
Beno memutar stir mobilnya ke parkiran sebuah pusat perbelanjaan terbesar di ibukota. Saat Beno mematikan mesin mobil, Reni memutar lehernya ke kiri dan kanan secara bergantian.
Kenapa Beno malah berhenti di tempat itu? Reni sama sekali tidak mengerti, padahal tadi Beno hanya mengatakan akan pergi menjemput kedua adiknya dan membawa mereka ke rumah.
Beno mengukir senyum di bibirnya dan turun lebih dulu, lalu mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Reni.
"Kenapa bengong sayang? Ayo turun!" ajak Beno sambil mengulurkan tangannya.
Reni memfokuskan manik matanya pada Beno. "Katanya mau jemput Amit sama Sari, kok malah ke sini?"
Beno melebarkan senyumnya hingga menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi. "Gak usah banyak nanya, cepat turun! Mau aku gendong?"
Reni membulatkan matanya dengan sempurna. "Gak usah, aku turun sekarang."
Reni meraih tangan Beno dan turun dari mobil itu. Keduanya saling bergandengan tangan dan melangkah memasuki pusat perbelanjaan.
Reni memutar manik matanya menyisir setiap sudut yang dia lewati. Entah sudah berapa lama dia tidak pernah masuk ke tempat seperti itu. Dulu pernah saat masih duduk di bangku SMA, itupun karena diajak oleh teman sekelasnya tapi dia belum pernah sekalipun berbelanja di tempat itu.
Sesampainya di lantai empat, Beno mengarahkan kakinya ke sebuah toko pakaian wanita. Sebenarnya Beno sendiri belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, tapi demi istri tercinta dia rela melakukan apa saja asalkan bisa membahagiakan istrinya.
"Beno, ngapain kita ke toko ini?" Reni menahan kakinya sehingga langkah Beno pun terhenti.
Seulas senyum terurai di bibir Beno. "Ikut aja! Kita akan belanja semua kebutuhanmu,"
Reni menautkan alisnya bingung. "Gak usah Beno, pakaian di sini pasti sangat mahal. Nanti aku beli sendiri aja di pasar."
"Kenapa? Kamu gak yakin sama suamimu ini? Bukankah waktu itu kamu nyuruh aku menikah biar ada yang ngabisin uangku, lalu kenapa sekarang malah menolak?" Beno menatap Reni dengan mata yang mulai menggelap.
"Gak gitu juga konsepnya. Itu kan kalau wanitanya sebanding denganmu." Reni masih kekeh tak mau bergerak sehingga membuat Beno sedikit geram.
"Teg!"
Beno menyentil kening Reni hingga membuatnya mendengus kesal.
"Sakit Beno,"
"Makanya nurut sama suami! Mau jadi istri durhaka?" Beno mengeratkan rahangnya, Reni segera menggeleng karena dia sendiri tidak mau jadi istri durhaka.
Kembali Beno melanjutkan langkahnya sambil menarik tangan Reni memasuki toko pakaian wanita serba ada itu. Toko yang sangat luas dengan desain yang sangat menarik. Tidak hanya menjual pakaian, di sana juga ada tas, sepatu, aksesoris dan berbagai macam perlengkapan wanita lainnya.
"Siang Nona, Tuan, ada yang bisa kami bantu?" Seorang pelayan toko mendekat dan menyapa keduanya dengan ramah.
"Siang Mbak, tolong bantu istri saya memilih pakaian yang cocok untuknya! Mulai dari pakaian dalam, baju tidur, lingerie, gaun, tas, sendal, sepatu dan lainnya. Pokoknya harus lengkap!"
Beno menyebut semuanya hingga membuat Reni menganga. Apa Beno tidak akan bangkrut jika membelikan semua itu untuknya? Reni ingin sekali menolak tapi lidahnya tak mampu berucap. Bagaimana kalau penolakannya membuat Beno tersinggung? Ya sudah lah, mau tak mau Reni terpaksa menurutinya.
"Pergilah, nanti pakaian dalam sama lingerie nya pilih yang seksi ya!" Beno mengedipkan sebelah matanya hingga membuat pipi Reni bersemu merah.
"Ayo Nona!"
Pelayan itu mengajak Reni ikut dengannya, dia lah yang akan menuntun Reni mencarikan semua yang Beno sebutkan tadi.
Sementara Reni tengah asik menyisir setiap rak dan gantungan, Beno memutuskan untuk menunggunya di sebuah sofa tamu. Sebenarnya Beno sama sekali tidak suka berbelanja langsung, apalagi memasuki toko perlengkapan wanita seperti ini. Namun demi istri tercinta, dia terpaksa menebalkan muka dan menekan egonya.
Satu jam sudah berlalu, Reni kembali menghampiri Beno dan disusul pelayan cantik tadi di belakangnya.
"Permisi Tuan, semuanya sudah di packing dengan layak. Ini total tagihan yang harus dibayar," Pelayan itu memperlihatkan struk kepada Beno.
Beno hanya tersenyum, kemudian mengeluarkan dompetnya. Setelah membayar semua tagihan, Beno meminta semua barang belanjaannya itu diantar ke rumah.
Kali ini mereka masuk ke toko perhiasan. Reni lagi-lagi menahan kakinya. "Beno, udah ya, kita pulang aja!"
"Ngapain pulang? Belanjanya belum selesai," Beno hanya tersenyum melihat wajah menggemaskan istrinya.
"Udah cukup Beno, belanjaan yang tadi aja udah ngabisin uang puluhan juta. Aku gak mau lagi, nanti uangmu habis. Aku gak butuh barang mahal apalagi perhiasan, cukup sederhana seperti ini aja."
Reni mencoba menjelaskan namun Beno sama sekali tak peduli. Dia menarik tangan Reni dan menghampiri pelayan toko.
Beno belum sempat memberikan apa-apa untuk istrinya, bahkan cincin kawin mereka saja belum ada karena pernikahan yang serba buru-buru.
"Siang Tuan, Nona, ada yang bisa kami bantu?" Seorang pelayan toko menyapa keduanya dengan ramah.
"Siang Mbak, cincin couple edisi terbatas ada? Jangan yang pasaran!" Manik mata Beno berguling liar menyisir etalase perhiasan itu.
"Sebentar Tuan," Pelayan tersebut mengeluarkan beberapa pasang cincin dari etalase khusus.
Manik mata Beno tertuju pada sepasang cincin dengan desain yang cukup unik, simpel namun elegan. Tapi Beno tidak mau menentukan pilihannya sendiri, segera dia meminta pendapat pada istri tercintanya yang masih terpaku menatap etalase tersebut.
"Sayang, kamu suka yang mana?" Beno menarik pinggang Reni hingga lengan keduanya saling menempel.
"Ini aja, lebih simpel!" Reni menunjuk sepasang cincin yang sama dengan pilihan Beno tadi.
Beno tersenyum dan mengusap lengan Reni turun naik. "Ya udah, ini aja Mbak!"
Beno mengambil cincin tersebut dan langsung memasukkannya ke jari manis Reni. Kebetulan sekali ukurannya sangat pas di jari wanita cantik itu.
"Jangan pernah dilepas ya! Ini cincin kawin kita yang belum sempat aku berikan kemarin."
Reni mengangguk lemah pertanda mengerti maksud ucapan suaminya itu. Reni pun memasangkan cincin satunya ke tangan Beno. Tanpa menghiraukan pelayan yang masih berdiri di depannya, Beno segera mengecup kening Reni dengan sayang.
"Mbak, sekalian kalung dong." pinta Beno setelah melepaskan kecupannya.
"Oke Tuan, tunggu sebentar!"
Reni menautkan alisnya sembari menatap lekat wajah suaminya. "Beno, cukup ini aja!"
"Gak papa sayang, aku hanya ingin istriku terlihat cantik. Ingat, nyenengin suami itu pahala loh!"
Reni tak mampu lagi berucap. Kalau ini bisa membuat suaminya senang apa boleh buat.
"Ini Tuan,"
Beberapa kalung dengan desain elegan ikut tersusun di atas etalase. Kali ini Beno sendiri yang memilihnya dan langsung mengalungkannya di leher Reni.
Reni terpaku memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Seumur-umur baru kali ini lehernya dihiasi sebuah kalung, apalagi kalung dengan harga yang tidak akan pernah terjangkau olehnya.
"Cantik," sanjung Beno dengan tatapan tak biasa. Lagi-lagi dia mengecup kening Reni dengan sayang.
Usai membayar tagihan, keduanya berlalu meninggalkan toko. Kali ini Beno mengajak Reni memasuki toko kosmetik.
Reni memang sudah cantik dari sananya, tapi Beno tentunya tidak akan puas melihat wajah polos Reni setiap hari. Ada kalanya dia juga ingin melihat Reni berdandan untuknya.
Setelah mendapatkan semua yang dia butuhkan, Beno mengajak Reni turun dan mencari tempat makan. Tak lupa pula dia membungkus kan beberapa makanan enak untuk kedua adik mereka.
Bersambung...