Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Melepas Rindu dengan Uqi dan Uni


*


*


Bibir Darren berkedut, Siska mengomelinya, padahal ia hanya sedang khawatir padanya saja. Rautnya merenggut sedih, dan Siska yang melihat hal tersebut langsung menghela nafas.


"Bagiklah, bagaimana jika aku tidak usah pulang saja dan disini menemanimu?" Tanya Siska akhirnya. Tapi kini, Suherman lah yang melotot pada Darren membuat Darren meneguk ludah.


Darren menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak, pulang saja pulang haha. Aku tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja meski disini sendirian, oke?"Ucap Darren panik.


"Sendiri apanya? Temanmu banyak!" Dengus Suherman.


"Baiklah, bapak, kenapa akhir-akhir ini menjadi seperti orang yang tidak suka padaku, sih? Aku berbuat salah padamu? Aku minta maaf." Ucap Darren akhirnya, karena sudah beberapa hari semenjak ia disinisi oleh Suherman.


Ayah mana yang rela melihat putrinya akan diambil? Hei, Darren ini, masih saja tidak mengerti. Suherman telah terpengaruh oleh Sapta, oke. Jadi tahan sikap dan perilaku dirimu saja.


"Tidak, tuh. Perasaanmu saja, kali!" Balas Suherman dengan acuh. Padahal dulu, ia sangat membangga-banggakan Darren, paling menempel pada Darren, tapi lihat sekarang.


Darren menghela nafas. "Baiklah, kau harus mendengarkan perkataanku. Jangan sakit lagi dan membuat Bapak dan Mama kewalahan. Jaga Uqi dan Uni dengan baik. Kaku, jangan lupa kabari aku." Ucap Darren lagi.


Siska menghela nafas lagi, "Baik, tuan muda, aku mengerti, aku mengerti. Sudah tidak?! Jika masih begini kami akan terjebak macet nanti!" Ucap Siska geram sendiri.


"Tunggu aku 3 bulan lagi." Ucap Darren akhirnya, dan memundurkan diri memberi ruang pada mobil agar berjalan meninggalkan pekarangan rumah.


Siska melambaikan tangannya, dan Darren menatap mobil yang berlalu sampai menghilang dari pandangannya. Melihat hal tersebut, Rendra yang berada di belakang, langsung mendekat dan menepuk pundak Darren.


"Jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja. Siska juga, ada bapak dan mama yang mengawasi. Lalu, ketika datang nanti, jangan lupa ya. Sekalian bawa calon ibu mertua Siska." Ucap Rendra seraya tersenyum, kemudian pergi setelahnya, sebelum mendengar jawaban yang aman keluar dari mulut Darren.


Darren mengurungkan niatnya yang akan menjawab, beralih dengan menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Tenang saja, kakak ipar, Aku akan menepati janjiku, membawa ibuku ke rumahmu!" Darren memekik agak keras karena Rendra sudah masuk ke dalam rumah dan menghilang di balik pintu.


Haris yang mendengar pekikan tersebut, langsung terbatuk kecil saking terkejutnya. Darren bisa seperti itu juga, padahal, dulu ia kira Darren ini tidak akan pernah jatuh cinta, apalagi dekat dengan perempuan, yakni punya kekasih dan menikah?


Tapi akhirnya, pikirannya dulu terbantahkan.


"Ayo pergi! Apa yang kau tunggu?!" Pekik Darren sinis, dan menatap tajam Haris yang malah melamun di depan rumah, sedangkan Darren sudah masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Keduanya berniat pergi ke perusahaan. Darren telah mengabaikan perusahaan akhir-akhir ini, jadi malam ini ia akan lembur mengerjakan pekerjaannya yang masih terbengkalai.


Haris terkejut, dan sadar kembali ke kenyataan. Kemudian ia dengan cepat berlari dan masuk ke kursi kemudi, dan mengemudikan mobil untuk pergi ke perusahaan.


"Nanti kau aturkan rapat dadakan. Bulan ini, aku masih belum mengetahui keadaan perusahaan. Sekalian mengumumkan proyek, aku akan memilih langsung orang yang akan bekerja nantinya." Ucap Darren pada Haris, tapi matanya menatap ponsel melihat room chat dirinya dengan Siska.


Kesal sendiri akhirnya karena Siska tidak ada menghubunginya.


Astaga, baru berapa menit sejak Siska pergi, memangnya Siska sekurang kerjaan itu menghubungi orang yang baru saja berpisah dengannya. Haha. Darren ini, ada-ada saja.


"Baik, bos. Adalagi?" Tanya Haris seraya mengangguk.


Waktu masih menunjukkan pukul setengah empat, begitu sampai ke kantor Wistara, karyawan masih akan berada di tempat. Jadi Haris sedikit tenang, tidak buru-buru menghubungi Sahni yang tadi pergi duluan ke kantor setelah mengantar Siska ala kadarnya.


"Tidak, untuk sementara itu saja dulu." Balas Darren. Kini, karena Siska tidaka da menghubunginya, maka Darren lah yang menghubungi Siska. Darren mengirim banyak pesan, tapi Siska tidak kunjung membuka, membaca, apalagi membalas.


Membuat Darren berdecak kesal karenanya.


"Ada masalah, bos?" Tanya Haris.


"Kau masalahnya! Kenapa lambat sekali, tidak sampai-samlai ke perusahaan?!" Tanya Darren, ia menimpakan kekesalannya pada Haris, membuat Haris yang tidak tahu menahu Darren kenapa, hanya bisa.pasrah, sudah biasa dengan keadaannya yang dijadikan tempat pelampiasan oleh bos sekaligus temannya tersebut.


Disisi lain, Siska yang mendapat pesan beruntun dari Darren hanya menghela nafas, dan mengabaikannya. Ia berlanjut menonton video tutub Ergan, lebih tepatnya adalah melihati komentar-komentar para fans nya yang kini berbalik membela dirinya.


Ah, betapa senangnya. Dulu dihina, sekarang dikagumi. Memang perasaan ini langka sekali. Siska senang, tapi tidak sombong. Ia hanya bangga pada dirinya sendiri karena bisa mengingat hal semacam residence Turnuksio, meski di kehidupan sebelumnya ia miskin dan mati kelaparan.


"Astaga, ponselmu berisik sekali, loh. Bapak ini mau istirahat." Ucap Suherman.


"Darren mengirim banyak pesan, sebentar aku mode diamkan dulu.", Ucap Siska tertawa, melihat Ayahnya yang jarang kesal, kini terlihat kesal.


"Bocah satu itu, seperti anak-anak saja. Dia tidak sadarkah umurnyasudah hampir kepala tiga? Dasar bocah haus perhatian."Gerutu Suherman kesal sendiri.


Suherman mengibaskan tangannya, "Sudahlah." Pasrahanya, tidak lagi ingin membicarakan Darren.


"Istirahatlah lagi, pak. Perjalanan kita masih jauh." Ucap Siska, membuat Ayahnya mengangguk dan kembali bersandar dengan nyaman, kemudian terlelap perlahan.


Dan Siska kembali men-scroll komentar-komentar fans Ergan yang ada di konten Ergan tentang review rumah baru di Turnhksio Residence.


Beberapa komentar yang masuk yang membuat Siska tersenyum adalah,


'Bukankah kakak bocah lucu kita akan menjadi orang kaya raya?!'


'Woah, selamat, akhirnya ejekan para hatters akan berujung pada dirinya sendiri haha'


'Sial, mereka menelan ludah sendiri tidak, sih pada akhirnya?'


'Hahaha, aku tidak punya rumah di Turnuksio, tapi aku sangat senang melihat orang yang mengejek kemarin.'


'Apa mental kalian aman, melihat kekayaan yang menyilaukan ini?'


'Benar, tuh, makanya jangan sok paling kaya. Siapa yang tahu aslinya mereka lebih miskin dari akuu yang pasta gigi habis saja diisi air, hahaha.'


'Selamat Kak Siska! Ayo menjadi kaya raya dengan adikmu!'


'Pangeran tampanku, karena sudah menjadi kaya, tidak ada salahnya akan membuat give away untuk para penggemarmu yang cantik dan imut ini?'


Siska tertawa dibuatnya, tapi setelah melihat komentar terakhir, Siska menjadi berpikir untuk memberikan hadiah beberapa, anggap saja berbagi karena rasa syukur. Keberuntungan menghampirinya akhir-akhir ini.


"Ini ide bagus, selain give away, sepertinya aku juga akan berdonasi saja pada panti-panti asuhan yang sangat membutuhkan." Gumam Siska seraya tersenyum.


Setelah puas melihat komentar, ia akhirnya ikut mengistirahatkan dirinya dan ikut terlelap di dalam mobil selama sisa perjalanan.


Pukul 7 malam, akhirnya Siska sampai di desa. Ia tersenyum lebar ketika turun dari mobil, dan masuk ke rumah dengan perasaan membuncah.


Orang rumah tidak ada yang tahu ia kembali, jadi ia masuk dengan diam, mengendap-endap memasuki ruang makan, karena pukul 7 adalah waktu tetap yang ditetapnya ibunya untuk semua orang makan malam.


Dan benar saja, Siska mengintip, ada beberapa orang yang sedang makan di atas meja makan. Ada Ibunya tentu saja, Ergan, Santi, Geri, Uqi dan Uni. Oh, oh, ada Putri dan Desi juga, keduanya terlihat keluar dari arah dapur, dengan membawa nampan berisi mangkuk yang ada sayurnya.


'Ah tidak kenapa ia menjadi lapar?!' Dengus Siska dalam pikirannya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Suherman bingung sendiri, ia baru selesai menurunkan barang dengan supir. Jadi ia baru masuk. Lalu melihat putri satu-satunya malah mengintip begini, bukannya bergabung makan malam.


"Bapak, ssttt!" Ucap Siska seraya berniat menarik ayahnya ke belakang dirinya, tapi terlambat, semua orang mendengar suara Suherman, dan semua perhatian kini tertuju pada keduanya.


"IBU!"


"MBUU!"


"KAKAK, BAPAK!"


"BIBI! KAKEK!"


Serentak, anak-anak langsung memanggil dan meneriaki keduanya. Membuat Suherman langsung melambaikan tangan pada semuanya, sedangkan Siska merengut kesal, ia menghela nafas kasar, kesal sendiri, karena rencananya gagal begitu saja kini.


"Bapak menyebalkan, ah!" Keluh Siska pada Suherman membuatnya kebingungan sendiri.


Tapi Suherman mengedikkan bahunya, dan berjalan ke arah meja makan. Istri dan dua menantunya tersenyum menyapa Suherman. Sedangkan anak-anak berteriak senang. Bahkan Uqi, Uni, dan Desi sudah berlari menghampiri kakeknya. Memeluknya seketika setelah ia dekat dengan meja makan.


Siska pun kini mau tak mau berjalan mendekat dengan perasaan dongkol. Tapi perasaannya berubah ketika Uni berlari ke arahnya dan memeluknya dengan riang. Di belakangnya juga ada Uqi yang berjalan dengan wajah malu-malu menghampiri Siska, membuat Siska tertawa, menertawai kegemasannya.


"Ah sayang-sayangnya ibu! Ibu rindu sekali pada kalian." Ucap Siska seraya memeluk keduanya bersamaan. Tak lupa menggosokkan pipinya pada kedua anaknya saking gemasnya.


Sudah lama sejak ketiganya bertemu, akhirnya kini Siska bisa melepas rindu pada kedua anak kesayangannya. Uqi dan Uni.


*


*