
"Beneran? Ka-kau tidak bercanda kan? Aku baper loh, kau harus bertanggung jawab!" Kataku sambil menutup wajah karena malu
"Apanya yang bercanda? Aku bersungguh-sungguh untuk kali ini, aku baru menyadarinya baru-baru ini. Apa kau menyukaiku juga Lory?" Tanyanya. Tangannya yang di infus, bergerak perlahan dan kemudian menggenggam tanganku. Aku jadi tidak berani menepis atau menolak genggamannya karena itu bertepatan dengan infusnya, tapi sebenarnya aku suka sih digituin wkwk
"Apa yang kamu katakan? Tentu saja aku menyukai mu, bahkan saat pertama kali aku melihatmu di acara lamaran itu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat wajahmu yang tampan itu. Tapi setelah menikah ternyata aku salah, kau hanyalah seorang succubus yang berwajah malaikat. Padahal sudah sering merasa tersakiti tapi entah kenapa rasa sukaku tak pernah hilang darimu, pelet apa yang kau berikan sampai aku seperti ini?" Jelasku. Aku sebenarnya dari dulu ingin mengatakan ini secara langsung kepada YuuGi tapi tidak pernah ada kesempatan untuk mengatakannya, syukur sekarang ada kesempatan.
"Aku senang mendengarnya, mulai sekarang aku tidak akan mengkhianatimu lagi. Tenang saja, aku orang yang selalu menepati janji. Jadi sekarang aku boleh memanggilmu Sayang kan?" Tanyanya.
"Boleh lah" Jawabku sambil tertawa-tawa kecil, malu banget karena ini pertama kalinya bagiku.
"Sayang, mendekat lah!" Kata YuuGi yang membelai rambutku kemudian turun ke pipi dan bibirku. Tangannya menarik kepalaku mendekat ke wajahnya yang mulus, deg-deg-deg! jantungku mulai mengeluarkan musik DJ.
Aku menutup mataku rapat-rapat karena mengira YuuGi akan segera menciumku. Tapi perlahan-lahan kemudian YuuGi membisikkan sesuatu di telingaku dengan pelan.
"Kau menungguku menciummu ya?" bisiknya, seketika aku langsung bangun dan tentu saja aku kesal + marah. Aku dengan gercep memegang kepalanya YuuGi dengan kedua tanganku dan kemudian menciumnya dengan sekali kecupan di bibirnya. Dengan malu aku memalingkan wajahku setelah menciumnya.
"Oh oh~ Tak ku sangka ternyata istri kecilku ini sangat agresif, aku jadi takut.... Gimana yah nanti saat di Medan perang ya?" Kata YuuGi dengan nada mengejek seraya memonyongkan bibirnya .
Aku tak tahan dengannya, aku sangat ingin menciumnya lagi. Aku mendekatinya, perlahan dan kemudian....
"Ekhem ekhem! Maaf menganggu kemesraan kalian, saya sudah mengetuk pintu sebelumnya tapi tidak ada yang menjawab jadi saya langsung masuk takutnya pak YuuGi kenapa-kenapa. Saya tidak tahu kalau buk Glory ada di dalam" Kata suster yang datang tiba-tiba secara mengejutkan. Aku tersenyum canggung dan merasa sangat malu, ternyata pintunya tidak terkunci
"Hum ah iya tidak apa apa kok, jadi suster ada perlu apa kesini?" Tanyaku. YuuGi tertawa cekikikan seraya mengejekku.
"Biasa pemeriksaan suhu rutin" Jawab suster yang kemudian memeriksa suhu tubuhnya YuuGi dengan alat pengukur suhu
"Suhunya 37,5°C, demamnya masih belum turun. Dokter menyarankan agar pak YuuGi banyak banyak minum air ya. Saya permisi, silakan lanjutkan kegiatan yang tadi tertunda gara-gara saya" Kata susternya sambil tertawa kecil.
"Tanpa disuruh pun nanti Lory pasti akan melanjutkannya suster!" Sambung YuuGi. Aku terkejut mendengarnya, kenapa dia bilang seperti itu
"YuuGi!" Bentakku, YuuGi tertawa. Aku memberinya minum karena dia yang minta
Sementara itu sebuah terminal bus, seseorang turun dari sebuah bus. Memakai sebuah jas keren berkacamata hitam, koper bawaannya sangat besar. Dia tolah toleh sana-sini seperti sedang mencari sesuatu.
"Haiyaa, Kata warga desa si Glory pindah ke kota ini bersama ayahnya. Tapi aku cari cari kok ngga ada ya? Duh gini amat jadi orang desa yang pertama kali menginjakkan kaki di kota, bingung aku mah gimana ini ?" Orang itu kebingungan di tengah keramaian orang yang menunggu bus di terminal. Wajahny pucat seperti orang yang tersesat, tapi kemudian dia ditabrak oleh seseorang.
Brukk!
"A-aduh maaf kak, apa kakak baik-baik saja?" Tanya orang yang menabrak ke orang yang di tabrak
"Ya aku gapapa pak, ah aku mau bertanya. Rumahnya Glory dimana ya?" Tanyanya
"Glory? Nama Marganya siapa?" Tanya orang yang nabrak
"Nama Marganya ya? Hmm kalau ngga salah nama Marganya itu Hirahara pak" Jawab orang yang di tabrak
"Ohhh seperti nya saya pernah mendengar nama marga itu di kota ini, coba kakak cari taxi. Supir taxi disini semuanya ahli kak, anda bisa bilang nama orang yang di cari supir taxi pasti langsung bisa membawa kakak sampai ke rumah orang yang kakak cari" Jelas bapak yang menabrak, yang di tabrak pun mengangguk dan berterimakasih. Tapi di dalam hatinya dia merasa jengkel karena di panggil kakak oleh seorang bapak bapak yang kalau di lihat, keliatan banget tuanya gitu
"Apa-apaan dia? Masa udah tua kayak gitu manggil aku kakak? Padahal kan jelas jelas aku jauh lebih muda kebanding dia, apa emang tradisi Kota ini kayaknya ya setiap bertemu orang baru di panggil kakak" Kata orang itu menggerutu, kemudian mencari taxi dan mengatakan tujuannya. Seperti yang pak penabrak bilang, kalau supir taxi di kota ini sangat ahli bahkan setelah mendengar namanya saja dia sudah tau mau kemana.
Supir taxi itu melajukan mobilnya ke arah rumahnya ayah Hirahara, pak supir tidak tau siapa itu Glory tapi dia tau siapa itu Hirahara. Makanya dia langsung aja tancap gas ke rumahnya ayah.
Sesampainya di tujuan, pak taxi meninggalkan orang yang di tabrak ini sendirian memandangi rumah yang sangat besar di hadapannya. Dia ternganga karena takjub melihat rumah yang sangat besar, bahkan lebih besar daripada rumahnya Glory yang di desa.
"Jadi ini rumahnya Glory? Astaga ternyata dia benar-benar orang kaya, di desa saja dia sudah di cap sebagai orang yang paling kaya sedesa walaupun tanpa ayah di keluarga nya. Tapi kalau di lihat sekarang, dia bukan hanya orang kaya lagi tapi benar-benar orang kaya! Ta-tapi aku harus gimana ya? Gerbangnya gede sekali, kalau aku ketok mungkin tanganku yang bakalan patah, wuiss kokoh sekali " Kata orang itu sambil mondar mandir meneliti rumah yang besar itu.
Sesaat kemudian datanglah 2 orang penjaga bertubuh kekar + bertato seram menghampiri nya. Dia bergidik ketakutan tapi dia tidak mau kabur karena tujuan awalnya ya memang ke rumah ini
"Halo dik, ada yang bisa kami bantu? Anda sedang mencari siapa?" Tanya salah satu penjaga bertubuh besar itu dengan nada lembut. Orang yang tadinya ketakutan lama-kelamaan menjadi luluh akan kelembutan kata sang penjaga. Ternyata benar kata pepatah, jangan lihat buku dari sampulnya. Tapi lihatlah dari isi buku yang di kaji, ilmu apa saja yang ada.