
Pukul lima sore Elkan dan Amit sudah tiba di kediaman Bramasta. Setelah menyapa si kembar dan mencium kedua buah hatinya itu, Elkan langsung naik ke kamar untuk membersihkan diri. Kebetulan Yuna baru keluar dari kamar mandi dan tengah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
"Mmuach..."
Tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipi Yuna sehingga membuatnya terkejut. Yuna menengadahkan kepalanya dan tersenyum mendapati Elkan yang sudah berdiri di belakangnya.
"Bikin kaget saja Bang, kalau Yuna jantungan gimana?" Yuna mengerucutkan bibirnya sehingga membuat Elkan sangat gemas. Dia mengangkat dagu Yuna dan mengesap bibir istrinya itu dengan lembut.
"Haaaaah..."
Yuna terperangah dan mendorong kepala Elkan. Bagaimana tidak, nafasnya benar-benar dibuat sesak saat dagu Elkan menekan hidungnya. Dia kesulitan mencuri nafas. "Cukup sayang, mandi dulu sana! Pulang-pulang main nyosor saja."
Yuna bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di depan Elkan, lalu tangannya bergerak menyentuh kancing kemeja suaminya itu dan membukanya satu persatu.
Seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan saat menatap wajah Yuna yang begitu dekat dengan dirinya. Gairah nakalnya mendadak menggelora saat ujung-ujung jari Yuna menyentuh permukaan kulitnya.
"Aahhhh..." Elkan menghela nafas berat.
"Sayang..." gumamnya.
Elkan sudah bersiap ingin menerkam istrinya itu, tapi Yuna dengan cepat mendorongnya dan segera menjauh darinya.
"Hahahaha... Selamat menikmati,"
Setelah mengatakan itu, Yuna langsung berjalan meninggalkan kamar. Sebelum menutup pintu, dia mengedipkan sebelah mata ke arah Elkan lalu menjulurkan lidahnya. Tentu saja hal itu membuat Elkan kesal dan mengeratkan rahangnya.
"Dah sayang..." Yuna melambaikan tangannya dan melebarkan senyumnya.
Setelah Yuna benar-benar pergi meninggalkan kamar, Elkan mengukir senyum di bibirnya dan mengacak rambutnya hingga berantakan. Ingin marah tapi tak mungkin, kelakuan konyol istrinya itu sungguh membuatnya gemas sekaligus geram.
Usai membersihkan diri dan mengenakan pakaian santai, Elkan turun dan duduk di ruang keluarga menemani si kembar yang tengah bermain. Seketika rasa lelahnya langsung terobati saat menyaksikan senyum dan tawa kedua buah hatinya yang begitu menggemaskan.
Tidak lama, Yuna keluar dari dapur dan membawa secangkir kopi untuk Elkan. Setelah menaruhnya di atas meja, Yuna kemudian duduk di atas kasur santai yang terbentang di atas karpet. Akhir-akhir ini Yuna memang lebih suka selonjoran di lantai dari pada duduk di sofa, lebih nyaman saja menurutnya.
Setelah meneguk kopi buatan istrinya itu, Elkan turun dari sofa dan membaringkan diri di atas kasur lalu memeluk kedua buah hatinya secara bersamaan. Sesekali dia melirik Yuna yang tengah asik menonton televisi.
"Sayang..." panggil Elkan sambil memiringkan tubuhnya, sikunya bertumpu pada kasur sedangkan kepalanya bertumpu pada telapak tangan.
"Hmm..." gumam Yuna yang masih saja fokus pada layar televisi.
"Sayang, lihat Abang sebentar! Abang mau bicara," Air muka Elkan mulai terlihat serius.
"Kenapa Bang? Bicara saja!" Yuna menoleh ke arah Elkan sejenak, sedetik kemudian Yuna kembali menatap televisi.
Karena merasa tak diacuhkan, Elkan urung mengatakan niatnya. Dia bangkit dari tidurnya dan memilih masuk ke ruang kerja.
Di sana, Elkan membuka layar ponselnya dan mencoba menghubungi Ferry. Sesuai perkataannya di kantor tadi, Elkan ingin menjadikan Yuna sebagai brand ambassador BMS Beauty Glow kembali. Tapi pemotretan akan dilangsungkan di kediamannya saja mengingat si kembar yang masih belum bisa ditinggal.
Ferry menyetujui permintaan Elkan dan itu membuat Elkan bisa bernafas dengan lega. Elkan kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu memejamkan matanya.
Tidak lama, Elkan merasakan ada yang menindih bagian sensitifnya. Matanya langsung terbuka dan mendapati Yuna yang sudah duduk di atas pangkuannya. Yuna mengalungkan tangannya di tengkuk Elkan dan membenamkan wajahnya di leher suaminya itu.
"Abang marah sama Yuna?" tanya Yuna dengan suara tertahan.
Elkan mengukir senyum di bibirnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Yuna. "Tidak, kenapa Abang harus marah sama Yuna?"
"Lalu kenapa Abang ninggalin Yuna tadi?" Yuna mendongakkan kepalanya dan menatap mata Elkan dengan intim.
Yuna menautkan alisnya. " Bantuin apa dulu? Kalau itu lagi Yuna gak mau, capek tau Bang. Seminggu ini sudah full, istirahat dulu ya!"
Mendengar itu, Elkan sontak tertawa terbahak-bahak dan menyentil kening Yuna. "Bukan itu sayang, Yuna mikirnya kejauhan."
"Tapi jangan disentil juga kali Bang, sakit tau." Yuna mengerucutkan bibirnya sambil mengusap keningnya.
"Makanya jangan mikir aneh-aneh!" Elkan mempererat pelukannya dan mengelus rambut Yuna dengan lembut. "Abang butuh Yuna buat jadi brand ambassador BMS Beauty Glow, Yuna mau kan bantuin Abang?"
Yuna lagi-lagi menautkan alisnya. "Kenapa harus Yuna Bang? Bukankah masih banyak model lain?"
"Banyak sih banyak, tapi gak ada yang seperti Yuna. Yuna itu istimewa, Yuna memiliki daya tarik tersendiri yang bisa menghipnotis konsumen dan pasar. Buktinya saat Yuna pertama kali jadi brand ambassador BMS Beauty Glow, penjualan kita jadi meningkat drastis." jelas Elkan.
Seringai tipis melengkung di sudut bibir Yuna saat mendengar pujian dari mulut suaminya itu. "Masa' sih? Perasaan Yuna biasa saja kok."
"Itu kan menurut Yuna, tapi kenyataannya kan memang beda sayang. Tolongin Abang ya, please!" bujuk Elkan.
"Tolongin gak ya," Yuna malah tersenyum lebar hingga memperlihatkan barisan giginya yang sangat rapi.
Tentu saja hal itu membuat Elkan geram, dia menggembungkan pipinya dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Yuna gak mau?"
"Malas, gimana dong?" Yuna mengulum senyumannya setelah mengatakan itu.
"Ya sudah kalau Yuna gak mau, terpaksa Abang nyari model papan atas yang cantik dan seksi. Kali ini Abang sendiri yang akan turun tangan, Abang juga yang akan menemani dia saat pemotretan dan pembuatan video." Elkan sengaja memanasi Yuna, dia tau Yuna tidak akan rela jika dirinya dekat dengan wanita lain. "Oh ya, nanti model pria nya Abang sendiri loh. Jadi kalau ada adegan yang sedikit panas, Yuna jangan marah ya!" imbuh Elkan sambil menahan tawanya.
Yuna menggertakkan giginya saat mendengar itu. "Maksud Abang, Abang dan wanita itu yang akan menjadi modelnya?"
"Hmm... Benar sekali." Elkan melepaskan pelukannya dan merentangkan kedua tangannya. "Abang mau menghubungi Ferry dulu, biar dia yang menghubungi model seksi itu."
Elkan meraih ponselnya yang ada di atas meja. Baru saja dia ingin menyalakan ponsel itu, Yuna langsung merampasnya dan melemparnya ke sofa.
"Bug!"
"Yuna...???"
Elkan mengerutkan keningnya dan menatap Yuna dengan tatapan bingung.
"Tidak masalah jika Abang ingin memakai model cantik dan seksi sekali pun, tapi kenapa harus Abang yang jadi model pria nya?" geram Yuna dengan mata merah menyala.
Elkan mengulum senyumannya. "Karena tubuh Abang sangat cocok dengan visual yang dicari. Kata Ferry pemotretan kali ini harus menampakkan sebagian tubuh pria nya, siapa lagi kalau bukan Abang? Lagian ini untuk menghemat pengeluaran setelah perusahaan mengalami kerugian kemarin." jelas Elkan.
Mendengar itu, mata Yuna tiba-tiba membulat dengan sempurna. Ingin sekali dia mencakar wajah Elkan sampai hancur hingga ketampanannya hilang saat ini juga.
"Yuna tenang saja, palingan cuma adegan pelukan terus-"
"Pelukan kata Abang," Yuna menggembungkan pipinya sambil mengepalkan tangannya lalu memukul dada Elkan berulang kali.
"Gedebug!"
"Plaaak!"
"Sedikit saja kulit Abang disentuh sama wanita lain, jangan harap Yuna akan mengampuni Abang setelah itu!" Yuna bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang kerja Elkan sambil menghentakkan kakinya. "Suami tidak tau diri," umpat Yuna dengan suara sangat lantang.
Elkan hanya tersenyum melihat kemarahan istrinya itu.
Bersambung...