
Di kediaman Bramasta, Yuna tengah mendorong stroller si kembar di pekarangan rumah. Suara mesin mobil menderu di telinganya hingga membuat leher Yuna berputar beberapa derajat.
"Yeay, Papanya Edgar sama Elga sudah pulang." seru Yuna dengan senyuman yang sangat manis, dia kemudian mendorong stroller si kembar ke arah mobil yang tengah diparkirkan.
Elkan turun sembari tersenyum dan menghampiri Yuna, lalu memeluknya dan mengecup keningnya. Setelah itu Elkan membungkukkan punggungnya dan mengecup pipi gembul Edgar dan Elga secara bergantian.
"Tumben anak Papa main di luar, bosan ya di rumah terus?" ucap Elkan di hadapan kedua buah hatinya itu.
"Hahahaha... Papa sok tau," jawab Yuna sambil tertawa.
Elkan mendongak sambil mengerutkan keningnya. "Kok malah ketawa? Apanya yang lucu?"
"Gak ada, lagi pengen ketawa aja." sahut Yuna dengan santainya. Hal itu membuat Elkan sedikit curiga.
Sementara Elkan dan Yuna masih asik berbicara, Amit memasuki rumah sambil mengangkut barang-barang belanjaan dia dan Elkan tadi. Dia sampai bolak-balik tiga kali saking banyaknya barang yang Elkan beli.
"Amit, kamu ngapain mondar-mandir dari tadi?" Yuna menautkan alisnya. "Itu apaan?" imbuh Yuna saat mendapati tangan Amit yang dipenuhi dengan paper bag.
"Tanya sama suami Kak Yuna saja!" jawab Amit yang malah melemparkan pertanyaan itu kepada Elkan, lalu melanjutkan langkahnya memasuki rumah.
Elkan mengeratkan rahang saat mendengar jawaban Amit barusan, bocah itu selalu saja menguji kesabarannya dengan jawaban asal yang mampu memicu emosi. "Kau..."
Elkan ingin menyorakinya tapi urung mengingat ada si kembar bersamanya. Dia tidak ingin membuat kedua buah hatinya terkejut mendengar suaranya yang lantang.
"Masuk yuk!" ajak Elkan, lalu mengambil alih stroller si kembar dan mendorongnya ke dalam rumah. Yuna berjalan di samping suaminya itu.
Sesampainya di ruang keluarga, Yuna menautkan alis hingga membuat matanya menyipit saat mendapati banyaknya paper bag yang tersusun rapi di atas lantai.
"Amit, apa ini?" tanya Yuna kebingungan.
Amit mengangkat bahu sambil memajukan bibirnya beberapa senti. Dia kemudian mengambil paper bag miliknya dan berjalan meninggalkan ruangan.
"Bang...?" Yuna beralih menatap Elkan karena tak mendapatkan jawaban dari Amit.
"Buka saja sayang, kenapa harus banyak tanya sih? Semua itu untuk Yuna dan si kembar." jelas Elkan.
"Hah...?" Mata Yuna terbuka lebar dengan mulut sedikit menganga.
Apa dia sedang bermimpi? Tidak biasanya Elkan pulang dengan bawaan sebanyak itu.
Karena penasaran, Yuna langsung duduk di dasar lantai. Dia membuka satu persatu paper bag itu tanpa tertinggal satu pun.
Pertama Yuna mendapati berbagai macam mainan untuk si kembar, ada pakaian yang lucu-lucu juga buat keduanya. Lengkap dengan aksesoris berupa topi, bando, kaos kaki dan banyak lagi yang lainnya.
Kemudian Yuna mendapati beberapa helai gaun pesta untuk dirinya, lengkap dengan tas, high heels dan juga aksesoris berbentuk anting, kalung, gelang dan juga bros.
Yang paling mengejutkan, Yuna mendapati beberapa pakaian tidur berupa piyama, kimono dan lingerie tipis dengan pilihan warna yang beragam, lengkap dengan BRA dan juga CD yang senada.
"Bang...?" Yuna mendongakkan kepalanya dan menilik mata Elkan.
"Hmm..." gumam Elkan yang masih fokus dengan kedua buah hatinya.
"Abang... Lihat ke sini dulu!" rengek Yuna dengan bibir mengerucut.
"Ini benar untuk Yuna dan si kembar?" tanya Yuna memastikan.
"Iya, untuk siapa lagi?" jawab Elkan santai.
"Tapi ini apaan Bang? Yuna tidak biasa pakai yang beginian," Yuna merentangkan BRA dan CD itu ke arah Elkan. Dia bingung bagaimana cara memakainya.
Menurut Yuna pabrik yang memproduksi pakaian tersebut mungkin salah desain. Masa' kainnya cuma secuil, itupun hanya bisa menutupi bagian tertentu saja.
BRA yang ada di tangannya itu hanya memiliki sedikit kain untuk menutupi bagian ujung dada saja, selebihnya hanya ada tali sebagai pengikat. Begitu juga dengan CD yang dia pegang, hanya ada kain di bagian depan untuk menutupi intinya, selebihnya juga hanya ada tali. Apa tidak mengganggu jika tali itu terselip ditengah bokongnya? CD biasa saja kalau nyelip bisa bikin tidak nyaman, begitulah Yuna mengutarakan kekhawatirannya.
Pipi Elkan menggembung menahan tawa saat mendengar penuturan istrinya itu. Lucu saja menurutnya, apalagi melihat air muka Yuna yang menggemaskan dengan bibir mengerucut. Ingin sekali Elkan menggigit bibir itu sekarang juga tapi tak mungkin mengingat posisi mereka yang masih berada di ruang keluarga.
Elkan turun dari sofa dan duduk di samping Yuna. "Bodoh banget sih, itu kan bukan untuk dipakai harian. Makainya pas lagi di kamar saja sama Abang." bisik Elkan tepat di telinga Yuna. Hal itu membuat pipi Yuna bersemu merah.
"Oh, begitu ya." Yuna manggut-manggut pertanda dia mengerti maksud ucapan suaminya itu.
"Nanti malam dipakai ya, biar bikin greget!" pinta Elkan yang lagi-lagi berbisik di telinga Yuna.
"Iya," jawab Yuna singkat, lalu memasukkannya kembali ke dalam paper bag.
Seketika seringai tipis melengkung di sudut bibir Elkan, semangatnya jadi berkobar-kobar menunggu malam tiba.
Setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Yuna, Elkan kemudian bangkit dari duduknya dan membawa barang-barang tersebut ke kamarnya. Tidak dengan mainan si kembar yang sengaja dibiarkan berada di ruang keluarga.
Usai menaruh barang-barang itu di kamarnya, Elkan kembali turun dan menggendong kedua buah hatinya ke kamar mereka. Sudah saatnya Edgar dan Elga mandi mengingat hari yang sudah semakin sore.
Seperti biasa, Elkan akan membantu Yuna mengurusi si kembar. Elkan membuka pakaiannya terlebih dahulu dan menaruhnya di atas sofa, lalu membuka pakaian Elga dan Edgar saat Yuna tengah menyiapkan air hangat.
"Sayang Mama mandi dulu ya biar segar dan wangi," ucap Yuna saat keluar dari kamar mandi.
Yuna kemudian menggendong Elga, sementara Elkan menggendong Edgar dan membawa keduanya ke kamar mandi.
Kini Elkan sudah lihai memandikan buah hatinya, tidak ada ketakutan lagi mengingat si kembar yang sudah semakin besar dan lincah.
Setelah memandikan si kembar, Elkan membalut tubuh keduanya dengan handuk lalu menyiapkan pakaian yang tadi dia beli dan memakaikannya ke tubuh dua bocah gembul itu.
"Lucu sekali anak Papa, sayang dulu dong!" seloroh Elkan, lalu mencium pipi bakpao keduanya secara bergantian.
"Hehehe... Papa ada-ada saja, yang satu jadi tikus dan satunya lagi jadi kucing." Yuna tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan kedua buah hatinya yang memakai baju bertema binatang itu. Edgar dan Elga pun ikut tertawa seakan mengerti maksud sang mama.
Entah ide dari mana sehingga membuat Elkan membelikan baju tersebut untuk kedua buah hatinya.
"Harusnya tadi Abang beli juga yang ukuran besar buat kita, biar jadi famili couple kita berempat." ucap Elkan menyambung tawa Yuna.
"Hahahaha... Jangan aneh-aneh Bang, cukup mereka saja!" Yuna merebahkan kepalanya di lengan Elkan dan memeluknya erat. "Makasih ya, Abang sudah jadi Papa terbaik buat mereka."
"Ngomong apa sih?" Elkan mengerutkan keningnya. "Kalian bertiga sama pentingnya buat Abang, Abang sayang sama kalian semua." Elkan melingkarkan tangannya di pinggang Yuna dan mengacak rambutnya hingga berantakan, lalu mengesap bibir istrinya itu dengan penuh kelembutan.
Bersambung...