Baik Nyonya," Lili meninggalkan pekerjaannya dan pergi mencari sopir keluarga itu.


"Amit, Sari, nanti pulang sekolah tungguin Pak Zul dulu. Abis itu mampir ke rumah kalian, bawa semua peralatan sekolah dan barang-barang kalian yang dibutuhkan biar besok gak perlu bolak-balik lagi!" jelas Yuna.


"Iya Bu, makasih ya." sahut Amit dan Sari berjamaah.


"Sarapan dulu dikit! Ini teh nya masih hangat, itu ada roti tawar juga di dekat rak. Ambil aja sendiri, gak usah malu-malu!" seru Yuna.


"Iya Bu, sekali lagi makasih."


Reni menatap Yuna dengan intens, dari apa hati wanita itu terbuat hingga begitu baik dan perhatian pada kedua adiknya.


Segera Reni bangkit dan mengambilkan roti itu beserta selai nya sekalian. Reni kemudian menuangkan teh ke dalam cangkir dan menyuruh kedua adiknya mengganjal perut mereka terlebih dahulu.


Usai sarapan, Amit dan Sari berpamitan. Keduanya mencium tangan Reni bergantian, lalu melakukan hal yang sama kepada Yuna. Yuna tersenyum dan mengusap kepala keduanya bergiliran. "Belajar yang rajin ya."


"Iya Bu, kami pergi dulu."


"Hati-hati,"


Reni mengantarkan kedua adiknya sampai halaman rumah hingga masuk ke dalam mobil. Setelah mobil yang dikendarai Pak Zul menghilang, Reni kembali masuk dan membantu Diah Lili menyiapkan sarapan. Sementara Yuna sendiri kembali ke kamar si kembar setelah mengisi perutnya dengan sepotong roti.


Sampai di kamar, Yuna mendapati Elkan yang sudah berdiri sembari menggendong Elga. Nampaknya bayi perempuan itu baru saja menangis hingga membangunkan sang papa yang tadinya masih tertidur.


"Dari mana sayang?" tanya Elkan sembari tersenyum kecil.


"Dari dapur, lapar." sahut Yuna dengan dingin dan mengambil putrinya dari tangan Elkan.


Yuna duduk di sofa dan mengangkat ujung bajunya hingga gundukan kenyal miliknya menganga, lalu menyodorkan pucuk dadanya yang berwarna merah muda itu ke mulut mungil Elga.


Elkan yang melihat itu hanya bisa menelan liurnya dengan susah payah, mendadak tenggorokannya terasa kering. Rasanya sudah lama sekali Elkan tidak mendapatkan itu.


Sejak Reni pergi dari rumah, Yuna agak kerepotan mengurus kedua bayinya. Siangnya waktu Yuna hanya dihabiskan buat si kembar, malamnya Yuna selalu tidur lebih dulu karena kecapean. Elkan tentu saja mengerti dengan keadaan istrinya. Tapi kali ini Elkan rasanya tak sanggup menahan lagi.


Segera Elkan berjalan ke kamar mandi menyiapkan air untuk kedua buah hatinya, lalu keluar menyiapkan baju ganti. Setelah Elga melepaskan hisapannya dari pucuk dada sang mama, Yuna pun membuka pakaian putrinya dan segera memandikannya.


Usai memandikan Elga, Elkan lah yang membalurkan minyak telon ke seluruh tubuh putrinya itu lalu memakaikan pakaiannya. Sementara Yuna sendiri kembali ke kamar mandi untuk memandikan Edgar yang sedari tadi sudah terbangun.


Berbeda dengan Elga, Edgar lebih anteng dan jarang sekali menangis kecuali dalam keadaan haus. Sementara Elga sendiri agak cengeng, mungkin karena tau bahwa dia seorang bayi perempuan. Dia lebih suka berada di gendongan kedua orang tuanya apalagi sang papa yang selalu memanjakannya.


Bersambung...