Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Saingan?


*


*


Siska berdiri diam di depan gerbang, menunggui Uqi yang memang belum keluar dari kelas. Kali ini, berkat adanya tebengan, Siska datang lebih cepat 15 menit daripada biasanya. Biasanya ia akan datang pukul 12 lebih 5 menit karena angkutan umum seringkali ngetem untuk menunggu yang lain agar angkutan penuh. Jadi begitu datang, Uqi sudah pasti sudah keluar dari kelasnya.


Untuk membuat dirinya tidak bosan, Siska membuka ponselnya, dan membuka aplikasi tutub. Ia berniat melihat aku milik adiknya. Begitu terbuka, langsung saja mulut Siska terbuka lebar. Ini sangat mengejutkan, baru berapa hari sejak Ergan membuka akun tutub?


Followersnya sudah ratusan ribu! Jumlah tayangan setiap konten yang di postingnya juga mencapai jutaan. Paling sedikit mencapai 900 an ribu. Dan itu adalah konten paling awal, konten dimana Rusdi ditangkap. Sisanya, yang ada wajah Ergannya, kontennya berkisaran 1 sampai 2 jutaan penayangan. Sangat hebat!


Diam-diam Siska berseru bangga pada adiknya, dalam hatinya. Tidak disangka, Ergan bisa segampang ini menjadi seleb tutub. Siska sampai berdecak, selain wajah tampannya, editan kontennya juga sangat bagus. Semuanya bervariasi dan tidak membosankan. Dan ini menjadi nilai plus menurut Siska.


Ah ngomong-ngomong, jumlah insentif yang diterima Ergan juga tidak akan sedikit, kan? Pastilah puluhan juta, kan? Siska ingat jika jumlah penayangan satu konten kalau menurut situs Influencer Marketing Hub, pendapatan dari video tutub yang ditonton satu juta kali dapat berkisar antara $1,000 hingga $10,000, atau setara Rp15.000.000 hingga Rp150.000.000.


Meski begitu, pendapatan setiap seleb tutub berbeda-beda, tingkat pendapatan per 1 juta view video tutub bervariasi berdasarkan beberapa faktor, seperti negara, jumlah iklan, audiens dan niche. Bahkan faktor seperti kualitas konten juga kadang terpengaruh.


Maka dari itu, daripada mengira-ngira, lebih baik Siska nanti tanyakan langsung saja pada Ergan, siapa tahu ia juga dapat bagian, kan dirinya pernah masuk ke konten tutubnya, haha.


Selagi melihati, akun tutub Ergan, Siska mendapat tepukan kecil di pundaknya. Membuat ia mendongak dan melihat siapa yang menepuk pundaknya. Begitu dilihat, ia mengubur niatnya yang tadinya akan mengomel.


"Ah, Ayah Zen? Datang menjemput Zen lagi?" Tanya Siska ramah, ia mengangguk menyapa.


"Ia, kebetulan aku melihatmu, maaf atas tepukan barusan, karna barusan aku panggil kau tidak merespon." Balas Randu balas tersenyum.


Sebetulnya, Siska sangat amat canggung berhadapan dengan Ayah Zen ini, entah mengapa, tapi aneh saja. Tiba-tiba ia mengakrabkan diri dengannya, juga jadi suka menjemput Zen? Siska rasa, ia punya motif tersembunyi, bukan? Ah, tapi Siska tidak mau berburuk sangka juga. Jadi, biarlah, asal jangan terlalu dekat saja dengannya. Jaga jarak, jaga batasan, lagipula tidak nyaman.


Bukan maksud menghina juga, tapi hei, penampilannya sangat nyentrik. Siska sakit mata jika lama-lama melihatnya. Tidak seperti bos penguasa yang rapi dan enak dipan--Eh? Ada apa dengan pikirannya?


Seketika Siska menggelengkan kepalanya, membuat Randu menatapnya dengan heran. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya.


"Ha? Eum, ya! Tentu saja, aku sangat baik.", Balas Siska kemudian, ia kembali ke setelan kalemnya. Setelah mengenyahkan pikiran aneh yang tiba-tiba datang.


5 menit berlalu, bel sekolah akhirnya berbunyi. Uqi dan Zen bersama-sama keluar menuju gerbang. Terlihat Uqi yang mengobrol dengan semangat, begitupula dengan Zen yang sama-sama mendengarkan dengan antuasias.


"Ibu!" Pekik Uqi semangat, begitu melihat ibunya yang ternyata sudah ada di depan gerbang.


"Hai, sayang! Bagaimana sekolahnya? Seru tidak?" Tanya Siska setelah menyapa Uqi. Ia mensejajarkan tubuhnya, seraya mengelus kepala Uqi lembut.


"Eum! Uqi dipuji Bu guru lagi, loh! Karena Uqi berhasil memecahkan soal di papan tulis!" Seru Uqi senang. Membuat Siska memujinya juga.


"Sangat bagus, Uqi hebat! Tapi ingat, jangan berbangga diri, oke? Di--"


"Baiklah, ayo kita pulang! Ah, Zen, Ayahmu juga menjemput, jadi kami pulang duluan, oke? Sampai jumpa, ya." Ucap Siska seraya mengelus kepala Zen pelan, tak lupa senyum lembutnya juga.


Zen tampak murung, tapi ia membalas senyuman Siska, juga mengangguk mengiyakan.


Kemudian Siska pergi, meninggalkan Zen dengan Ayahnya. "Ayah, kenapa pula kau menjemputku? Aku kan jadi tidak bisa pulang dengan ibunya Uqi!" Rajuk Zen, kesal sendiri.


"Dasar bocah, jadi kau tidak mau dijemput olehku, HM?" Tanya Randu.


"Boleh saja, tapi kenapa baru sekarang? Biasanya juga kan tidak peduli padaku." Cibir Zen lagi.


"Aiyo, Ayahmu sedang memperjuangkan seorang ibu untukmu. Ayah harus terlihat baik, bukan?" Tanya balik Randu.


Zen mengernyitkan dahinya, "Apa maksudmu, Ayah?" Tanya Zen tak paham.


"Kau ingin ibu Uqi menjadi ibumu juga tidak?" Tanya Randu yang langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Kalau begitu, aku akan menjemputmu tiap hari, dan tugasmu harus mendekatkan diri dengan Uqi, juga buat kami Ayah dan Ibu Uqi dekat juga. Paham tidak, hm?" Tanya Randu, kemudian tersenyum penuh arti pada anaknya, Zen.


"Kalau aku mendekatkan kalian, ibu Uqi akan menjadi ibuku juga? Benaran?" Tanya Zen semangat.


"Betul lah, jadi ayo sama-sama berjuang, oke?" Ucap Randu yang langsung disetujui oleh Zen.


Randu memang punya niat tersembunyi pada Siska, Siska juga tidak salah. Hanya saja, Randu tidak terlalu menunjukkannya, yakni dekati dulu anaknya, baru ibunya. Ini adalah cara yang disarankan oleh Ayahnya, yakni pemilik kios.


Ya, orang tuanya itu memberitahu Randu tentang Siska, bagaimana awal mula ia mengenal, sampai keseharian Siska yang berjualan, sampai akhirnya ia dapat membuat kedai. Apalagi statusnya yang setengah janda, pemilik kios tahu kabar tersebut karena ternyata suami Siska ini merupakan mantan teman dari pegawainya.


Setelah menunjukkan foto, Randu mulai suka karena kecantikan Siska. Lalu setelah mendengar kerja keras dan sifatnya, Randu makin suka. Ia berbanding terbalik dengan sifat mantan istrinya dulu. Jadilah ia memulai aksinya dengan mengawalinya di sekolah anaknya.


Menjemput Zen, bisa sering bertemu dengannya, itu bisa menambah interaksi dan mendekatkan keduanya. Apalagi kejadian kemarin membuatnya semakin percaya diri. Siska sangat berterimakasih begitu ia mengantarkan Uqi ke kedai.


"Baiklah, ayo, pulang!" Ajak Randu seraya menuntun Zen.


Tanpa tahu, jika keduanya sedari tadi dilihati. Bahkan obrolannya, dari awal ia mengobrol dengan Siska sampai niatnya yang di tunjukkanya pada anaknya, juga terdengar.


Siapa lagi jika bukan Darren? Ia tidak melanjutkan urusannya, melainkan tetap disekitar sana untuk memantau Siska. Ia juga tidak mengajak Siska pulang bersama, karena takutnya Siska curiga.


Jadilah ia diam dan mengawasi saja. Tapi, siapa sangka dengan diam kali ini, dia akan mendengar hal yang ke depannya, akan menjadi saingannya?


*


*