
Beno duduk di meja makan menikmati sarapan pagi. Berbeda dengan hari biasanya, pagi ini senyumannya nampak begitu lepas bak seseorang yang baru memenangi lotre. Entah mengapa sejak semalam hatinya serasa berbunga-bunga seperti ABG yang baru pertama kali jatuh cinta.
"Woi, senyum-senyum sendiri. Apa kepalamu baru aja membentur dinding?" Tiba-tiba suara besar Elkan mengagetkan Beno, senyuman itu pun hilang dengan sendirinya.
"Iya nih, kenapa kamu Beno? Lagi jatuh cinta ya?" tebak Yuna yang kini sudah duduk di hadapannya.
"Jatuh cinta?" Beno mengerutkan keningnya mengulangi kata itu. "Gak lah, mana ada?" imbuh Beno, lalu melanjutkan sarapannya.
Elkan dan Yuna saling melirik, sedetik kemudian kembali fokus dengan makanan yang sudah terhidang di atas meja. Yuna menyendok kan nasi goreng ke piring Elkan, tak lupa Yuna menaruh telur ceplok di atasnya ditambah kerupuk kulit yang menjadi makanan favorit Elkan.
Di atas sana, Reni nampak gelisah dengan wajah lusuhnya. Kali ini bukan memikirkan kedua adiknya, melainkan memikirkan kejadian semalam yang membuatnya benar-benar malu. Bisa-bisanya pagi ini dia terbangun di dalam dekapan Beno. Kenapa dia bisa se ceroboh itu? Kemana dia harus menyembunyikan mukanya? Dia bahkan tidak sanggup menatap wajah pria itu.
Dalam pemikiran yang tengah dilanda kegelisahan, tiba-tiba matanya membulat saat menangkap keberadaan Beno yang sudah berdiri di ambang pintu. Seketika mulut Reni kelu dengan tangan berkeringat dingin. Rasanya ingin mati saja daripada harus melihat wajah itu.
Beno mengukir senyum di bibirnya. "Kenapa melihatku seperti itu?"
Reni terperanjat dengan nafas terengah. "Permisi Pak,"
Saat Reni hendak meninggalkan kamar, Beno meraih tangannya hingga langkah kakinya terhenti di samping Beno.
"Pak, tolong lepasin aku! Aku minta maaf kalau aku salah, anggap aja gak terjadi apa-apa diantara kita semalam!" Reni menekuk wajahnya mengatakan itu.
"Enteng banget mulutmu bicara. Apa kau gak punya hati?" ketus Beno dengan tatapan horor.
"Gak ada hubungannya dengan hati, toh gak terjadi apa-apa diantara kita kan?" jelas Reni dengan mata berkaca. Dia berusaha keras menarik tangannya dari genggaman Beno, tapi kekuatannya tak sebanding dengan pria itu.
"Apanya yang gak terjadi apa-apa, kau sudah memelukku dan mencium ku. Apa kau gak tau kalau tubuhku ini masih suci? Belum ada seorang pun wanita yang pernah menyentuh kulitku ini, tapi kau melakukannya padaku." tegas Beno penuh penekanan.
Reni ingin sekali menangis tapi dia tahan, dia tidak mau dianggap lemah oleh siapapun termasuk Beno.
"Pak, aku benar-benar minta maaf. Aku gak ada maksud menyentuh Bapak, lagian kenapa Bapak malah tidur di ranjang ku? Harusnya Bapak keluar saat aku tertidur, kenapa menyalahkan aku seorang?"
Setetes cairan bening akhirnya lolos di sudut mata Reni, dia sadar semua ini salahnya. Reni mendorong dada Beno sekuat tenaga dan berlari meninggalkan kamar si kembar.
Dasar Beno saja yang jahil. Setelah kepergian Reni, dia malah tersenyum dengan leluasa. Apa otaknya sudah tidak waras? Hobi sekali menakut-nakuti anak orang sampai segitunya. Padahal dia sendiri yang salah karena membaringkan diri di samping Reni yang sudah terlelap.
Reni duduk di bangku taman belakang sembari menikmati sarapan. Air matanya terus saja menetes, kenapa hidupnya jadi semakin kacau begini?
Usai sarapan, Reni menemui Yuna yang masih duduk di ruang keluarga. "Permisi Bu, boleh aku bicara sebentar?"
"Reni, duduklah!" Yuna menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.
"Gak usah Bu, di sini aja." Reni menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengatur nafasnya kembali.
"Bu, kalau aku gak nginap di sini boleh gak Bu? Aku akan datang setiap jam 7 pagi dan pulang-"
"Kenapa? Kamu gak betah di sini?" Yuna menatap Reni penuh selidik.
"Bukan Bu, aku kasihan sama kedua adikku. Mereka-"
"Jangan diberi izin!" sela Beno yang baru saja tiba di sana, dia sempat mendengar ucapan Reni yang tidak ingin menginap di sana lagi.
Yuna menautkan alisnya bingung. Ada apa dengan Reni dan kenapa Beno melarangnya? Sungguh aneh tapi Yuna sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengan mereka berdua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berganti hari, Reni melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Sejak hari itu dia selalu menghindar dari Beno, jangankan untuk bicara menatap wajah Beno saja dia sangat enggan.
"Tok Tok Tok"
Baru saja Reni memejamkan matanya, dia harus bangun lagi saat suara ketukan pintu tak henti mengganggu pendengarannya.
"Kleeek!"
Pintu terbuka, Reni membulatkan matanya dengan sempurna saat mendapati Beno yang sudah berdiri di hadapannya. Segera Reni menutupnya kembali, namun terhalang dengan kaki Beno yang mengganjal di bawah sana.
"Pergi, aku gak mau bicara sama Bapak!" Sekuat tenaga Reni berusaha mendorong pintu, sekuat itu pula Beno menahannya. Hingga pada saat Beno mendorong pintu itu, tubuh Reni terpental cukup jauh.
"Aaaaaaaa..."
Beno segera berlari dan menangkap tubuh Reni yang hampir terjun bebas di lantai.
"Lepasin aku! Aku lebih baik jatuh daripada disentuh oleh Bapak," ketus Reni sembari memukul dada Beno.
Sesuai permintaan Reni, Beno melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang gadis itu.
"Bug!"
"Aaaaaaaa..."
Reni mengusap pinggangnya yang terasa begitu nyeri, bahkan bokongnya terasa sakit saat membentur lantai. "Dasar tidak punya hati!" umpat Reni sembari bangkit dari duduknya.
Beno hanya tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun. Betapa menggemaskan gadis itu di mata Beno, apalagi dalam mode kesal seperti ini.
"Apa yang Bapak lakukan di sini? Ini sudah malam loh Pak, jangan membuatku malu lagi! Apa kata orang jika melihat Bapak di kamar ini?" geram Reni dengan tatapan mematikan.
"Apa kata orang? Aku gak peduli," jawab Beno dengan entengnya.
"Iya, Bapak gak peduli karena Bapak pemilik rumah ini. Tapi aku-"
"Ah sudahlah, pergilah dari sini! Atau aku yang pergi," ancam Reni dengan tatapan horor.
"Emangnya kemana kau bisa pergi hah?" tanya Beno dengan senyuman licik.
"Kemana aja, asalkan gak di rumah ini lagi. Aku sudah muak melihat wajah Bapak, lebih baik aku kembali bekerja di rumah sakit." Reni berlalu meninggalkan kamar dan berlari menuju pintu utama.
"Jangan harap bisa lari dariku!" batin Beno dengan rahang mengerat kuat.
Segera Beno menyusul Reni yang sudah tiba di halaman depan. "Selangkah lagi kau berlari, jangan harap akan kembali lagi ke rumah ini! Dan aku pastikan gak akan ada rumah sakit yang mau menerimamu bekerja!"
Reni menghentikan langkahnya dan mematung menelaah kata-kata Beno barusan. Seketika air matanya jatuh berderai, sekejam ini kah orang kaya yang seenaknya menindas rakyat jelata seperti dirinya.
Reni menyeka wajahnya dan berbalik. Dengan wajah sendu dia kembali memasuki rumah. Jika saja dia tidak membutuhkan pekerjaan ini, mungkin dia tidak akan gentar dengan kata-kata Beno barusan.
Bersambung...