Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 87.


Mata Reni membulat dengan sempurna, bibirnya pun menganga saking takutnya. Sementara kedua tangannya langsung bergerak menutupi kedua dadanya.


"Ampun Pak, maafkan aku. Jangan sentuh aku lagi! Apa Bapak gak jijik sama aku? Tubuhku ini sudah kotor Pak, Bapak bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." lirih Reni dengan polosnya.


Beno mengunci tubuh Reni dengan menumpukan kedua tangannya pada kepala ranjang. Dia ingin sekali tertawa sepuasnya namun berusaha keras menahannya.


"Buka bajumu!" titah Beno dengan tatapan yang sulit dimengerti.


Lagi-lagi Reni membulatkan matanya dengan sempurna. "Pak, jangan menghukum ku dengan cara itu lagi. Lidah Bapak membuatku merinding, hukumannya yang lain aja ya. Please!" tawar Reni sembari menyatukan kedua telapak tangannya.


Pipi Beno menggembung menahan tawa yang hampir saja menyembur dari mulutnya. "Kenapa bisa merinding? Apa rasanya enak?"


Seketika pipi Reni bersemu merah menahan rasa malu yang teramat sangat. "Pak Beno, jangan bahas itu lagi! Anggap aja hal itu gak pernah terjadi diantara kita!" pinta Reni sembari membuang pandangannya ke arah lain, rasa malunya sudah memuncak hingga ubun-ubun.


"Sayangnya aku menyukai itu, gimana dong?" goda Beno sembari menatap sepasang benda kenyal itu dengan intens.


"Jangan Pak, tolong jangan menyiksaku seperti ini! Bapak boleh menghukum ku dengan cara apa aja, tapi jangan itu!" pinta Reni dengan wajah memelas.


Beno berpikir sejenak dengan kepala mendongak menghadap langit-langit kamar, sedetik kemudian menurunkan pandangannya menatap Reni dengan intim.


"Untuk saat ini aku akan melepaskan mu, tapi harus janji gak akan kabur lagi dari sini!" tawar Beno sembari tersenyum lebar.


"Ok, aku janji." angguk Reni sembari menghela nafas lega.


"Ya udah, sekarang mandi dulu! Abis itu siapkan sarapan, di kulkas ada makanan cepat saji." ucap Beno sembari mengacak rambut Reni hingga berantakan.


Reni mengangguk lemah dan beranjak dari kasur. Saat hendak masuk ke kamar mandi, dia berbalik dan menatap Beno dengan intens. "Pak, aku kan gak punya pakaian ganti."


"Pakai pakaian aku dulu, di lemari banyak tinggal pilih." jawab Beno sembari membuka layar ponselnya, dia sudah memikirkan itu sebelumnya dan sedang mencari toko pakaian online yang bisa delivery dalam waktu 1 jam.


"Ok," gumam Reni sembari berjalan menuju lemari.


"Oh ya, berada ukuran dada mu?" tanya Beno dengan santainya.


"Apaan sih Pak? Kok nanyain ukuran dada aku, jangan mikir jorok!" ketus Reni dengan bibir mengerucut.


"Siapa yang mikir jorok? Aku mau pesan bra dan segitiga untukmu, emangnya kamu mau pakai segitiga punyaku?" jawab Beno dengan kening mengkerut.


"Hehe, masa' aku pakai segitiga punya Bapak sih. Aneh-aneh aja ih," Reni tertawa kecil hingga membuat Beno geleng-geleng kepala.


"Bra nya 36, segitiga nya L ya Pak." imbuh Reni, kemudian membuka pintu lemari dan mengambil kaos serta celana pendek milik Beno. Setelah itu Reni melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi.


Segera Beno memesan beberapa pakaian wanita berupa dress, setelan dan baju tidur. Tidak lupa beberapa bra dan juga segitiga buat Reni. Setelah memesan semuanya, Beno menghela nafas berat sembari melipat tangannya di atas dada. Seulas senyum terukir di bibirnya, bisa-bisanya dia memesan barang-barang tersebut dengan tangannya sendiri tanpa malu sedikitpun. Apa Reni benar-benar sudah membuatnya kehilangan akal?


Setengah jam berlalu, Reni keluar dari kamar mandi dengan kepala yang dililit handuk. Sekilas tidak ada yang aneh dengan dirinya, kaos oblong dan celana pendek Beno cocok-cocok saja di tubuh gadis itu meski terlihat sedikit longgar.


Namun yang membuat mata Beno tak berkedip adalah dada Reni yang terlukis jelas tanpa bra. Dua gundukan kenyal itu menggantung indah dengan ujung yang menonjol di balik kaos yang dia kenakan.


Beno menelan liurnya dengan susah payah, matanya terbuka dengan sempurna memandangi pemandangan indah itu. Kali ini Beno benar-benar kehilangan akal hingga wajahnya memerah, celananya seketika menyempit saat lintah raksasa miliknya mengamuk minta dibelai.


"Pak Beno, Bapak kenapa?" tanya Reni sembari menautkan alisnya. Tidak biasanya dia melihat wajah Beno semerah itu.


"G-gak papa, sini handuknya!" Beno menarik handuk yang masih melilit di kepala Reni dan bergegas memasuki kamar mandi.


"Sial!" gumam Beno sedikit membanting pintu. Reni yang berada di luar sana sampai terlonjak dibuatnya.


"Bapak apa-apaan sih? Ngagetin aja," teriak Reni sembari memegangi dadanya.


"Masih mending aku hanya membuatmu kaget, kamu sendiri membuat kepalaku mau pecah." teriak Beno sembari melucuti pakaiannya hingga tak bersisa, seketika lintah raksasanya berdiri tegak membentuk angka satu.


Reni menautkan alisnya bingung. Memangnya apa yang sudah dia lakukan pada Beno? Perasaan, dia tidak menyentuh kepala Beno sedikitpun. Kenapa pria itu bilang kepalanya mau pecah gara-gara Reni?


"Kepala Bapak sakit ya? Mau aku pijitin?" sahut Reni dengan polosnya. Dia benar-benar tidak paham kemana arah pembicaraan Beno sebenarnya.


"Kamu yakin mau mijitin aku?" balas Beno yang masih berdiri di balik pintu.


"Iya, itupun kalau Bapak mau." jawab Reni begitu santainya.


"Kalau begitu masuklah!" Beno tersenyum licik penuh kemenangan. Syukur-syukur Reni mau membelai dan memanjakan lintah raksasa miliknya.


Tanpa curiga sedikitpun, Reni mendorong pintu dan melangkah masuk dengan santainya. Sementara Beno sendiri sengaja berdiri di belakang pintu agar Reni tidak langsung terkejut melihatnya.


Saat kaki Reni menginjak lantai kamar mandi, Beno pun bergeser dan mendorong pintu dengan punggungnya.


"Cleeek!"


Pintu tertutup rapat, Reni langsung berbalik hingga sekujur tubuh Beno nampak jelas di matanya.


"Aaaaaaaaa..."


Teriakan Reni menggelegar mengisi kehampaan kamar mandi. Sontak tangannya bergerak menutup kedua matanya saking syok melihat pemandangan mengerikan itu.


"Apa Bapak sudah gila? Kenapa memperlihatkan anu Bapak padaku?" bentak Reni dengan mode kesal sembari terus menutup matanya.


"Kenapa marah? Bukankah tadi kamu sendiri yang menawarkan bantuan padaku? Sekarang ayo, bantu aku!" Tanpa rasa malu sedikitpun, Beno melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Reni, lalu menariknya hingga tubuh keduanya saling menempel.


Reni berusaha menghindar tapi Beno malah melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis itu. Jangankan menjauh, bergerak saja Reni tidak bisa.


"Teg!"


Beno menyentil kening Reni saking geramnya melihat keluguan gadis itu.


"Aduh, sakit Pak." rintih Reni yang masih setia menutup matanya.


"Makanya jangan suudzon terus pikirannya! Siapa juga yang mau merusak mu? Aku gak sebejat itu, aku masih tau batasan ku." jelas Beno sembari tersenyum lebar.


"Lalu kenapa Bapak gak pakai celana?" tanya Reni dengan bibir mengerucut.


"Ini semua ulah mu, dada mu membuatku terpancing. Sekarang tanggung jawab, lakuin apa aja agar junior ku kembali tidur!" tegas Beno dengan suara berat.


"Kok aku sih Pak, Bapak kan bisa bermain sendiri?" jawab Reni.


"Gak enak, maunya kamu aja yang mainin." pinta Beno.


"Tapi Pak-"


"Gak ada alasan buat nolak, atau kamu mau aku masukin sekarang." ancam Beno.


"Jangan Pak! Bapak kok jahat banget sih sama aku, apa salah aku sama Bapak?" keluh Reni.


"Salahmu karena sudah membuatku tersiksa menahan hasrat ini. Ayo cepat, aku udah gak tahan!"


Beno menarik tengkuk Reni dan melu*mat bibir ranum gadis itu dengan lembut. Reni hanya bisa pasrah saat tangan Beno bergerak meremas kedua dadanya. Seketika nafas Reni menjadi sesak, sekujur tubuhnya merinding menikmati sentuhan lembut Beno.


"Pak," lenguh Reni saat mencuri nafas.


"Jangan panggil Bapak! Panggil Beno aja!"


"Beno, aku-"


"Lakukan seperti apa yang aku lakukan! Buka mulutmu, jangan malu!"


Reni mengangguk lemah dan membuka mulutnya sesuai permintaan Beno. Keduanya saling bertukar liur dan saling membelit lidah. Rasa canggung di diri Reni pun sirna saat dia sendiri mulai leluasa melu*mat bibir Beno.


Beno mengangkat kaos yang dikenakan Reni hingga benda kenyal itu menganga menentang panca inderanya.


"Buka matamu!"


"Tapi Pak-"


"Buka aja, jangan ngeyel!"


Sesuai permintaan Beno, Reni pun membuka matanya dan tergugu melihat tongkat Beno yang berukuran jumbo itu.


"Pegang, mainkan dengan tanganmu!"


Beno meraih tangan Reni dan menuntunnya menggenggam tongkat miliknya.


Kembali Reni menuruti keinginan Beno dan mulai menggerakkan tangannya, sementara Beno sendiri asik mengitari ujung dada Reni sembari sesekali menggigitnya hingga gadis itu mende*sah berulang kali. Beno bahkan melahapnya bergiliran hingga pipinya menggembung.


"Lebih cepat Reni! Aughhhh..."


Beno mulai mengerang hingga akhirnya lumpur panas itu menyembur membasahi tangan Reni. Beno melu*mat bibir Reni lagi dengan lahapnya.


"Ahhhh..."


Beno menempelkan bibirnya di pundak Reni dan memeluknya dengan erat. "Makasih," gumam Beno sembari mengusap rambut Reni.


"Apa ini hukuman untukku? Kapan hukuman ini akan berakhir?" lirih Reni dengan mata berkaca.


Beno mengerti betul bagaimana perasaan Reni saat ini. Gadis itu pasti merasa dimanfaatkan ulah ucapan Beno tempo hari yang terekam jelas di otaknya.


Beno menatap manik mata Reni dengan intim. "Bukan, ini bukan hukuman."


"Lalu apa?" tanya Reni dengan polosnya.


Beno meraih tangan Reni dan meletakkan tangan lembut itu di dadanya. "Coba tebak, ini apa?"


Reni menggeleng karena tidak tau jawabannya.


"Bodoh," Beno menggigit bibir bawah Reni lalu mengecup kening gadis itu penuh kelembutan.


"Aku sayang sama kamu, gak ada hukuman hukuman. Paham!"


Reni terperanjat dan menatap Beno dengan intim. "Tapi Pak-"


"Beno Reni, bukan bapak. Emangnya kapan aku menikah dengan ibumu?" Beno menggigit hidung Reni gemas. Reni masih saja bergeming seakan tak percaya.


"Ya udah, cuci tanganmu! Bikinin aku sarapan yang enak ya. Kalau gak enak, siap-siap kamu yang akan aku makan."


Beno membuka kran dan membantu Reni mencuci tangan. Setelah Reni menghilang, Beno menyalakan shower dan berdiri di bawahnya. Jelas dia sangat bahagia karena terus saja tersenyum sembari menggosok tubuhnya.


Bersambung...