
Beruntung rapat hari ini diadakan setelah jam makan siang, jadi Beno masih memiliki waktu untuk bercerita dengan kedua remaja itu.
Beno duduk di sebuah bangku, Amit dan Sari ikut duduk di sebelahnya.
"Kalian bolos? Ini kan masih jam sekolah?" tanya Beno membuka percakapan.
Amit dan Sari menekuk wajahnya, jelas sekali keduanya menyembunyikan sesuatu dari Beno. Beno bisa melihat ada yang tidak beres dengan mereka.
"Kenapa diam aja? Ayo, cerita!" desak Beno.
Kedua remaja itu kembali mengingatkan Beno akan gadis yang sekarang bekerja di rumahnya. Sama persis, tidak mau bercerita meski sudah didesak sekalipun. Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga itu? Hal ini menjadi tanda tanya besar di benak Beno.
"Kalian yakin ingin diam aja di sini? Atau mau saya adukan sama kakak kalian?" ancam Beno menakuti keduanya.
"Kak Reni udah tau kok Pak," Amit akhirnya membuka suara.
"Tau apa? Katakan padaku!" Beno sengaja memancing mereka agar semuanya menjadi jelas.
"Kami diskorsing dari sekolah," ungkap Sari sambil menundukkan pandangannya.
"Kenapa? Apa kalian berulah?" cerca Beno sambil mengerutkan keningnya.
"Gak kok Pak, kami tidak pernah berulah." sahut Amit.
"Lalu kenapa kalian diskorsing?" tanya Beno menuntut penjelasan.
"Kami menunggak uang sekolah selama beberapa bulan. Pihak sekolah gak bisa lagi memberi keringanan. Pagi tadi kami udah menghubungi Kak Reni, sayangnya Kak Reni belum punya uang. Kata Kak Reni janji dulu sampai dia gajian, tapi tetap aja pihak sekolah gak mau ngasih keringanan." jelas Amit.
Beno manggut-manggut mendengar penjelasan kedua remaja itu. Sekarang dia mengerti kenapa Reni menangis di kamar si kembar tadi, alasan yang masuk akal menurut Beno. Jelas gadis itu sedih karena kedua adiknya tidak bisa melanjutkan sekolah mereka.
"Kenapa gak minta sama orang tua kalian aja? Bukankah ini merupakan tanggung jawab mereka? Kenapa membebankan semua ini kepada kakak kalian?" Beno sengaja memancing keduanya agar mau bercerita.
"Kami gak tau mereka dimana sekarang, kami bahkan sudah lupa bagaimana wajah mereka. Kata Kak Reni mereka sudah bercerai dan meninggalkan kami saat itu juga. Sampai sekarang tak satupun dari mereka yang pernah melihat kami." Amit menyeka wajahnya yang mulai basah dibanjiri air mata.
"Hanya Kak Reni lah keluarga kami yang tersisa, dia yang berjuang sendirian membesarkan kami, dia yang menyekolahkan kami, dia juga yang memberi kami makan. Dia sampai kehilangan masa remajanya hanya untuk menghidupi kami, bahkan masa depannya dia korbankan hanya demi membahagiakan kami." Sari juga ikut menangis menceritakan penderitaan kakak perempuannya itu.
Beno tak kuasa menahan diri, dia tak menyangka ternyata gadis yang bekerja di rumahnya itu memikul beban yang amat berat di pundaknya. Segera Beno merengkuh kedua kakak beradik itu dan membawanya ke dalam dekapan dadanya.
"Udah, jangan nangis lagi! Kalian itu anak-anak hebat dan kuat. Hidup terkadang memang tidak adil bagi sebagian orang. Tapi percayalah, jika kalian sabar dan ikhlas menjalani semua ini, suatu saat kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya."
Air mata Beno akhirnya tumpah jua, betapa beruntungnya dia karena diangkat anak oleh sang kakek waktu itu. Jika tidak, entah bagaimana pula nasibnya yang tidak memiliki keluarga sama sekali.
Beno mengusap kepala adik beradik itu dengan sayang, rasanya seperti menemukan keluarga baru dengan nasib yang tak jauh berbeda.
Beno melepaskan pelukannya, lalu mengusap wajahnya berkali-kali. Setelah menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia pun berdiri dari duduknya.
"Ayo, ikut Kakak! Kakak gak punya banyak waktu, siang ini ada rapat di perusahaan." Beno menarik tangan keduanya dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Kak, sebelumnya kami minta maaf. Kami gak bisa nerima bantuan dari Kakak, kalau Kak Reni tau dia bakalan marah besar. Kami gak boleh minta bantuan sama orang lain." jelas Amit menolak bantuan dari Beno.
"Kalian gak minta, tapi Kakak yang mau bantuin. Jadi Kak Reni kalian itu tidak punya hak untuk marah. Lagian gak perlu bilang kalau Kakak yang bantuin, bilang apa kek." tekan Beno.
"Itu namanya bohong Kak, dosa." timpal Sari.
"Berbohong demi kebaikan itu sah-sah aja kok. Apa kalian gak mau melanjutkan sekolah kalian lagi? Rugi tau, katanya mau membahagiakan Kak Reni kalian itu." Beno berusaha keras meyakinkan kedua remaja itu. Ternyata adik dan kakak sama-sama keras kepala, pikir Beno.
Amit dan Sari pun terdiam, mereka sangat ingin melanjutkan sekolah agar nantinya bisa mendapatkan beasiswa seperti sang kakak. Mereka juga ingin menggapai cita-cita dengan kemampuan yang mereka miliki.
Karena kedua remaja itu sudah tak menolak lagi, Beno pun melajukan mobilnya menuju sekolah mereka.
Setengah jam berlalu, mobil Beno menepi di sisi jalanan. Beno segera turun disusul dua remaja itu. Ketiganya berjalan memasuki gerbang dan langsung menuju ruangan kepala sekolah.
Saat menghadap kepala sekolah, beberapa guru lain juga ikut bergabung bersama mereka. Beno tidak mau berbasa-basi terlalu lama karena dia sendiri tengah dikejar oleh waktu. Bisa ngamuk Elkan jika dia sempat telat menghadiri rapat penting di perusahaan.
Beno tidak hanya melunasi tunggakan mereka, tapi Beno juga membayar hingga semester akhir. Jadi keduanya tidak perlu takut akan diskorsing lagi.
Setelah menyelesaikan semuanya, Beno menyalami kepala sekolah beserta guru yang ada di ruangan. Setelah itu Beno berpesan agar Amit dan Sari bisa belajar dengan giat dan tekun.
Beno meninggalkan keduanya yang sudah boleh kembali ke kelas masing-masing, segera Beno masuk ke dalam mobil dan memacu kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi.
Setengah jam berlalu, tibalah Beno di perusahaan. Beruntung jam makan siang belum usai, jadi Beno masih sempat mengisi perutnya di kantin perusahaan.
Setelah mengisi perutnya, Beno kembali ke ruangannya. Dia pun meminta sekretarisnya Andin untuk menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan saat rapat nanti.
Beno meninggalkan ruangannya dan turun ke lantai dua belas tempat dimana rapat akan berlangsung sebentar lagi. Beno menyiapkan monitor yang nantinya akan disambungkan ke laptop Elkan. Secara Elkan belum mau ke kantor karena masih ingin menjaga istrinya dan si kembar, Elkan memilih bekerja dari rumah tanpa perlu meninggalkan keluarga kecilnya.
Di lobby sana, beberapa orang tamu penting yang mereka tunggu sudah berdiri di depan meja resepsionis. Seorang karyawan Bramasta Corp memandu mereka menuju lantai dua belas tempat dimana rapat akan segera dilangsungkan.
Seorang wanita berumur kisaran 45 tahun melangkah dengan pongahnya, nampak aura kesombongan memancar di wajahnya yang mulai terlihat keriput. Beruntung tertutupi dengan dandanannya yang cukup nyentrik hingga mengundang perhatian semua orang.
Bahkan beberapa orang yang berada di lobby tadi sampai sesak menahan tawa mereka, ada saja makhluk aneh seperti itu di jaman se modern ini.
Bersambung...