
Pukul 3 dini hari, Reni mengigau dan berteriak histeris di dalam tidurnya. Wajah gadis itu memerah dengan keringat yang mengucur deras di dahinya. Tua bangka itu nampak jelas tengah berjibaku menggerayangi tubuhnya hingga Reni tak bisa membebaskan diri.
"Jangannnn... Tolongggg... Jangan sentuh aku... Tidakkkk... Jangannnn..."
Igauan Reni terdengar jelas di telinga Beno hingga pria itu tersentak dan terbangun. Beno mengucek matanya perlahan dan menoleh ke arah ranjang. Seketika mata Beno membulat dengan sempurna, dia segera bangkit dan berlari menghampiri Reni.
"Reni, Reni, hei," Beno menepuk-nepuk pipi Reni yang masih bergumam tak karuan.
"Lepas, jangan sentuh aku! Pergi, aku mohon!" igau Reni dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Reni, ini aku Beno. Tidak ada orang lain di sini selain kita berdua." Beno terus saja menepuk pipi Reni agar terbangun dari tidurnya.
Reni tersentak dan membuka matanya lebar. Dia pun terduduk dan menekuk kedua kakinya dengan wajah yang dipenuhi keringat. Reni beringsut mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang.
"Pergi, jangan sentuh aku!" teriak Reni dengan tatapan kosong, sekujur tubuhnya bergetar hebat hingga membuat Beno panik bukan kepalang.
"Reni, ini aku Beno. Kamu jangan takut ya, kamu aman bersamaku."
Reni tak merespon ucapan Beno. Tangan gadis itu bergerak menarik rambutnya sendiri, kemudian menggaruk lehernya dengan kasar untuk menghilangkan bekas sentuhan tua bangka itu. Reni bahkan meremas kedua dadanya hingga membuat Beno kelimpungan.
"Reni, jangan sakiti dirimu sendiri!" Beno mencoba menarik tangan Reni, tapi gadis itu menepisnya dan kembali menyakiti tubuhnya sendiri.
"Reni, lihat aku! Kamu jangan begini!" Suara Beno sedikit meninggi hingga membuat Reni terlonjak dan menatap Beno penuh ketakutan, seketika cairan bening mengalir begitu saja di sudut matanya.
"Jangan dekat-dekat! Aku ini wanita kotor, aku seorang ja*lang." lirih Reni sembari terus menggaruk lehernya hingga terluka, bahkan meremas dadanya hingga tergores.
Geram melihat Reni yang terus saja meracau dan menyakiti tubuhnya sendiri, Beno pun menarik tengkuk Reni dan melu*mat bibirnya dengan rakus. Reni tersadar dan mendorong wajah Beno hingga pagutan nya terlepas.
"Jangan sentuh aku Pak, aku sudah kotor! Menjauhlah dariku, aku menjijikkan!" lirih Reni berderai air mata.
Beno mendekat dan menenggelamkan wajahnya di leher Reni. "Aku akan menghapus jejak pria itu dari tubuhmu, lupakan kejadian itu! Ingat, akulah yang menyentuhmu, hanya aku!"
Segera Beno mengecup setiap inci leher Reni dan menjilatinya tanpa ada yang terlewat. Reni berusaha mendorongnya, tapi Beno malah menekan tubuhnya hingga tersandar pada kepala ranjang.
"Pak, jangan! Ini menjijikkan," lirih Reni sembari terus mendorong pundak Beno.
Beno tak peduli, dia malah semakin gencar membersihkan sisa-sisa sentuhan tua bangka itu. Bahkan tangannya mulai masuk dan meremas kedua dada Reni secara perlahan.
Beno mengangkat kepalanya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Reni.
"Jangan takut, rileks Reni! Ini aku Beno, bukan orang lain."
Beno kembali melu*mat bibir bawah Reni, lalu beralih melu*mat bibir atas Reni penuh kelembutan. Dia mulai memainkan lidahnya dan memasuki mulut Reni menyusuri lidah gadis itu dan menghisapnya tanpa jijik. Sementara tangannya masih asik meremas dada kenyal Reni tanpa henti.
Beno mulai kehilangan kendalinya, aksinya itu justru membuatnya terjerat dalam nafsu yang semakin menuntut di dirinya. Dia menyingkap kaos yang dikenakan Reni hingga dua bola kenyal itu terpampang jelas di depan matanya.
"Pak," lenguh Reni yang ikut terhanyut dalam permainan lembut Beno.
"Beno, panggil aku Beno!" pinta Beno dengan nafas tersengal.
Beno tak kuat lagi melihat godaan indah pada tubuh Reni, bibirnya mendekat dan menjilati ujung dada Reni yang berwarna merah muda itu lalu melahapnya secara bergiliran. Tak berhenti di sana, Beno kemudian mengitari mutiara itu dengan lidahnya lalu menggigitnya hingga Reni menjerit kecil dan mengulum bibir bawahnya.
Beno langsung tersadar saat mendengar jeritan kecil yang lolos dari mulut Reni, lalu menghentikan aksinya. "Maafkan aku,"
Beno menutup dada Reni dan menjauh darinya. Beno tak mengerti kenapa dia sampai bertindak sejauh itu. Apa yang terjadi dengannya sehingga begitu menginginkan tubuh gadis itu?
Reni menekuk wajahnya yang sudah memerah menahan malu. "Apa itu hukuman untukku?" lirih Reni yang kembali menumpahkan air matanya.
Beno bergeming mendengar pertanyaan Reni barusan. Apa kata-kata itu terlalu menyakiti Reni sehingga setiap kali Beno menyentuhnya, pertanyaan itu akan keluar dari mulut gadis itu.
Reni kembali berbaring dengan posisi memunggungi Beno, dadanya mendadak ngilu hingga sekujur tubuhnya jadi merinding. Perasaan macam apa ini? Reni meringkuk di dalam selimut menahan rasa yang entah.
"Sadar Reni, jangan bodoh! Dia menyentuhmu hanya untuk menghilangkan jejak bajingan itu, atau mungkin hanya untuk menghukum mu. Apa yang kau harapkan darinya? Sentuhan itu tidak berarti apa-apa baginya." batin Reni berbicara pada dirinya sendiri.
Reni sadar siapa dirinya dan dimana posisinya, dia tidak boleh berharap lebih untuk hubungan semu ini. Wanita sepertinya tidak pantas menaruh rasa pada pria seperti Beno.
Puas bergelut dalam pemikirannya sendiri, Reni pun tertidur dalam ketidakberdayaannya.
Pukul 6 pagi, Reni terbangun dan mendapati Beno yang masih terlelap di atas sofa. Reni segera bangkit, lalu memberanikan diri merogoh saku celana Beno dengan sangat hati-hati.
Reni menahan nafas saat berhasil menyentuh kunci dan menariknya perlahan. Sayangnya Beno merasakan itu hingga matanya terbuka perlahan.
Reni tergugu saat manik mata mereka saling bertemu. Segera Reni menjauh dan berlari membuka pintu.
"Reni, jangan membuatku marah!" teriak Beno sembari bangkit dari tidurnya.
"Maafkan aku Pak, aku harus pergi. Makasih karena sudah menolongku."
Reni berhasil memutar anak kunci dan membuka pintu kamar itu tergesa-gesa, lalu berlari menjauhi Beno yang nyaris berhasil menangkap dirinya.
Manik mata Reni berguling liar menyisir setiap sudut apartemen, dia kebingungan karena tidak tau dimana letak pintu utama.
Dalam kebingungannya itu, Beno berhasil menangkap dirinya dan memikul tubuh ringkih itu layaknya karung goni.
"Pak, lepasin aku! Aku harus pergi," teriak Reni sembari meronta ronta dan memukuli punggung Beno berkali-kali.
"Enak aja main pergi, kau masih punya hutang padaku." jawab Beno dengan enteng, lalu memikul Reni ke dalam kamar.
Beno menurunkan Reni di atas kasur, kemudian berjalan menuju pintu dan menguncinya.
Tatapan Beno kali ini membuat Reni bergidik ngeri, mata yang tajam dengan rahang mengerat kuat membuat nyali Reni menciut seketika itu juga.
"Pak Beno, maaf. Tolong jangan sakiti aku, aku hanya ingin pergi dari sini." lirih Reni dengan tubuh bergetar ketakutan, dia beringsut mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang.
Beno merangkak naik hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. "Aku akan menghukum mu karena sudah terang-terangan menentang ku." gertak Beno dengan senyuman licik.
Mata Reni membulat dengan sempurna, bibirnya pun menganga saking takutnya. Sementara kedua tangannya langsung bergerak menutupi kedua dadanya.
Bersambung...