
*
*
Siska tertawa kecil, ia sangka bos pasar ini memang kebetulan lewat d berpapasan tapi ternyata sengaja menemuinya untuk membicarakan hal tersebut. "Bisa diatur, bos! Tenang saja, besok aku sisakan bagianmu, dan aku antarkan lewat anak buahmu yang selalu menjagaku dari kejauhan. " Ucap Siska yang mendapat anggukan dan ucapan terimakasih dari bos pasar. "Kalau begitu aku pergi dulu, adikku sudah menunggu." Pamit Siska seraya pergi meninggalkan bos pasar setelah mendapat persetujuannya.
Tapi Setelah beberapa langkah, Siska kembali menghentikan langkahnya dan berbalik. Terlihat bos penguasa pasar masih ada di belakangnya, melihat dirinya dengan alis terangkat.
"Ada yang tertinggal?" Tanyanya datar.
"Ada, bos! Aku ingin bertanya, apa kau tahu orang yang bisa mencarikan ku informasi tentang seseorang?" Tanya Siska to the point, tapi terlihat ragu, karena ia merasa dirinya sudah sesuka hatinya, malah berani meminta bantuan pada penguasa pasar ini. "Euu, maaf bos, aku hanya bertanya, kalau begitu aku lanjut pergi saja. Terimakasih bos!" Lanjut Siska seraya terburu-buru pamit, takut sendiri melihat wajah bos di depannya ini. Menatap tajam Siska, dengan raut datar. Siska saja yang sudah mengalami pahitnya hidup, merasa menggigil.
Penguasa ini menatap Siska lamat-lamat, kemudian berkata "Ada." Seraya mengamati Siska yang banyak ekspresi.
Satu kata yang membuat Siska sudah berbalik pergi, kembali menatap penguasa pasar dengan tatapan semangat. "Benar ada, bos?! Bisa perkenalkan aku dengannya? Aku membutuhkannya, aku minta tolong, bos, hehe." Ucap Siska seraya menampilkan deretan giginya, hingga matanya menyipit karena tersenyum saking lebarnya.
"Hm, besok." Ucap penguasa pasar kemudian berlalu, meninggalkan Siska diikuti anak buah yang berjalan di belakangnya.
"Aiyo, gadis, kau kenal bos penguasa? Hebat! hebat! Kalau kau butuh cincau banyak, hubungi aku oke! Ayo kita saling membantu ke depannya." Ucap Penjual Cincau seraya mendekati Siska.
Siska tersenyum, tapi hatinya malah tidak suka. Ah siapa yang tidak tahu jika pujian ini bentuk menjilat dari penjual cincau? Orang bodoh pun akan tahu jika dia sedang cari aman di bawah dirinya.
Tak menanggapi banyak, Siska hanya mengiyakan, kemudian berjalan pergi meninggalkan penjual cincau sendirian dengan kiosnya.
Sesampainya di kios biasa, Siska kemudian menyapa Adik, keponakan, dan kakak iparnya yang sedang berbincang dengan pemilik kios.
"Kakak ipar, apakah sudah dibayar?" Tanya Siska.
"Sudah, semuanya 1juta 586 ribu. Ini, sisa uangnya aku kembalikan." Ucap Santi seraya tersenyum.
"Simpan dulu, nanti kita beli makanan untuk di rumah. Sekalian pisahkan untuk ongkos pulang nanti." Ucap Siska yang langsung mendapat anggukkan dari Santi. "Ah, bos, apa barangnya bisa diantar? Ini melebihi kapasitas, jadi bisa diantar dengan gratis, bukan?" Tanya Siska seraya tersenyum simpul.
"Yo! Tentu saja. Aku aturkan, apakah alamatnya masih yang dulu?" Tanya pemilik kios seraya tertawa.
"Tentu, bos, memangnya mau pindah kemana aku ini?" Ucap Siska, mengibaskan tangannya seraya tertawa.
"Haha, baik, baik. Aku akan suruh bawahanku mengemasnya dulu. Kau tunggu saja nanti, barangnya akan datang dengan aman di tujuan." Balas pemilik kios seraya mengacungkan jempolnya.
"Aku percaya, bos! Kalau begitu aku tunggu. Sekarang kami pamit dulu, sampai jumpa bos!" Siska melambaikan tangannya.
Kemudian keempatnya pergi meninggalkan kios dengan perasaan senang. Siska terlihat sangat tenang, sudah biasa melakukan hal ini sejak dirinya terlahir kembali. Berbeda dengan ketiga lainnya. Ergan antusias, ingin cepat sampai rumah dan memeriksa ponsel yang memang kali ini tidak dibawa olehnya. Santi, tentu saja dia yang paling semangat menghadapi pengalaman pertama berjualan dengan pendapatan berjuta-juta, terlebih hanya berjualan gorengan saja. Dan Geri, meski rautnya datar, tak ayal hatinya ikut senang, senyum kecil bahkan terbit di bibirnya.
"Kalian berdua, tunggu disini saja. Aku dan kakak ipar akan masuk memesan makanan untuk dibawa pulang. Duduklah di sana." Ucap Siska seraya menunjuk dua kursi duduk di depan kedai makan Baisan.
"Kakak aku ingin Ayam bakar, pesankan untukku ya!" Ucap Ergan buru-buru, sebelum kakaknya masuk dan memesankan yang lain untuknya.
"Baik, Geri kau mau apa untuk makan siang nanti?" Tanya Siska beralih setelah mengiyakan permintaan Ergan.
"Aku ingin iga kecap, bibi, apakah boleh?" Tanya Geri dengan wajah polos.
"Eiy anak ini! Apa kau tidak tahu harga iga kecap itu berapa?!" Desis Santi berbisik dengan mata melotot pada Geri, memarahinya.
"Euu, kalau begitu ayam bakar saja, samakan dengan paman kecil." Balas Geri terburu-buru. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena merasa canggung dengan permintaannya yang tidak masuk akal menurut ibunya.
"Tidak apa-apa, aku akan memesankannya untukmu, oke? Kebetulan Uqi dan Bapak juga suka itu. Ah sekalian saja pesan untuk semua orang di rumah. Uangnya lebih dari cukup, tenang saja kakak ipar, jangan khawatirkan uang, Oke!" Jelas Siska seraya tersenyum pada Geri yang kini tersenyum lebar seraya menganggukkan kepalanya. Berbeda dengan Santi yang menghela nafas, pasrah saja dengan hal tersebut.
Kemudian keduanya masuk, dan kedua lainnya menunggu di luar. Begitu masuk, Siska dan Santi melihat jika di dalam lumayan ramai. Kemudian keduanya mencari tempat duduk yang kosong dan duduk di sana. Siska terlihat biasa saja, sedangkan Santi jelas sekali jika dirinya antusias.
Semuanya serba pengalaman pertama, tapi Siska tidak menegurnya, karena meski antusias Santi masih sadar dirinya ada di tempat umum, ia menjaga sikap dengan baik.
"Mau pesan?" Tanya seorang pelayan yang menghampiri dengan wajah ramah, tapi terlihat jelas di belakang sana ada dua pelayan yang memandang mejanya dengan delikan sinis. Siska langsung tahu, pelayan yang melayaninya pastilah ditarik dari melayani seseorang, digantikan dengan melayani dirinya.
Tapi Siska tak ambil pusing, ia cukup senang dengan pelayanan ramah begini. "Ya, untuk dibawa pulang." Ucap Siska, kemudian pelayan menyodorkan buku menu pada Siska setelah mengangguk mengiyakan perkataan Siska.
Siska membaca setiap menu yang ada di buku tersebut, kemudian ia menutupnya kembali, dan memesan. "Ayam bakar satu, iga manis 3 porsi jadikan satu saja, sotonya sama 3 porsi jadikan satu, lalu telur balado 12 satu bungkuskan." Ucap Siska dengan lancar.
Pelayan menulis pesanan dengan wajah terkejut. Tapi ia tidak menanyakan pesanan Siska, ia malah tersenyum ramah, kemudian pamit untuk membuatkan pesanannya lebih dulu.
Setelahnya, ia kembali lagi dengan seteko teh dan dua cangkir ditangannya. Siska melihatnya kesulitan, jadi dengan cepat membantunya. Setelahnya menghela nafas, melirik kedua pelayan yang menganggur di konter pembayaran. Melihat temannya kesulitan, keduanya bahkan Siska lihat-lihat sama sekali tidak ada niatan membantu.
"Terimakasih, nona. Maaf jadi membantuku mengambil gelasnya." Ucap pelayan tersebut, tidak enak. Lebih ke merasa bersalah karena pelanggan malah membantunya.
"Tidak apa-apa, daripada gelasnya jatuh dan pecah. Nanti kau harus menggantinya, sayang uang gajimu terpotong. Aku yang terimakasih, sudah melayaniku dengan baik." Ucap Siska seraya tersenyum ramah.
"Sudah kewajibanku, nona. Silahkan dinikmati tehnya seraya menunggu pesananmu siap." Balas pelayan kemudian undur diri, meninggalkan Siska dan Santi yang terlihat kebingungan.
"Tidak, hanya saja, kenapa pelayan yang disana diam saja melihat temanbya kesulitan? Bukankah mereka semua dalam jabatan yang sama? Aku lihat, baju mereka juga sama, tidak ada perbedaan." Tanya Santi.
Siska tersenyum, "Kakak ipar, aku beritahu ya. Ini kedai makan yang cukup besar dan laris. Melihat kita berpakaian begini masuk ke kedai makan ini, mereka pasti memandang kita sebelah mata. Mereka merasa kita tidak mampu membayar dilihat dari pakaian kita. Jadi begitulah, beberapa pelayan akan menjadi sombong dan angkuh. Tidak mau melayani orang yang terlihat miskin." Jelas Siska.
"Huh, sialan! Apanya yang tidak mampu? Hanya baju saja, memang berpengaruh? Cih, mereka juga pelayan saja bukan pemiliknya." Desis Santi, mendumel kesal setelah mendengar penjelasan dari Siska.
"Sudah, kak, nanti kita beri pelajaran pada mereka, kita buat mereka menyesal tidak mau melayani kita." Bisik Siska seraya mengedipkan matanya. Membuat Santi menganggukkan kepalanya setuju.
30 menit kemudian, pesanan Siska telah siap, dan Siska diajak pelayan yang melayaninya untuk langsung ke kasir.
"Cih, banyak sekali pesannya, tidak mampu bayar jangan salahkan kami bertindak kejam."
"Biar terlihat kaya, diamkan saja."
"Kalau didiamkan nanti kita yang kena tegur, bagaimana?"
"Kita lihat dulu saja, orang KAYA ini."
"Apa kalian sudah cukup? Tidakkah kalian pikir mereka juga pelanggan kedai makan kita? Semua pelanggan sama, jangan memandangnya dengan mata sebelah. Berperilaku lah yang baik, kita hanya pelayan. Pembeli adalah raja." Jelas pelayan yang melayani Siska, membela kedua pelanggannya dengan baik.
Siska dan Santi suka dengan sifatnya. Dia tidak meremehkan keduanya.
"Apa-apaan kau? Begitu sombong melayani dua pelanggan?"
"Hmp! Jika mereka berdua tidak bisa membayar, jangan salahkan kami tidak mengingatkanmu!"
"Urus sendiri urusan kalian!" Balas Pelayan yang melayani Siska. Kemudian berbalik menatap Siska dan Santi dengan pandangan tidak enak. "Maaf nona-nona, atas keributannya." Ucapnya.
"Tidak apa-apa, ayo lakukan pembayaran saja. Jangan hiraukan dua katak dalam tempurung ini. Mereka masih awam, diamkan saja, lalu biarkan mereka melihat luasnya dunia. Aku akan membantunya keluar dari tempurung." Ucap Siska seraya tersenyum manis, tanpa melihat dua orang di samping pelayan ramah yang kini sudah memerah menahan emosi, dikatai katak oleh Siska.
"Haha, nona bijak sekali. Ayo, nona ke sebelah sini untuk lakukan pembayaran." Ajaknya, seraya pergi ke kanan, menjauhi dua pelayan yang masih saja terlihat angkuh.
"Ayam bakar satu 60ribu, iga kecap 3' 236ribu, soto 3' 60ribu, dan telur balado 12' harga satuannya 3ribu nona jadi 36ribu. Totalnya 392 ribu nona, silahkan." Ucap Pelayan seraya menyodorkan kertas pembayaran pada Siska.
Siska menganggukkan kepalanya, kemudian mengeluarkan uang 450ribu dan memberikannya pada pelayan. Kedua pelayan yang masih melihati Siska langsung melebarkan kedua matanya. Menatap baik-baik kertas yang diberikan oleh Siska pada rekannya yang baru saja menceramahinya.
"Uangnya kelebihan nona, silahkan ambil yang 50rb ini, uang 400ribu ini cukup, juga masih dapat kembalian." Ucap pelayan pada Siska. Ketika Siska menyimpan sisa uangnya pada tas kecil.
"Hm? Oh, aku sengaja, itu tip untukmu. Simpan saja ke saku pribadimu kembaliannya. Kalau begitu aku permisi dulu, terimakasih ya." Ucap Siska kemudian pergi dengan senyum manis, setelahnya mendelik sinis pada dua pelayan yang menatapnya shock. Apalagi ketika Siska memberikan tip besar pada rekannya.
Pun dengan Santi yang ikut menatap sinis dua pelayan disana, ia bahkan mengacungkan jari tengah pada kedua pelayan tersebut, membuat keduanya semakin terkejut sampai terbatuk.
"Kakak ipar kau terlalu bar-bar hahaha," Ucap Siska tertawa begitu melihat Santi mengacungkan jarinya.
"Huh, siapa suruh mereka meremehkan kita? Kau lihat tidak wajah shock keduanya? Badut saja kalah dengan mereka. Hahaha, benar-benar deh. Kali ini, mereka pasti kapok. Kedepannya mana berani mereka meremehkan setiap pelanggan yang akan datang kemari, meski dengan baju jelek?" Ucap Santi dengan nada puas, dan mencibir sekaligus. Kedai makan ini menurutnya jelek, pelayan yang begitu angkuh untuk apa dikerjakan disini. Haih, sayang sekali pikirnya.
"Kak, sudah?" Tanya Ergan basa basi setelah kedua perempuan ini keluar dari kedai makan.
"Sudah, kau bawalah, berat." Ucap Siska seraya menyodorkan kresek pada Ergan, dan Geri dengan inisiatif mengambil dua kresek lainnya. Membuat Siska tersenyum dan memujinya. Dan Ergan hanya bisa mencibir dalam diam begitu melihat Geri diperlakukan berbeda oleh kakaknya tersebut.
"Ngomong-ngomong, kak, bagaimana pelayannya?" Tanya Ergan penasaran.
"Kau bertanya? Mereka sangat buruk! Jangan makan disini di masa depan." Ucap Santi kesal.
"Benarkah?" Tanya Ergan tertawa, ia sudah tidak aneh. Dulu dirinya san Siska berada di posisi yang sama.
"Begitulah, ada dua pelayan sombong. Tapi seperti biasa, masih ada satu pelayan yang baik. Aku juga memberinya tip seperti waktu itu, dia pantas mendapatkannya." Balas Siska tersenyum.
"Bagus, kak! Lalu bagaimana ekspresi dua pelayan yang konyol? Seperti badut bukan?" Tanya Ergan lagi seraya tertawa, ia langsung mengingat kejadian dirinya dan Siska dulu waktu pertama kali makan makanan enak di kedai makan ini.
"Kalah jelek dari badut. Sangat-sangat badut berkali kali lipat!" Timpal Santi, membuat Siska, dan Ergan tertawa, sedangkan Geri anteng dengan kresek yang dipegangnya. Mengintip iga kecap yang ada dalam wadah transparan dalam kresek. Jadi ia bisa melihatnya dengan jelas. Sesekali juga mengecap lidah, benar-benar terlihat enak Dimata dan pikirannya.
"Sudah, ayo pulang, sudah jam 11 lebih." Ucap Siska, ia melihat jam di dinding kedai makan sebelum keluar barusan. Jadi ia tahu. Lalu Siska tiba-tiba saja berpikir, membeli jam tangan bagus juga, karena ke depannya dirinya juga pasti akan sangat membutuhkannya.
"Ya! Pulang dan makan siang!" Seru Ergan bersemangat. Tidak sabar ingin memakan ayam bakar pesanannya. Aromanya.sudah sangat menggugah, meski Ayam bakar ini berasal dalam wadah dan kresek.
"Ya, aku juga tidak sabar ingin makan iga kecap! Harum sekali, membuat perutku berbunyi!" Timpal Geri ikut bersemangat.
Siska dan Santi sama-sama tertawa, kemudian keempatnya pulang dengan mobil tetangga yang sudah menjemputnya. Erganlah yang bertugas memanggil mobil tersebut, lewat ponsel Siska. Karena Ergan sendiri tidak membawa ponsel.
*
*