Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 53.


Satu jam berlalu, Elkan mulai sadar dan memijat kepalanya yang masih berputar-putar. Sadar akan dirinya yang tengah dikerumuni banyak orang, Elkan berusaha bangkit dan menyandarkan punggungnya pada tampuk sofa.


"Apa yang terjadi?" lirih Elkan dengan suara tertahan, namun masih setia memijat kepalanya.


"Kau ini bodoh atau apa sih? Apa yang kau lakukan di sini? Memalukan!" Sindiran pedas dari mulut Beno membuat Elkan terdiam tanpa kata.


"Ayo pulang!" Beno menarik paksa Elkan dengan kasar hingga tubuh Elkan hampir tersungkur di lantai. Untung saja Beno menahannya dengan kuat.


"Makanya kalau berbuat sesuatu itu dipikir dulu pakai otak!" Kekesalan Beno semakin menjadi-jadi, mulutnya terus saja meracau merutuki kebodohan Elkan yang hakiki.


Sampai di mobil, Beno mendorong Elkan hingga terperosot. Kepalanya membentur rem tangan sehingga meninggalkan sedikit goresan di keningnya.


"Andai saja aku tidak berjanji pada Kakek untuk menjagamu, sudah aku biarkan kau mati di dalam sana!" Lagi-lagi Beno meluapkan kekesalannya saat duduk di bangku kemudi.


Elkan terdiam tanpa kata, dia hanya fokus memegangi kepalanya yang masih berputar-putar.


"Apa yang membuatmu sampai seperti ini hah?" tanya Beno. "Jangan bilang kalau kau sudah bertemu dengan Laura!" tebak Beno dengan tatapan mematikan.


"Kau benar," Elkan tak menampik, yang dikatakan Beno memang benar adanya.


"Goblok!" Beno ingin sekali menghajar Elkan saat ini juga, tidak apa berbuat kasar asal otak Elkan kembali normal seperti sebelumnya.


"Sadar Elkan, Laura itu bukan siapa-siapa lagi bagimu." Beno memutar leher menatap dalam mata Elkan.


"Sekarang kau sudah punya Yuna, tidak ada wanita lain sebaik dia. Meski sudah kau sakiti, kau hina dengan segala tuduhan yang menyakitkan, dia masih memberimu kesempatan kedua." Beno mengusap wajahnya berkali-kali, bingung bagaimana meyakinkan Elkan bahwa Yuna lah yang terbaik untuk dirinya.


"Ini kali terakhir aku memperingatkan mu. Tidak akan ada kesempatan ketiga jika sekali lagi kau berani menyakiti hati Yuna, ingat itu!"


Beno menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan parkiran. Sementara mobil Elkan sudah dibawa oleh sopir yang datang bersama Beno.


Setibanya di rumah, Beno memapah Elkan menuju kamar. Setelah mengetuk pintu dan memberikan Elkan kepada Yuna, Beno pun berlalu tanpa sepatah katapun.


Yuna memeluk pinggang Elkan dan membaringkannya di atas kasur, lalu berlari ke kamar mandi membasahi handuk kecil. Menyapu wajah Elkan yang nampak begitu kusut, tak lupa mengelap leher Elkan yang begitu berkeringat.


"Elkan, kamu kenapa?" lirih Yuna dengan tatapan sendu. Dia tau Elkan mabuk, tapi kenapa? Apa karena pertengkaran kecil tadi pagi?


"Elkan, bangunlah! Buka matamu!" pinta Yuna yang tak kuasa melihat keadaan suaminya.


"Elkan, bangun! Maafkan aku," lirih Yuna yang terdengar begitu pilu. Setetes cairan bening jatuh begitu saja di sudut matanya.


"Kenapa kau kembali Laura? Kenapa? Kau sudah menyakiti hatiku, mengkhianati cintaku. Kenapa kini datang lagi?"


"Deg!"


Yuna terperanjat dengan mata terbelalak, segera dia menjauh dari Elkan dengan bibir bergetar hebat.


"Laura?" Mendadak air mata Yuna tumpah sebanyak-banyaknya, terduduk lesu di dasar lantai sembari memeluk lututnya. Tak percaya, tapi ini nyata.


"Laura?"


"Laura?"


Berkali-kali Yuna mengulang menyebut nama itu. Salahkan jika dada Yuna sesak mendengarnya? Salahkan jika hati Yuna perih dibuatnya?


"Apa dia kembali? Cintamu sudah kembali? Lalu bagaimana dengan aku? Siapa aku? Apa aku hanya orang ketiga diantara kalian? Segitu besarkan cintamu padanya hingga nama itulah yang kau sebut untuk pertama kali. Apa aku tak berarti apa-apa bagimu?"


Yuna tersandar lesu di kaki ranjang, bahkan air mata sudah tak mampu lagi menetes. Kering, retak bak permukaan sawah yang dilanda kemarau panjang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari, Yuna bangun dan menyiapkan keperluan Elkan seperti biasanya. Menata sarapan pagi di atas meja, menaruh pakaian Elkan di atas sofa. Kemudian pergi meninggalkan rumah dengan mata yang masih menyisakan bekas kepedihan.


Biarkan saja hubungan ini menentukan jalannya sendiri, biarkan saja semua mengalir mengikuti takdir yang sudah Tuhan gariskan untuknya. Tak peduli sesakit apa, tak peduli sepedih apa. Jika suatu hari harus ada yang meninggalkan, maka dialah yang harus pergi agar tak ada yang tersakiti.


Pukul 8 pagi, Elkan turun dari kamar dengan pakaian yang sudah sangat rapi. Duduk di meja makan seperti biasa tanpa tau apa yang sudah terjadi tadi malam.


"Mana Yuna?" tanya Beno yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan keduanya.


"Yuna gak ada di kamar, aku pikir dia sudah turun." jawab Elkan sembari menautkan alisnya.


"Sudah setengah jam aku duduk di sini, tapi gak liat batang hidungnya sama sekali." jelas Beno dengan tatapan penuh intimidasi.


"Kemana dia?" Elkan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


"Apa kau menyakitinya lagi?" tanya Beno dengan tatapan mematikan.


"Mana ada, kau pikir aku sudah gila?" gerutu Elkan dengan tatapan tak kalah mematikan.


"Maaf Tuan, Nyonya Yuna sudah pergi sejak pukul 7 tadi. Pas saya tanya, Nyonya diam saja. Mungkin Nyonya sedang sakit atau sedang sedih, matanya terlihat sembab. Sepertinya Nyonya menangis semalaman." timpal Diah menjelaskan.


"Sembab?" kata Elkan dan Beno secara bersamaan.


"Iya Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Diah meninggalkan kedua majikannya yang masih kebingungan dalam pemikiran masing-masing.


Kembali Elkan dan Beno beradu pandang, namun sedetik kemudian Beno memilih bangkit dari duduknya.


"Jika sesuatu terjadi pada Yuna, kau lah orang pertama yang akan aku habisi. Persetan siapa kau sebenarnya, sudah cukup aku menahan hati melihat perlakuan buruk mu padanya selama ini!" Beno mengepalkan tangannya, rasanya sudah tidak sanggup menahan amarah melihat Yuna yang selalu tersakiti.


"Satu lagi, jika Laura lebih berarti bagimu, maka ceraikan saja Yuna secepatnya! Aku bisa menggantikan mu dan membahagiakan Yuna dengan caraku sendiri!" Beno menendang kursi dan berlalu begitu saja membawa amarahnya yang sudah memuncak hingga ubun-ubun.


Elkan terdiam tanpa kata. Ucapan Beno barusan sangat menusuk, mencongkel relung hati terdalam tanpa sisa.


Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa dengan Yuna? Elkan sendiri bingung, merasa tak melakukan kesalahan meski sekecil apapun terhadap istrinya.


Elkan urung menyantap makanannya, memilih pergi dalam keadaan perut yang masih kosong. Semalam pun dia tak makan karena perutnya sudah terlalu kenyang dengan minuman.


Sementara di lantai 10 perusahaan, Yuna memilih menyendiri di ruang ganti. Cairan bening di sudut matanya terus saja menetes tanpa henti.


Apa salah jika Yuna sakit hati mendengar suaminya menyebut nama wanita lain? Kenapa cinta ini begitu menyakitkan?


Berharap menjadi obat untuk luka yang sudah berkarat di hati suaminya, nyatanya luka itu malah berbalik pada dirinya sendiri.


Bersambung...