Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 89.


Reni keluar dari kamar setelah mengenakan pakaian yang baru saja dibelikan Beno untuknya. Saat membuka paket, Reni menganga melihat harga yang tertera pada resi. Mungkin bagi Beno uang satu juta sembilan ratus itu tidak ada artinya sama sekali, tapi tidak untuk Reni. Uang segitu sangat cukup untuk biaya makan kedua adiknya selama satu bulan.


Reni duduk di ruang tengah sembari menonton siaran televisi, tidak lama Beno datang dan duduk di sampingnya lalu melingkarkan sebelah tangannya di pinggang gadis itu.


"Nonton apaan?" tanya Beno sembari merebahkan kepalanya di pundak Reni.


"Liat aja sendiri! Bukankah kamu punya mata?" jawab Reni dengan cueknya.


"Mulai deh, coba sekali-sekali ngomong tuh yang lembut. Biar cantiknya gak ilang," goda Beno.


Reni melirik Beno dengan tatapan aneh. "Ini orang maunya apa sih? Kadang lembut, kadang ketus, kadang maksa, kadang nyebelin. Entahlah, bikin bingung aja." batin Reni penuh tanda tanya.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Beno sembari mengerutkan keningnya.


Reni memutar lehernya beberapa derajat hingga tatapan mereka saling bertemu. "Kenapa buang-buang uang hanya untuk beberapa helai pakaian? Coba kalau aku yang beli, satu bra ini aja bisa dapat lima biji." keluh Reni yang merasa Beno terlalu boros.


"Mana aku tau? Aku kan belinya sesuai permintaan kamu. Emangnya kamu bilang harganya berapa, gak kan." jawab Beno dengan santai.


"Makanya nanya dulu," ketus Reni dengan tatapan horor.


"Kalau ditanya, ntar disangkanya aku perhitungan. Udah lah Reni, masalah itu aja diributin. Mending peluk aku kayak pasangan yang di televisi itu!" ucap Beno sembari tersenyum sumringah.


"Peluk, peluk, gak mau. Mending antar aku pulang biar aku bisa jagain si kembar!" pinta Reni yang tidak enak hati pada majikannya yang tak lain adalah Yuna dan Elkan.


"Ogah, beberapa hari ini kita akan tetap di sini. Aku juga ingin istirahat dan menghabiskan waktuku sama kamu, kerja terus bikin otakku mumet. Cari uang tiap hari tapi tukang ngabisin nya gak ada." gerutu Beno dengan wajah cemberut nya.


"Hahaha... Makanya cari istri, menikah. Biar ada yang ngabisin," Reni tertawa kecil sembari beringsut dari duduknya.


"Ide kamu bagus juga, kalau gitu kita nikah yuk!" ajak Beno dengan tatapan serius.


Reni membulatkan matanya dengan sempurna. "Apaan sih Beno? Kalau bercanda tuh dipikir dulu, emang kamu pikir nikah itu gampang."


"Tentu aja gampang. Yang penting kan ada mempelai pria dan wanita, terus ada saksi sama penghulu. Dimana sulitnya?" jawab Beno dengan entengnya.


"Ah, udah lah Beno! Susah ngomong sama kamu, lebih baik aku tidur," Reni memilih bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar. Kelamaan berhadapan dengan Beno bisa membuatnya gila dalam sekejap.


Reni berbaring di atas kasur dan menyelimuti tubuhnya sebatas pinggang. Sebenarnya dia ingin sekali meninggalkan apartemen itu, tapi apa daya Beno tak memberinya kesempatan untuk pergi.


Perlahan mata Reni mulai terpejam, beberapa detik kemudian dia harus bangun lagi saat tangan Beno melingkar erat di pinggangnya.


"Beno, lepasin aku! Kita gak boleh tidur di atas ranjang yang sama seperti ini." ketus Reni sembari menyingkirkan tangan Beno dari pinggangnya.


"Siapa yang larang Reni?" tanya Beno dengan santai, kemudian memeluk Reni lagi dengan erat.


"Beno, kenapa susah banget sih ngomong sama kamu?" Reni mulai kehilangan akal melihat perangai Beno yang kian menjadi-jadi.


"Dengerin aku ya Reni! Kamu itu wanita lajang, aku juga sama. Kita berdua gak terikat hubungan apa-apa dengan siapapun, lalu dimana salahnya?" jelas Beno sembari mengulum senyumannya.


"Tetap salah Beno, kita gak ada hubungan apa-apa. Mana boleh seperti ini?" tegas Reni.


"Siapa bilang gak ada? Kamu kan pacar aku," ucap Beno.


"Sejak aku menyentuhmu dan sejak kamu menyentuhku. Itu artinya kamu udah resmi jadi pacar aku." ucap Beno dengan gamblang.


"Gila kamu ya, benar-benar gak waras kamu nih." kesal Reni sembari memijit pelipis dahinya.


"Semua ini karena kamu, kamu yang bikin aku jadi gak waras. Makanya kamu harus tanggung jawab atas semua ini." tekan Beno tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Loh, kok kamu jadi nyalahin aku sih? Emangnya apa yang aku lakuin sama kamu? Perasaan, kamu deh yang selalu gangguin aku." keluh Reni.


"Udah lah Reni sayang, jangan berdebat terus! Lebih baik peluk aku, mumpung kita masih di sini."


"Sayang?" Reni mengulangi kata itu sembari menautkan alisnya bingung. Makin ke sini sikap Beno semakin membuatnya tak mengerti.


"Ayo, berbalik sayang! Peluk aku dengan erat!" pinta Beno sembari menarik pinggang Reni hingga keduanya saling berhadapan.


Beno beringsut hingga tubuh mereka nyaris tak ada jarak. Dengan lembut Beno mengecup bibir ranum Reni dan mengesap nya dalam. Reni membulatkan matanya dengan sempurna dan segera menarik diri.


"Cukup Beno, jangan membuatku gila! Kamu ini benar-benar ya," Reni mengepalkan tangannya erat, ingin sekali dia mencabik-cabik mulut Beno agar tak lagi berbicara asal dan semena-mena menyentuh bibirnya.


Beno tersenyum licik dan beranjak menindih tubuh Reni dan menguncinya di bawah kungkungan nya.


"Beno, apa lagi ini?" gumam Reni yang sudah tak bisa lagi meloloskan diri.


Beno kembali mendekati bibir Reni dan melu*matnya dalam. Dada Reni dibuat sesak karena Beno tak memberinya kesempatan untuk mencuri nafas.


"Balas dong sayang, jangan diam aja!" pinta Beno yang mulai kehilangan akal dalam belenggu hasrat yang sudah menjeratnya.


"Beno, jangan begini! Aku takut kita kelepasan, ini salah Beno." lirih Reni dengan mata berkaca.


"Aku akan menikahi mu Reni, kamu gak perlu takut." sahut Beno dengan suara berat menahan keinginan yang sudah memuncak hingga ubun-ubun.


Reni memicingkan matanya, dia tidak mungkin melakukan hal itu sebelum menikah. Dia hanya akan memberikan kesuciannya kepada suaminya. Tapi sentuhan Beno membuatnya lemah, tubuhnya seakan ditarik untuk melakukan penyatuan.


"Beno... Aughhhh..."


Baru saja Reni berdebat dengan pikirannya, tiba-tiba mulut Beno sudah menempel di ujung dadanya. Beno mengitari biji mutiara itu dengan lidahnya, menghisapnya dan menggigitnya sehingga membuat tubuh Reni bergetar merasakan sensasi yang entah.


"Beno, jangan lakukan ini padaku! Aku mohon," lirih Reni dengan suara serak menahan hasrat yang mulai bangkit dari dalam dirinya.


"Biarkan aku menyentuhmu! Aku gak kuat lagi Reni, aku janji akan menikahi mu setelah ini. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan."


Beno semakin turun dan mengecup perut Reni dengan lembut. Reni yang sudah terhanyut tak bisa menolak lagi, tubuhnya juga sangat menginginkan itu. Beno benar-benar membuatnya gila hingga tak sadar lagi bahwa yang mereka lakukan ini salah.


Saat tangan Beno menyelinap masuk ke dalam celananya, Reni menahan nafas untuk beberapa saat. Matanya tertutup perlahan, namun sedetik kemudian Reni langsung terlonjak dan mendorong Beno sekuat tenaga.


"Aku gak mau Beno, aku bukan wanita murahan. Walaupun aku ini miskin, tapi aku masih punya harga diri. Aku bukan pemuas nafsumu. Jika kamu gak bisa menahannya, cari aja ja*lang di luar sana!"


Reni menumpahkan semua air matanya sembari menekuk kedua kakinya dan memeluknya erat.


Bersambung...