Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 77.


Pukul 3 sore, rapat dibubarkan setelah mencapai kesepakatan diantara kedua belah pihak. Wanita paruh baya yang bernama Elena itu masih duduk di kursinya setelah memerintahkan asisten dan staf perusahaannya meninggalkan ruangan lebih dulu.


"Maaf Bu, rapat sudah selesai. Ibu sudah bisa meninggalkan ruangan ini, saya pun akan keluar dari sini." seru Beno dengan sopan, bagaimanapun dia tengah berbicara dengan orang tua. Beno harus menghormatinya.


"Sebentar!" tahan Elena yang membuat Beno mengerutkan keningnya.


Ada apa dengan orang tua itu? Beno sama sekali tidak mengerti karena dia baru pertama kali bertemu dengan wanita itu. Perusahaan Golden Star termasuk perusahaan baru di kota ini. Hanya saja perusahaan itu berkembang cukup pesat.


"Duduklah! Aku ingin bicara sedikit pribadi denganmu." ucap Elena dengan tatapan penuh misteri.


Karena penasaran, Beno akhirnya memilih duduk. Dia ingin tau apa yang sebenarnya ingin dibicarakan wanita itu.


"Aku butuh bantuan mu. Kamu anak angkat Bram kan? Anak yang dipungut dari panti asuhan," imbuh Elena.


Lagi-lagi Beno mengerutkan keningnya. Apa sebenarnya maksud wanita itu? Darimana dia tau tentang masa lalu Beno? Kakek Bram saja tidak pernah mengungkapkan kenyataan ini pada orang lain, hanya pengacara keluarga Bramasta yang mengetahui tentang ini.


"Katakan saja apa yang ingin Ibu bicarakan! Aku tidak punya banyak waktu," jawab Beno.


"Sombong sekali gayamu itu. Ingat, kau hanya kacung di perusahaan ini. Jangan berlagak seperti bos besar!" cela Elena dengan senyuman sinis yang membuat Beno mengelus dada. Apa maksudnya bicara seperti itu?


"Ibu benar sekali, aku memang kacung di sini. Lalu apa masalahnya dengan Ibu? Apa posisiku mengganggu ketenangan hidup Ibu? Kita bahkan tidak saling mengenal sebelumnya." jawab Beno mengakui posisinya. Dia tidak pernah menganggap dirinya sebagai bos, selama ini dia hanya melakukan tanggung jawabnya sesuai permintaan sang kakek.


"Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku permisi." Beno memilih bangkit dari duduknya dan meninggalkan wanita itu begitu saja.


"Dasar anak tidak tau di untung!" umpat Elena meneriaki Beno yang sudah tiba di ambang pintu.


Beno mengepalkan tangannya erat. Jika saja yang dihadapinya bukan wanita tua, mungkin sudah dia hajar mulut yang tidak tau sopan santun itu. Beno hanya bisa mengelus dada dan melanjutkan langkahnya menuju lift.


Di ruangan, Beno menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Mimpi apa dia semalam sehingga bisa bertemu wanita tidak tau diri itu. Sudah dandanannya bikin mata sakit, mulutnya juga tajam bak pisau dapur. Mau tertawa tapi Beno takut dosa.


Di waktu yang bersamaan, Yuna mendatangi ruang kerja Elkan dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Nampak Elkan masih fokus dengan layar laptopnya yang masih menyala. Dia bahkan tidak menyadari kedatangan Yuna yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.


"He'emmm...,"


Elkan terperanjat saat mendengar suara dehaman istrinya yang cukup keras.


"Sayang, ngagetin aja ih." keluh Elkan sembari melipat laptopnya.


Yuna menautkan alisnya. "Kenapa laptopnya langsung ditutup? Takut ketahuan ya?"


Yuna meletakkan kopi yang dia bawa di atas meja, kemudian berbalik meninggalkan ruang kerja Elkan begitu saja.


"Sayang, mau kemana? Sini dulu!" seru Elkan.


"Gak ah, takut ganggu." jawab Yuna tanpa menoleh.


Yuna mengayunkan langkahnya menuju kamar si kembar. Perasaannya sedikit gelisah memikirkan gelagat Elkan yang aneh tadi. Apa yang dilakukan Elkan di depan layar laptopnya? Kalau pun sedang bekerja, kenapa harus ditutup saat Yuna datang?


Yuna mungkin masih trauma dengan kejadian waktu itu, bagaimanapun dia pernah memergoki suaminya memeluk wanita lain. Apa tadi suaminya sedang berbalas pesan dengan seseorang? Entahlah, hanya Elkan dan Tuhan lah yang tau.


"Reni, kamu istirahat dulu gih! Biar aku aja yang jagain si kembar," ucap Yuna setelah tiba di kamar kedua bayinya.


"Gak papa Bu, biar aku aja. Sebaiknya Ibu aja yang istirahat, Ibu kelihatannya lelah sekali." jawab Reni.


Yuna tersenyum getir. "Aku bisa istirahat di kamar ini, pergilah! Kamu juga harus istirahat, lagian mereka pada tidur jadi gak perlu dijagain."


"Baik Bu, nanti kalau Ibu butuh sesuatu panggil aku aja ya." Reni meninggalkan kamar si kembar dan masuk ke kamarnya. Dia memang lelah, tapi lelah hati.


Sedari tadi pikiran Reni bercabang entah kemana. Tubuhnya saja yang berada di rumah itu, sementara pikirannya tengah berada di rumah kecilnya. Bagaimana keadaan kedua adiknya yang sekarang sudah tidak bisa bersekolah? Apa mereka sudah makan? Uang dari mana?


Setelah berjalan kaki sekitar lima menit, Beno akhirnya sampai di halaman rumah kecil yang dia datangi kemarin. Beno mengetuk pintu, lima detik kemudian Sari muncul dari balik pintu.


"Bapak, eh Kakak." gumam Sari.


Pintu terbuka lebar, Sari mempersilahkan Beno masuk. Setelah membuka sepatunya, Beno memasuki rumah dan duduk di dasar lantai yang hanya beralaskan tikar.


"Kakak, ada apa ke sini?" tanya Sari.


"Kebetulan lewat tadi, Amit mana?" jawab Beno berbohong, padahal dia sengaja memutar stir mobilnya hanya untuk melihat keadaan kedua remaja itu.


"Kak Amit ke warung, Kakak mau minum?" tawar Sari.


"Gak usah, Kakak gak lama kok. Oh ya, boleh Kakak numpang ke kamar mandi?" tanya Beno yang mendadak kebelet pipis.


"Silahkan Kak, kamar mandinya ada di dapur." Sari menunjuk pintu dapur.


Beno mengangguk pelan, segera dia berdiri dan berjalan ke arah belakang. Betapa terkejutnya Beno saat masuk ke dalam kamar mandi. Kloset duduk yang sudah tidak layak digunakan, lantai yang sudah hancur dan ada bagian dinding yang jebol dan hanya ditutup dengan kain. Belum lagi Beno harus menimba air sebelum melakukan ritualnya.


"Ya ampun, apa mereka gak lelah menimba air setiap waktunya?" Beno menghela nafas berat dan mengusap wajahnya berkali-kali.


Usai membuang apa yang seharusnya dia buang, Beno kembali menuju depan. Baru saja sampai pintu, terdengar suara Sari yang tengah berbicara dengan Amit. Beno pun menahan langkahnya, penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


"Gak ada lagi warung yang mau ngasih kita utang, utang yang lama aja belum dibayar." lirih Amit kepada adiknya.


"Terus gimana dong Kak? Aku lapar banget nih, gak mungkin minta sama Kak Reni. Tadi pagi aja Kak Reni bilang belum ada uang." rengek Sari sambil memegangi perutnya.


"Deg!"


Beno mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Memilukan sekali nasib mereka, rasanya Beno ingin menangis tapi tak sanggup mengeluarkan air matanya.


Beno mencoba mengatur nafas dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


"Amit, kamu udah pulang?" sapa Beno dengan santai.


Amit menautkan alisnya. "Kakak di sini?"


"Iya, tadi kebetulan lewat. Kata Sari kamu tadi ke warung, beli apa?" tanya Beno memancing.


"Oh, bukan Kak. Tadi dari tempat teman," jawab Amit berbohong, dia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya.


"Hmm... Kakak pikir dari warung, soalnya perut Kakak lapar banget. Apa di sini ada warung nasi?" tanya Beno lagi.


"Ada Kak di depan, lurus saja terus belok kiri." sahut Amit.


"Temani Kakak dong, masa' Kakak makan sendirian aja." ajak Beno.


"Kami udah makan tadi Kak," bohong Amit.


"Aduh, maag Kakak kayaknya kambuh nih. Mana gak tau tempatnya lagi," rintih Beno sembari memegangi perutnya.


"Kakak punya penyakit maag? Ya udah, ayo Amit temani!"


"Sari ikut juga ya, ayo!" ajak Beno.


Karena kasihan melihat Beno yang kesakitan, Amit dan Sari akhirnya ikut bersama Beno. Padahal semua ini hanyalah akal-akalan Beno saja agar kedua remaja itu mau ikut bersamanya.


Bersambung...