Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Aku pulang, Sayang.


*


*


Mata terpejam, dengan infus di tangan, Siska terlihat sangat lemah saat ini. Sahni di sampingnya, menunggui Siska. Ia bolos kerja, dan anak-anaknya dititipkan pada kakek dan neneknya.


Bu Arum kembali ke rumah, dan mengambil barang-barang yang nantinya akan dibutuhkan oleh Siska juga dirinya yang akan menginap, menjaga Siska.


Sahni tidak bisa sampai menginap, bagaimanapun anak-anaknya tidak bisa dititipkan pada kakek neneknya terus menerus di saat keduanya sudah sangat tua.


Pekerjaannya, bahkan Sahni menghubungi orang kantor agar membawa semua dokumen yang perlu diperiksa olehnya. Karena begitu Darren dan Haris kembali nanti, Darren akan mengecek semua pekerjaannya. Sebab itu, Sahmi tidak bisa menundanya lagi.


Menghela nafas, Sahni memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Merasa sedikit pusing karena kepanikannya sebelumnya yang tiba-tiba.


40 derajat adalah suhu yang bisa menjadi bahaya. Dulu anaknya demam setinggi itu, dan dokter mengatakan jika suhu tersebut bisa mengakibatkan otak anaknya rusak.


Saking paniknya, Sahni tidak sadar jika Siska bukan anak-anak. Meski tidak seberbahaya pada anak-anak, tapi suhu tersebut harus disegerakan diperiksa oleh dokter. Apalagi jika dalam 3 hari suhunya tidak turun, jadilah hal berbahaya tadi akan menjadi berbahaya juga bagi orang dewasa.


Tapi akhirnya dokter juga bersyukur karena Siska dibawa lebih cepat untuk diperiksakan. Karena ternyata Selain pusing dan demam, ada ruam kecil di sepanjang tangan Siska. Dan Dokter mendiagnosis, Siska terkena demam berdarah.


Dokter sebelumnya bertanya, apakah Siska berada di luar ruangan ketika malam hari dan dalam waktu yang lama. Lalu Sahni ingat pada malam sebelum Darren pergi. Dan kemudian, benar saja, setelah tes darah keluar, Siska memang terkena Demam Berdarah.


Awalnya Siska dipastikan tidak akan terkena penyakit tersebut jika Siska makan dan istirahat dengan baik. Tapi Siska dipastikan tidak makan dan istirahat dengan baik sebelumnya, alhasil tubuh dan imunnya melemah.


Sahni mengutuk Darren dalam hatinya. Juga memarahi Siska dalam hatinya. Sahni tahu Darren ini pria yang lurus-lurus saja jalan hidupnya sebelumnya. Tapi ia sudah memutuskan akan bersama Siska, tidak bisakah ia lebih perhatian dengannya.


Siska pula, Darren hanya laki-laki yang pergi seminggu saja. Meski tidak memberi kabar, masih bisa saling menghubungi lewat ponsel. Zaman apa ini astaga, teknologi sudah maju, bukan zaman purba. Siska bahkan sampai tidak makan siang dan makan malam kemarin.


Sahni mendengus kesal. Pasangan ini, begitu dipenuhi gengsi dan kekanak-kanakan, gerutu Sahni kesal, dalam hatinya.


Memang sih, jika dirinya ada di posisi Siska, ia mungkin akan marah. Bagaimana tidak? Malamnya romantis, besoknya ditinggalkan tanpa pemberitahuan apapun. Sahni rasa, ia mungkin merasa dibuang, kan jika begitu.


Tapi hei, itu tidak membenarkan dirimu menyiksa diri, oke. Meski emosi, makan dan istirahat yang cukup harus tetap dilakukan. Laki-laki pergi, nanti juga datang kembali. Ibaratnya, mati satu tumbuh seribu.


Tapi yasudahlah, tidak ada gunanya merutuk terus dalam hati. Lagipula, setiap orang mempunyai pikiran dan pribadi yang berbeda. Sikap dan perilaku yang diambil jelas akan berbeda.


Sahni kemudian mengalihkan tatapannya pada tumpukan dokumen yang tingginya melebihi kepalanya. Membuat kepalanya kembali berdenyut sakit. Tapi ia hanya bisa menghela nafas dan mengambil satu dokumen untuk diperiksa.


Tak lama kemudian, Bu Aruma datang dengan tas besar. Bu Arum bahkan membawa nasi dan lauk pauk untuk Sahni karena tahu ia belum sarapan saat itu.


Sahni menatap Bu Arum dengan binar mata, kebetulan sekali ia lapar dan Bu Arum datang dengan makanan. Ah betapa perhatiannya asisten rumah tangga Siska yang satu ini.


Sahni meminta ruang VIP, agar ia bisa lebih leluasa dan lebih bebas dalam melakukan pekerjaan. Juga, agar Siska lebih tenang menjalankan perawatannya kelak. Jadi, tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain 3 orang ini.


Pada pukul 12 siang, Sahni meminta orang membawa kembali dokumennya, dan pamit pada Bu Arum, karena harus menjemput anak bungsunya yang sudah masuk taman kanak-kanak. Setelahnya, Sahni juga tidak akan kembali ke rumah sakit, dan akan kembali ke kantor untuk meneruskan pekerjaan.


Ada ralat pukul 2 siang nanti, jadi Sahni harus bersiap dan harus ada di kantor 20 menit sebelum rapat. Sahni diperkirakan juga akan lembur, jadi Sahni hanya bisa menitipkan Siska pada Bu Arum.


Siska masih belum sadar sampai saat ini. Obat yang diberi dokter lewat suntikan membuatnya tidur lebih lama. Dan baik untuk kelangsungan kesehatannya nanti, karena itu membantu Siska mengistirahatkan tubuhnya.


Bu Arum yang meletakkan ponsel Siska di samping tempat tidur, di atas nakas dekat tiang infus. Sambungan telfon sudah mati sejak jet yang dinaiki Darren lepas landas.


Butuh waktu sekitar 16 jam dari negara sana kembali ke ibukota sini. Tapi dengan jet, perjalanan bisa menjadi lebih singkat. Dan membuat Darren sampai pada pukul 9 malam.


Tanpa istirahat, ia langsung pergi ke rumah sakit ibukota dengan informasi yang telah diterimanya dari Sahni. Darren bahkan meninggalkan koper pada Haris yang masih belum sempat duduk barang sejenak.


Haris hanya menghela nafas, meski biasanya ia ditinggalkan, tapi Darren akan tetap membawa kopernya bersamanya. Kali ini, ia tahu betul Darren sangat panik dan dengan cepat pergi dari Bandara meninggalkan dirinya tanpa pikir panjang.


Sepanjang jalan, ia terus bertanya pada Haris tentang keadaan Siska, padahal ia tahu betul Haris juga tidak tahu apa-apa karena Sahni tidak menghubunginya lagi sejak ia menutup telfon.


Terlebih, keduanya sudah ada di dalam pesawat, jadi Haris sendiri tidak bisa menghubungi istrinya untuk menanyakan kabar Siska. Dan Haris, hanya bisa menghela nafas berkali-kali menghadapi sikap Darren yang sangat beda, sangat tidak biasa. Seolah bukan Darren yang ia kenal yang ada dihadapannya sejak kemarin.


Haris membawa dua koper dan berniat pulang untuk istirahat lebih dulu. Ia masih harus kembali ke negara tetangga untuk menghandle pekerjaan Darren.


Darren harusnya disana selama seminggu ingat? Tapi baru dua hari, Darren sudah meminta pulang dengan tatapan penuh emosi membuat Haris tidak berkutik.


Meski hanya dua hari, tapi Darren berhasil menyelesaikan pekerjaan lebih awal. Maksudnya, pekerjaan yang seharusnya dilakukan 2 hari ke depan, sudah diselesaikan Darren. Jadi Haris juga lebih tenang karena ia bisa pulang lebih dulu ke rumah dan bertemu anak-anak juga istrinya.


Kembali pada Darren, kini ia telah sampai di ruang rawat Siska. Rautnya seketika berubah dengan penuh rasa bersalah. Sendu dan kesedihan jelas tercetak di wajahnya. Melihat Siska yang terbaring, jelas ia menyalahkan dirinya sendiri.


"Aku pulang, sayang..." Gumam Darren pelan dengan wajah sendu. Ia menatap Siska yang terlihat tidak berdaya dengan mata terpejam. Kemudian menggenggam tangannya dan duduk di kursi samping tempat tidur.


Bu Arum ada di sofa di dekat dinding, sedang tidur disana, jadi Darren tidak begitu menganggu ketika ia datang. Tapi ketika Darren bergumam, jelas Bu Arum terbangun. Meski kecil suaranya, tapi rumah sakit sangat sunyi.


"Tuan, anda sudah datang." Sapa Bu Arum, sedikit terkejut.


*


*