
Seminggu setelah kejadian itu, Reni tidak pernah lagi menyapa ataupun menatap Beno. Meskipun Beno ada, Reni menganggapnya seperti udara. Ada tapi tak berwujud, terasa tapi tak terlihat. Mata Reni seakan buta, hatinya membeku layaknya batu.
Pagi ini Reni membawa Edgar dan Elga berjalan-jalan di halaman rumah. Menghirup udara segar sekaligus menjemur mereka di bawah sinar mentari pagi yang tentunya baik untuk kesehatan.
"Edgar, Elga, cilukba..." Reni nampak begitu bahagia mengasuh kedua bayi kembar itu, apalagi melihat tingkahnya yang lucu membuat Reni sangat gemas.
Dari kejauhan, Beno hanya bisa memandang tanpa bisa menyentuh, mendekat saja tidak berani. Bahkan sampai detik ini dia tidak tau bagaimana perasaannya terhadap Reni. Yang Beno tau dia hanya kasihan dengan gadis itu.
"Drttt... Drttt..."
Ponsel Reni bergetar di dalam saku celananya. Dengan cepat Reni mengangkatnya saat melihat panggilan itu dari adiknya.
Reni terpaku mendengar penuturan Amit yang tak memberinya kesempatan untuk berbicara, tiba-tiba tangannya bergetar hingga ponsel itu terlepas dari genggamannya.
Segera Reni meninggalkan taman sembari mendorong stroller si kembar memasuki rumah.
"Bu, aku izin pulang ya." ucap Reni sesampainya di ruang keluarga.
"Ada apa Reni? Kok kamu nangis?" tanya Yuna sembari menautkan alisnya.
"Gak papa Bu, barusan dapat telepon dari rumah. Aku pamit ya Bu,"
Belum sempat Yuna menjawab, Reni sudah berlari meninggalkan rumah besar itu. Pikirannya kacau memikirkan keadaan Sari yang sempat berteriak di telepon tadi.
"Jalan Bang!" pinta Reni setelah duduk di jok belakang abang ojek.
Reni menaiki ojek yang mangkal tak jauh dari gerbang rumah Elkan, dia bahkan mendesak abang ojek untuk mengendarai motornya dengan cepat.
Setengah jam kemudian, ojek yang ditumpangi Reni berhenti tepat di depan rumah. Setelah membayar ongkos, Reni langsung berlari memasuki rumah.
"Kak, tolong kami Kak! Pria ini menyuruh kami pergi dari sini." isak Sari.
Reni menatap pria itu dengan tajam. "Apa yang kau lakukan di sini? Berani sekali kau menyakiti adikku." bentak Reni kepada pria paruh baya yang sangat dia kenali.
"Plaaak"
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Reni hingga dia tersungkur di lantai, dasar segar mengalir di sudut bibirnya.
"Bajingan, jangan sakiti kakakku!" teriak Amit sembari mengepalkan tangannya. Amit ingin sekali menghajar pria itu tapi Reni bergegas menahannya. Sementara wajah Amit sendiri sudah babak belur dari tadi.
"Dasar anak tidak tau di untung!" umpat pria itu penuh emosi.
"Kau yang tidak tau diri. Setelah sekian lama, kenapa kini kau kembali ke rumah ini? Apa kau ingat masih punya anak?" jawab Reni yang tak kalah emosinya.
Pria itu mendekati Reni dan menarik rambut gadis itu hingga kepalanya tertarik ke belakang.
"Tinggalkan rumah ini! Rumah ini sudah ku jual untuk melunasi hutangku, kalian tidak punya hak tinggal di sini." usir pria itu.
"Dasar tidak tau malu. Setelah meninggalkan kami, sekarang kau berani mengusir kami dari sini. Ayah macam apa kau ini?" lawan Reni yang tak gentar sedikitpun.
"Plaaak"
Kembali wajah Reni dihujani tamparan keras hingga membuatnya terkulai lemah tak berdaya. Amit dan Sari menangis histeris melihat keadaan kakaknya yang sudah setengah pingsan.
"Cukup, jangan sakiti dia lagi!" Seorang pria yang sedari tadi diam melihat pertunjukan itu akhirnya bersuara.
Pria itu berjalan menghampiri ketiga adik beradik itu dan berjongkok tepat di hadapan Reni. "Anakmu ini cantik Anton, kenapa kau tega menyakitinya?"
"Apa maksudmu?" tanya Anton yang tak lain adalah ayahnya Reni.
"Bodoh, bawa dia ke tempat Mami Jenny! Kau akan mendapat keuntungan yang lebih besar dari harga rumah ini. Apalagi jika anakmu ini masih perawan, pasti mahal harganya." saran pria itu.
"Hahaha... Kau benar, kenapa tidak mengatakannya dari tadi?" Anton tertawa penuh kebahagiaan. Pikirannya sudah dibutakan dengan uang hingga tak peduli sedikitpun pada anak kandungnya sendiri.
"Jangan bawa kakakku! Ambil saja rumah ini, tapi lepaskan Kak Reni!" pinta Amit memohon.
"Diam kau, aku tidak mau lagi dengan rumah ini. Harga kakakmu lebih mahal dari ini," Anton mendorong Amit dan Sari hingga terpental ke lantai.
Di waktu yang bersamaan, Beno tak sengaja menemukan ponsel Reni saat hendak meninggalkan rumah.
"Dasar ceroboh, ponsel main ditinggal aja." umpat Beno.
Beno kembali masuk ke dalam rumah dan menyodorkan ponsel itu ke tangan Yuna. "Ini ponsel pengasuh si kembar, sepertinya terjatuh."
"Terjatuh?" Yuna menautkan alisnya. "Gak mungkin, tadi sebelum pergi kata Reni abis teleponan sama adiknya. Apa terjadi sesuatu?" tebak Yuna mengkhawatirkan keadaan Reni.
"Apaan sih?" sela Beno.
Tanpa berpikir, Yuna memberanikan diri membuka ponsel Reni. Untungnya tidak dikunci jadi Yuna bisa melihat panggilan masuk beberapa saat yang lalu.
"Amit? Apa dia adiknya Reni?" gumam Yuna mengerutkan keningnya.
Beno yang hendak pergi urung melanjutkan langkahnya. "Iya, Amit adiknya. Kenapa?"
"Panggilan terakhir darinya, abis itu Reni pergi terburu-buru. Aku yakin ada yang gak beres," Yuna merasakan sesuatu yang aneh di hatinya, seperti ada firasat buruk.
Dengan cepat Beno mengambil ponsel itu dari tangan Yuna dan segera menghubungi Amit.
"Kak Reni, Kakak baik-baik aja kan? Kemana mereka membawa Kakak? Kami akan melaporkan mereka pada polisi,"
"Deg!"
Jantung Beno bergemuruh kencang bak dilanda badai petir yang begitu dahsyat.
"Amit, ini Kak Beno. Apa yang terjadi?" tanya Beno dengan suara bergetar.
"Kak Beno? Kak, tolong Kak Reni Kak! Dia dibawa pria yang mengaku ayah kami, Kak Reni mau dijual. Tadi Kak Reni juga dipukuli, tolong Kak Reni Kak!" pinta Amit terisak.
"Amit, kamu yang tenang ya! Apa ada petunjuk atau apalah? Apa kamu mendengar sesuatu atau tempat yang akan mereka tuju mungkin?" tanya Beno yang mulai kehilangan akal.
"Mami Jenny, iya Kak. Mereka bilang akan menjual Kak Reni pada Mami Jenny." ungkap Amit.
"Ok, kalian yang tenang ya. Jangan kemana-mana! Kak Beno akan berusaha mencari Kak Reni sampai ketemu."
Beno mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, lalu mengusap wajahnya berkali-kali.
"Apa yang terjadi Beno? Reni kenapa?" cerca Yuna yang mulai tidak tenang.
"Kamu benar, Reni dalam masalah. Kata Amit dia dibawa ayahnya dan akan dijual ke tempat pela*curan." jelas Beno.
"Beno, kenapa diam aja? Cari dia! Reni itu wanita baik-baik, dia pasti ketakutan sekarang." desak Yuna.
"Iya, aku pergi." Beno meninggalkan ponsel Reni dan berlari menuju mobilnya. Tapi kemana Beno harus mencari Reni? Beno sendiri tidak tau dimana tempat Mami Jenny yang dikatakan Amit tadi.
"Ferry, ya Ferry. Mungkin anak itu tau," gumam Beno sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Segera Beno menghubungi karyawan kantornya itu dan menanyakan dimana alamat Mami Jenny padanya.
Benar dugaan Beno, Ferry tau alamatnya dan langsung mengirimkannya melalui pesan.
Tanpa menunggu lagi, Beno segera melajukan mobilnya menuju alamat tersebut. Tak lupa pula Beno menyuruh Ferry dan teman-temannya ke sana untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang tak diinginkan.
Bersambung...