
Reni terbangun dan merintih saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Mata Reni membulat dengan sempurna, manik matanya berguling liar menyisir setiap sudut ruangan. Segera Reni duduk dan menangis mengingat kejadian memilukan tadi.
"Hiks... Hiks..."
"Kamu udah bangun?" seru Beno yang tengah duduk di ujung sofa, kemudian bangkit dan melangkah mendekati ranjang.
"Jangan mendekat!" tahan Reni sembari mengacungkan lima jarinya ke arah Beno.
"Reni, jangan takut! Ini aku Beno," ucap Beno dengan suara lembut agar Reni tidak takut pada dirinya.
"Jangan mendekat, aku mohon!" lirih Reni bermandikan air mata.
"Reni, tenangkan dirimu! Semua udah berlalu, kamu aman bersamaku." jelas Beno sembari menekuk kakinya di sisi ranjang.
Beno hendak mengusap rambut Reni tapi gadis itu dengan cepat menepis tangannya. "Jangan sentuh aku dengan tangan suci Bapak, aku kotor!" lirih Reni sembari membuang pandangannya.
"Reni, kamu gak kotor. Gak terjadi apa-apa sama kamu, kamu masih bersih." jelas Beno meyakinkan gadis itu.
"Gak, aku ini wanita kotor. Bajingan itu menyentuhku, dia menyentuhku." Reni menekuk kakinya dan memeluknya sembari menyembunyikan wajahnya di atas lutut.
Beno menghela nafas berat dan menarik Reni ke dalam pelukannya. "Kamu gak kotor Reni, hilangkan pikiran buruk itu dari pikiranmu!" Beno membelai rambut Reni dengan lembut dan mengecup keningnya dengan sayang.
"Lepasin aku Pak!" Reni mendorong dada Beno dan melompat turun dari tempat tidur dengan pakaian Beno yang melekat di tubuhnya. Dia menekan kenop pintu, namun tak berhasil membukanya.
Reni berbalik dan menatap Beno dengan wajah memelas. "Pak, tolong buka pintunya! Aku harus pergi dari sini," pinta Reni memohon sembari menyatukan kedua telapak tangannya.
Beno turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Reni, kemudian memeluknya dengan erat. "Kamu gak boleh kemana-mana, tetaplah di sini bersamaku!"
"Pak, aku harus pergi. Tolong mengertilah!" pinta Reni terisak di dada Beno.
Beno menghela nafas berat. "Emangnya kamu mau kemana?" tanya Beno sembari mengusap punggung Reni dengan lembut.
"Kemana aja, aku gak bisa lagi di sini. Aku harus pergi, tolong buka pintunya!" desak Reni yang masih begitu keras dengan pendiriannya.
Beno mulai kehilangan akal meyakinkan gadis itu. Dia mengangkat tubuh ringkih Reni dan membawanya menuju ranjang, lalu membaringkannya di atas kasur. "Istirahat dulu di sini, jangan berpikir aneh-aneh!"
"Tapi Pak, aku harus-"
"Mmmm..."
Beno membungkam mulut Reni dengan bibirnya, melu*matnya penuh kelembutan hingga membuat Reni bergeming dengan mata terbuka lebar.
"Tidurlah! Jangan banyak bicara dan jangan berpikir aneh-aneh!" ucap Beno setelah melepaskan pagutan nya.
"Apa itu hukuman untukku?" lirih Reni dengan mata berkaca.
Beno mengukir senyum di bibirnya, lalu mencubit pipi Reni gemas. "Tidurlah! Aku keluar sebentar membeli makanan untuk kita."
Segera Beno beranjak dan merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah kunci. Setelah membuka pintu, Beno menguncinya dari luar agar Reni tidak kabur darinya.
Yuna memaklumi itu dan menyuruh Beno menemani Reni sampai gadis itu benar-benar tenang. Yuna juga bersyukur karena Beno berhasil menyelamatkan gadis itu tepat pada waktunya.
Setelah memutuskan sambungan telepon, Beno melanjutkan langkahnya menuju warung pecel lele yang ada di seberang apartemen dan segera memesan makanan untuknya dan juga Reni. Sembari menunggu pesanannya matang, Beno meninggalkan warung dan masuk ke dalam swalayan yang ada di sebelahnya.
Beno mendorong troli dan mengambil berbagai macam bahan makanan cepat saji, cemilan, roti, susu, selai, beberapa macam minuman dan lain sebagainya. Semua itu untuk stok bila mana perut mereka merasa lapar di tengah malam.
Usai membayar semuanya, Beno kembali ke warung mengambil pesanannya. Setelah itu kembali ke apartemen sembari menenteng dua kantong kresek yang ada di tangannya.
Beno membuka pintu dan menguncinya kembali. Dia melangkah menuju dapur dan menyusun bahan makanan tadi di dalam kulkas, kemudian memindahkan makanan yang dia pesan tadi ke dalam piring.
Beno melangkah menuju kamar sembari membawa sebuah nampan. Setelah masuk dia kembali mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di dalam kantong celana, lalu menaruh nampan tadi di atas meja.
"Reni, makan dulu yuk!" ajak Beno sembari melangkah menuju ranjang.
"Aku gak lapar," sahut Reni sembari menyembunyikan wajahnya di dalam selimut.
Beno menarik selimut itu hingga wajah Reni menganga di depan matanya. "Mau makan atau mau aku cium lagi?" tawar Beno sembari tersenyum lebar.
Reni membulatkan matanya dengan sempurna. Pria macam apa yang ada di depannya itu? Kalau tidak mengancam pasti memaksa. Reni memajukan bibirnya dan bangkit dari tidurnya, lalu melangkah menuju sofa.
Beno yang melihat itu hanya bisa tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, kemudian menyusul Reni dan duduk di sampingnya.
"Mau ayam bakar apa ikan bakar?" tanya Beno sembari menatap wajah Reni dengan intim.
"Ikan bakar," jawab Reni ketus dan mengangkat piring yang berisikan nasi, ikan bakar, lalapan dan juga sambal.
"Hei, mau ngapain?" Beno segera mengambil alih piring yang sudah ada di tangan Reni.
"Makan lah, mau ngapain lagi?" gerutu Reni dengan bibir mengerucut.
"Aku suapi ya," tawar Beno sembari tersenyum lebar.
"Aku bisa makan sendiri," Reni mengambil piring itu lagi dari tangan Beno dan beralih memunggunginya.
Beno kembali tersenyum dan mengambil piring satunya dari atas meja. "Jorok ih, cuci tangan dulu gih!"
Reni menaruh piring itu di atas meja dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mencuci tangan, Reni kembali duduk dan mulai menyantap makanannya hingga ludes tak bersisa. Begitupun dengan Beno yang mulai asik mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
Usai mengisi perut, Reni berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan. Tak lupa pula dia mencuci wajah dan menggosok gigi. Beruntung ada sikat gigi baru di dalam sana.
Setelah membersihkan diri dan mengelap wajahnya dengan handuk, Reni keluar dan berbaring di atas kasur. Perutnya sudah sangat kenyang hingga matanya mulai mengantuk. Tidak lama dia pun tertidur dengan pulas.
Beno memilih berbaring di atas sofa sembari terus menatap wajah Reni. Ada kebahagiaan tersendiri di dalam hatinya saat menyaksikan wajah polos gadis itu. Apa Beno benar-benar sudah tertarik pada Reni? Rasanya begitu nyaman saat berdekatan dengan gadis itu.
Puas memandangi wajah gadis itu, Beno pun ikut tertidur menyusul Reni yang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpinya. Tubuhnya sangat lelah setelah seharian berjibaku mencari alamat wanita gendut tadi. Sebelum menemukan Reni, Beno benar-benar tidak bisa tenang hingga emosinya naik turun tak menentu. Kini Beno bisa bernafas lega dan tidur dengan nyenyak.
Bersambung...