
Malam berlalu begitu cepat, sinar mentari pagi menyelinap masuk melalui sela-sela jendela kaca.
Yuna membuka matanya perlahan, pemandangan indah pagi ini membuatnya mengukir senyum.
Tak ingin mengganggu tidur Elkan yang begitu lelap, Yuna pun beringsut pelan sembari mengangkat tangan Elkan yang masih melingkar di pinggangnya.
Setelah berhasil melepaskan diri, Yuna turun dari ranjang dan memungut pakaiannya. Saat melangkah menuju kamar mandi, dia meringis merasakan perih di bagian intinya.
Takut Elkan terbangun mendengar rintihannya, Yuna pun melebarkan langkahnya.
Di kamar mandi, Yuna berjongkok sembari menyirami bagian intinya dengan air hangat. Seketika, cairan bening nampak mengalir di sudut matanya.
"Au" rintih Yuna.
Di luar sana, Elkan menggeliat dan meraba permukaan kasur. Karena merasa kehilangan, Elkan bergegas membuka matanya.
"Yuna," gumam Elkan menyadari istrinya yang sudah tak ada lagi di sampingnya.
Elkan mengucek matanya, kemudian bangkit dan memungut boxer yang tergeletak di lantai. Setelah mengenakannya, Elkan berjalan menuju kamar mandi.
"Yuna, kamu di dalam ya?" teriak Elkan dari balik pintu.
"Iya Elkan, tunggu sebentar!" sahut Yuna yang baru saja selesai membersihkan diri.
Yuna meraih handuk dan menutupi sebagian tubuhnya, kemudian melangkah menuju pintu.
Saat pintu kamar mandi terbuka lebar, Yuna tersenyum melihat Elkan yang tengah berdiri di hadapannya. Sorot mata Elkan nampak tajam menatap dirinya.
"Elkan, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Yuna dengan kening sedikit mengkerut.
Karena Elkan tak merespon ucapannya, Yuna pun berlalu menuju lemari pakaian.
Elkan menautkan alisnya memperhatikan jalan Yuna yang agak aneh, berbeda dari biasanya.
"Kenapa jalannya seperti itu?" tanya Elkan membuka suara.
"Gak apa-apa, sepertinya sedikit lecet. Jadi agak perih," sahut Yuna, kemudian membuka pintu lemari dan mengambil pakaian yang akan dia kenakan.
Khawatir melihat jalan istrinya yang mengangkang, Elkan menghampiri Yuna dan mengangkatnya, lalu membaringkannya di atas kasur.
"Elkan, apa yang kamu lakukan?" tanya Yuna gelisah, wajahnya merona merah.
"Sssttt, buka kakinya!" pinta Elkan dengan mata terbuka lebar.
"Gak mau," ketus Yuna dengan bibir manyun, kemudian menutupi V nya dengan kedua telapak tangan, lalu mengapit kedua pahanya.
"Yuna, jangan keras kepala! Biar aku lihat dulu!" geram Elkan dengan tatapan tajam.
"Jangan Elkan, aku gak apa-apa kok. Nanti juga sembuh sendiri," tolak Yuna, dia merasa malu jika harus memperlihatkan V nya pada Elkan.
"Buka sendiri, atau aku yang membukanya?" tawar Elkan dengan nada mengancam, lalu tersenyum miring.
Mendengar itu, Yuna akhirnya mengalah. Dia menjauhkan tangannya dan membuka pahanya perlahan. Saking malunya, Yuna pun memicingkan matanya.
Elkan mengangkat handuk yang menutupi inti istrinya. Seketika, matanya terbuka lebar menyaksikan V Yuna yang lecet dan bengkak.
Saat Elkan hendak mendekatkan wajahnya, Yuna dengan cepat mengatupkan pahanya, lalu bangkit dari pembaringannya.
Yuna memungut bajunya yang berserakan di kasur, kemudian berlari menuju kamar mandi.
Melihat sikap Yuna yang begitu, Elkan menautkan alisnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Beberapa menit kemudian, Yuna keluar dengan tubuh yang sudah dibaluti pakaian, kemudian duduk di depan cermin menyisir rambut basahnya.
"Kenapa menghindar seperti tadi? Apa aku terlihat menakutkan?" tanya Elkan sembari melangkah menghampiri Yuna, lalu membungkukkan tubuhnya dan memeluk Yuna dari belakang.
"Bukan hanya menakutkan, tapi sangat menyeramkan." canda Yuna sembari mengulum senyumannya.
"Elkan, jangan mulai!" keluh Yuna dengan tatapan mematikan.
"Kenapa? Setelah apa yang terjadi diantara kita semalam, kamu masih malu sama suamimu sendiri?" tanya Elkan sembari tersenyum lebar, lalu mengacak rambut Yuna hingga berantakan.
"Cukup Elkan, jangan membuatku semakin malu! Pergilah, bersihkan dirimu!"
Yuna menekuk wajahnya dengan bibir sedikit manyun. Meskipun dia sudah memberikan dirinya untuk Elkan, tetap saja dia masih canggung berhadapan dengan suaminya. Apalagi mengingat peperangan panas semalam, membuat wajahnya merah menyala.
Elkan tersenyum lebar, lalu beranjak dan berdiri di hadapan Yuna. Setelah mengangkat dagu istrinya, sebuah kecupan pun berlabuh di bibir Yuna.
"Tunggu aku, aku mandi dulu!" ucap Elkan usai melepaskan kecupannya.
Setelah Elkan masuk ke kamar mandi, Yuna menghela nafas lega. Entah kenapa jantungnya selalu saja berdebar saat bersama Elkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai menghias diri dan merapikan pakaian, Yuna bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ranjang. Saat hendak merapikan tempat tidur, mata Yuna membulat dengan mulut sedikit menganga.
Sebelum Elkan keluar dari kamar mandi, Yuna dengan cepat membuka sprei itu dan menggantinya dengan yang baru, kemudian menata tempat tidur dengan rapi.
Bunyi pintu bergeser membuat Yuna terperanjat, dia bergegas menggulung sprei kotor tadi dan melangkah menuju kamar mandi.
"Kenapa jalannya terburu-buru sayang? Bukankah masih sakit?" tanya Elkan saat berpapasan dengan Yuna.
"Gak apa-apa, aku mau nyuci sebentar." sahut Yuna, lalu melanjutkan langkahnya.
"Bawa ke bawah aja sayang, biar Diah aja yang nyuci!" seru Elkan.
"Jangan Elkan, bikin malu aja!" jawab Yuna dari dalam kamar mandi.
Elkan tersenyum kecil, lalu menyusul Yuna ke dalam. Saat ingin membantu, Yuna dengan cepat menghalangi.
"Biar aku aja Elkan, pergilah pakai pakaianmu!" ucap Yuna.
"Kenapa, kamu malu?" Elkan mengerutkan keningnya sambil tersenyum tipis.
"Aku udah liat tadi, kenapa musti malu sama suami sendiri?" Elkan mengusap kepala Yuna, lalu mengambil sprei itu dan merendamnya.
Usai mencuci, Elkan menjemur sprei itu di balkon. Yuna hanya terpaku melihat Elkan yang ternyata tak semanja yang dia pikirkan.
Setelah mengenakan pakaian, Elkan mengajak Yuna turun untuk sarapan. Elkan bisa melihat bagaimana sulitnya Yuna menahan perih saat melangkahkan kakinya.
"Hari ini kamu di rumah dulu ya, nanti aku belikan obat di apotik!" ucap Elkan yang tengah asik menikmati sarapannya.
"Iya, aku gak apa-apa kok. Kamu aja yang berlebihan," sahut Yuna dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Jelas aku khawatir sayang. Kalau sembuhnya lama, aku juga yang bakalan rugi." goda Elkan sembari tersenyum lebar.
"Mulai deh, dasar mesum!" umpat Yuna dengan tatapan mematikan.
"Apa salahnya mesum sama istri sendiri? Abis rasanya enak sih," celetuk Elkan sembari terkekeh dengan sendirinya.
Yuna semakin jengkel mendengar ocehan Elkan, apalagi mendengar tawa Elkan yang begitu lepas. Dia mengambil telur bulat yang menganga di atas piring, lalu menyumpalnya ke mulut Elkan.
"Nih, makan!" geram Yuna, lalu terkekeh melihat ekspresi Elkan yang membagongkan.
Elkan hampir saja keselek ulah kelakuan Yuna, untung saja yang masuk ke mulutnya hanya sebuah telur, jadi dia masih bisa mengunyah dan menelannya.
"Sayang, kamu ingin membunuh suamimu sendiri?" keluh Elkan sembari meraih gelas, lalu meneguk air mineral yang ada di dalamnya.
"Makanya kalau mandi tuh otaknya jangan lupa dicuci, biar pikirannya bersih!" ucap Yuna, lalu mengulurkan lidahnya meledek Elkan.
"Pintar sekarang ya, udah berani ngerjain suaminya. Awas aja, nanti malam gak bakal aku lepasin! Nangis nangis deh, gak akan aku beri ampun!" gertak Elkan sembari tersenyum licik, lalu melanjutkan makannya.
Bersambung...