
Pukul 7 malam, mobil Beno sudah terparkir di depan kediaman mewah Elkan. Beno turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Reni.
Sementara Amit dan Sari masih terpaku dalam mode diam keduanya. Apa mereka sedang bermimpi tengah melihat sebuah istana megah layaknya negeri dongeng? Baru kali ini mereka melihat rumah semegah itu secara langsung.
Sari mencubit lengan Amit saking tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Aduh, sakit Sari." rintih Amit ketus sembari mengusap lengannya.
"M-maaf Kak," gumam Sari yang kembali tersadar.
"Kalian mau duduk di mobil terus apa mau turun?" tanya Beno yang sudah berdiri di dekat pintu, seulas senyum mengambang di bibirnya melihat kedua adik iparnya itu.
"Amit, Sari, ayo turun! Kok bengong aja sih?" timpal Reni.
"I-iya Kak," sahut keduanya bersamaan.
Amit dan Sari segera turun dengan tatapan penuh kekaguman. Keduanya masih saja tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Rumah dengan arsitektur gaya Eropa itu begitu megah dengan beberapa tiang besar yang menyangga di bagian depan. Cat berwarna putih dengan lampu kuning keemasan, halaman yang luas dan kolam renang yang ada di bagian samping. Terdapat gazebo juga di sampingnya, belum lagi mobil mewah yang berjejer di garasi depan. Membuat mata keduanya terbelalak tanpa kedip.
"Udah, ayo masuk!" ajak Beno sembari menepuk pundak keduanya.
"I-iya Kak,"
Beno menggenggam tangan Reni dan berjalan beberapa langkah di depan keduanya. Amit dan Sari pun mengikutinya dengan tatapan linglung.
Sesampainya di dalam, mereka langsung disambut oleh Yuna dan Elkan. Ada Diah dan Lili juga di belakang keduanya.
"Selamat datang pengantin baru," sapa Yuna yang paling antusias menyambut mereka.
Yuna menyalami Beno dan memberi ucapan selamat, lalu memeluk Reni dengan erat. "Baby sister ponakan ku sekarang jadi istriku. Hahahaha..."
Yuna tertawa terbahak-bahak hingga membuat Reni tersipu malu dengan pipi bersemu merah. "Selamat ya Reni, gak nyangka loh ternyata kalian berdua berjodoh. Kamu gak akan mengundurkan diri kan jadi baby sister nya si kembar?"
"Gak kok Bu, aku suka dengan pekerjaan ini." jawab Reni, kemudian keduanya saling melepaskan pelukan.
"Selamat Ben, Reni, semoga langgeng sampai kakek nenek." timpal Elkan sembari memeluk saudara angkatnya itu.
"Makasih Elkan, kau juga." sahut Beno sambil menepuk punggung Elkan.
"Tuan Beno, Reni, selamat ya." sambung Diah dan Lili bersamaan.
"Makasih Diah, Lili. Setelah ini giliran kalian ya," seloroh Beno sembari tertawa kecil.
"Aku udah patah hati Tuan, susah buat move on." sahut Diah menggoda Beno.
"Hahahaha..."
Gemuruh gelak tawa menggelegar memenuhi seisi ruangan.
Setelah semua duduk di sofa, Beno memperkenalkan kedua adik iparnya kepada Yuna dan Elkan.
"Elkan, Yuna, kenalkan ini Amit dan Sari. Adiknya Reni yang aku ceritakan tadi," seru Beno memperkenalkan mereka.
"Halo Amit, Sari. Masih sekolah?" tanya Yuna.
"Masih Bu, Kak Amit kelas tiga SMA aku kelas satu." jawab Sari gugup.
"Ya udah, sekarang kita makan dulu. Ceritanya nanti aja kita lanjutkan, perutku udah lapar banget." seru Elkan yang memang sudah kelaparan sejak tadi.
"Kebetulan aku juga lapar. Ayo sayang, Amit, Sari." ajak Beno.
Mereka semua berpindah ke meja makan. Sepertinya Diah dan Lili memang sengaja masak banyak untuk menyambut kedatangan Beno dan istrinya yang baru saja menikah kemarin sore, ditambah dua adiknya yang ikut datang bersama. Dua pelayan itu juga ikut makan bersama sesuai permintaan Yuna.
Sepanjang makan malam berlangsung, mata Yuna tak sengaja melihat cincin yang terpasang di jari manis Reni. Tidak lama dia juga melihat kalung yang melingkar di leher pengasuh si kembar itu.
Beruntung sekali Reni mendapatkan suami seperti Beno, pikir Yuna dalam hatinya. Bukannya iri, tapi sebagai seorang wanita dia juga ingin mendapatkan sedikit perhatian lebih seperti yang dilakukan Beno pada istrinya. Sayangnya Elkan tak sepeka saudaranya itu, bahkan setelah hampir satu tahun menikah tangan Yuna masih saja kosong seperti belum ada ikatan apa-apa.
Elkan memperhatikan air muka Yuna yang mendadak keruh. Yuna yang tadinya begitu bahagia, kini langsung berubah sekejap mata? Apa yang dipikirkan olehnya? Elkan merasa aneh melihat perubahan istrinya itu.
Usai makan malam, mereka semua kembali ke ruang keluarga. Diah dan Lili segera menyiapkan teh dan cemilan untuk teman ngobrol mereka semua.
Elkan asik berbincang dengan Beno, sementara Reni masih fokus dengan kedua adiknya. Yuna pamit pergi untuk melihat kedua buah hatinya yang tadi ditinggal tidur olehnya.
Tiba di kamar si kembar, entah kenapa air mata Yuna mengalir begitu saja. Dia tidak cemburu, dia juga tidak iri melihat Beno yang memperlakukan Reni dengan baik. Tapi kenapa dadanya mendadak sesak saat melihat jemarinya yang kosong. Jangankan perhiasan mahal, cincin besi saja tidak ada di jari manisnya.
Apa Yuna egois? Apa hati Yuna kotor? Dari awal dia memang tidak mengharapkan apa-apa dari Elkan, tapi tetap saja ada perasaan kecewa menyelimuti relung hatinya.
Saking larut nya dalam perasaan yang tidak jelas itu, Yuna akhirnya tertidur setelah menyusui kedua buah hatinya.
Di bawah sana, Elkan dan Beno akhirnya sepakat untuk mengajak Amit dan Sari tinggal bersama mereka. Sari bisa menempati kamar Reni dan Amit bisa menempati kamar kosong yang ada di sebelahnya.
Tentu saja hal itu membuat Beno sangat bahagia, saking bahagianya Beno pun memeluk Elkan dengan erat dan mencium pipinya sebagai rasa sayang seorang saudara.
"Kau memang yang terbaik," sanjung Beno yang masih bergelayut di pundak Elkan seperti sepasang kekasih, hal itu mendadak membuat Elkan ilfil.
"Apaan sih Beno? Lebay banget cium-cium segala. Noh, istrimu nganggur tuh." ketus Elkan sembari mendorong Beno dengan kasar. Tentu saja dia ingin menjaga image nya di depan Reni, Amit dan juga Sari.
"Apaan sih? Gitu aja marah," keluh Beno dengan tatapan kesal.
"Reni, jaga suamimu dengan baik! Pastikan dia gak bengkok, main cium-cium seenaknya. Ish..." seloroh Elkan sembari bangkit dari duduknya.
"Bengkok dari Hongkong, tanya aja sama Reni seberapa jantannya aku." geram Beno sembari mengeratkan rahangnya kuat.
"Bukan urusanku. Reni, bawa adikmu ke kamar mereka! Aku mau liat si kembar dulu," Elkan melayangkan tatapan tajamnya ke arah Beno, kemudian berjalan menuju anak tangga.
Beno menyeringai sembari menatap Reni yang tengah menahan tawanya. "Kenapa tertawa? Jangan dengarkan dia, dia itu sudah stres!"
"Sama aja," sahut Reni sembari membungkam mulut agar tawanya tidak kelepasan.
"Awas ya, berani menertawakan aku. Gak akan aku kasih ampun, siap-siap aja!" geram Beno dengan tatapan yang sulit diartikan.
Reni memalingkan wajahnya dan beralih menatap kedua adiknya, kemudian mengantarkan mereka ke kamar masing-masing.
Bersambung...