
*
*
Setelah sampai rumah, Siska tidak menunda lagi, ia langsung mengobrol dengan Ergan, juga disaksikan kedua orang tuanya. Rendra, Santi, Geri, Uqi dan Uni sudah mengistirahatkan diri di kamarnya, jadi tidak tahu menahu perihal obrolan ini. sedangkan Sapta dan Putri seperti biasa pulang ke rumahnya di desa sebelah.
"Jadi bagaimana?" Tanya Siska.
"Apanya yang bagaimana?" Tanya orangtuanya.
Ergan tertawa, bukankah keduanya baru saja datang, Siska tadi hanya mengobrol berdua bersama Ergan, jadi keduanya masihla tidak tahu niat Siska.
Melihat Ergan tertawa, Siska kemudian sadar dan langsung menepuk dahinya sendiri.
"Jadi begini, Ma, Pak. Siska berencana meminjam uang Ergan untuk membeli bahan-bahan makanan di kedai. Siska butuh uang banyak karena akan membeli stok sebanyak 1 bulan. Apa diizinkan, atau tidak?" Tanya Siska, akhirnya langsung menjelaskan lagi secara singkat.
Kedua orang tuanya ber oh ria, kemudian menjawab, "Mama setuju saja, tapi tanya Ergan sebagai pemilik uangnya. Itu hak adikmu, jadi harus mendapat persetujuan darinya dulu." Ucap ibunya mengingatkan.
"Betul, nak, Bapak juga setuju saja. Asal Ergan sebagai pemilik uang setuju. Karena meskipun kamu sebagai kakak meminta izin dari kami, tapi uangnya bukan milik kami. Itu masihlah milik adikmu Ergan." Timpal Ayahnya kemudian.
Siska mengangguk paham, "Siska sudah memberitahu adik tadi, sekarang hanya menunggu persetujuannya saja. Bagaimana adikku yang manis?" Tanya Siska seraya tersenyum hingga matanya menyipit, dan kedua tangan yang disatukan.
Ergan bergidik sebentar melihat tingkah kakaknya, tapi kemudian ia menjawab, "Aku setuju saja, lagipula aku juga tidak akan memakai uangnya. Bingung juga mau dipakai apa?" Ucapnya seraya menganggukkan kepalanya.
"Ah memang adikku yang paling baik! Terimakasih, ya!" Seru Siska seraya memeluk Ergan yang langsung menghindar begitu tahu dari gelagat Siska yang mendekatinya.
"Hei! Apakah aku sejenis barang kotor, hah?" Tanya Siska kesal, karena Ergan kini sudah bersembunyi di belakang punggung kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya maklum. Tapi Ergan menjulurkan lidahnya ketika Siska selesai berbicara. Pikirnya, Siska mengerikan sekali jika bersikap manis, membuat bulu kuduknya berdiri.
Siska mencibir ketika Ergaj menjulurkan lidahnya mengolok dirinya, pikirnya, awas saja nanti, akan kupeluk kau sampai kehabisan nafas!
"Aku ke kamar duluan, masih ada tugas yang harus dikerjakan." Seru Ergan kemudian kabur, menghindari kakaknya yang masih ingin memeluknya.
Kedua orang tuanya kemudian tertawa kecil. Tapi tak lama, karena setelahnya, ketiganya berbicara serius dengan Siska.
"Bagaimana kabar perceraian mu?" Tanya Ayahnya.
Siska menggelengkan kepalanya, "Masih putusan Verstek, Aldo tidak ada tanda-tanda mengajukan banding juga, tapi aku khawatir, takutnya Aldo menuntut hak asuh kedua anakku." Ucap Siska, karena memang selama dua hari ini Aldo tidak ada pergerakan, mengabaikan putusan verstek tanpa mau repot-repot mengajukan banding.
"Tenang, saja, meskipun Aldo nantinya mau menuntut hak asuh anak-anak, Bapak dan Mama akan bawa tetangga kita sebagai saksi di pengadilan, bagaimana sikap Aldo terhadap anak-anaknya dulu. Kita pasti akan memenangkannya." Ucap Ayahnya, menjelaskan. Karena setau dirinya, harus ada bukti mumpuni yang melarang Aldo memenangkan hak asuh anak.
Siska menatap keduanya dengan tatapan dan perasaan tulus. Kenapa orangtuanya sebaik ini, padahal dulu dirinya yang membuat keluarganya jatuh sampai tidak punya apa-apa.
"Aku jadi tidak khawatir, terimakasih, Ma, Pak." Ucap Siska tersenyum, kemudian memeluk keduanya. "Maaf Siska masih belum berbakti sampai saat ini." Lanjutnya, lebih ke menyesali perbuatannya, apalagi di kehidupan pertamanya.
"Sudah, sudah, meski memang agak rumit dan membuang waktu, tapi yakinlah, kita semua akan menang pada akhirnya." Ucap Ibunya menenangkan Siska.
"Oh, apa perlu Bapak hubungi teman-teman Bapak agar memberi pelajaran pada Aldo?" Tanya Ayahnya.
Siska melebarkan kedua matanya, teman Ayahnya adalah para tentara, polisi dan orang-orang yang jago beladiri. Bukan main-main,semuanya adalah orang-orang hebat, karena dulunya, Ayahnya juga salah satu dari orang hebat yang jago beladiri. Jika ia turun tangan, dari lama Aldo sudah hancur.
Siska kemudian melepaskan pelukannya, dan menatap keduanya dengan senyum lebar. "Ide bagus! Tapi, biar Siska saja yang memberi pelajaran, nanti. Tunggu setelah aku benaran bercerai." Ucap Siska dengan semangat.
"Baik, begitu saja. Kabari Bapak kalau butuh bantuan, oke?" Ucap Ayahnya tersenyum.
Siska menganggukkan kepalanya, dan ketiganya akhirnya tertawa kecil bersama-sama, lanjut mengobrolkan beberapa rencana pembalasan pada Aldo si bajingan mata duitan. Sampai ketiganya lelah, dan kembali beristirahat ke kamar masing-masing. Kali ini, Siska tidur di kamar dengan Uqi dan Uni.
Besoknya, Siska bangun lebih siang dari biasanya. Setengah jam lebih lama dari kemarin, yakni pukul setengah lima. Ia tidak perlu lagi bangun pukul 4 kali ini dan seterusnya, karena memang tidak perlu pergi ke pasar.
Begitu bangun, Siska langsung membersihkan diri, kemudian memasak makanan untuk sarapan. Stok makanan di rumah masih banyak, jadi Siska memasak agak banyak hari ini.
Setelah 40 menit memasak, Siska kemudian kembali ke kamar dan membangunkan Uqi, juga Uni. Memandikan keduanya bersamaan. Di usianya, keduanya masih bisa mandi bersama, tapi tidak untuk dua tahun kedepan, keduanya harus mandi secara terpisah nanti.
Setelah mandi, kemudian Siska menyiapkan Uqi dengan memakaikannya seragam sekolah. Hari Kamis, seragam yang dipakai juga berbeda tidak seperti hari Senin sampai Rabu. Sedangkan Uni, Siska pakaikan dress lucu selutut berwarna kuning dengan corak bunga putih Daisy.
Setelah semuanya siapa, Siska kemudian keluar, dan mendudukkan keduanya di ruang keluarga, membiarkan keduanya menonton televisi seraya menunggu Siska menyiapkan makanan, yakni membawa makanan dari dapur ke ruang keluarga.
Belum ada meja makan, jadi makan bersama masih dilakukan di ruang keluarga. Seraya mengangkat dua mangkuk, ibunya dan Santi yang sudah bersih dan harum, ikut membantu Siska.
Sedangkan para lelaki, masih bersiap di kamarnya, tapi tidak lama, sebab 5 menit kemudian, semuanya telah berkumpul di ruang keluarga. Kecuali Ergan dan Geri yang masih ada di kamarnya, semuanya langsung sarapan lebih dulu. Karena Rendra, dan Santi harus berangkat lebih awal. Menyiapkan adonan. Jadi pukul 6 harus udah ada di kedai, agar adonan yang hari ini akan ditambah lagi, menjadi cepat selesai.
Sepeninggal Rendra dan Santi, Ergan dan Geri akhirnya keluar dan langsung sarapan. Sedangkan Siska masih menyuapi Uqi dan Uni. Lebih lama, karena kedua anaknya makan seraya menonton televisi. Pun dengan Ayahnya yang telah selesai makan, mendampingi kedua cucunya menonton kartun di pagi hari. Dan ibunya telah lama pergi ke dapur, membereskan segala yang perlu dibereskan. Mulai dari mencuci baju, piring, dan menyapu rumah bertepatan dengan Ergan, Geri dan Uqi yang berangkat sekolah.
Setelah ketiganya berangkat sekolah, Siska pun pergi ke kedai, bersama Ayah dan ibunya, serta Uni yang digendong oleh Siska. Sudah lama tidak ia gendong, jadi kali ini, biarkan ia menggendongnya meski anaknya ingin bersama sang kakek.
*
*