
Setelah pertengkaran ayah selesai, akhirnya barang bawaanku di kembalikan ke rumah ayah. Hanya beberapa barang saja yang di bawa ke rumah calon mertua seperti beberapa pakaian, dan barang penting seperti handphone.
Pelayan disana banyak, rumah sangat ramai untuk dekorasi acara. Benar benar keliatan mewah, padahal aku menginginkan acara yang sederhana saja yang di hadiri oleh kedua keluarga saja seperti waktu acara lamaran. Tapi melihat meja yang sangat banyak, aku takut kalau tamunya bakalan banyak. Apalagi jika dari pihak sekolah ada yang melihat seperti ibunya Ran tadi.
Pelayan mengantarkanku dan barang ku ke sebuah kamar yang katanya itu adalah kamarku yang akan aku tempati saat ini dan untuk selanjutnya. Aku sangat suka karena kamar ini sangat luas, ada kamar mandi dalamnya juga. dan lantainya di lapisi karpet berbulu, sungguh mewah sekali.
Tapi daritadi aku tidak melihat si YuuGi, calon suamiku. Aku takutnya besok dia tidak hadir di acara pernikahan dan malah kabur dengan kekasihnya seperti di film film.
Ahh bodo amat, kalaupun dia ngga hadir nanti ya kan pasti keluarganya yang malu dan aku ngga jadi nikah deh wkwkkw.
Dimalam hari aku terbangun, mataku sama sekali tak bisa di pejamkan rasanya pengen melek terus. Aku ngga bisa tidur, suhu udara serasa sangat panas dan membuatku sangat merasa gerah. Aku ingin minum tapi di mejaku ngga ada air minum, kalau manggil pelayan sekarang takutnya membuat mereka terganggu ini kan tengah malam.
Aku memberanikan diri keluar dari kamar mencari dapurnya, siapa tau nanti ketemu orang kan aku bisa bertanya sama mereka. Aku berjalan dengan sempoyongan, aku mengantuk tapi ngga bisa tidur.
Sesampainya di bawah, di ruang tamu aku melihat sosok yang sedang tidur di atas sofa di sinari sinar rembulan malam lewat jendela yang tidak tertutup gorden. Sungguh terlihat sangat elegan, kira-kira dia siapa ya? Padahal katanya di rumah besar ini jumlah kamarnya ada 12 atas bawah semuanya besar besar + ada kamar mandinya.
Masa kehabisan tempat sampai-sampai ada orang yang tidur di sofa ruang tamu. Sebanyak apa sih keluarganya kok sampai kehabisan kamar begitu? Aku mendekati orang itu karena di sampingnya ada ketel air di atas meja.
Setelah bisa meminum air, aku melirik sedikit ke orang itu. Eh siapa yang menyangka kalau dia adalah YuuGi.
"Tapi kenapa dia tidur di sini? Bukannya besok adalah acara pernikahan kami? Au ah, aku mau balik ke kamar" Kataku, kemudian membalikkan badan dan berjalan.
Rumah terasa sangat sepi padahal tadi sangat ramai sekali, dekorasi ruangnya sudah selesai dan terlihat sangat elegan aku menyukainya. Sambil bernyanyi pelan aku terus berjalan, tapi kenapa rasanya sangat lama untuk kembali ke kamarku ya? padahal tadi rasanya sangat cepat....
Aku menyanyikan sebuah lagu agar aku tidak merasa ketakutan di rumah yang besar dan gelap ini, karena di malam hari semua lampunya di matikan.
Anak manis berlarian di jalanan kecil
Ku hampiri dan bertanya ...
Kenapa kau sendiri?
Ayo kesini~, mendekatlah! Dimana ayah dan ibumu?~
Jangan sedih, bibi akan mengantarmu pulang~
Jadilah anak yang baik wahai sayangku....
Setelah bernyanyi aku akhirnya kembali ke kamarku, mungkin karena kamar yang asing aku jadi susah tidur. Tapi tak lama kemudian aku terlelap dan belum ada apa apa ternyata sudah pagi aja. Pelayan membangunkanku, menyuruhku bersiap untuk berdandan. Karena di hari ini akulah pemeran utamanya dalam cerita.
"Panggil pengantin perempuan kemari untuk melakukan photo prewedding!" Teriak seseorang dari luar. Aku jadi merasa bingung, kok photo prewedding nya di lakukan tepat di hari pernikahan nya? Kan seharusnya photo prewedding nya itu di lakukan sebelum hari pernikahan nya di mulai.
Sesosok lelaki tampan dengan tinggi badan menjulang, mengenakan jas pengantin yang sangat menawan. Dia adalah YuuGi! Sangat tampan! Aku rasa aku akan segera jatuh cinta dengannya jika tiap hari melihat wajahnya yang ngga adil ini.
Tanganku meraih tangannya, berjalan bersama menuju tempat pemotretan layaknya sepasang pengantin sesungguhnya.
"Pengantin perempuan duduk di pangkuan pengantin prianya! Dengan posisi saling pandang memandang!" Teriak kameramen dari depan, dengan canggung aku memandang wajah tampan nya YuuGi dari dekat.
YuuGi juga memandangku dengan senyuman di bibirnya di ikuti dengan lesung pipi nya yang ikut ikutan hadir, ngga tahan! Aku ingin kabur dari sini!
"Ganti posisi!" Teriak kemeramen lagi
"Pengantin pria merangkul pengantin wanita dengan ekspresi bahagia, begitu juga dengan pengantin wanitanya memegang buket bunga!" Sambungnya
"Sip! Sempurna!" ..
CEKREK!
Acara pemotretan pun selesai dengan hasil yang sangat bagus, aku tidak tau apakah senyumnya itu tulus atau cuma drama. Andai jika itu benar-benar tulus, aku akan jadi sosok pengantin yang sangat bahagia.
Pernikahan pun di mulai...
Pengantin pria menjemput ku dan kami berdua berjalan bergandengan tangan menuju tempat pendeta berdiri, di samping kanan pendeta berdiri kedua orang tuanya mempelai pria dan di sebelah kiri pendeta berdiri sosok ayahku yang daritadi selalu tersenyum.
Tamu undangan dipenuhi sama orang-orang yang merupakan anak buahnya keluarga Dellamorta, syukur tidak ada tamu lainnya. Semuanya mengenakan setelan hitam putih, layakny acara pemakaman, tidak ada warna lain selain hitam sama putih. Karena katanya tuan Dellamorta tidak menyukai warna cerah selain hitam, putih dan biru.
"Mohon perhatian kalian semua tamu undangan yang terhormat! Kedua mempelai kita akan melewati jembatan suka duka menuju kehadapan pendeta, jika mereka berhasil melewatinya maka bisa dipastikan jika cinta mereka akan selalu merekat tidak terpisahkan!" Teriak sang pembawa acara di ikuti dengan sorakan para tamu.
Padahal jembatan yang di maksud itu adalah lantai yang di lapisi karpet, jelaslah kita bisa melewatinya. Ada ada saja ..
Di depan sang pendeta kami melakukan hormat kepada beliau, kemudian acara acara selanjutnya di sebutkan oleh pembawa acara.
"Okee pengantin kita sudah melakukan penghormatan kepada sang pendeta, sekarang di lanjutkan dengan kedua pengantin melakukan penghormatan kepada kedua orangtua dari masing-masing keluarga! Sekarang mereka sudah bersatu jadi mereka adalah anak dari kedua belah keluarga!" Kami pun melakukan penghormatan kepada mereka dan ayahku
"Kedua pengantin harus saling hormat, dan terakhir hormat kepada para tamu undangan!" Setelah itu, kami kembali berdiri di hadapan pendeta dan pendeta pun memulai acara intinya yaitu melakukan sumpah pernikahan