Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Lamaran


*


*


Siska fokus memanggang sendirian, sampai ia tidak sadar jika anak-anak kecil sudah menghilang dari rooftop. Hanya tersisa Ergan yang sedang membuat vlog dengan Geri, juga Ayah dan ibunya yang sedang bersantai. Sisanya sudah turun ke bawah mengambil sesuatu.


Ergan terlihat berbisik pada ponselnya, "Baiklah, mari kita mulai! 1, 2, 3!" Ucap Ergan.


Kemudian lampu di atas rooftop mati. Membuat Siska terkejut. Ia juga sempat memekik kecil saking terkejutnya. Semua orang menjadi diam, Ergan yang sedang mengambil vlog juga menahan mulutnya agar tidak berbicara.


Sunyi senyap, Siska menjadi bingung dan sedikit takut. Di depannya ada pemanggangan, jadi ia tidak berani bergerak berlebihan. Lalu teringat pada ponsel yangada di saku, ia akhirnya mengambilnya dan berniat menyalakan senter dari ponsel.


"Bapak? Mama? Uqi? Uni? Ergan? Semuanya? Kalian dimana? Kenapa tiba-tiba lampu mati? Juga sangat senyap? Apa yang terjadi? Pekik Siska di bawah kegelapan, hanya ada cahaya bulan yang menyinari, menyorot padanya juga tidak membuat terang.


Ponselnya juga malah tidak kuat menyala, dan mati begitu saja ketika Siska menyalakan senter, baterainya habis.


"Jangan bercanda! Kalian semua dimana?!" Pekik Siska lagi. "Aku tidak suka begini, oke?! Lanjut Siska mulai kesal. "Nyalakan lampunya sekarang!" Pekik Siska lagi, mulai marah.


Ia benar-benar dikerjai, bahkan setelah emosi dan memekik marah, Siska masih saja merasa sendirian di dalam kegelapan. Semuanya tiba-tiba seolah menjadi hilang, ia benar-benar sendirian.


"Bapak? Jangan bercanda, Siska sudah mulai takut oke? Keluarlah, jangan permainkan aku!" Ucap Siska mulai lirih, nada suaranya juga mulai bergetar.


"Uqi sayang? Kemarilah, ibu takut sendirian. Uni? Kau dimana?" Ucap Siska lagi.


Tap!


Tap!


Tap!


"Siapa itu? Kakak pertama? Atau kakak kedua? Atau Ergan? Bicaralah! Kenapa kalian semua mengerjaiku begini?! Lihat nanti, akan aku balas kalian semua!" Pekik Siska dengan kilatan marah.


"Ekhem, ekhem!"


"Euu? Siapa?!" Desis Siska.


Trang!


Lampu menyala, dan menyorot orang yang berdehem barusan, tepat di hadapan Siska, Darren berdiri di bawah sinar yang menyorot pada dirinya, membuatnya bercahaya.


"Darren?" Tanya Siska bingung, dengan suara pelan.


Darren tersenyum lembut menatap Siska yang menatapnya dengan tatapan bingung.


"Sudah banyak tahun-tahun yang telah aku lewati sebagai orang asing yang hanya bisa mengagumimu dari jauh. Melihatmu bersuka dan berduka sudah jadi kebiasaanku selama hari-hari aku mengagumimu." Darren mulai berbicara dengan nada lembut.


"Selama bertahun-tahun itu aku sudah melihatmu bersama banyak orang yang diakui sebagai kekasih, bahkan menikah dan mempunyai anak, tapi aku masih tetap belum berani menyatakan rasa." Lanjut Darren dengan nada sedikit lirih dan menunduk, mengenang saat-saat dimana ia hanya bisa melihat Siska tanpa berani mendekati.


"Aku tahu ada hari-hari berat untukmu saat dirimu mengalami patah hati, terluka dan tak tahu harus berbuat apa. Dan aku hanya bisa mendampingi serta mendukungmu selalu karena saat itu, posisiku masih asing dimatamu. Sampai perlahan aku mulai sadar, kau tidak butuh mereka. Kau hanya butuh aku menjadi seseorang yang selalu ada untukmu di berbagai keadaan. Oleh karena itu, hari ini, aku akan memintamu menjadi sahabatku, selama-lamanya, sehidup semati." Darren terus berbicara, dengan nada dan tatapan lembut ia berdiri di hadapan Siska yang menatapnya dengan raut tak terbaca.


"Apabila selama ini aku terlihat diam dan tampak tak peduli, sebenarnya aku hanya sedang menunggu waktu. Lalu aku rasa ini saat yang tepat untuk kita mengarungi waktu bersama." Ucap Darren, kemudian ia berlutut di hadapan Siska, mengeluarkan kotak cincin dan membukanya di depan Siska. "Siska, mau menikah denganku?" Tanya Darren.


Tes!


DUAR!


Sedetik setelah Siska menjawab, kembang api menyala dan tahun baru datang begitu saja. Darren berdiri dengan senyum lebar, ia kemudian memasangkan cincin pada jari Siska.


Kemudian semua orang keluar, bersorak dan bertepuk tangan dibarengi suara terompet, mengucapkan selamat, juga ada beberapa yang menggoda Siska. Lampu juga sudah dinyalakan kembali saat semuanya keluar.


Bahkan Uqi, dan Uni, keduanya juga dengan patuh diam. Kini keduanya membawakan rangkaian bunga besar di tangan kecilnya. Darren tersenyum pada kedua anak tersebut, dan mengambil bucket bunga mawar merah, memberikannya pada Siska.


Ergan? Tentu saja ia mengabadikan momen. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat vlog, ia yakin karena yang melamar adalah pimpinan Wisata, maka vlog nya pasti akan menjadi populer. Tapi tentu harus melewati izin Siska dan Darren juga. Jika tidak diizinkan pun, itu akan menjadi kenangan yang disimpan Siska dan Darren nantinya. Jadi, tidak ada yang sia-sia.


"Kakak Uqi, apa itu artinya paman Darren akan menjadi Ayah kita nanti?" Tanya Uni, sudah menjadi fasih perkataannya selama 3 bulan ini.


"Tentu, apa kau senang?", Tanya Uni seraya menepuk kepala Uni lembut, tak lupa senyumnya.


"Asik! Kita akan punya ayah yang baik!" Ucap Uni semangat, ia bahkan melompat-lompat kesenangan, karena nantinya Paman Darrennya akan menjadi Ayahnya. Tidak lagi menyebut paman, tapi Ayah.


Siska dan Darren tertawa kecil, kemudian keduanya menghampiri lebih dekat dua anak tersebut dan memeluk masing-masing. Sampai berpelukan keempatnya, seperti keluarga bahagia.


"Uqi dan Uni nakal, mengerjai ibu! Ibu mau marah saja besok." Ucap Siska setelah melepas pelukan pada keduanya.


"Uqi tidak tahu apa-apa, Bu. Itu paman-paman yang membawa Uqi menjauh darimu tadi. Uqi hanya disuruh membawa bunga dengan Uni oleh dia." Ucap Uqi seraya menunjuk Darren yang tertawa kecil.


"Dia siapa? Hmm?" Tanya Darren.


"Tidak tahu! Ah, apa musuhku?" Tanya Uqi dengan mata memicing. "Nanti jangan coba-coba merebut ibu dariku!" Lanjut Uqi kesal.


"Siapa yang merebut siapa? Ibu akan selalu menjadi milik Uqi! Nanti juga ada Ayah! Uqi senang tidak?" Tanya Siska.


"Mmm, mungkin?" Ucap Uqi.


Darren tertawa, gemas pada Uqi, jadi ia refleks mengambil Uqi ke dalam pelukannya, juga Uni yang juga ingin dipeluk olehnya.


Disisi lain, keluarganya yang lain menatap keempatnya dengan tatapan haru dan hangat. Setelah semua kesulitan dulu, akhirnya Siska, satu-satunya wanita dalam keluarga, menemukan kebahagiaannya juga.


"Hoi! Jaga adikku baik-baik! Kalau kau berani menyakitinya, lihat nanti apa yang aku lakukan padamu!" Desis Sapta.


"Aku akan mengambilnya darimu jika kau berani menyakitinya." Timpal Rendra.


"Ya, jangan sakiti kakakku. Kami paling menyayanginya." Lanjut Ergan.


"Satu-satunya orang yang kami jaga seperti giok, kau juga harus menjaganya sama seperti kami menjaga dan menyayanginya. Jaba baik-baik anakku, aku percayakan dia padamu." Ucap Suherman, diangguki oleh Estika yang setuju dengan perkataan semua orang yang mewanti-wanti Darren.


Siska menatap semuanya dengan mata berair. Ia kemudian berjalan mendekati semuanya dan memeluk semuanya sekaligus. Menangis di pelukan keluarga, yang begitu mendukung, menjaga dan menyayanginya sepenuh hati.


"Kalian bisa percaya padaku, yakinlah. Jika aku menyakitinya, maka aku akan menyakiti diriku sendiri kelak. Jadi, percayalah." Balas Darren menatap satu-persatu orang yang akan menjadi saudara ipar dan mertuanya.


*


*