Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 52.


Sebelum jam makan siang tiba, Elkan dan Beno sudah keluar dari ruang rapat. Wajahnya nampak berbinar setelah menekan kontrak dengan perusahaan yang terbilang cukup sukses di ibukota. Tentunya akan semakin menguntungkan untuk perusahaannya.


Setelah tiba di ruangan, Elkan duduk di kursi kebesarannya sambil membuka laptop yang ada di atas meja. Penasaran, akhirnya dia pun membuka akun sosmed miliknya. Awalnya hanya berniat melihat postingan Yuna yang kini sudah kembali aktif berbagi konten dengan followers nya, namun pandangannya tiba-tiba teralihkan saat postingan seseorang muncul di berandanya.


"Deg!"


Mata Elkan membulat sempurna, detak jantung mendadak bergemuruh tak tentu arah. Kaget, sedih, namun ada kebahagiaan yang terasa. Setelah sekian lama kehilangan kontak, kini bisa melihat kembali senyuman itu.


"Laura...?" Elkan memandangi foto tersebut dengan intens. Tak ada yang berubah, masih saja cantik seperti sebelumnya.


Sesaat, Elkan seperti kehilangan jati dirinya, lupa kalau dirinya adalah seorang pria yang sudah beristri.


"Astaga, apa yang aku pikirkan?" Elkan dengan segera menutup laptopnya, menghela nafas berat dan mengusap wajahnya berkali-kali.


"Tok Tok Tok"


Kembali Elkan terlonjak saat suara ketukan pintu mengagetkan dirinya.


"Siapa?" teriak Elkan dengan lantang.


"Andin Tuan," sahut sekretaris Beno dari luar sana.


"Masuklah!"


Setelah mendapat izin, Andin mendorong pintu secara perlahan. Menundukkan pandangannya saat sudah berdiri di ambang pintu.


"Maaf Tuan, ada tamu yang ingin bertemu." jelas Andin mengatakan maksud kedatangannya.


"Siapa? Apa hari ini aku ada janji?" cerca Elkan dengan pertanyaan.


"Tidak Tuan, hari ini tidak ada pertemuan apapun. Namun wanita ini mendesak ingin bertemu Tuan." jelas Andin yang masih setia menundukkan pandangannya.


"Wanita?" Elkan mengerutkan keningnya. Siapa wanita yang ingin bertemu dengan dirinya?


Belum sempat Andin mengatakan siapa wanita tersebut, seorang wanita sudah berdiri di belakangnya.


"Aku Elkan, Laura." timpal Laura sembari tersenyum dengan manisnya.


"Deg!"


Elkan ternganga dengan mata terbelalak, suara lembut itu membuat jantungnya seakan berhenti untuk berdetak.


"Mbak Andin, bisa tinggalkan kami sebentar!" pinta Laura sembari berjalan beberapa langkah.


"Baik Nona, kalau begitu saya permisi dulu."


Setelah Andin berbalik meninggalkan ruangan, Laura kembali melangkah mendekati Elkan. Elkan hanya membeku menatap lekat wajah wanita yang sudah berdiri di hadapannya itu.


"Apa aku boleh duduk?" tanya Laura membuyarkan lamunan Elkan.


"Bo-boleh, silahkan!" Elkan menunjuk kursi yang ada di hadapannya, Laura pun duduk sembari terus memandangi wajah Elkan. Ada kerinduan yang begitu mendalam melihat pria tampan yang masih mengisi hatinya hingga saat ini.


Sejenak ruangan tersebut menjadi hening, baik Elkan maupun Laura sama-sama terdiam untuk sesaat. Tatapan keduanya menyatu mengingatkan masa-masa indah saat masih bersama dulu.


"Bagaimana kabarmu Elkan?" tanya Laura membuka percakapan.


"Baik, kau sendiri bagaimana?" jawab Elkan dengan pertanyaan pula.


Laura kembali tersenyum. "Maaf sudah membuatmu terkejut karena kedatanganku yang tiba-tiba,"


"Ya, tidak masalah. Ada keperluan apa?" tanya Elkan yang tidak ingin berbasa-basi lebih lama lagi.


"Tidak ada, aku hanya ingin melihatmu saja. Maaf, sebenarnya aku-"


"Untuk apa minta maaf? Aku sudah melupakan itu, lagian tidak mungkin menyimpan dendam begitu lama." timpal Elkan memotong perkataan Laura.


"Aku tau, aku bersalah padamu. Waktu itu Ayah yang mendesak ku untuk mengatakan itu."


"Aku minta maaf Elkan, bisakah kita-"


"Aku sudah memaafkan mu, tidak perlu merasa bersalah padaku!" potong Elkan yang lagi-lagi tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Laura.


"Tapi aku-"


"Maaf Laura, aku sedang sibuk. Bisakah tinggalkan aku sendiri?" Elkan membuka laptopnya kembali, berusaha mencari celah untuk bisa menghindar dari Laura.


"Elkan-"


"Maaf, pintunya ada di sana!" Elkan menunjuk arah pintu dengan pulpen yang ada di tangannya.


"Baiklah, aku pulang dulu. Nanti aku akan kembali, masih banyak yang ingin aku bicarakan denganmu."


Laura ingin sekali menangis, namun semua itu dia tahan agar Elkan tak melihatnya. Setelah bangkit dari duduknya, Laura pun berjalan meninggalkan ruangan dengan hati gundah gulana.


Andai saja waktu itu dia tidak menuruti keinginan sang ayah, mungkin keadaannya akan berbeda. Pasti keduanya kini tengah berbahagia memadu kasih yang sudah dijalin sejak duduk di bangku SMP.


Setelah kepergian Laura, Elkan melangkah memasuki kamar mandi. Sedih, kesal, bahagia, bingung, semua membaur menjadi satu.


"Kenapa kau kembali Laura? Kenapa?" Elkan mengacak rambutnya dengan kasar. Frustasi, tentu saja iya. Setelah tenang menjalin kehidupan baru bersama Yuna, kenapa masa lalu itu kembali datang. Tidak bisakah Elkan bahagia untuk sedetik saja?


Elkan menyalakan kran dan mengguyur wajahnya hingga basah. Kepalanya seakan ingin pecah mengeluarkan semua isi otaknya hingga berhamburan keluar.


Apa yang harus dia lakukan? Tidak tega menyakiti hati Yuna, namun tidak sanggup pula menolak kedatangan Laura.


"Hukuman apa ini? Kenapa semua jadi menyedihkan seperti ini?" Elkan lagi-lagi berdebat dengan pemikirannya sendiri.


Di satu sisi, Laura adalah cinta pertama baginya. Wanita yang pernah mengisi hidupnya selama beberapa tahun, memberikan kebahagiaan menikmati saat-saat remaja hingga beranjak dewasa.


Namun di sisi lain, Yuna adalah cinta yang datang mengisi kehampaan hidupnya. Memberi kebahagiaan saat hatinya masih dikuasai dendam yang menyala. Ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya, dibohongi dengan alasan yang begitu menyakitkan.


Lima tahun Elkan hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang menyedihkan. Menganggap wanita yang dia cintai berkhianat dengan menikahi pria yang lebih kaya darinya.


Namun kini kenyataan terungkap dengan sendirinya. Tidak ada pengkhianatan, wanita itu hanya pergi meraih cita-cita dan keinginan orang tuanya. Meninggalkan bekas luka yang masih menganga di hati Elkan hingga saat ini.


Sore hari, Elkan meninggalkan perusahaan tanpa sepengetahuan Beno. Menepikan mobilnya di pinggir jalanan yang tengah ramai dilalui kendaraan.


Hingga terang berganti gelap, Elkan memarkirkan mobilnya di depan sebuah klub malam. Duduk di meja bartender dan meminta segelas minuman. Perasaan yang tengah kacau membuatnya lupa kalau ada seseorang yang tengah menantikan dirinya di rumah sana.


Larut dalam kegundahan hati yang kian mendera, membuatnya tak sadar telah menghabiskan begitu banyak minuman. Hingga pada akhirnya tubuh ringkih itu tak sanggup lagi menopang bobot tubuhnya.


"Bug!"


Tersungkur di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. Teriakan para tamu menggelegar melihat pemandangan memilukan itu.


Beberapa orang berlarian mengerumuni tubuh ringkih itu. "Bukankah ini CEO Bramasta Corp?"


Mata yang lainnya menatap ke arah sumber suara. "Anda kenal?"


"Tidak, tapi saya kenal dengan saudaranya." jawab pria itu.


"Kalau begitu cepat hubungi dia! Kasihan pria ini," sorak yang lainnya.


Dengan segera pria itu merogoh kantong celananya, mengeluarkan sebuah ponsel dan menghubungi Beno secepatnya.


Beberapa menit setelah menceritakan keadaan Elkan kepada Beno, pria itu menutup sambungan teleponnya secara sepihak.


"Yang lain, tolong bantu aku memindahkan tubuh pria ini!"


Beberapa orang pria yang ada di sana pun mengangkat tubuh Elkan dan membaringkannya di atas sofa.


Bersambung...