Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Darren Malu-malu


*


*


Darren menatap Siska yang ada di depannya, dengan posisi dirinya tidur menyamping. Senyuman tidak pernah surut sejak ia bangun dari tidurnya. Tangannya kini terangkat, membenarkan untaian rambut yang menghalangi wajah Siska.


Sudah 10 menit sejak Darren bangun pagi ini, Siska tetap terlelap karena kelelahan. Darren juga tidak ada niatan membangunkan wanita yang kini telah menjadi istrinya tersebut. Ia hanya menatap dan mengagumi wajah Siska dengan tatapan lembut dan hangatnya.


Setelah merasa cukup, Darren kemudian mengecup bibir Siska. Mendiamkannya lama. Sampai pikiran jahilnya, keluar, Darren melanjutkan aksinya, mengganggu Siska dengan ciuman dalamnya. Membuat Siska melenguh pelan dalam tidurnya. Sampai akhirnya, Siska terbangun, dengan kesadaran yang belum terkumpul, ia menatap Darren yang semakin memperdalam ciumannya, tangannya juga dibiarkan mendorong tengkuknya.


Lalu Siska kehabisan nafas, akhirnya ia sadar, dan memukul bahu Darren 3 kali, membuat Darren melepaskan ciumannya dengan enggan. Tapi, wajahnya tersenyum lebar dengan memperlihatkan giginya yang berjejer rapi.


"Kau gila!" Desis Siska dengan nafas terengah.


Matanya menatap tajam Darren yang malah tertawa malu-malu di depannya. Membuat Siska dengan kesal meraup wajah Darren kasar.


Darren memekik pelan, "Sayang..." Panggilnya dengan nada dan wajah memelas. Ia tidak suka diperlakukan begitu oleh Siska.


"Hmph!" Dengus Siska mendelik. Ia hendak beranjak, dengan membawa selimut yang dililitkan di tubuhnya. Tapi Darren dengan cepat memeluk Darren dari belakang, membuat Siska kembali tidur, dengan posisi membelakangi Darren.


Siska memejamkan kedua matanya, giginya bertabrakan, dan menahan nafas. "Kau belum memakai celana?!" Pekik Siska pelan.


Meski Siska sudah melilitkan selimut, tapi Darren juga masih ada dalam selimutnya. Selimut yang Siska pakai belum terlilit semua di tubuhnya.


"Hehehe." Balas Darren, terdengar dekat di telinga Siska, karena wajahnya berada di ceruk leher Siska.


Sebelum Siska menjawab Darren lagi, tangan Darren mulai bergerak, menyusup ke dalam selimut dan mengelus pelan perut rata Siska. Bibirnya juga tidak tinggal diam, mencumbu leher Siska, meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


"Darren..." Panggil Siska dengan suara tertahan. Sebisa mungkin menahan suara aneh yang akan keluar dari mulutnya.


"Boleh, ya?" Tanya Darren dengan suara berat. Matanya terpejam menahan diri. Siska juga merasakan libidonya naik, terlebih di bawah sana, Siska juga merasakan itu menyentuh pahanya.


Setelah pergelutan semalam, keduanya memang belum berpakaian. Jadi baik Darren, maupun Siska, keduanya sama-sama tanpa pakaian.


Siska terdiam cukup lama, sampai akhirnya Darren mau mengalah dan melepaskan Siska. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu sayang." Ucap Darren kemudian mengecup telinga Siska sebagai penutupan. "Tapi aku harus ke kamar mandi sekarang, kau tunggu giliran ya." Lanjut Darren, ia hendak beranjak ke kamar mandi.


Tapi Siska menahan Darren. Menggenggam tangannya, dan menatap manik Darren dalam. Darren sendiri menahan mulutnya yang ingin sekali tersenyum lebar.


"Sudahlah, kau boleh melakukannya." Ucap Siska dengan penuh pertimbangan. Tidak ada hal yang melanggar juga, lagipula keduanya memang sudah menjadi pasangan juga. Hanya saja, karena kelelahan, Siska hendak menolak, tapi akhirnya pasrah, sekalian saja lelahnya.


Darren juga sudah dalam kondisi on, memikirkan ia yang akan bermain sendirian nanti, Siska pun menjadi tidak tega akhirnya.


"Yes!" Pekik Darren, kemudian membuka selimut yang melilit tubuh Siska, dan masuk ke dalam selimut, menindih Siska.


Siska yang berada di bawah, langsung mengangkat kedua tangannya, memegangi pipi Darren. "Pelan-pelan, oke?" Pinta Siska, membuat Darren mengangguk dengan semangat.


*


Pukul 1 siang, Darren menyelesaikan kegiatan keduanya. Ia langsung membawa dirinya dengan menggendong Siska ke kamar mandi, sekalian membersihkan Siska. Selama mandi, tidak ada kejadian apapun, karena Darren sendiri kasihan melihat Siska yang terlihat kelelahan.


Untuk sekedar membuka mata saat mandi saja, Siska tidak melakukannya. Alhasil, Darren lah yang harus mati-matian menjaga nafsunya ketika memandikan Siska. Dan berhasil, Siska kini sudah dipakaikan kaos kebesaran milik Darren dan short pants milik Siska.


Selain dalaman, baju yang ada di koper Siska semuanya baju seksi. Darren menggelengkan kepala melihatnya. Tapi tidak heran, ia tahu itu kelakuan ibu dan ibu mertuanya yang sama-sama bekerja sama mengatur hal tersebut.


Setelah memakaikan baju pada Siska, Darren kemudian berpakaian dan keluar kamar. Sudah pukul 1, dirinya dan Siska membutuhkan asupan untuk kembali mencharge tubuhnya. Mengembalikan tenaga yang terkuras habis sebelumnya.


Selama perjalanan ke lantai 1, dimana restoran hotel berada, Senyumnya tidak sekalipun luntur. Bahkan menyapa beberapa orang yang ia lewatinya secara random.


Sampai dirinya datang ke restoran hotel, ada dua keluarga yang sedang makan siang di sana. Darren yang tidak sadar ada mereka, melewatinya dengan riang.


"EKHEM!" Dehem Suherman keras, membuat Darren menghentikan langkahnya, dan menatap ke arah dua keluarga yang makan siang dalam satu meja.


Darren kemudian menatap dan menghampiri mereka lalu tersenyum lebar.


"Senang sekali?" Tanya Tuan Edden datar, tapi dengan nada menggoda. "Jangan buat menantu Ayah sakit, kau harus bisa menahan dirimu." Ucap Tuan Edden lagi.


"T-tidak kok. Aku mengontrol diriku dengan baik. Hanya saja, istriku bilang mau diambilkan makan siang saja. Jadi aku turun sendirian." Alibi Darren dengan senyum malu, kedua telinganya bahkan memerah.


"Yang benar? Siska bukan tipikal orang seperti itu, loh. Semalas apapun, untuk makan, ia pasti akan mengambilnya sendiri jika bukan kelelahan." Ucap Estika dengan senyum maklum, nadanya ikut menggoda. Bahkan Bu Wasilah bersorak kecil menyoraki anaknya tersebut.


"Kakak ipar, kau tidak pandai berbohong. Wajah dan telingamu bahkan lebih jujur. Lihat itu, merah sekali, haha." Ejek Ergan seraya terbahak, menunjuk Darren.


"Ekhem! Ekhem! Kau lihat wajahku, aku serius, kau harus menjaganya dengan baik!" Ucap Sapta menatap tajam Darren.


Darren menganggukkan kepalanya dengan cepat, tak berani membantah Sapta sekalipun. Ia lebih tua, dan kekuatannya benar-benar besar.


"Sudah, cepat ambil makanan untuk Siska. Dia bahkan melewatkan sarapan karena kau. Jangan membuatnya menunggu." Ucap Rendra, mengibaskan tangannya, mengusir Darren.


Darren kembali tersenyum, dan menganggukkan kepalanya. Ah memang Rendra yang paling baik dan mengerti. Ia bahkan membuat dirinya lebih cepat meninggalkan situasi dan kondisi canggung barusan. Dari awal sampai akhir, Rendra adalah yang paling baik dan menerima Darren.


Darren pamit, dengan tatapan mata dan suara godaan dari dua keluarga yang sedang makan. Bahkan kedua ibunya tertawa kecil melihat tingkah Darren yang seperti remaja baru jatuh cinta tersebut.


Darren memang lama sekali melajang, Bu Wasilah sempat khawatir jika anaknya tidak memiliki ketertarikan pada wanita. Alias homoseksual. Tapi dugaannya dipatahkan ketika Darren mengajukan diri menjaga pasar milik keluarganya dengan alasan mengejar calon menantu.


Betapa senangnya.


*


*