Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 73.


Pukul 5 pagi, Yuna sudah terbangun saat kedua bayinya menangis dengan lantang. Mungkin karena semalam tidur mereka begitu nyenyak hingga pagi ini keduanya sama-sama kehausan.


Yuna kerepotan sendiri karena kesulitan menenangkan salah satu dari mereka. Saat sang putri menyusu, sang putra terus menangis tanpa henti. Sementara Elkan sendiri masih tertidur dengan pulas. Yuna tak mau membangunkan suaminya, takut Elkan terganggu karena sudah lama sekali Elkan tak bisa tidur se nyenyak itu.


"Cup cup cup, sabar ya sayang!"


Beberapa menit berlalu, Yuna beralih menyusui putranya. Kini giliran putrinya yang menangis karena belum kenyang.


Elkan terperanjat dan segera membuka matanya. "Sayang, kenapa si kembar?" Elkan langsung duduk dan mengambil putrinya, lalu mengayun nya di gendongan.


"Aku bingung Elkan, semalam gak ada yang bangun satupun. Sekarang malah bangunnya barengan, gimana cara nyusuin sekali dua?" lirih Yuna dengan mata berkaca. Dia benar-benar panik mendengar tangisan mereka yang begitu lantang.


"Udah, jangan sedih gitu! Lagian kamu juga sih, kenapa gak bangunin aku?" ucap Elkan sembari mengusap punggung Yuna.


"Tidurmu nyenyak banget, aku gak tega bangunin." jawab Yuna dengan wajah sendu.


"Jangan gitu sayang, bangunin aja kalau kamu kerepotan. Mereka anak aku juga, kita akan merawatnya sama-sama. Lain kali kalau mereka begini lagi, kamu bangunin aku aja!" jelas Elkan.


Yuna mengangguk lemah, lalu mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.


Kini Yuna bisa sedikit tenang karena tak mendengar suara tangisan lagi. Setelah sang putra melepaskan hisapannya, Yuna kembali menyusui putrinya yang belum kenyang. Setelah keduanya tertidur, Elkan menaruhnya kembali ke dalam box.


"Hehe, Mama Yuna cengeng banget sih." Elkan menarik Yuna ke dalam dekapan dadanya dan mencubit pipi istrinya.


"Elkan...," rengek Yuna sembari memeluk suaminya dengan erat.


"Emang kenyatannya cengeng kok, mau diapain lagi." seloroh Elkan sembari tertawa kecil.


"Aku belum terbiasa Elkan, lagian ini seperti mimpi. Entah kapan aku hamil? Tau-tau udah punya dua anak aja." lirih Yuna dengan bibir mengerucut.


"Udah, untuk apa mikirin itu? Sekarang lebih baik pikirin Papa Elkan! Papa juga mau ne*nen, boleh kan Ma?" seloroh Elkan yang tak mau kalah dengan si kembar.


"Apaan sih? Kalau Papa yang ne*nen, ntar ASI nya abis. Gak ada lagi buat si kembar."


"Ada kok, gak mungkin abis. Kan makan sayuran terus, belum lagi vitamin. Ini bisa buat mancing juga biar ASI nya banjir. Boleh ya Ma, please!"


Segera Elkan menjauh dan membuka kembali kancing piyama Yuna. Tanpa permisi, Elkan langsung saja melahap ujung dada istrinya itu. Rasanya memang sedikit aneh di lidah, tapi justru membuat candu.


"Geli Elkan, jangan dipelintir gitu ih!"


"Sssttt... Nikmati aja sayang!"


"Gimana cara nikmati nya? Kamu lupa istrimu masih nifas?"


"Hehe, sorry. Tapi enak kan?"


"Apaan sih? Biasa aja!"


Puas menghisap ujung dada Yuna yang sebelah kanan, kini Elkan berpindah ke bagian kiri.


"Aku pikir bayiku cuma dua, eh ternyata ada tiga." Yuna tersenyum kecut melihat kelakuan suaminya yang aneh itu.


"Makanya banyakin makan sayuran, biar ketiga bayinya puas!" seloroh Elkan yang masih bergelayut di dada Yuna.


"Udah cukup sayang, nanti lagi ya! Aku mau ke kamar mandi dulu, perutku sakit."


Elkan melepaskan hisapannya, kemudian menutup kembali dada Yuna. Setelah itu Yuna mencoba berdiri, namun Elkan melarang karena tak ingin membuat istrinya kecapean.


Elkan berjongkok dan menyuruh Yuna naik di punggungnya. "Ayo, naik!"


"Gak ah, kayak anak kecil aja."


"Naik sayang! Jangan membantah terus!"


"Iya, iya."


Terpaksa Yuna naik ke punggung Elkan, percuma juga berdebat karena Elkan tak akan mendengarnya.


"Ngapain masih di sini? Ayo, keluar! Aku mau berak loh sayang," jelas Yuna.


"Berak aja! Emang siapa yang larang?"


"Aish, Elkan please! Aku gak papa kalau diliatin pas lagi mandi, tapi jangan pas lagi berak juga sayang. Pergilah!"


"Hehe, iya." Elkan mengesap dalam bibir Yuna hingga sesak, kemudian berlalu begitu saja.


"Huft... Dasar suami gila!" gerutu Yuna dengan bibir mengerucut.


Di luar sana, Elkan kembali berbaring sembari melipat kedua tangannya di kepala. Rasanya memang berbeda sejak ada si kembar di tengah mereka. Cinta itu kian tumbuh dan bersemi di hatinya, hidup Elkan yang datar seketika berubah penuh warna.


Sejenak Elkan bergeming dalam pembaringannya, sudah seminggu lebih tapi keduanya belum memberi nama untuk si kembar. Kembali Elkan bangkit dan meraih ponselnya.


Manik mata Elkan berguling liar mencari nama yang cocok buat kedua buah hatinya. Namun belum ada satupun yang pas di hatinya, mungkin akan lebih baik jika membicarakannya dulu dengan Yuna.


Elkan kembali masuk ke dalam kamar mandi, seketika hidungnya mendengus aroma tak sedap yang sudah menyebar memenuhi seisi ruangan.


"Bau banget sih, abis ngeluarin apa?" seloroh Elkan sembari menghampiri Yuna yang sudah selesai membuang isi celengannya.


"Lebay ih, bau juga gak." lirik Yuna dengan tatapan mematikan.


"Hehe, gak papa bau. Yang penting istri cantikku ini selalu wangi." Elkan melingkarkan tangannya di pinggang Yuna yang kini sudah separuh telanjang. "Mandi bareng ya!" imbuh Elkan sembari mengecup tengkuk Yuna.


Segera Elkan membuka pakaiannya hingga tak menyisakan sehelai benang pun. Yuna yang melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa? Pengen ya?" goda Elkan sembari memegangi tongkat kastinya.


"Yee, kegeeran banget sih. Siapa juga yang pengen? Gak nafsu," sanggah Yuna sembari melempar pandangannya ke arah lain.


"Boong, bilang aja pengen, tapi gak berani ngomong. Iya kan?" Elkan mencolek dagu Yuna seakan tak pernah bosan menggoda istrinya itu.


"Trus kalau pengen mau diapain hah? Udah jelas gak bisa dimasukin, beda sama kamu. Disentil doang udah kejang-kejang." gerutu Yuna yang mulai kesal melihat kelakuan suaminya itu.


Elkan tertawa kecil. "Kasihan banget sih istriku ini, sini biar dicium aja!"


Segera Elkan menarik tengkuk Yuna dan mengecup bibir ranum istrinya itu dengan lembut, lalu kecupan itu berubah jadi lu*matan. Semakin nafas Yuna terdengar sesak, semakin gencar pula Elkan memasuki rongga mulut istrinya. Keduanya saling mengesap hingga berakhir saling membelit lidah.


Berhubung tongkat kastinya sudah mengeras, Elkan pun menenggelamkan wajahnya di tengkuk Yuna. Menciumi setiap incinya, menjilatinya dan menggigitnya penuh gairah hingga menyisakan peninggalan bersejarah berwarna merah pekat.


Kembali Elkan turun dan meremas kedua buah dada Yuna, kemudian menghisapnya secara bergantian. Sementara tangan Elkan mulai bermain di permukaan inti istrinya.


"Elkan jangan, jorok ih." gumam Yuna dengan suara tertahan.


"Sssttt... Diam aja sayang!"


"Jangan Elkan! Aahh...,"


Elkan tak menghiraukan ucapan Yuna, dia terus saja menyibukkan diri dengan kelakuan nakalnya.


Yuna menggeliat dan meremas rambut Elkan dengan kuat, bibirnya mende*sah manja dengan kaki yang mulai gemetaran.


"Aahh... Elkan cukup!" Pekik Yuna sembari mencengkram pundak suaminya itu. Rasanya benar-benar aneh hingga sekujur tubuh Yuna mengejang tak menentu.


Elkan kembali bangkit dan mengesap bibir Yuna dengan lembut. "Kenapa menjerit? Enak ya?" seloroh Elkan dengan senyuman mematikan.


"Gila kamu Elkan," Yuna merebahkan kepalanya di dada Elkan, sulit dipercaya bahwa suaminya senakal itu.


"Gak papa gila, yang penting ada yang sayang." jawab Elkan dengan entengnya.


"Terserah kamu deh, pusing aku."


Segera Yuna menyalakan shower hingga mengguyur tubuh keduanya.


Bersambung...