
Yuna semakin geram karena sejak tadi ucapan Elkan selalu saja berputar-putar tanpa arah yang jelas, tentu saja membuatnya kian penasaran.
"Mana? Katanya mau ngomong?" desak Yuna sembari memukul dada Elkan.
"Iya sayang, ini mau ngomong. Gak sabaran banget sih,"
Elkan merebahkan diri di atas ranjang, lalu memeluk dan membelai rambut Yuna dengan sayang. Yuna pun menenggelamkan wajahnya di dada Elkan sembari memainkan kancing kemeja suaminya.
"Kalau kita punya anak, kamu maunya berapa?" tanya Elkan yang lagi-lagi belum bisa menjawab rasa penasaran di hati Yuna.
Yuna menautkan alisnya. "Apa kamu mau punya anak dariku?" tanya Yuna balik.
"Hehe, tentu aja aku mau. Anak adalah anugerah, apalagi jika terlahir dari rahim wanita yang sangat aku cintai." ungkap Elkan sembari terus membelai rambut Yuna.
"Dua aja, laki-laki dan perempuan." jawab Yuna tanpa tau tujuan Elkan menanyakan hal itu.
"Hehe... Sama dong," Elkan mempererat pelukannya dan mengecup kening Yuna dengan sayang. Tanpa disadari, air mata Elkan menetes begitu saja hingga mengalir di kening Yuna.
Yuna mendongakkan kepalanya. "Kenapa nangis? Apa dokter mengatakan hal buruk tentang aku? Apa aku tidak bisa hamil?"
Mendadak pikiran buruk itu berkecamuk di benak Yuna. Mungkinkah Elkan sedih karena Yuna tak bisa memberikan keturunan untuknya? Apa Yuna mandul? Atau kecelakaan itu sudah membuat rahim Yuna cidera?
"Sssttt... Ngomong apa sih? Kamu itu wanita sempurna, sangat sempurna." Elkan mengusap wajahnya dan menatap Yuna dengan intim.
"Lalu, kenapa kamu menangis?" tanya Yuna sembari menghapus sisa air mata yang masih menempel di pipi Elkan.
Elkan menangkap tangan Yuna dan menggenggamnya erat, lalu menciumnya penuh rasa haru. Sulit bagi Elkan mengungkapkan kenyataan yang sudah terjadi sebelumnya.
"Aku mencintaimu Yuna, sangat mencintaimu. Jangan pernah berpikir bahwa aku tidak mencintaimu, itu menyakitkan." lirih Elkan berderai air mata.
"Elkan, maafkan aku. Aku takut kamu meninggalkan aku, aku takut kamu menduakan aku. Aku mencintaimu, aku tidak bisa kehilanganmu." Yuna ikut tersedu saking tak kuasa menahan diri.
"Sssttt... Itu tidak akan terjadi! Selamanya aku hanya milikmu, cintaku hanya untukmu. Kamu wanita hebat dan kuat, perjuanganmu tidak akan bisa terbalas dengan apapun. Terima kasih karena sudah berjuang untukku, mencintaiku dengan segala kekuranganku, bahkan menjadikan aku pria paling beruntung di dunia ini." isak Elkan pecah juga tanpa dia sadari.
"Cukup Elkan! Jangan bicara seperti ini lagi, kamu membuatku sedih!" Yuna menutup mulut Elkan karena tak ingin mendengar apa-apa lagi.
Elkan meraih dan menyingkirkan tangan Yuna yang masih menempel di mulutnya. "Jangan ditutup, aku belum selesai bicara!"
"Jika tujuanmu hanya ingin membuatku sedih, sebaiknya gak usah bicara!" ketus Yuna sembari memutar tubuhnya membelakangi Elkan, air matanya ikut mengalir tanpa disengaja.
Elkan mengusap wajahnya berkali-kali, lalu memeluk Yuna dari belakang. "Ada kabar baik yang ingin aku sampaikan padamu, apa kamu tidak ingin mengetahuinya?"
"Gak perlu, aku tidur aja!" Yuna memilih memejamkan matanya dan menutup telinganya.
Segera Elkan menyingkirkan tangan Yuna dari telinganya dan berbisik. "Mama Yuna kok jadi kekanak-kanakan gini sih? Mama gak malu sama baby nya?"
"Deg!"
Yuna terperanjat dengan mata melotot tajam, dia pun berbalik dan menatap Elkan dengan intens.
"Siapa Mama?" tanya Yuna menuntut penjelasan.
Elkan tersenyum dan mengecup bibir Yuna dengan lembut. "Gini ya kalau emak-emak lagi beraksi, bikin suaminya merinding ketakutan." seloroh Elkan sambil tertawa cekikikan.
"Elkannn... Jangan bercanda mulu! Sejak kapan aku jadi emak-emak? Aku masih gadis tau," rengek Yuna dengan manja.
"Gadis dari mananya? Udah jelas peluruku sering nancap di dalam sana." gerutu Elkan sembari menarik hidung Yuna gemas.
"Hehe, aku lupa. Sepertinya kecelakaan itu sudah membuatku kehilangan sebagian ingatanku. Aku bahkan sampai lupa kalau aku punya suami." balas Yuna sembari menahan tawanya.
"Maksudnya?" Yuna menautkan alisnya.
"Sekarang aku udah resmi menjadi seorang Papa dari anak kembar ku yang tampan dan cantik. Ingat, anak kembar! Jadi karena istriku gak ingat sama suaminya, berarti hanya aku yang berhak atas mereka. Papa Elkan, bukan Mama Yuna!"
Kini giliran Elkan yang merajuk dan berbalik memunggungi Yuna. Sementara Yuna sendiri masih kebingungan menelaah kata-kata Elkan barusan.
"Papa Elkan, Mama Yuna?" batin Yuna penuh tanda tanya.
"Sayang...," Yuna mencoba membujuk dan melingkarkan tangannya di pinggang Elkan.
"Jangan pegang-pegang! Gak kenal," ketus Elkan sembari menahan tawanya.
"Sayang, jelasin dulu! Ini maksudnya apa?" rengek Yuna sembari menenggelamkan wajahnya di tengkuk Elkan, sedikit memberi sentuhan hingga bulu kuduk Elkan meremang seketika.
"Uhh...," Elkan menggeliat geli saat merasakan hembusan nafas Yuna yang begitu hangat, rasanya sedikit aneh karena sudah lama sekali tubuhnya tidak merasakan sentuhan itu.
"Kenapa? Geli ya?" seloroh Yuna sembari tertawa terbahak-bahak.
"Hust, jangan begitu tertawanya! Ingat, perutmu baru saja dibedah, nanti jahitannya lepas." seru Elkan sembari berbalik.
Elkan menatap wajah Yuna dengan intim, sudah lama sekali dia tak melihat tawa Yuna selepas itu. Sungguh bahagia sekali Elkan dibuatnya.
"Udah, cukup bercandanya! Kamu harus istirahat, biar cepat sembuh!" ucap Elkan sembari mencubit pipi Yuna gemas.
"Iya, tapi kamu belum ngejelasin yang tadi. Jangan membuatku mati penasaran dong!" ucap Yuna dengan wajah sendunya.
"Kan udah dijelasin sayang, kamu udah jadi Mama dan aku jadi Papa. Bayi kita kembar sesuai keinginan kamu." jelas Elkan.
Bak mimpi yang datang di siang bolong, terasa nyata namun tak berbentuk. Membuat Yuna terharu dan menangis terisak-isak.
"Elkan, jangan bercanda lagi! Dari mana datangnya bayi kembar itu? Kapan aku hamil dan melahirkan?" isak Yuna penuh tanda tanya.
Elkan membawa Yuna ke dalam pelukan dadanya. "Aku juga gak tau sayang. Saat kamu masih koma, dokter bilang bahwa di rahimmu ada janin. Aku juga gak percaya awalnya. Tapi setelah melihat hasil USG, aku baru yakin. Ternyata saat kecelakaan itu kamu udah hamil, kita aja yang gak tau. Aku pun taunya saat usia kandungan mu sudah hampir 4 bulan." Air mata Elkan kembali tumpah menceritakan semuanya.
"Elkan, aku-"
"Sssttt... Sudah cukup bicaranya! Sekarang istirahat dulu ya!"
"Gak mau, aku mau bertemu mereka. Bagaimana mungkin aku tidak tau akan hal ini, Ibu macam apa aku ini?" lirih Yuna yang masih terisak di dada Elkan.
"Bukan salah kamu sayang, ini takdir yang harus kita jalani. Kamu itu Ibu yang hebat. Mengandung dan melahirkan dalam keadaan koma, tidak semua wanita sanggup menghadapi hal seperti ini. Perjuanganmu sungguh luar biasa." Elkan mengecup kening Yuna penuh cinta.
"Elkan, tolong bawa aku bertemu anakku, aku mohon! Bagaimana keadaan mereka? Aku ingin melihat mereka, sekali saja Elkan. Aku mohon!"
Yuna mulai tak terkendali, dia menarik kerah kemeja Elkan dan memukul dada Elkan berkali-kali. Sementara tangisannya sudah pecah memenuhi seisi ruangan.
"Hiks... Hiks...,"
"Tolong aku Elkan, aku mohon!" raung Yuna semakin menjadi-jadi.
"Cukup sayang! Iya, iya, aku akan membawamu ke sana. Sekarang tenangkan dulu hatimu, jangan seperti ini! Pikirkan luka di perutmu!"
Elkan memeluk Yuna dengan erat, dia sadar betul bagaimana perasaan Yuna saat ini. Ada penyesalan saat tak bisa menyaksikan perutnya saat membesar. Ada penyesalan saat tak bisa memberikan asupan vitamin dan gizi yang cukup untuk bayi kembarnya. Kenapa Yuna tidak bisa merasakan itu?
Bersambung...