Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 40.


**Hai kak, salam kenal dari Author Kopii Hitam


Meskipun hitam, tetap manis seperti reader yang membaca novel ini kan**


**Jangan lupa tinggalkan jejak petualangannya ya


Happy Reading**


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Elkan ingin melayangkan aksinya, tiba-tiba ponselnya berdering. Elkan mengusap wajahnya kasar, kemudian beranjak dari tubuh Yuna.


"Siapa sih? Ganggu aja," gerutu Elkan dengan wajah masam penuh kekesalan.


Yuna yang melihat itu hanya bisa tersenyum, wajah Elkan nampak lucu di matanya.


Elkan mengeratkan rahangnya, nama Beno terpampang jelas pada layar ponselnya.


"Sialan kau Beno, kenapa menelepon disaat seperti ini?" geram Elkan merutuki saudara angkatnya itu.


"Angkat saja Elkan, siapa tau penting!" seru Yuna sembari tersenyum kecil.


"Iya, ini mau diangkat." sahut Elkan dengan tatapan tak biasa.


Setelah sambungan telepon mereka terhubung, Elkan terdiam untuk sesaat. Dia nampak fokus mendengarkan ucapan Beno dari kantor sana.


"Iya, iya, setengah jam lagi aku tiba di sana." ucap Elkan, lalu mematikan sambungan telepon mereka secara sepihak.


Elkan melempar ponselnya pada permukaan kasur, kemudian bangkit dan memungut pakaiannya yang berserakan di mana-mana.


"Yuna, ayo rapikan pakaianmu! Kita harus ke kantor sekarang," ajak Elkan sembari mengenakan kemejanya.


"Malas ah, aku di rumah aja." jawab Yuna dengan santainya, kemudian meraih guling dan memeluknya erat.


Elkan menggertakkan giginya, geram melihat Yuna yang mengacuhkannya begitu saja.


"Yuna, ayolah! Jangan memancing emosiku pagi-pagi begini!" seru Elkan.


"Aku ngantuk Elkan, kamu pergi aja sendiri!" gumam Yuna sembari memicingkan matanya.


Elkan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, kemudian menarik kaki Yuna dan menggelitiknya tanpa ampun.


"Ahh, jangan Elkan! Geli," teriak Yuna sembari menggeliat.


"Makanya bangun, tidurnya di kantor aja nanti!" ucap Elkan sembari tersenyum kecil.


"Di kantor gak ada kasur, aku gak mau tidur di sofa." sahut Yuna.


"Siapa bilang gak ada kasur? Kamu aja belum pernah masuk ke ruangan suamimu," ucap Elkan yang sudah selesai merapikan pakaiannya.


"Gimana mau masuk, bukankah hubungan kita gak boleh diketahui orang lain?" gumam Yuna dengan bibir sedikit maju.


"Itu kan dulu sayang, sekarang gak lagi. Ayo cepatlah! Beno sudah menunggu kita," bujuk Elkan.


"Gendong," gumam Yuna sedikit manja.


"Astaga Yuna, kenapa jadi manja gini sih?" keluh Elkan, kemudian mengusap wajahnya kasar.


"Ya udah kalau gak mau, aku tidur lagi aja." gertak Yuna, kemudian menarik selimut dan menutupi keseluruhan tubuhnya.


Elkan ingin marah melihat tingkah Yuna yang kekanak-kanakan, namun dia juga senang melihat Yuna yang mulai leluasa di hadapannya. Seulas senyum terpahat indah di wajahnya.


Elkan mengibaskan selimut yang menutupi tubuh Yuna, lalu menarik kaki Yuna hingga terjuntai di sisi ranjang.


"Kemarilah!" pinta Elkan sembari mengulurkan kedua tangannya.


Yuna mengukir senyum di wajahnya, kemudian meraih tangan Elkan yang berniat membantunya berdiri.


"Astaga sayang, kenapa tubuhmu berat sekali?" keluh Elkan dengan kening sedikit mengkerut.


"Emangnya kenapa? Kamu gak suka? Atau kamu lebih suka wanita yang kurus, biar enak diapa-apain." ketus Yuna dengan tatapan mematikan.


"Loh, apa hubungannya?" Elkan menarik tubuh Yuna hingga terduduk di sisi ranjang, kemudian membantu Yuna menautkan kancing kemejanya.


Melihat sikap Elkan yang lebih lembut dari biasanya, senyuman Yuna mengambang di wajah cantiknya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Elkan, lalu menenggelamkan pipinya di perut Elkan.


Elkan ikut tersenyum melihat tingkah manja istrinya. Seandainya Elkan menyadari ini lebih awal, mungkin keduanya tidak perlu saling menyakiti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 11 siang, mobil yang dikendarai Elkan sudah terparkir di parkiran kantor. Elkan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Yuna.


Seulas senyum terpahat indah di wajah Yuna saat Elkan mengulurkan tangannya. Yuna menyambutnya, kemudian turun dari mobil.


Saat melangkah memasuki lobby, Elkan melingkarkan tangannya di pinggang Yuna, namun Yuna malah menepis tangan Elkan dan memberi jarak diantara mereka.


"Sayang, kenapa menjauh?" tanya Elkan sembari menghentikan langkahnya, keningnya nampak mengkerut menatap lekat wajah Yuna.


"Gak apa-apa, begini lebih baik." sahut Yuna sembari menekuk wajahnya, dia tidak ingin Elkan menjadi bahan gunjingan di kantornya sendiri.


Elkan menghela nafas berat, kemudian mengangkat dagu Yuna dengan jemarinya. "Lihat aku!"


Seketika, tatapan keduanya saling bertemu. Bola mata keduanya saling beradu pandang.


"Yuna, aku ini suamimu. Kenapa masih canggung?" tanya Elkan, kemudian meraih pundak Yuna dan menariknya hingga tubuh keduanya saling menempel.


"Aku tau, tapi...,"


"Sssttt, jangan mencari-cari alasan!" Elkan meraih tangan Yuna dan melingkarkan nya di lengannya, lalu mengapitnya.


"Ayo jalan!" ajak Elkan sembari tersenyum kecil.


Mau tidak mau, Yuna terpaksa menurut. Menghindar pun sudah tak bisa lagi.


Sesampainya di lobby, semua mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik para karyawan yang melihat kedatangan keduanya terdengar sahut-menyahut.


"Tuan Elkan datang, tapi siapa wanita itu?"


"Bukankah wanita itu pernah menjadi brand ambassador perusahaan ini?"


"Astaga, aku pikir dia tidak tertarik dengan wanita."


"Hust, jangan banyak bicara! Kalian mau dipecat?"


Yuna tau persis kalau dirinya sedang menjadi bahan gunjingan, wajahnya seketika memerah. Dia berusaha keras menarik tangannya dari lengan Elkan, namun Elkan tak membiarkan hal itu terjadi.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Elkan dengan tatapan mata elangnya yang tajam.


"Ti_tidak ada Tuan, selamat datang kembali di perusahaan." sahut seorang karyawan sembari membungkukkan tubuhnya.


"Lain kali, jangan bergunjing di kantor ini! Ini tempat kerja, bukan cafe atau mall." tegas Elkan dengan tatapan mematikan, kemudian berlalu begitu saja.


Semua karyawan terduduk lesu sembari menghela nafas lega, berhadapan dengan Elkan sama saja mencari mati. Pria itu tidak akan segan memecat karyawan yang berulah di kantornya.


"Elkan, tolong lepasin aku! Aku malu dilihat orang, kamu tidak dengar mereka semua membicarakan kita?" pinta Yuna memelas sembari menarik tangannya.


"Untuk apa mendengar ucapan orang?" tanya Elkan dengan santainya.


"Tapi aku malu Elkan, pasti mereka memikirkan yang gak-gak tentang kita." balas Yuna.


"Sudah sayang, jangan dipikirkan!"


Sesampainya di dalam lift, Elkan menekan tombol menuju lantai 15. Sebelum lift berhenti, Elkan membawa Yuna ke dalam dekapan dadanya. Dia menyentuh pipi Yuna dengan lembut, lalu mengecup pucuk kepala Yuna dengan sayang.


"Elkan, jangan seperti ini! Ini kantor, bagaimana jika ada yang melihat kita?" keluh Yuna yang mulai kelimpungan menghadapi sikap Elkan.


"Bagus jika ada yang melihat, sudah saatnya mereka tau kalau kamu itu istriku. Istri sah pemilik perusahaan ini." jelas Elkan sembari tersenyum kecil.


"Apa kamu tidak malu?" tanya Yuna sembari mendongakkan kepalanya.


"Untuk apa malu? Semua yang diinginkan pria ada padamu, justru aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu." ungkap Elkan dengan senyumannya yang khas, kemudian melabuhkan kecupan lembut di bibir Yuna.


"Elkan ih, jangan nakal di sini!" ketus Yuna sembari mengulum senyumannya.


"Ini bukan nakal sayang, ini naluri seorang suami. Bibirmu membuatku sangat candu, apa lagi yang bisa ku lakukan?" goda Elkan, lalu mengecup kembali bibir Yuna.


"Cukup Elkan! Lama-lama lipstik ku bisa habis karena mu," geram Yuna dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Gak masalah, tanpa lipstik pun istriku tetap terlihat cantik." sanjung Elkan sembari tersenyum sumringah.


"Gombal ih," Wajah Yuna seketika memerah. Saking malunya, dia pun menyembunyikan wajahnya di belahan ketiak Elkan. Elkan kembali tersenyum melihat ekspresi istrinya yang tak biasa.


Bersambung...