Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 101.


Pukul 2 siang Elena tiba di kediaman Elkan. Manik matanya berbinar saat pertama kali menatap kediaman mewah itu setelah bertahun-tahun lamanya. Kini kesempatan itu datang lagi, tentu saja dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Apalagi dia tau bahwa Bramasta atau kakek Bram sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Elena turun dibantu Anita yang sengaja memegangi tangannya. Saat hendak melangkah masuk, Elena menepis tangan Anita dan berkata. "Saya bisa jalan sendiri,"


Anita yang mendengar itu langsung saja melepaskan lengan wanita paruh baya itu dan membiarkannya berjalan sendirian. Anita tidak mau masuk dan memilih menunggu di luar saja.


Di dalam sana, ada Reni dan Yuna yang tengah bermain bersama si kembar. Di pangkuan Yuna ada si cengeng Elga dan di pangkuan Reni ada si tampan Edgar. Kedua bayi itu mulai aktif dan sudah bisa merespon guyonan yang dilayangkan Yuna pada mereka. Senyuman keduanya membuat hati Yuna luluh lantah dibakar kebahagiaan.


Sedang asik bermain bersama si kembar, mendadak tawa Yuna terhenti saat menyadari seseorang sudah berdiri di hadapannya dengan style ala-ala tahun 80an. Pakaian dengan warna bertabrakan dengan dandanan menor serta rambut yang mengembang membuat Yuna hampir saja menyemburkan tawanya. Namun sekuat hati dia tahan agar tak menyinggung perasaan orang itu.


"Maaf, Ibu siapa dan cari siapa?" tanya Yuna dengan sopan, dia tentunya sangat penasaran dengan kehadiran wanita asing yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya itu.


Apa wanita itu tidak punya sopan santun sehingga main menyelonong masuk ke dalam rumah orang tanpa salam dan permisi terlebih dahulu? Yuna mengerutkan dahinya bingung.


Elena tak merespon pertanyaan Yuna, dia malah dengan entengnya duduk tanpa dipersilahkan oleh tuan rumah. Hal itu tentu saja membuat Yuna dan Reni kebingungan dan saling menatap satu sama lain.


"Hei, kenapa kalian diam saja? Cepat buatkan aku minuman!" bentak Elena yang sudah seperti nyonya besar di rumah itu.


Lagi-lagi Yuna dan Reni saling melempar pandang. Aneh bin ajaib, tapi begitulah kenyataannya. Mereka dibuat seolah-olah tak berharga di rumah suami mereka sendiri.


"Kalian tuli, cepat buatkan aku minuman!" pekik Elena hingga membuat gendang telinga kedua wanita cantik itu hampir pecah.


"I-iya Bu, tunggu sebentar!" Yuna hendak berdiri namun Reni dengan cepat menahannya.


"Aku aja Kak," ucap Reni, lalu meletakkan Edgar di atas kasur kecil yang terbentang di dasar lantai.


Reni meninggalkan ruangan dan masuk ke dalam dapur. Dengan air muka kesal Reni membuka kulkas dan segera membuatkan minuman dingin untuk wanita yang terlihat seperti nenek lampir itu.


"Siapa Nyonya?" tanya Diah dengan suara pelan.


"Gak tau, datang-datang langsung bikin mood berubah. Kayak orang gak berpendidikan aja," gerutu Reni yang tidak suka melihat sikap arogan wanita tua itu.


"Siapa sih? Udah kayak nyonya besar aja main perintah orang seenaknya." gumam Diah yang juga tidak suka melihat sikap wanita aneh itu.


"Entahlah, mungkin lagi banyak cicilan." sahut Reni sembari menahan tawanya.


"Hahahaha... Bisa jadi," Diah pun ikut tertawa meski dengan suara yang sangat pelan. Jangankan sikap wanita itu, penampilannya saja sudah membuat perut sakit menahan geli.


Usai membuatkan minuman, Reni segera membawanya ke depan. Tak lupa pula dia menaruh cemilan di atas nampan yang ada di tangannya itu.


"Silahkan diminum Bu!" seru Reni setelah menaruh minuman dan cemilan tersebut di atas meja.


Elena menyunggingkan senyuman sinis nya, lalu mengambil gelas yang berisi jus jeruk yang terlihat sangat menyegarkan. Setelah meneguk nya, Elena menatap Yuna dan Reni dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Kalian ini siapa?" tanya Elena dengan air muka keruh seakan tidak suka melihat kedua wanita cantik itu.


Yuna dan Reni kembali saling menatap. Bukankah seharusnya mereka yang mengajukan pertanyaan kepada wanita yang duduk di sofa itu? Tapi kenapa justru wanita tua itu yang bertanya siapa mereka?


"Saya Yuna Bu, istrinya Elkan. Dan ini Reni, istrinya Beno." Yuna memperkenalkan dirinya dan Reni pada wanita itu. "Ibu sendiri siapa? Kami tidak pernah melihat Ibu sebelumnya." imbuh Yuna mempertanyakan siapa wanita asing itu.


Elena mendengus kesal. "Dimana Elkan?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Yuna barusan.


"Elkan masih di kantor Bu. Apa ada pesan untuknya? Nanti saya sampaikan padanya," jawab Yuna yang masih saja bersikap lembut di hadapan wanita itu.


"Tidak perlu, aku akan menunggunya sampai pulang." Elena kembali meneguk minumannya dan bersikap acuh tak acuh begitu saja.


Yuna menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. Kalau dilayani terus pasti akan semakin membuatnya kesal.


"Reni, tolong bawa Edgar ke kamar ya!" pinta Yuna kepada Reni yang tengah memangku putranya.


Reni mengangguk kecil dan berjalan meninggalkan ruangan.


"Maaf Bu, saya tinggal ke kamar sebentar ya. Saya mau menidurkan mereka dulu," ucap Yuna dengan sopan.


Elena mencebik dengan lobang hidung terlihat mengambang.


"Dasar wanita tidak berguna! Kau pikir kau itu siapa? Entah dapat dari mana sehingga Elkan mau menikahi wanita tidak tau diri sepertimu? Apa dia sudah buta? Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dan kaya di luar sana." umpat Elena dengan tatapan sinis nya.


Yuna yang mendengar itu langsung menatapnya dengan tatapan mematikan. Jika saja dia punya tanduk, pasti sudah dia keluarkan lalu menyeruduk wanita tua itu sampai mampus.


"Kenapa menatapku seperti itu? Jika kau tidak suka, pergi saja dari rumah ini! Tinggalkan Elkan! Masih banyak wanita lain yang mau dengannya, bahkan lebih cantik dan berkelas. Tidak seperti dirimu." imbuh Elena hingga membuat Yuna tak tahan lagi mendengarnya.


"Cukup Bu! Tau apa kau tentang kehidupan rumah tangga ku dengan Elkan? Jika kau tidak tau apa-apa, maka sebaiknya diam saja! Tidak perlu mengurusi hidup orang yang sama sekali tidak mengenali dirimu!" ketus Yuna yang mulai tersulut emosi.


Mendadak dadanya terasa panas bak terbakar di atas bara api. Manusia macam apa yang tengah duduk di hadapannya itu? Tidak ada angin tidak ada hujan main nyerocos saja seperti kentut.


"Dasar wanita kurang ajar! Berani sekali kau melawan ku. Tunggu saja Elkan pulang, aku akan memintanya menceraikan mu detik itu juga." bentak Elena dengan suara lantang hingga bergemuruh ke segala penjuru rumah.


"Lakukan saja kalau kau bisa! Jika Elkan sendiri yang menginginkan itu, aku akan pergi dari rumah ini saat itu juga."


"Tap Tap"


Terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arah ruang tengah.


"Siapa yang akan pergi dari rumah ini?" tanya Elkan dengan suara besarnya yang membuat Yuna dan Elena langsung menoleh ke arahnya.


"Elkan-"


Elena berjalan menghampiri Elkan, namun Elkan dengan sigap mengacungkan lima jarinya ke arah Elena. "Tetap di sana!"


Elkan melanjutkan langkahnya dan berjongkok tepat di hadapan Yuna yang tengah berkaca-kaca usai berdebat dengan wanita paruh baya itu.


"Kenapa sedih sayang?" tanya Elkan sembari menyapu pipi Yuna, lalu membawa Yuna ke dalam dekapan dadanya.


"Gak apa-apa. Urus wanita itu, dia menunggumu sedari tadi. Aku ke kamar dulu,"


Setelah mendorong dada Elkan, Yuna bangkit dari duduknya dan membawa Elga ke kamarnya. Sementara Elkan sendiri masih terpaku sembari menatap Elena dengan intens. Selang beberapa detik, Elkan berpindah ke sofa dan mulai mengajukan pertanyaan kepada wanita tua itu.


Bersambung...