Jodoh Di Atas Kertas

Jodoh Di Atas Kertas
J.D.A.K BAB 72.


Usai membersihkan diri, Elkan dan Yuna kembali turun dengan tubuh yang lebih fresh dari sebelumnya. Apalagi Elkan, wajahnya nampak berbinar setelah mendapatkan kepuasan tersendiri dari istrinya.


Elkan tak henti-hentinya tersenyum sembari mengayunkan kakinya satu persatu menuruti anak tangga. Menatap lekat wajah Yuna dengan penuh cinta.


"Reni, kok kamu udah keluar? Gak istirahat dulu," seru Yuna saat mendapati pengasuh si kembar itu tengah duduk di lantai ruang keluarga.


"Gak Bu, istirahatnya nanti aja!" sahut Reni, dia tidak ingin bermalas-malasan karena pekerjaan ini sangat penting baginya.


"Loh, kok duduknya di bawah sih? Di sofa aja!" imbuh Yuna.


"Gak papa Bu, udah biasa duduk begini." jawab Reni yang masih terlihat canggung berada di rumah sebesar itu.


Elkan mendudukkan Yuna di sofa, lalu ikut duduk di sampingnya. Tidak lama, Beno juga keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya.


"Loh, kenapa duduk di bawah?" tanya Beno sembari menyisir rambut basahnya dengan tangan, lalu menyusul duduk di ujung sofa.


"Gak papa Pak, enakan duduk begini." sahut Reni.


Tak enak hati mendengar pembicaraan keluarga itu, Reni pun memilih pamit dan berjalan menuju dapur. Kebetulan ada Diah dan Lili yang tengah asik menyiapkan makan malam.


Reni menghampiri keduanya. "Diah, ada yang bisa aku bantu?"


Diah memutar lehernya beberapa derajat. "Reni, ngapain ke dapur? Tugasmu bukan di sini,"


"Si kembar lagi tidur, aku bingung harus ngapain di luar sana. Aku bantuin kalian aja ya!" tawar Reni.


"Emangnya kamu bisa masak?" seloroh Diah sambil tersenyum kecil.


"Bisa, tapi masakan biasa aja. Maksudnya masakan kalangan bawah, kalau makanan orang kaya aku gak bisa." jawab Reni dengan jujurnya.


"Hahaha... Ada-ada aja kamu nih, yang namanya masakan sama aja kali." timpal Lili yang mendadak terkekeh mendengar penuturan Reni.


Dengan lincahnya Reni mulai menggerakkan tangannya, mengambil alih pekerjaan Lili yang tengah sibuk memotong sayuran.


Kini setiap jam makan tiba, sayur adalah menu wajib yang harus disediakan di atas meja. Begitulah perintah Elkan yang ingin kedua bayinya mendapat ASI ekslusif dari istrinya. Tak lupa pula Elkan menyediakan vitamin dan suplemen makanan agar tubuh Yuna selalu fit.


Satu persatu masakan mulai matang, Reni segera menyalinnya ke piring dan menatanya di atas meja makan.


"Reni, kamu ngapain di dapur?" seru Yuna dengan suara sedikit lantang agar sampai ke telinga Reni.


"Bantuin Diah Bu, kenapa Bu?" sahut Reni dari ruang makan.


"Udah, tinggalin aja! Tolong ajarin aku gantiin popoknya si kembar dong!" pinta Yuna.


"Tunggu ya Bu, aku cuci tangan dulu!"


Reni meninggalkan pekerjaannya dan kembali digantikan oleh Lili. Dia berjalan menuju wastafel dan mencuci tangannya dengan sabun. Setelah bersih dia segera menghampiri Yuna yang masih duduk di sofa.


Sebagai ibu muda, Yuna tentunya masih harus belajar banyak untuk merawat bayi kembarnya. Selain tidak punya pengalaman sama sekali, kehadiran si kembar yang tanpa diduga masih membuatnya seperti berada di alam mimpi. Bangun-bangun udah ada dua malaikat kecil saja menemani harinya.


Segera Reni membuka popok bayi perempuan Yuna yang sudah basah, kemudian membersihkan bagian sensitif itu dengan tisu basah, lalu memasangkan kembali popok baru agar kulit sang bayi tidak iritasi.


Yuna mengangguk-angguk memperhatikan kelihaian Reni, sepertinya tidak begitu sulit. Lain kali Yuna akan mencobanya sendiri.


"Hehe, iya ya. Maklum belum berpengalaman," Yuna pun tersenyum kikuk.


"Gak papa Bu, pelan-pelan aja! Semua butuh proses kan?" imbuh Reni.


"Iya, makasih ya." ucap Yuna penuh kelembutan.


Waktu terus berjalan, hari semakin gelap seiring bulan yang mulai muncul menghiasi langit malam.


Semua orang berpindah ke meja makan, begitupun dengan Yuna. Sementara Reni memilih tetap di ruang keluarga menjaga si kembar.


"Reni, kemarilah! Makan malam bareng kami dulu yuk!" ajak Yuna.


"Nanti aja Bu, Ibu dan yang lainnya duluan aja!" tolak Reni dengan sopan.


Bukan bermaksud kurang ajar, tapi Reni sendiri tak biasa makan di atas meja seperti itu. Dia lebih suka duduk bersila di atas lantai yang hanya beralaskan tikar. Bahkan dia juga tak biasa makan menggunakan sendok, takutnya hal itu akan menjadi bahan tertawaan diantara semua orang.


Sejak berumur 14 tahun, Reni sudah berjuang sendirian demi kedua adiknya. Dia sempat bekerja paruh waktu di sebuah rumah makan sebagai tukang cuci piring, dia juga pernah menjadi tukang gosok di rumah beberapa tetangga saat malam tiba. Untungnya Reni memiliki otak yang cerdas, hingga berhasil mendapatkan beasiswa.


Kini usia Reni sudah genap 23 tahun, tidak sekalipun dia memiliki waktu untuk bersenang-senang, apalagi berpacaran. Banyak sekali pria yang patah hati olehnya, Reni tidak hanya cantik tapi memiliki daya tarik tersendiri yang membuat para pria penasaran. Sayangnya Reni tak pernah melayani mereka, fokusnya hanya pada pekerjaan dan kedua adiknya.


Setelah semua orang selesai makan dan kembali ke ruang keluarga, kini giliran Reni yang beranjak menuju meja makan. Dia mengambil makanan secukupnya dan memilih duduk di dapur. Seperti biasa dia lebih suka duduk di lantai dan makan menggunakan tangan.


Malam semakin larut, Elkan pun membawa Yuna dan putrinya ke kamar. Reni menyusul sembari menggendong putra majikannya itu.


Setelah menaruh si kembar di dalam box, Reni pamit dan kembali turun menuju dapur. Dia mengambil segelas air mineral dan memilih duduk di bangku taman belakang. Kebetulan ada Beno yang tengah bersantai menatap langit malam.


Dari jarak yang cukup jauh, Beno mencuri pandang ke arah Reni. Cantik, tapi banyak misteri yang tersimpan dari tatapan matanya yang sendu. Beno segera bangkit dan berjalan mendekati Reni.


"Boleh aku duduk?" sapa Beno yang membuat Reni terperanjat.


Reni memutar lehernya beberapa derajat. "Silahkan Pak!"


Reni menggeser bokongnya hingga memberi ruang kosong untuk Beno. Segera Beno duduk dan menghela nafas panjang, lalu membuangnya dengan kasar.


"Mikirin apa?" tanya Beno dengan santai.


Sama seperti Yuna dulu, Beno mencoba menghibur Reni meski dia sendiri tidak tau apa yang dipikirkan gadis itu. Di tempat yang sama, di waktu yang hampir sama pula.


"Gak ada Pak, hanya ingin duduk-duduk aja menikmati udara segar." sahut Reni dengan datar.


"Hahahaha...," Beno tertawa terbahak-bahak, hal itu membuat Reni kebingungan sembari menautkan alisnya. Apa dia salah berucap? Lucunya dimana?


"Dengar ya! Kalau mau menikmati udara segar tuh di pagi hari, kalau malam begini bukan udara segar tapi penyakit." imbuh Beno setelah menghentikan tawanya, matanya sampai berkaca saking geli nya mendengar ucapan Reni tadi.


Mendadak pipi Reni bersemu merah saking malunya. Sebodoh itukah dia hingga menjadi bahan tertawaan bagi Beno? Reni memajukan bibirnya dengan manik mata menyala tajam.


"Permisi," Reni segera bangkit dan berjalan meninggalkan Beno sendirian. Lebih baik dia tidur daripada mendengar cemoohan itu.


Bersambung...