
*
*
3 Minggu berlalu sejak Siska dan Darren makan siang tempo waktu. Kedekatan keduanya dari hari ke hari memang ada kemajuan, tapi terpantau lambat. Sebab selain keduanya sibuk bekerja, Siska masih enggan memulai hubungan, dan menerima kenyataan jika dirinya sudah suka pada Darren.
Bukan benci, bukan tidak mau, hanya saja belum siap. Tahu sendiri bukan, Siska ini pernah mengalami yang namanya gagal dalam membangun rumah tangga. Siska pernah terpuruk ketika ia memilih orang yang salah.
Siska takut salah orang lagi.
Meski kenyataannya, Darren tidak pernah bersikap kasar, tapi malah bersikap sangat baik. Bahkan keluarganya juga sudah mendukung, tetap saja perasaan takut dan tidak siap ini tetap ada.
Meski begitu, Siska tetap menjalani hari-harinya dengan menghindari Darren setiap kali dirinya ada kesempatan. Disisi lain, Darren yang dihindari terus menerus juga dengan gencar melakukan pendekatan.
Darren tidak akan mau kalah. Menunggu bertahun-tahun lamanya saja dia sanggup. Hanya menunggu Siska siap, bukan masalah besar. Hanya saja, kendalanya adalah ibunya yang menyuruh dirinya cepat-cepat menikah. Umur Darren sudah tidak muda oke. Ia bahkan seukuran dengan Siska yang sudah punya dua anak.
Selain Itu, ada juga Kathrin yang ikut gencar mendekati Darren setiap kali ada kesempatan. Bahkan di saat dia dan Siska sedang berjalan bersama pun, Kathrin seringkali tiba-tiba muncul di hadapan keduanya. Membuat Darren geram sendiri.
Kathrin mengganggu waktu setiap kali dirinya sedang pendekatan dengan wanitanya , siapa yang tidak kesal? Apalagi sifat menyebalkan Kathrin yang tidak ada habisnya mengatai Siska pedas, meski seringkali dia kalah telak oleh balasan Siska.
Darren berkali-kali mengusirnya juga Kathrin dengan tidak tahu malu sering sekali kembali dan menganggu keduanya. Kathrin seolah tidak membiarkan keduanya berduaan, selalu ada setiap kali keduanya ada waktu bersama.
"Bagaimana persiapan untuk pembukaan restoran besok? Ada kendala tidak? Semuanya apa sudah beres? Sudah aman?" Tanya Siska pada Satria.
Selain sibuk menghindari dan menghabiskan waktu dengan Darren, Siska juga sibuk menghabiskan waktu untuk restorannya yang akan segera dibuka untuk umum. Dekorasi dan property mewah juga sudah sangat bagus sekali. Tiada tandingannya dengan restoran bintang lima yang sudah sangat lama berdiri.
Tapi Siska tetap menamainya dengan Tasty Treat's, hanya saja jika di cabang lain ada kata kedainya, sedangkan di papan nama kali ini hanya kata Tasty Treat's saja dalam papan nama yang lebih besar yang bisa dilihat dari kejauhan. Sengaja karena ini bukan sekedar kedai, jatuhnya sudah menjadi caffe dan restoran dalam waktu bersamaan.
Pengurusan tata letak dan desain interior baik dalam maupun luar ruangan juga Siska ikut andil dalam pembuatannya. Jadi meski sibuk, Darren dan Siska kadang turun bekerja bersamaan. Siska tidak senang, tapi harus tetap profesional, sedangkan Darren? Tentu saja menyenangkan baginya bisa bekerja dan bersama Siska dalam waktu bersamaan.
Uni kadang di asuh oleh Sahni dan Satria, jadi selama diibukota, kadang malam dan pagi hari saja Uni bisa bersama dengan ibunya. Karena kesibukannya memang bukan main, sangat menyita waktu.
"Untuk pegawai dan kokinya? Kau sudah menemukannya?" Tanya Siska lagi.
Satria tertegun ia lupa satu hal. "Nona, maafkan aku. Aku lupa ini, koki yang aku pekerjakan memang sudah genap ada 6 koki. Tapi satu koki mengundurkan diri karena ia mendapat panggilan dari restoran barat di luar negeri. Jadi, masih belum ada gantinya sampai saat ini. Aku terlalu sibuk menata yang lain, maaf nona. Sekarang juga aku akan mencari gantinya." Jelas Satria sedikit panik.
Bisa-bisanya ia melupakan hal ini. Koki adalah yang utama, jika tidak ada koki bagaimana bisa menghidangkan makanan. Untung saja waktu baru menunjukkan pukul 11 siang, jadi masih akan ada waktu untuk dirinya mencari koki lainnya.
"Baiklah, kau cari aku juga akan mencarinya. Nanti beri kabar saja jika kau tidak menemukan. Oh, kau juga bisa mencari tahu lewat koki lainnya, siapa tahu mereka ada teman koki juga. Jangan khawatir, besok aku masih bisa membantu di dapur. Lagipula, resepnya kebanyakan yang aku tahu. Menu baru seperti mochi bites sangat mudah ditangani." Jelas Siska tidak keberatan sama sekali, tidak marah.
Ia tahu seberapa keras usaha Satria menyiapkan semua ini. Meski dibantu Siska, tetap saja Satria adalah yang paling sibuk mengurus hal-hal lain seperti perizinan dan lainnya. Jadi, Siska maklum. Lagipula hanya satu koki saja. Siska bisa menarik satu koki yang ditempatkan di restoran agar membantu di bawah.
Siska merasa caffe akan menjadi daya tarik paling tinggi ketika pembukaan besok. Apalagi tempatnya begitu strategis. Dekat dengan universitas dan bandara. Untuk restoran, dua koki menurutnya cukup. Jika tidak, Siska akan membantu saja.
Besok, ibu dan dua kakak ipar perempuan juga akan membantu. Selain itu ada Ergan dan Geri. Jadi, meski kekurangan orang, akan tertutupi oleh ketiganya. Dua kakak laki-laki juga akan datang. Dua kedai sudah bisa ditinggal jika hanya beberapa hari saja. Alhasil, besok akan menjadi sangat ramai.
Seharusnya, sore ini keluarganya akan sampai. Jadi, Siska juga sudah bersiap. Ia akan membeli satu rumah di ibukota hari ini. Tentu uang di rekeningnya juga sudah terisi kembali, karena setoran dari kedua kedai Siska percepat untuk menutupi pengeluaran di iibukota yang sangat besar. Harga barang dan lainnya lebih mahal dua kali lipat dari desanya, jadi wajar saja ia kekurangan uang.
"Baiklah begitu saja, aku masih harus pergi ke agen real estate. Aku masih harus membeli rumah, keluargaku akan sampai sore ini. Meski di hotel memang cukup nyaman, tapi pengeluarannya akan semakin banyak nanti. Jadi lebih baik aku beli rumah saja sekalian." Ucap Siska seraya tertawa kecil.
"Baik, nona. Apa mau diantar?" Tanya Satria.
"Tidak perlu, aku ada supir. Kau langsung saja cari koki, takutnya aku tidak sempat mencari. Sudah, ya. Begitu saja. Aku bawa Uni dulu, sampai jumpa. Jika ada ada masalah kabari aku." Ucap Siska seraya berjalan pergi meninggalkan Satria yang memang sedari tadi sedang briefing dengan para pegawai dan koki yang sudah dipekerjakan.
Siska juga sempat mengajari cara pembuatan menu-menur baru beberapa hari belakangan ini pada para koki. Jadi, hari ini adalah penentuan. Dan Siska.percaya, koki ini sudah punya sertifikat masing-masing. Hanya membuat hidangan sederhana saja akan sangat cepat dipelajari.
*
*