
*
*
Sesampainya di kedai, semua menyibukkan diri dengan adonan yang telah di airi, adonan sudah diuleni, dan Siska serta ibunya langsung membantu keempat kakaknya yang sudah duluan sampai.
Bahkan cireng sudah tinggal sebagian. Sudah banyak sekali yang dicetak, pun dengan cilok dan cirambay, hanya saja tidak sebanyak cireng, tapi sudah dicetak seperempatnya.
Semua sudah dibereskan kemarin, jadi Siska dan yang lainnya hanya tinggal mencetak produk olahan dari tepung tapioka saja.
Meja dan Kursi juga sudah selesai dibereskan kemarin, jadi semuanya menjadi lebih santai, sesekali juga bercanda dengan tangan yang tetap mengolah.
Disisi lain, Ayah Siska dan Uni, tidak langsung masuk. Tapi berbelok ke parkiran. Duduk dan mengobrol bersama Darren yang pagi sekali sudah datang menjaga kedai Siska. Ayah Siska sampai terkejut, karena hari ini ia datang begitu pagi.
Siska tidak melihat adanya Darren karena Siska langsung masuk dengan terburu-buru, berbeda dengan Darren yang sebetulnya melihat Siska dengan wajah semangatnya, melewati dirinya yang melihati dari kejauhan.
Ayah Siska yang memang kala itu sedang bermain dengan Uni, yang sudah kembali ke gendongannya begitu angkutan umum berhenti, langsung sadar akan keberadaan Darren.
Diam-diam juga tahu jika Darren sebetulnya sering kali melihati Siska dari kejauhan. Beberapa kali terpergok olehnya. Tapi ia diam, mari cari tahu kepribadiannya dulu, lagipula tidak usah terburu-buru, bukankah Siska masih setengah janda juga?
Pelan-pelan saja, tapi pasti.
"Pekerjaanmu apakah hanya menjaga keamanan pasar?" Tanya Ayah Siska, Suherman.
Darren yang sedang bercanda dengan Uni, seketika mengangkat kepalanya, kemudian mengangguk dengan ragu. "Sepertinya, iya?" Ucapnya tak pasti.
Membuat Suherman mengerutkan keningnya bingung sendiri. "Maksudmu?" Tanyanya heran.
"Bos, anak yang punya pasar, Tuan." Bisik salah satu anak buah Darren, membuat Suherman melebarkan matanya tak percaya.
Berita besar apa ini? Kenapa pula ini anak suka nongkrong dipasar dan menjaga kedai?
"Kau serius?" Tanya Suherman pada anak buah yang berbisik tadi.
Tapi anak buah tersebut menundukkan kepalanya, tak berani berbicara lagi. Tentu saja, Darren menatapnya tajam, memperingatinya karena sudah membocorkan rahasianya.
"Nak, jangan sia-siakan masa mudamu. Jika memang kau mampu, untuk apa setiap hari bermalas-malasan disini, sih?" Tanya Suherman heran.
Darren menghela nafas, tak lagi menatap anak buahnya. "Pak, aku yakin kau sudah tahu maksudku. Aku bukan tipe orang ramah, jadi, kau tebak sendiri." Ucap Darren.
"Kau ini, ingat tidak aku ini orang tua, bukan temanmu." Ucap Suherman melotot, ketika Darren malah menyuruhnya menebak, nada bicaranya ini, seperti kepada teman karib saja.
"Haha, baiklah, Pak. Aku akan jujur padamu. Aku bukan pengangguran, aku hanya sedang mengejar putrimu." Ucap Darren ringan.
Tidak ada beban sama sekali ketika ia mengatakan hal itu. Padahal Darren tahu Suherman ini ayah dari gadis yang sedang dikejarnya. Tapi, hei, apa tidak ada gugupnya sama sekali? Membuat Suherman menggelengkan kepalanya.
"Kejar ya kejar, untuk apa melihati setiap hari. Anakku mana bisa peka dengan kehadiranmu?" Ucap Suherman.
Jika Darren tidak maju dan menampakkan diri, mana mungkin Siska akan tahu tentang perasaannya bukan?
"Aku tidak berani." Beo Darren kecil.
"Tuan, gengsi bos sebesar gunung, hahaha." Ucap anak buahnya kemudian terbahak, bersama satu temannya lagi. Membuat Darren langsung menatap tajam kedua anak buahnya tersebut. Dan keduanya langsung mengatupkan mulutnya.
"Sudah tahun berapa ini, nak?" Tanya Suherman seraya menepuk pundak Darren. Menangis sajalah jika punya gengsi sebesar gunung, tidak maju-maju. Kau pasti kalah pada akhirnya.
"Anakmu bahkan tidak ingat aku." Keluh Darren, ia mengeluh tapi rautnya tetap datar. Membuat Suherman meringis melihatnya.
"Jika tidak ingat, maka buat ingat. Kau ini, seperti bukan laki-laki saja. Dasar payah!" Cibir Suherman, membuat Darren menatapnya Datar.
"Apa?" Tanya Suherman. "Aku benar, kan? Apa aku salah? Hei?" Lanjutnya, bertanya pada kedua anak buah Darren. Yang langsung mendapat dukungan dua suara. "Tunggu, memangnya kau kenal anakku?" Tanyanya.
"Tentu, kami teman, di sekolah menengah." Balas Darren.
"Satu kelas?" Tanya Suherman, dan Darren menggeleng. "Satu organisasi?" Tanya Suherman lagi, tapi Darren kembali menggelengkan kepalanya. Membuat Suherman kembali meringis, frustasi lama-lama mengobrol dengan kulkas berjalan ini. "Jika tidak keduanya lalu, apa? Astaga, jangan bilang kalian hanya pernah bertabrakan di lorong sekolah." Ucap Suherman dengan nada frustasi.
"Memang benar." Jawab Darren.
"Pfftt hahahaha!" Kedua anak buah Darren langsung menyemburkan tawanya begitu mendengar jawaban Darren.
"Hei! Aku hanya asal bicara, barusan. Tapi kau bilang benar? Hahaha, astaga, bos kalian ini." Ucap Suherman tertawa tapi lebih ke menangis. Apa-apaan? Teman katanya? Keduanya bahkan hanya sekedar bertabrakan di lorong sekolah. Nama satu sama lain saja tidak tahu, teman apanya?!
Darren ini, membuat Suherman emosi saja!
"Uni sayang, bagaimana dengan Ayah baru?" Tanya Darren, mengabaikan Suherman dan dua anak buahnya. Sebetulnya, menyembunyikan rasa malu. Meski ketiga lainnya tidak sadar jika Darren sedang malu, karena memang rautnya selalu terlihat tanpa ekspresi. Tapi jika dilihat lebih teliti, maka akan terlihat jika kedua telinganya memerah.
"Ayah? No, no, Ayah jahat, pukul ibu." Balas Uni membuat Darren menahan emosi. Jika rautnya berekspresi, maka saat ini sudah berubah tak enak.
"Hei, hei, tahan. Sekarang sudah proses perceraian. Tidak akan lagi kami memberikannya pada bajingan itu." Ucap Suherman, menepuk pundak Darren, seolah tahu jika Darren sedang menahan emosi.
Begitu mendengar proses cerai, Darren langsung menoleh pada Suherman. "Jadi, aku masih ada kesempatan?" Tanyanya polos.
Suherman menyemburkan tawanya. Ah Darren ini benar-benar diluar dugaan. Fokusnya malah tidak pada hal utama yang sebelumnya dibahas.
"Sudah tahu ada, selamjutnya apa yang akan kau lakukan, hmm? Terus melihatnya dari jauh? Membiarkannya didekati lelaki lain?" Tanya Suherman menggoda Darren.
"Tidak! Aku akan menarik laki-laki yang mendekatinya." Balas Darren, membuat Suherman ternganga, jawabannya sungguh diluar ekspektasinya.
"Luar biasa!" Ucap Suherman, meringis.
Darren ini, baik, tentu saja baik. Serius juga jangan ditanya, ia bahkan rela meninggalkan hidup mewahnya hanya dengan nongkrong tidak jelas di parkiran kedai Siska. Dengan alibi, menjaga keamanan.
"Bos, maka jadilah terlihat!"
"Benar bos! Tunjukkan eksistensimu."
"Nah, kau harus lebih berani, buang gengsimu perlahan."
"Betul, betul, jadilah laki-laki, bos!"
Celetukan kedua anak buah Darren membuat Suherman mengacungkan jempolnya pada keduanya.
Suherman menepuk pundak Darren, "Anak buahmu saja tahu bagaimana cara menjadi lelaki. Masa orang sepertimu tidak tahu?" Ucap Suherman.
Darren terdiam, pikirannya penuh dengan Ayah Siska mendukungnya, kan? Apakah dirinya dianggap calon menantu? Apa direstui?
Padahal, pembahasan Suherman dan anak buahnya bukan itu, tapi Darren lagi-lagi menyimpan fokusnya pada hal lain.
*
*