
Sen Marry ditangkap, aku dan ayah di lepaskan. Mereka serempak meminta maaf terutama ayah mertuaku yang merasa sangat bersalah. Mereka meminta maaf karena sudah menuduh tanpa bukti yang jelas dan juga karena mereka telah bersikap terlalu kasar kepadaku dan ayahku.
Siang hari pun tiba, ayah masih berunding di tempat tadi sementara itu aku di suruh pulang bersama pak kepala pelayan dan juga pak supir yang sudah kembali normal bukan sopir samaran lagi.
Di dalam mobil aku dan pak kepala pelayan berbicara banyak, dia dan pak supir tak henti hentinya memujiku. Aku jadi merasa bangga dan sombong mweheheheh, aku pura-pura merasa terbebani tentang kata-kata pujian yang mereka ucapkan tapi sebenarnya aku sangat menyukai hal itu.
Aku juga tidak mengerti kenapa organisasi besar seperti Mafia bisa tertipu begitu saja dengan sebuah photo editan. Mereka benar-benar bodoh atau cuma sedang lengah aja? Atau mungkin mereka memang merencanakan hal itu untuk mengetahui kesetiaan nya ayah terhadap organisasi?
Sesampainya di rumah, terlihat mobilnya YuuGi terparkir di depan. Ternyata dia pulang malam kemarin, tapi aku tidak perduli lagi dengannya mau pulang atau tidak aku tidak perduli. Aku di sebut seorang istri hanya di atas akte pernikahan, toh ini juga cuma sekedar pernikahan karena perjanjian yang orang tua kami lakukan.
Memasuki ruang tamu depan, YuuGi berdiri berkacak pinggang dengan tatapan yang tajam. Aku pura-pura tidak melihat dan terus berjalan ke depan, tapi tangannya menghentikan ku dengan menarik kerah baju belakangku.
"Darimana saja kau? Dari semalam kau tidak ada di rumah, sudah ku bilang jangan keluyuran kan?" Katanya, tapi aku tidak perduli
"Bukan urusanmu!" Jawabku, seraya menepis tangannya dan kemudian lanjut berjalan menuju kamar.
"Apa maksudmu dengan 'bukan urusanmu'? Kau mulai berani ya sekarang sejak aku jarang memperhatikan mu! Aku adalah suamimu aku wajib tau jadwalmu! Kau pergi kemana? , dengan siapa?, ngapain aja? Aku berhak tau karena aku suamimu sekarang!" Tanyanya. Seketika aku membalikkan badan dan berjalan ke arahnya.
PLAKK!
Tamparan keras mendarat di pipinya, aku sudah tidak bisa menahan emosi dengan pura-pura perduli lagi. Aku ingin berteriak dan memarahi nya, kalau bisa aku ingin menggebukinya hingga kata maaf keluar dari mulutnya. Tapi aku tidak bisa melakukan itu karena posisi ku sekarang hanyalah seorang anak kecil yang masih belum punya KTP.
Setelah tamparan itu YuuGi terdiam tanpa berbicara sedikitpun ataupun balik melakukan hal yang sama. Mungkin dia sedang berfikir apa kesalahannya sehingga istri kecilnya ini menamparnya sesaat setelah dia pulang dari luar.
"Glory kau..."
PLAKKK!
Tamparan kedua di pipi sebelahnya, pak kepala pelayan dan yang lainnya tercengang+terdiam menyaksikan adegan di depannya. Mereka tidak berani angkat bicara bahkan tidak berani bergerak sedikitpun.
"Tamparan pertama untuk mewakilkan rasa sakit hatiku kepadamu, dan kedua untuk rasa kecewaku karena aku telah menjadi istrimu!" Jelasku seraya berbalik. Tapi lagi-lagi dia menghentikan ku
"Glory sebenarnya apa salahku?" Tanyanya
"Kau bertanya karena tidak tau? Kau bodoh atau emang blo'on sih? Kau sudah berhari-hari tak pernah pulang dan sekalinya pulang tubuhmu penuh dengan aroma menjijikkan. Dan kau bertanya salahmu dimana? Padahal kau sudah dewasa tapi pikiranmu itu masihlah sangat kekanak-kanakan, dasar idiot bodoh mesum! Bajingan sialan kau YuuGi!" Kataku dengan nada penuh rasa dendam dan benci
"Sialan!! Aku hanya ingin hidupku ini penuh dengan kedamaian, tapi kenapa hal itu sangat sulit ku dapatkan? Kau tak pernah pulang dan tak perhatian padaku aku maafkan, kau bahkan membawa perempuan lain ke rumah dan melakukannya di depanku aku juga sudah maafkan. Bahkan kau sekarang pulang penuh dengan bekas ****** aku juga sudah tidak perduli lagi dengan itu. Dan sekarang apa lagi? Kau bertanya apa dan dimana letak kesalahan mu? Istri mana yang bakalan betah jika kau tidak bisa merubah sikap burukmu ini YuuGi!!" Aku berteriak dan secara tidak sadar air mataku menetes.
Aku tidak bisa menahan air mataku, aku menangis dengan sejadi-jadinya dan rasa benciku semakin besar saat aku melihat wajah tampannya. wajah tampan tapi hatinya busuk bahkan lebih busuk daripada sampah yang sudah berminggu-minggu di diamkan di dalam kantung plastik.
"Aku sangat membencimu! Aku sangat jijik saat melihat wajah tampanmu sliwar-sliwer di depan mataku, aku tak ingin melihatmu lagi! Jika kau keberatan karena ini adalah rumahmu aku akan pergi dan tinggal bersama dengan ayah lagi!" Lanjutku sambil terus menangis.
YuuGi terdiam seakan tidak mendengarkan apa-apa sejak tadi. Kata-kataki daritadi di anggap sebagai hanya angin lalu olehnya. Tapi kemudian dia mendekat dia menyeka air mataku dengan jari jarinya yang panjang dan ramping. Aku menepisnya dan mundur menjauh.
Tapi dia tidak mau menyerah, dia mendekat dan kemudian memelukku dengan erat. Aku berontak tapi tenaganya sangat kuat
"Maaf" Terdengar samar di telingaku, YuuGi sekaan berbisik kata 'maaf' di telingaku. Tapi kemudian dia membesarkan suaranya
"Maafkan aku Glory!" Katanya seraya memelukku semakin erat, air mataku tiba-tiba mengalir deras. Padahal itu kata-kata yang sangat ingin aku dengar tapi entah kenapa sekarang kata-kata itu semakin membuatku merasa benci kepadanya.
Tangannya mengelus rambutku dengan lembut dan kemudian bibir yang menggoda itu menciumku dengan lembut. Aku terkejut, ini adalah ciuman pertama dari YuuGi sejak 6 bulan menikah. Semakin lama dia semakin agresif bahkan sampai menggunakan lidahnya.
"Ahh sialan... kenapa wajah tampannya ini begitu menggoda"
Aku menggigit bibirnya sampai berdarah, dia terkejut dan kemudian dengan refleks dia melepaskan pelukannya.
"Aku tidak butuh permintaan maaf darimu! Yang aku butuhkan sekarang adalah perubahan sikapmu dan bukti yang mengatakan kalau kau benar-benar sudah berubah. Aku akan berikan kesempatan ini hanya untukmu, aku akan beri waktu 1 tahun! Waktu yang cukup lama bukan? Tapi jika dalam kurun waktu yang sudah di tentukan kau masih belum berubah, aku akan pergi darimu. Aku masih muda dan aku juga tidak begitu buruk, jadi aku masih bisa mencari pria yang lebih baik dan tampan daripada kamu!" Jelasku
"Baiklah" Jawabnya dengan penuh keseriusan. Dia menyeka darah yang ada di bibirnya.
Melihat kesempatan untuk kabur, aku berlari menuju kamar dan duduk di atas kasur. Aku menyeka air mataku yang masih menetes, aku tidak mengerti kenapa aku menangis padahal aku tidak menyukai nya.
"Ahh sialan, kenapa kau menangis Glory? Mukamu sangat jelek saat sedang menangis, kau akan terlihat cantik jika kau tersenyum! Tersenyumlah!" Gumamku. sambil mencoba untuk tersenyum di depan cermin, aku berdiri dan kemudian berjalan masuk ke kamar mandi. Aku mencuci mukaku sambil bergumam
"Benar-benar hari yang sangat melelahkan! Mending aku beristirahat, aku jadi tak nafsu makan karena melihat wajah tampannya YuuGi yang begitu dekat, dia bahkan menciumku. Rasanya sangat menjijikkan" Gumamku seraya berjalan dan berbaring di kasur.
Aku pun terlelap karena saking lelahnya, hari-hari yang kulalui kedepannya mulai saat ini akan lebih melelahkan dibandingkan hari ini....