
"Nyonya!! Ini benar anda Nyonya Muda? Darimana saja anda Nyonya, Tuan YuuGi dan kami semua disini sibuk mencari anda" Kata Gen si telepon terdengar lagi menangis.
"Udah udah, jemput aku sekarang. Aku akan menceritakan semuanya setelah sampai di rumah, sekarang aku sangat merasa lapar." Jawabku yang sebenarnya sedang menangis bahagia karena semua orang di rumah peduli denganku.
"Anak buah organisasi sudah berangkat menjemput anda saat anda menelepon."
"GLORY! Sayangku, kau baik baik saja kan nak? Glory?" Terdengar suara ayah Hirahara dari telepon, aku tak kuat mendengarkannya. Aku langsung menutup teleponnya, air mataku tak kerasa tiba-tiba mengalir seperti sumber air.
Aku mengembalikan hp ke bapak yang masih duduk di kursi taman itu. Aku juga duduk di sampingnya dan mengucapkan terimakasih banyak. Bapak paruh baya itu kebingungan karena aku tiba-tiba menangis, dilihat dari ekspresi bapak ini terlihat menerawang seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius tapi tidak dapat menghasilkan jawaban.
Ekspresi seperti sedang merasa bersalah, kecewa,dan putus asa. Aku menghapus air mataku dan kemudian melihat ke bapak itu, aku kemudian bertanya kepadanya.
"Pak, terimakasih ya sudah meminjamkan hp nya bapak. Itu sangat membantu" Kataku mengawali pembicaraan
"Ya nak, sama-sama. Memangnya apa yang sedang terjadi nak? Bagaimana bisa kamu tersesat dan kehilangan dompet serta hpmu?" Tanya bapak itu bersimpati
"Ah tidak apa apa kok pak, aku orangnya egois dan keras kepala. Saat ayah memarahiku kemarin, aku merasa kesal dan pergi meninggalkan rumah. Sampai pada akhirnya dompet dan hpku dijambret dan sekarang aku tersesat tidak tau jalan pulang. Aku sangat menyesal, dan kemudian aku bisa menghubungi keluargaku, ini semua berkatmu pak. Dan siapa sangka mereka sangat menyayangiku dan sudah mencariku kemana mana. Hatiku sangat senang bercampur dengan rasa bersalah yang mendalam. Aku sudah membuat mereka kecewa, dan selalu membuat mereka kesulitan" Jelasku dengan cerita karangan yang sangat bagus. Sepertinya itu bisa mengelabuhi bapak itu, sepertinya dia juga percaya dan sangat antusias dengan ceritaku itu
"Jadi begitu ya nak. Bapak merasa kasihan dengan orang tuamu, sebenarnya mereka sangat menyayangimu. Hentikanlah sikap egois dan keras kepalamu itu nak karena jika terus dipupuk maka itu akan bisa menjadi hama di dalam dirimu. Kenapa kau sangat gegabah meninggalkan rumah tanpa persiapan apapun, syukur kamu cuma di jambret bagaimana jika di culik?" Jelasnya
Ahaha bukan hanya di culik bahkan aku sudah sempat di siksa kemarin dan tadi. Tapi entah kenapa aku merasa kalau kejadian itu tidak boleh di ketahui oleh siapapun selain anggota keluarga saja. Akhirnya terpaksa aku berbohong lagi kepada orang lain
"Iya pak, makasih banget ya karena sudah membuatku sadar akan kesalahanku pak. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji" Kataku. Bapak itu tersenyum dan mengelus kepalaku layaknya anaknya sendiri
"Berjanjilah kepada kedua orang tua mu, dan jangan hanya sekedar wacana tapi lakukanlah. 1000 teori akan kalah dengan 1 bukti, jika kau sudah membuktikannya maka teori teori yang lain akan menjadi tidak berarti" Sambungnya. Bapak ini seperti pendeta, kata-katanya seperti orang bijak.
"Baik, tapi sekarang giliran saya bertanya. Maaf jika ini menyinggung hati bapak, Kenapa anda di tempat ini bahkan sampai sekarang? Bapak tidak pulang? Tidak bekerja? Atau bapak sedang menunggu seseorang disini?" Tanyaku. Sebenarnya itu tidak sopan tapi aku penasaran
"Sepertinya bapak sedang ada masalah, bisa ceritakan pak kepada saya. siapa tau saya bisa membantu" Desakku. Akhirnya bapak itu mau bercerita tentang masalahnya
"Begini nak, anakku satu-satunya memiliki penyakit jantung bocor. Tiap Minggu terus harus membeli darah dan harganya itu tidaklah murah. Aku berencana untuk mengganti jantung anakku, jantung sebenarnya sudah ada tapi biaya operasinya. Pihak rumah sakit tidak mau mengoperasi anakku sebelum aku melunasi semua tagihannya terlebih dahulu. Aku mau meminjam uang lagi, tapi istriku menghentikanku, hutang bulan kemarin saja sudah sangat banyak dan bunganya juga belum di bayar. Aku tau dia anakku tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya padahal aku adalah orang tuanya. Karena terlalu banyak meminjam uang di perusahaan, akhirnya aku di pecat dan sekarang aku menjadi pengangguran. Ahh maaf kenapa aku bercerita tentang keterpurukanku kepadamu yang masih muda ini, maaf sudah membuatmu tidak nyaman nak" Ceritanya panjang lebar. Ternyata benar dia sedang memiliki masalah, dan itu adalah masalah biaya rumah sakit anaknya.
Tak terasa air mataku lagi lagi keluar, hidupku mapan tapi masih juga merasa tidak puas. Sementara itu diluar sana banyak sekali orang orang yang menderita karena kekurangan. Karena bapak ini orang baik, hatiku jadi tergerak berfikir untuk menolong bapak ini.
"Berapa pak biayanya?" Tanyaku
"Biaya operasi di tanggih 600juta switz, hutang di bank 200juta, dan hutang di perusahaan 250-anjuta. Jika ditotalkan lebih dari 1 Miliar, aku sempat memikirkan untuk mengakhiri hidup tapi aku berfikir ulang. Jika aku mati begitu saja meninggalkan anakku yang sedang menderita berarti aku sudah menjadi orang tua yang gagal" Jelasnya. Aku sempat terkejut dengan nominal hutangnya yang begitu besar. Tapi menurutku itu wajar sih karena biaya rumah sakit itu memang mahal
.....
Tak lama kemudian 3 mobil hitam datang tepat berhenti di depanku. Mereka adalah anak buah organisasi yang menjemputku. Mereka turun dari mobil, ada 6total orang termasuk Kenzo juga datang.
"Nyonya! Apa anda baik-baik saja? Siapa bapak ini?" Kenzo datang datang menodongkan pistol ke arah bapak yang sudah menolongku itu. Aku sangat marah
"KENZO! TURUNKAN PISTOLMU ITU! Dia adalah bapak yang sudah menolongku, apa-apaan sikap tidak sopanmu ini?" Bentakku yang membuat semuanya terkejut. Mereka buru-buru langsung berlutut di depan bapak itu meminta maaf. Bapak itu panik dan berkeringat dingin melihat manusia manusia bertato di depannya itu berlutut di depannya.
"Maafkan Saya Tuan! Saya sudah sangat tidak sopan kepada anda!" Teriak Kenzo dengan suaranya yang besar itu membuat semua orang menjadikannya pusat perhatian.
"A-a-anda ti-tidak perlu seperti itu!" Kata bapak itu gagap karena ini baru pertama kali baginya melihat orang yang meminta maaf sambil berlutut seperti ini
"Anda harus memaafkannya dan membangunkannya pak, jika tidak maka Kenzo akan terus berlutut seperti itu" Sahutku
"Be-begitu ya, budaya dari mana ini saya baru pertama kalinya" Kata bapak itu kemudian membangunkan Kenzo dan mereka pun saling maaf memaafkan.