
*
*
Sepeninggal Darren, kedua kakak, kakak ipar, serta Ergan dan Geri, juga ibunya akhirnya datang setengah jam kemudian. Dan ada tambahan orang, yakni Desi, di bawa oleh kakak keduanya sebelum datang ke rumah.
Semuanya langsung melihat keadaan Uqi, Uqi yang bersiap tidur karena telah meminum obat, kantuknya hilang seketika, rautnya juga senang karena akhirnya bisa bertatap muka lagi dengan semua orang, terutama Ergan, pamannya.
Kebetulan, beberapa orang ini juga membawakan hadiah berupa mainan dan camilan untuk Uqi membuat Uqi semakin bersemangat.
Siska tersenyum saja, bersyukur melihat keharmonisa ini, semuanya saling mendukung dan menyemangati, tidak ada iri juga dengki.
Tapi begitu jam menunjukkan pukul 9 malam, Siska mau tak mau mengusir semua orang. Sudah waktunya Uqi tidur, dia masih butuh banyak istirahat, jadi Siska melarang semuanya untuk mengajak ngobrol Uqi lagi. Pun dengan Uqi tidak keberatan sama sekali, sebab ia juga sudah sangat mengantuk.
Siska menatap Uqi yang terbaring dengan mata terpejam dengan senyum lembut, di sebelahnya juga ada Uni yang tidur memeluk Uqi. Membuat suasana haru dalam diri Siska. Tapi ia tidak mau lagi mengingat masa lalu yang buruk dan kelam. Ia hanya ingin mengingat masa-masa ini saja. Melihat kedua anaknya hidup dengan baik dan sehat, sudah cukup baginya.
Setelah dirasa Uqi dan Uni terlelap, Siska meninggalkan keduanya, hendak menemui Ergan dan Rendra yang sudah menungguinya di ruang tamu. Ketiganya harus berbicara masalah uang.
"Kau disini." Sapa Rendra, membuat Siska mengangguk dan duduk di hadapan keduanya.
"Siska, melihat kejadian yang menimpa Uqi beberapa hari ini, aku rasa lebih baik lebih fokus pada anak-anak saja. Kedai bisa kau serahkan padaku, jadi kau bisa menerima hasilnya saja nanti. Bagaimana menurutmu?" Tanya Rendra. Anak-anak Siska masih sangat butuh perhatian Siska, jadi, meskipun Rendra enggan karena merasa merebut kerja keras adiknya, mau tidak mau Rendra harus mengusulkan hal ini.
Siska tertegun. Ia tidak marah, pikirannya malah berpikir jauh, kakaknya memang tahu situasi. Tapi apa dirinya bisa menyerahkan kerja kerasnya ini?
"Kedai tetap atas nama dirimu, hanya saja, untuk beberapa tahun ini, biarkan aku yang mengelolanya, agar kau bisa lebih fokus menjaga Uqi dan Uni." Jelas Rendra lagi, takut Siska salah paham.
Siska masih terdiam.
"Menurut Bapak, benar kata kakakmu. Kau bisa.melakukan pekerjaan yang lebih ringan saja. Kedai sangat menguras waktumu, kau bahkan beberapa kali lupa pada Uqi dan Uni, ingat? Bapak tidak mau kejadian hari ini terulang lagi, nak. Bapak harap kau mengerti maksud kami." Ucap Ayahnya, ia datang belakangan, tapi kurang lebih tahu, juga mendengar sebagian perkataan anak sulungnya.
"Kak, jika kau bingung, bagaimana dengan membuat akun tutub saja? Selain waktunya bebas, juga bisa dikerjakan dimana dan kapan saja, bukan? Jadi kakak bisa lebih dekat dan lebih memerhatikan Uqi juga Uni." Ucap Ergan memberi ide.
"Betul! Ide adik keempat bagus juga. Kau bisa.memikirkannya lebih dulu. Lagipula, kakak pertama juga hanya mengelolanya sementara saja, sampai Uqi dan Uni bisa lebih mandiri, minimal sampai Uni juga masuk ke sekolah dasar." Timpal Sapta, ia tiba-tiba datang dan langsung ikut menyuarakan pendapatnya.
Siska merasa itu ada benarnya, jadi setelah ia terdiam begitu lama, iapun memutuskan.
"Baik, begitu saja. Tapi tunggu sampai pesanan Bu Wasilah selesai. Aku akan benar-benar menyerahkan kedai pada kakak saja." Ucap Siska tersenyum.
Tidak ada amarah dihatinya, justru rasa syukur. Melihat ini, berarti semuanya perhatian dengan dirinya. Lagipula, memang benar kata Ayahnya, ia sampai lupa waktu menjemput Uqi, gara-gara sibuk di kedai. Untuk akun tutub, bisa ia pikirkan dulu nanti. Tunggu Uqi sembuh dulu, baru ia akan memutuskan untuk membuatnya atau tidak.
"Untuk itu, serahkan padaku. Putri ada adik ipar nanti aku tanyakan apa dia bisa masak dan membantu pekerjaan di dapur atau tidak." Ucap Sapta menimpali.
"Baiklah, kalau begitu. Begitu saja. Aku setuju." Ucap Siska, akhirnya menyetujui semua saran dan pendapat yang dikemukakan setiap lelaki di rumahnya ini. Apalagi, memang dirinya adalah perempuan satu-satunya, jadi wajar saja kan?
Tidak khawatir juga, lagipula kakak pertamanya sangat jujur dan paling menyayanginya. Jadi, tunggu beberapa tahun sampai Uni masuk sekolah dasar, mungkin ia akan mengambil alih kedai, oh atau mungkin tidak? Bisa saja Siska memulai usaha baru nanti, kan?
"Untuk gajinya, tetapkan saja sama rata dengan para pekerja lain. Kecuali untuk para kakak, tambah 2 juta setiap bulan." Ucap Siska tersenyum.
Semua orang setuju dengan ini, apalagi gaji ditambah 2 juta setiap bulan, dari yang 5 juta dmenjadi 7 juta, ah, siapa yang tidak suka kenaikan gaji? Bukankah ini sangat bagus? Tentu saja!
Esoknya, Siska bangun seperti biasa, tapi kali ini ia ditemani oleh Santi dan Putri, memasak menu untuk sarapan bersama-sama. Seraya sesekali membicarakan masalah Uqi dan proses perceraiannya.
Membicarakan perceraian sudah 4 hari sejak putusan verstek diturunkan, Aldo memang benar-benar tidak ada terlihat mau mengajukan banding. Tapi Siska tidakenjadi tenang karena hanya hal ini.
Aldo tidak mengajukan banding, bukan berarti tidak mengajukan tuntutan atas hak asuh anak, bukan? Yang ditakutkan Siska. Apalagi Uqi, anak laki-laki. Mertuanya juga sangat ingin cucu laki-laki dulu. Tapi karena yang menjadi menantunya Siska, ia sama sekali tidak menyukainya. Alhasil keduanya ditelantarkan.
Tapi kini keinginan mertuanya menjodohkan Aldo dengan anak kepala desa sudah terealisasi, Siska juga sudah punya uang, mata serakahnya tentu saja melihat Siska intens. Alhasil, langkah pertama yang dibuatnya adalah dengan membujuk dan merayu Uqi.
Sebagai seorang nenek yang dulu tidak suka pada Uqi, tib-tiba ingin membawa Uqi. Bukankah memang pantas dicurigai?
"Harus lebih waspada saja, ke depannya. Apa mau aku aturkan orang untuk menjagamu dari jauh?" Tanya Santi, ia kenal beberapa orang yang bekerja sebagai penjaga keamanan pribadi. Jadi ia langsung menawarkannya pada Siska.
Siska menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, kak. Aku akan menjaga diri lebih baik. Juga, aku akan selalu waspada, tidak akan kecolongan lagi.", Ucap Siska.
"Kau yakin? Kemarin saja, Aldo dan Ibunya sampai rela datang jauh-jauh ke sekolah Uqi untuk memaksanya ikut dengan mereka." Ingat Putri.
Siska tertegun. Benar juga apa yang dikatakan keduanya, tapi masa iya ia harus menyewa seorang penjaga keamanan untuk dirinya? Apa tidak berlebihan?
"Tapi, kak, apa tidak berlebihan?" Tanya Siska ragu.
"Tidak ada yang berlebihan untuk keamanan diri sendiri. Meski rumah kita seperti ini, tapi kita cukup mampu menyewa seorang penjaga. Oh atau mau bisa meminta anak buah penguasa pasar untuk mejagamu juga, jadi selain kedai, mereka juga akan menjagamu kemanapun kau pergi. Hanya saja, mungkin uang keamanannya akan bertambah." Jelas Santi, yang dipanggil Putri, terlihat jelas jika ia sangat setuju dengan saran Santi.
"Baik, nanti aku pikirkan lagi saja. Juga, aku masih harus membicarakannya dengan Mama dan Bapak lebih dulu.", Balas Siska yang langsung mendapat anggukkan dari kedua kakak iparnya.
*
*