
*
*
Pagi ini, Siska bangun lebih siang dari biasanya. Semalam tidak bisa tidur, membuat Siska begadang mau tidak mau. Suruh siapa Darren menyebalkan itu membuatnya insomnia mendadak.
Alhasil, kini ia terlambat menemui Satria. Padahal keduanya sudah janjian pada pukul 9 untuk pergi melihat properti yang dibutuhkan restoran.
Tapi, biarlah. Satria juga tidak banyak bicara. Lagipula bosnya adalah Siska, jadi meski terlambat 2 jam, Satria hanya bisa menunggu diam.
Darren mengajaknya jalan-jalan setelah makan malam dengan Uni. Uni sendiri dititipkan pada Sahni dan baru diambil pada 12 malam, karena keduanya baru selesai berjalan-jalan saat itu. Dan yang membuat Siska kesal, adalah ia insomnia karena sikap Darren sendiri.
Siska dibawa ke pantai oleh Darren, malam-malam, dan lumayan jauh sekitar 2 jam dari ibukota. Tahu apa yang terjadi? Darren mengungkapkan perasaannya, gila!
'Siska, aku tahu mungkin ini terlalu cepat bagimu, tapi, bolehkah aku menjadi sosok pelindung di sampingmu? Jujur saja, aku selalu ingin ada di dekatmu. Jadi biarkan aku, boleh?'
"AAAA SIAL! Menyebalkan, menyebalkan!" Pekik Siska kesal. Ia sedang di kamar mandi saat ini. Sedangkan Uni ada di dalam kamar menonton televisi.
Sudah pukul 11 siang, tapi Siska bahkan belum siap untuk pergi. Semalaman tidak bisa tidur, dan keadaannya sama seperti sekarang, Siska sangat memikirkan perkataan Darren semalam. Apalagi, malam-malam di pantai, sangat hening, lalu Darren berbicara begitu, kalian tahu suara beratnya mampu mengguncang perasaan wanita di dunia!
Siska bahkan pergi, berlari begitu saja setelah beberapa saat Darren mengatakan hal tersebut. Maksudnya, setelah Darren mencium keningnya lembut!
Ingat ini, dengan lembut.
Siska juga belum menjawab atas pernyataan dari Darren tersebut. Gila saja. Apa dia tidak tahu jika dirinya adalah janda beranak dua? Siska tidak habis pikir pada manusia datar satu ini.
Selama ini tindakannya sangat, sangat, sangat, menyebalkan dimatanya. Tapi ada apa dengan malam kemarin? Apa kemarin benaran Darren atau bukan? Memang bisa ya, manusia datar seperti Darren berlaku begitu?
"Mbuu? Kenapa lama sekali? Paman Satlia sudah meneleponku belkali kali." Pekik Uni menggendong pintu kamar mandi dari luar.
Membuat Siska tersadar, dan segera beranjak. Ia lupa punya janji. Padahal dua jam lalu Satria juga sudah menghubunginya. Tapi apalah daya, Siska kembali tidur dan baru bangun saat ini, langsung membersihkan diri ke kamar mandi.
"Sebentar lagi, Uni bantu siapkan pakaian ibu, boleh?" Balas Siska berseru dari dalam.
"Boleh, belgegaslah Mbuu, kasihan paman Satlia." Omel Uni, membuat Siska terkikik geli. Uni nya sudah bisa mengomel lucu.
Siska pun bergegas meski pikirannya masih dipenuhi oleh ucapan dan perilaku Darren semalam. Tak ayal ia juga berpikir apakah nyata atau tidak perlakuannya semalam. Secara, dia adalah perjaka dan dirinya janda. Astaga, inilah yang membuat dirinya tidak habis pikir.
Lalu, pagi ini, Darren juga sama sekali tidak ada menghubunginya. Jadi, wajar saja kan Siska menganggapnya dengan tidak percaya perlakuan semalam tersebut.
Siska masih butuh bukti, dan waktu. Sudahlah, mari lihat ke depannya saja, akan bagaimana manusia datar tersebut menghadapi seorang janda macam Siska.
"Maaf Satria, aku semalam tidur sangat larut." Ucap Siska tak enak.
Kesalah pahaman di tempat pembangunan hanya sedikit, alhasil 15 menit juga telah selesai dibereskan olehnya. Jadi tidak terlalu memakan waktu dan Satria hanya bisa menunggu saja seraya menelfoni Siska karena tidak kunjung datang.
"Kesalah pahaman apa itu? Apakah serius?" Tanya Siska.
"Tidak, nona. Aku sudah menyelesaikannya. Hanya masalah pembagian upah saja. Mereka meminta lebih karena ada beberapa yang lembur tanpa permintaanku.", Ucap Satria.
"Lalu kau akan menambahkan upah?" Tanya Siska.
"Tentu tidak, karena mereka bekerja tanpa perintah. Tapi tetap saja, sih, lembur juga untuk pembangunan restoran. Jadi, paling-paling aku hanya akan menggantikan uang makan saja nantinya." Jelas Satria.
Siska menganggukkan kepalanya, mengerti. "Begini saja, aku tambah 200 juta untuk biaya upah lembur mereka. Pakai dulu saja, jika tersisa nanti belikan bahan untuk perayaan pembukaan restoran. Setelah selesai hari ini, aku akan mentransfernya." Ucap Siska, membuat Satria terkejut.
"Tapi nona, gaji para pekerja sudah dihitung dengan uang 1M yang kemarin. Jika ditambah lagi, bukankah kita akan mengalami kerugian? Lagipula kita hanya meminta pekerja dari PT. Wistara Karsa. Juga bukan tanggung jawab kita untuk memberi gaji tambahan." Ucap Satria.
"Tidak apa-apa, kemarin aku melihat para pekerja, seperti melihat Ayahku dulu. Anggap saja aku membantu mereka, lagipula siapa suruh biaya hidup disini sangat mahal. Uang 5 juta aku rasa tidak akan cukup satu bulan untuk para pekerja disini." Ucap Siska.
"Baiklah, kalau begitu, nona. Aku mengikuti perintahmu." Ucap Satria, ia tidak bisa lagi membantah jika Siska berpikiran seperti itu. Siska sedang berbagi kebaikan, mana mungkin ia melarangnya.
Sesampainya di tempat pembelian property. Satria langsung mengarahkan Siska ke tempat pembuatan meja dan kursi. Siska sudah memilih desainnya sendiri, jadi ia akan langsung membicarakan pembuatan kursi dan meja sesuai desainnya pada pembuatnya. Termasuk papan nama dan beberapa property lainnya yang dibutuhkan di restoran.
Selain itu, Siska juga butuh Sofa empuk untuk diletakkan di ruang khusus, yakni ruang VIP dan VVIP. Siska juga berniat menyediakan fasilitas seperti televisi dietiap ruangan khusus tersebut.
Selain itu, gorden dan hiasan lainnya Siska juga beli di tempat yang sama. Hanya saja, kali ini Siska memilih beberapa barang jadi. Juga ada beberapa bingkai foto dan lukisan yang masuk ke dalam list propertynya.
Sisanya, Siska menyerahkan peralatan elektronik pada Satria. Lagipula barang seperti cctv, komputer dan alat hitung di kasir, juga lemari pendingin dan sejenisnya tidak akan membuat estetika hancur. Jadi, biarlah Satria yang mencarinya. Siska hanya bisa mengirim uangnya nanti.
Ah, Siska juga meminjam uang pada Ergan sebanyak 300 juta untuk belanja alat elektronik ini. Lagipula, siapa suruh dia kekurangan uang saat ini. Alhasil hanya bisa meminjam dulu pada Ergan.
Jadi selain 300 juta, Siska juga memberi 200 juta untuk upah pekerja pada Satria. Alhasil Satria mendapat 500 juta sebagai uang tugas yang diberikan padanya.
Setelah selesai, Siska berniat kembali ke hotel saja karena ia masih butuh tidur, tapi lagi-lagi ada si manusia datar di tempat belanjanya.
Siska ingin kabur saja. Ia dengan cepat bersembunyi untuk mengindari Darren karena masih merasa malu. Satria bahkan bingung melihat Siska yang cepat-cepat bersembunyi tersebut.
"Menghindar lagi?" Tanya Darren, menatap Siska yang menunduk, dengan Uni yang ada di dekapannya. Siska ada di balik sofa yang dipajang. Darren sudah melihatnya jadi langsung menghampirinya.
Siska meringis, merutuki dirinya. Keadaan canggung macam apa ini. Pikirnya.
*
*