
Pagi hari, Reni berpamitan kepada Yuna dan Elkan yang masih duduk di meja makan. Berhubung hari ini hari Minggu, Reni bisa pulang ke rumahnya untuk melihat kedua adiknya yang sudah sangat dia rindukan.
"Pak, Bu, aku pamit pulang ya. Sore nanti aku akan kembali." ucap Reni sembari membungkukkan punggungnya.
"Kamu hati-hati ya. Bawa makanan ini untuk kedua adikmu, sampaikan juga salam kami padanya!" Yuna menunjuk rantang yang sudah diisi dengan makanan.
"Gak perlu Bu, aku-"
"Bawa aja, gak baik nolak rejeki!" timpal Elkan, dia juga memberikan uang saku pada gadis itu.
"Ini apa Pak?" Reni menautkan alisnya bingung.
"Ambil aja! Ini uang jajan buat adikmu," jelas Elkan.
Reni begitu terharu melihat kebaikan sepasang suami istri itu, baru juga satu bulan dia bekerja tapi kedua majikannya itu sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri dan begitu percaya padanya. Tidak dengan Beno yang selalu saja membuatnya jengkel.
Beno keluar dari kamar dan duduk di meja makan, berhubung hari ini libur dia sengaja bangun agak siang.
"Diah, Elkan dan Yuna gak sarapan?" tanya Beno dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Sarapan apa lagi Tuan, ini udah waktunya makan siang." sahut Diah menahan tawanya.
"Emangnya jam berapa sekarang?" tanya Beno dengan santai.
"Jam 12 Tuan, Tuan aja yang bangunnya kesiangan." sahut Diah.
Beno mendongak sembari menoleh ke arah jam yang terpajang di dinding. "Astaga, aku pikir baru jam 9. Maklumlah, jarang-jarang bisa tidur dengan nyenyak."
"Makanya cari pendamping, masa' Tuan Beno kalah sih sama Tuan Elkan. Lihat Tuan Elkan sekarang, ada yang ngurusin, udah punya dua anak lagi. Apa Tuan Beno gak ingin seperti Tuan Elkan?"
"Apaan sih Diah? Elkan ya Elkan, aku ya aku, jangan disamain!" gerutu Beno dengan tatapan horor.
"Ya udah, aku kan cuma nyaranin doang. Jadi bujang lapuk juga gak masalah, Tuan sendiri yang bakalan rugi." Diah memilih pergi setelah mengatakan itu.
"Bujang lapuk?" Beno mengulangi kata-kata itu. "Apa iya?"
"Iya, kau memang pantas disebut bujang lapuk." seru Elkan yang tiba-tiba muncul di belakang Beno.
"Apaan sih? Datang-datang nyerocos aja." keluh Beno sembari melanjutkan makannya.
"Hahaha... Beno, Beno, sudah betul apa yang dikatakan Diah tadi. Apa kau gak ngerasa iri melihatku diurusi Yuna setiap hari? Atau kau gak tertarik sama sekali pada wanita, apa kau bengkok?" seloroh Elkan menertawai saudara angkatnya itu.
"Bengkok apanya? Jaga bicaramu! Begini begini aku masih waras, aku juga memiliki hasrat sama wanita. Kau aja yang gak tau." ketus Beno dengan lirikan mematikan.
"Buktikan kalau begitu, jangan omong doang!" tantang Elkan.
"Tunggu aja tanggal mainnya!" Beno menyudahi makannya dan berjalan menuju kamar si kembar.
Elkan mengusap wajahnya berkali-kali, dia tau ada sesuatu diantara Beno dan Reni. Elkan sempat memergoki Beno menemui wanita itu di taman belakang dan semalam Elkan juga tidak sengaja melihat Beno dan Reni dari balkon kamar. Hal itu semakin menumbuhkan kecurigaan di benak Elkan.
Tapi Elkan sendiri tidak mau ikut campur terlalu dalam. Siapapun pilihan Beno dia akan tetap mendukung keputusan saudara angkatnya itu. Beno pasti tau mana yang terbaik untuk dirinya. Lagian Elkan juga suka dengan pengasuh si kembar itu, Reni tidak hanya cantik tapi juga sopan dan lembut. Sangat cocok dengan Beno.
"Yuna, kenapa kamu di sini? Bukankah si kembar punya pengasuh?" seru Beno yang sudah tiba di kamar keponakannya.
"Namanya Reni Beno, gak sopan ih." sahut Yuna sembari tersenyum kecut.
"Apaan sih Beno? Gak boleh ngomong gitu, kalau Reni dengar dia bisa tersinggung." ucap Yuna yang tidak suka dengan cara bicara Beno.
"Biarin aja! Emang aku peduli," Beno malah memasang wajah cuek di hadapan Yuna.
"Hati-hati Beno, kebencian bisa menumbuhkan rasa cinta loh. Kamu gak ingat bagaimana dulu Elkan membenciku? Elkan bahkan menghinaku dengan kata-kata yang tidak akan sanggup dicerna manusia. Sekarang apa yang terjadi?"
Beno terdiam menelaah kata-kata Yuna barusan. Memang benar yang dikatakan ibu dua anak itu, dia sendiri yang menjadi saksi bagaimana menderitanya Yuna karena perlakuan Elkan yang semena-mena. Elkan menghina Yuna dengan kata-kata kotor, meragukan kesucian Yuna dan bahkan menganggap Yuna wanita rendahan. Namun semua itu berbalik hingga membuat Elkan setengah gila saat kehilangan istrinya itu.
"Kalian membicarakan aku?" Elkan tiba-tiba muncul dan menatap keduanya bergiliran.
Tatapan Yuna dan Beno saling bertemu untuk sesaat, sedetik kemudian melempar pandangan mereka ke arah lain.
"Siapa yang membicarakan mu? Jangan kepedean, jelas-jelas kami sedang membicarakan dua keponakanku ini."
Beno mengangkat tubuh mungil Edgar yang tengah bermain sendirian di dalam box nya. Lebih baik daripada harus menanggapi pertanyaan Elkan.
Di tempat lain, Reni tengah melepas kerinduan terhadap kedua adik yang sangat dia sayangi. Setelah puas bercengkrama, ketiganya menyantap makanan yang tadi dibawa Reni dari rumah majikannya.
"Enak banget, begini ya rasanya jadi orang kaya. Makanannya enak semua," celetuk Sari dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Makan aja, ini rejeki kalian." timpal Reni yang begitu bahagia melihat kedua adiknya makan begitu lahap.
"Majikan Kak Reni baik ya, kapan-kapan ajak kami main ke sana dong. Pasti rumahnya sangat mewah." seloroh Sari yang tak hentinya memuji majikan kakaknya.
"Sssttt... Mana boleh, Kakak di sana hanya seorang pengasuh. Jangan berkhayal terlalu tinggi!" sela Reni.
Reni merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang yang tadi dia terima dari Elkan. "Ini, simpanlah! Bayar uang sekolah kalian, sisanya nanti Kakak usahain!"
"Gak usah Kak, uang sekolah kami udah dibayar. Bahkan udah lunas sampai akhir semester." ungkap Amit menolak uang pemberian kakaknya.
Reni membulatkan matanya dengan sempurna. "Amit, darimana kalian mendapatkan uang sebanyak itu?"
"Ada orang baik yang membantu kami. Kami udah nolak, tapi orang itu memaksa. Dia sendiri yang datang ke sekolah melunasinya." jelas Amit.
"Siapa orang baik itu? Apa Kakak kenal?" cerca Reni penasaran.
"Maaf Kak, orangnya gak mau disebutkan identitasnya. Kami disuruh tutup mulut. Waktu itu dia juga meninggalkan uang buat kami. Uang itulah yang kami gunakan untuk makan, ini masih ada sisanya tiga ratus ribu." timpal Sari sembari mengeluarkan uang ratusan dari kantong celananya.
Reni menautkan alisnya bingung. Siapa orang baik yang sudah membantu kedua adiknya? Mulia sekali hati orang itu, Reni sampai terharu dengan mata berkaca.
"Jika kalian bertemu dia lagi, bilang Kakak ngucapin makasih sama dia. Oh ya, apa dia seorang wanita atau pria?"
"Pria Kak, tampan dan baik hati. Sepertinya dia suka sama Kakak, gak mungkin dia mau bantuin kami secara percuma. Pasti dia berharap Kakak membalasnya dengan cinta." seloroh Sari terkekeh.
"Sok tau. Kalau dia berharap balasan cinta dari Kak Reni, untuk apa dia meminta kita menyembunyikan identitasnya?" sela Amit.
"Iya juga ya, lalu-"
"Sudahlah, untuk apa berdebat? Mungkin dia emang seorang dermawan yang dikirim Tuhan untuk membantu kita." tandas Reni.
Usai makan, Sari dan Amit segera membereskan lantai. Ketiganya lanjut bercengkrama sebelum Reni kembali ke rumah majikannya.
Bersambung...