Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 64.


Lama Elkan termenung menyesali kesalahannya, tidak menyangka hal yang dianggapnya kecil justru begitu menyakitkan bagi Yuna.


Jika saja waktu bisa diulang, Elkan tidak mungkin membiarkan Yuna salah paham dengan kejadian itu. Dia menyadari kebodohannya yang sempat meragukan perasaannya sendiri. Hal itu justru menjadi boomerang dalam rumah tangganya.


"Aku tau aku salah, tapi percayalah cintaku hanya untukmu seorang. Aku tidak membaginya ataupun menguranginya. Demi Tuhan Yuna, aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam." ungkap Elkan berlinang air mata.


Yuna menutup telinganya dan mencoba bangkit dari duduknya. Namun saat menggerakkan kakinya, mendadak perutnya terasa ngilu hingga dia pun urung menuruni ranjang.


"Akhh... Kenapa perutku sakit sekali?" rintih Yuna sembari menyentuh permukaan perutnya dan meringis kesakitan.


Elkan terperanjat dan dengan cepat menahan tubuh Yuna. "Jangan bergerak dulu! Perutmu masih terluka, kamu baru saja menjalani operasi." jelas Elkan, kemudian membawa Yuna ke dalam dekapan dadanya.


"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku harus di operasi?" lirih Yuna sembari memukul dada Elkan dengan kuat.


"Sssttt... Aku akan menceritakan semuanya, sekarang kamu tenang dulu ya!" bujuk Elkan sembari mengusap kepala Yuna dan mengecupnya dengan sayang.


Yuna mengerti dan memilih diam di dalam pelukan Elkan. Sebenarnya dia sangat merindukan sentuhan itu, rasanya sudah lama sekali dia tak merasakan hangatnya pelukan itu.


"Apa yang terjadi Elkan?" lirih Yuna sembari mendongakkan kepalanya.


"Hehe, peluk aku dulu! Aku sangat merindukanmu, sudah lama sekali aku menantikan saat-saat seperti ini."


Elkan mempererat pelukannya dan membiarkan bibirnya menempel di kening Yuna. Terpaksa Yuna menuruti keinginan Elkan dan memeluknya karena penasaran dengan apa yang ingin diceritakan oleh suaminya itu.


"Kamu tau gak?" ucap Elkan.


Yuna menggelengkan kepalanya, mana dia tau sementara Elkan saja belum mengatakan apa-apa padanya.


"Sudah tujuh bulan lebih kamu di sini dalam tidur yang sangat panjang. Dan selama itu pula aku di sini menunggumu tanpa lelah. Meskipun kata dokter harapanmu untuk bertahan sudah tidak ada, tapi aku sangat yakin kalau kamu akan sadar dan kembali padaku seperti saat ini." jelas Elkan.


"Tujuh bulan?" Yuna menautkan alisnya.


"Iya, tujuh bulan. Sekarang coba kamu pikir! Jika aku tidak mencintaimu, untuk apa aku menghabiskan waktu selama itu hanya untuk menunggumu? Aku tidak pernah pulang ke rumah, aku juga tidak pernah ke kantor. Keluar dari rumah sakit ini aja tidak pernah." ungkap Elkan.


"Kenapa?" tanya Yuna penasaran.


"Karena aku sangat mencintaimu, aku ingin menjagamu dengan tanganku sendiri. Aku tidak sanggup kehilangan cintaku, apalagi kamu sudah memberiku anugerah yang begitu indah. Tidak akan ternilai jika dibandingkan dengan kekuasaan yang aku miliki." jelas Elkan.


Kembali Yuna menautkan alisnya. "Aku tidak mengerti,"


"Hehe, tentu saja kamu tidak mengerti. Kamu kan tidak tau apa-apa, bahkan mungkin tidak menyadarinya." Elkan tersenyum dan menarik hidung Yuna gemas.


"Jangan berbelit-belit Elkan, katakan saja dengan jelas!" desak Yuna yang semakin penasaran dengan teka teki yang dilontarkan Elkan padanya.


"Hehe, cium dulu dong!" seloroh Elkan sembari memajukan bibirnya.


"Gak mau, jelasin dulu!" paksa Yuna.


"Ya udah kalau gak mau, berarti aku tidak jadi mengatakannya." goda Elkan sembari tersenyum kecil.


"Elkan, jangan gitu! Katakan dulu!" rengek Yuna dengan manjanya.


"Cium dulu sayang! Aku sudah lama tidak merasakannya, apa bibir ini masih manis seperti sebelumnya?" Elkan pun menyentuh bibir Yuna dengan jemarinya.


"Curang," Yuna memanyunkan bibirnya.


"Sama aja," ketus Yuna.


"Ya udah kalau gak mau, aku mau nyium gadis lain aja di luar sana!" Elkan melepaskan pelukannya dan menjauh dari Yuna.


"Elkannnnn...," geram Yuna dengan tatapan membunuhnya.


"Kenapa sayang?" jawab Elkan dengan entengnya.


"Kamu yakin ingin mencium gadis lain?" gerutu Yuna.


"Iya, emangnya kenapa?" sahut Elkan dengan santainya.


"Huuuu... Kamu bohong, katanya hanya mencintaiku." raung Yuna menangisi keputusan Elkan.


"Salah sendiri, kenapa sok jual mahal padaku?" Elkan mengulum senyumannya menahan tawa yang sudah menggelitik di perutnya.


"Huuuu... Huuuu...,"


"Pulangkan saja aku pada Ayah! Aku tidak mau lagi jadi istrimu," isak Yuna menahan kekecewaan di hatinya.


"Kamu yakin?" tanya Elkan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Huuuu... Elkan, kenapa kau jahat banget sih? Apa aku tidak cukup bagimu? Apa lagi yang kau cari dari gadis lain? Kurang apa aku? Apa wajahku kurang cantik? Apa tubuhku kurang bahenol? Apa rasaku tidak enak?" cerca Yuna dengan segala macam pertanyaan yang membuat Elkan tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha...,"


Segera Elkan menarik tengkuk Yuna dan melahap bibir ranum itu dengan rakus, lama sekali Elkan menahan diri dan kini dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Elkan melu*matnya penuh kelembutan, melepaskan dahaga yang selama ini tertahan. Membelit lidah Yuna dan meneguk ludah istrinya tanpa jijik.


"Cukup Elkan, dadaku sesak!" gumam Yuna yang kesulitan mencuri nafas.


"Hehe, maafkan suamimu ini ya. Aku terbawa suasana, abisnya kamu tega banget ngebiarin aku menderita sendirian. Aku rindu, aku tidak bisa hidup tanpamu." Kembali Elkan membawa Yuna ke dalam dekapan dadanya. Melepaskan rasa sakit dan lelah yang selama ini dia tahan.


Yuna sangat mengerti bagaimana perasaan Elkan saat ini, tujuh bulan lebih memang bukan waktu yang singkat bagi Elkan untuk bersabar menantikan dirinya. Yuna justru merasa terharu, bagaimana bisa dia berpikir bahwa Elkan tidak mencintainya.


"Elkan, sekarang katakan padaku! Anugerah apa yang kamu maksud tadi?" desak Yuna sembari melingkarkan tangannya di pinggang Elkan.


"Mau tau aja, apa mau tau banget?" seloroh Elkan, lalu mengecup kening Yuna dengan sayang.


"Elkannnnn...," rengek Yuna.


"Hehe, iya sayang. Aku akan memberitahukannya padamu, tapi jangan panggil Elkan lagi! Panggil Mas, Abang, Kakak, atau sayang dulu! Terserah mana yang menurutmu nyaman." Lagi-lagi Elkan membuat Yuna naik pitam, banyak sekali syarat yang harus dia lakukan hanya demi satu jawaban yang membuat Yuna penasaran.


"Iya sayang, ayo katakan padaku!" Tidak sulit bagi Yuna mengatakan itu karena sebelum kecelakaan terjadi, Yuna pun sudah sering memanggil Elkan dengan sebutan sayang.


"Hmmm, senang banget rasanya di panggil sayang setelah sekian lama." Elkan pun menghela nafas panjang lalu membuangnya pelan.


Elkan kemudian meletakkan tangannya di perut Yuna dan mengusapnya perlahan. Yuna tidak hanya membuatnya jatuh cinta sekali, tapi berkali-kali. Dan kini cinta itu semakin tumbuh dan bersemi di hati Elkan. Tidak ada keraguan lagi di dirinya karena Yuna sudah menjadikannya pria paling bahagia di dunia ini.


Begitu besar perjuangan yang harus dilalui Yuna karena ulahnya. Dia tidak hanya membuat Yuna celaka, tapi dia juga sudah menanam bibitnya hingga Yuna harus berjuang mengandung dan melahirkan putra putrinya tanpa sadar. Sampai detik ini pun Yuna belum menyadarinya.


Bersambung...