
Satu jam sudah berlalu, Dokter Cindy keluar dari ruangan Yuna sembari tersenyum kecil. Tentunya membuat Elkan bingung dan bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan dokter itu? Tidak biasanya senyuman dokter itu terlihat selepas ini.
Dengan segera Elkan berdiri dan mendekati Dokter Cindy. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa Yuna baik-baik saja?" cerca Elkan dengan pertanyaan beruntun.
Kembali Dokter Cindy tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang sangat rapi. "Masuklah! Anda akan menemukan jawabannya nanti."
Seakan sedang mengisi TTS, Elkan semakin bingung dengan kening mengkerut mencari jawaban. Kenapa harus diberi pernyataan seperti ini? Justru hal ini membuat jantung Elkan berdetak secepat rollercoaster yang tengah melaju kencang.
"Saya permisi dulu!" Dokter Cindy berlalu begitu saja meninggalkan Elkan yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Elkan menautkan alisnya. "Aneh, ada apa dengannya?" gumam Elkan yang masih saja tidak mengerti arah pembicaraan dokter itu.
Tak ingin menunggu lagi, Elkan pun dengan cepat mengayunkan langkahnya. Apa benar jawaban yang dia cari ada di dalam sana?
"Permisi Sus, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Elkan sembari berjalan menghampiri ranjang Yuna.
"Deg!"
Belum juga suster itu menjawab, mata Elkan sudah terbelalak dengan mulut sedikit menganga. Seketika matanya berkaca-kaca menatap lekat wajah istrinya.
"Sayang...,"
Hujan lebat pun berjatuhan mengguyur wajah Elkan tanpa henti. Jangankan untuk berteriak, berucap sepatah kata saja rasanya begitu sulit. Hanya tangisan itu lah yang menjadi gambaran bagaimana perasaan Elkan saat ini. Hancur, luluh, sedih, bahagia, haru, semua melebur jadi satu.
"Huuu... Hiks..." isak Elkan pecah sembari merebahkan kepalanya di dada Yuna, memeluknya erat seakan tak ingin melepas lagi.
Sungguh keajaiban itu memang benar adanya, Elkan sendiri yang kini tengah merasakannya. Wanita yang tidur selama berbulan-bulan, kini sudah bisa membuka matanya kembali.
"Saya permisi dulu, Pak!" seru suster sambil melangkah menuju pintu, dia tidak kuat melihat pemandangan itu.
Elkan melepaskan pelukannya, beralih menyentuh pipi Yuna dengan wajah yang masih banjir dengan air mata. Sesak memang, Elkan bahkan memukul wajahnya sendiri untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.
Sakit, tentu saja sakit karena ini bukanlah mimpi seperti prasangka Elkan. Ini nyata dan ini lah mukjizat terbesar di dalam hidupnya.
"Sayang, Yuna lihat aku kan? Yuna bisa dengar aku kan?" lirih Elkan, lalu menempelkan bibirnya di pipi Yuna.
Yuna tak bisa menyahut, namun air matanya ikut menetes ketika melihat dan mendengar rintihan Elkan. Ada kerinduan yang begitu mendalam di hatinya, rasanya sudah lama sekali dia tak melihat wajah pria yang sangat dicintainya itu.
Perlahan jemari Yuna mulai bergerak, tangannya pun seketika terangkat dan jatuh di pipi Elkan.
"Deg!"
Lagi-lagi Elkan dibuat berperang dengan detak jantungnya yang berdegup tak beraturan, rasa ngilu pun tertancap hingga ulu hatinya. Jika ini hanyalah sebuah mimpi, maka biarkan Elkan tidur untuk selamanya agar mimpi ini tidak pergi darinya.
Segera Elkan mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menggenggam tangan Yuna dengan erat dan mengecupnya tanpa henti.
"Aku merindukanmu sayang, aku senang kamu kembali. Jangan pergi lagi ya, aku mohon! Aku tidak bisa hidup tanpamu." lirih Elkan sembari menatap lekat wajah Yuna penuh kerinduan.
Yuna lagi-lagi tak menyahut, hanya air mata yang dapat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Elkan pun memilih berbaring dan memeluk Yuna dengan erat.
Elkan yang tadinya terlelap, segera bangun saat mendengar suara suster yang cukup lantang menyentuh gendang telinganya.
"Maaf kalau saya mengganggu, saya ingin mengganti infus pasien." seru suster.
"Oh ya, silahkan!" Elkan pun bangkit dari pembaringannya dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Sepuluh menit berlalu, Elkan keluar dan membulatkan matanya dengan sempurna saat mendapati tubuh Yuna yang sudah beralih dengan posisi setengah duduk.
"Sus, kenapa istri saya didudukkan? Apa ini tidak berbahaya?" tanya Elkan dengan kening mengkerut.
"Tidak Pak, istri Anda yang memintanya. Mungkin punggungnya sakit karena terlalu lama berbaring selama ini." jelas suster.
"Maksud Suster? Apa istri saya sendiri yang memintanya langsung?" Lagi-lagi Elkan mengerutkan keningnya seakan tak percaya.
"Iya, kalau begitu saya permisi dulu!"
Setelah suster itu menghilang, Elkan segera duduk di samping Yuna dan menatapnya dengan intim.
"Kamu sudah bisa bicara? Tapi kenapa tidak menjawab saat aku bertanya? Kamu masih marah padaku?" cerca Elkan dengan berbagai macam pertanyaan.
Yuna tak menyahut, dia malah membuang pandangannya ke arah lain. Hal itu tentu saja membuat Elkan sedih, seakan kebencian itu masih mengalir deras di dalam darah istrinya.
"Yuna, maafkan aku sayang. Aku tau aku salah, aku sudah menyembunyikan kenyataan itu darimu." Elkan mengusap wajahnya berkali-kali, lalu menghela nafas berat.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu. Yang kamu lihat saat itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Dia memelukku setelah aku menceritakan tentang hubungan kita padanya. Aku tidak ingin dia berharap lagi padaku, pelukan itu hanyalah salam perpisahan. Aku memilihmu karena aku sungguh-sungguh mencintaimu, dia hanya masa lalu tapi kamulah hidupku dan masa depanku." jelas Elkan meyakinkan Yuna.
Percaya tak percaya, tetap saja hati Yuna sakit mengingat kejadian itu. Dia sudah memberikan semuanya untuk Elkan, bahkan jiwa dan raganya. Dia juga sudah mengabdikan diri sebagai istri dan berusaha melakukan yang terbaik, tapi justru hatinya dihancurkan dalam sekejap mata.
Yuna hanya bisa menangis mengenang semua itu. Dia merasa seperti orang ketiga yang tak punya harga diri. Kenapa cinta itu tumbuh jika akhirnya harus terluka sedalam ini?
"Sayang...,"
"Aku mau pulang ke rumah Ayah, kembalikan aku pada Ayah!" isak Yuna berlinangan air mata.
"Deg!"
Elkan memegangi dadanya yang seakan ingin meledak, panas, ngilu, perih bak dihujam beribu pedang. Apa ini hukuman yang harus dia terima? Apa Yuna sudah tak ingin lagi bersamanya?
"Sayang, jangan bicara seperti itu! Kita akan pulang, tapi ke rumah kita ya!" bujuk Elkan sembari mengusap kepala Yuna dengan lembut.
Yuna menggeleng berulang kali, sakitnya masih terasa hingga relung hati terdalam. Bagaimana bisa dia bertahan dengan pria yang sudah membagi hatinya untuk wanita lain? Meski Elkan sudah menjelaskan, Yuna tidak mungkin percaya begitu saja.
"Kau tidak mencintaiku, tapi kau masih mencintainya. Aku tau itu, aku mendengar sendiri saat kau memanggil namanya. Kau menyebut namanya dalam tidurmu, lalu siapa aku? Apa aku hanya pelarian saja bagimu? Kenapa Elkan? Kenapa kau begitu tega menyakitiku? Apa salahku padamu?" isak Yuna melepaskan semua beban di hatinya.
Elkan menundukkan pandangannya. Sebesar itukah luka yang sudah dia torehkan di hati Yuna sampai dia sendiri tidak menyadari semua itu. Elkan bahkan tidak ingat kapan dia menyebut nama wanita itu.
Bersambung...