Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Produk Baru, Cappucino Cincau


*


*


Sesampainya di rumah, Siska langsung membongkar belanjaannya. Dan menyimpannya dengan rapi. Seperti biasa, ia menyimpan dan menata rapinya di dapur rumah orang tuanya.


"Kak! Kau beli kopi instan dan cincau untuk apa sebetulnya?" Tanya Ergan bingung, ia ikut menata belanjaan dengan rapi, ditempatkan di tempat yang biasa di gunakan.


"Nanti kau tahu, setelah ini selesai aku akan membuatnya sebagai contoh. Ah, Ergan, berikan uang ini pada Mama. Untuk belanja lauk pauk makan siang. Bukankah itu sudah habis? Cepatlah, pergi." Titah Siska, seraya menyodorkan uang 500rb pada Ergan.


Uang sebanyak 2juta 500rb tadi, Siska bayarkan uang keamanan 500rb, dan belanjaan Siska mencapai 1 jutaan. 500rb diberikan pada Ibunya, kemudian 500rb lagi ia simpan untuk pegangan, jaga-jaga jika ada keperluan darurat yang dibutuhkan.


Sepeninggal Ergan, Siska kembali membereskan belanjaannya. Kemudian memisahkan kopi instan, susu kental manis, gula pasir dan cincau yang dibelinya tadi. Karena keempat bahan ini akan digunakan Siska.


"Sudah?" Tanya Siska begitu melihat Ergan kembali.


"Sudah, apanya yang sudah? Uangnya banyak sekali! Hanya untuk membeli lauk pauk siang ini, cukuplah 50rb saja. Beras dan bahan lainnya masih ada." Ucap ibunya, mengomeli Siska.


Ergan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena dirinya juga malah ikut terkena omelan ibunya, padahal dirinya tidak tahu menahu masalah belanjaan, terlebih, ia hanya pesuruh saja disini.


"Ma, sisanya simpan saja. Jaga-jaga jika ada kebutuhan darurat, pakai uangnya. Siapa tahu anak-anakku juga mau jajan, dan minta padamu, Ma. Untuk berobat kakak kedua juga bisa, Ma. Pokoknya uang itu simpan saja, untuk Mama." Ucap Siska seraya memegang lengan ibunya, dan tersenyum lembut.


"Untukmu bagaimana?" Tanya Ibunya tidak enak.


"Aku ada pegangan juga, Ma. Tidak usah khawatir. Tabunganku di bank juga sudah lumayan banyak." Ucap Siska.


"Benar? tidak bohong?" Tanya Ibunya memastikan.


"Benarlah, Ma. Masa mama tidak percaya padaku? Tuh, tanya saja Ergan sebagai saksi. Lagipula hari ini aku dapat 8 jutaan, Ma! Tenang saja, uangku ini banyak, hahaha." Ucap Siska bangga.


Ibunya ikut merasa bangga, terlebih mendengar nominal besar yang disebutkan Siska. "8 juta?! Astaga, penghasilan bapak berapa tahun itu, nak!" Ucap Ibunya merasa melayang.


"Tenang saja, Ma. Kedepannya, kita akan lebih banyak mendapatkan uang . Jadi, mama tidak perlu mengkhawatirkan uang ratusan ribu ini. Siska bahkan punya jutaan di tangan Siska." Ucap Siska seraya menaik turunkan alisnya, menggoda sang ibu.


"Kan bisa bilang sedari awal! Jadi Mama enak nih menerima uangnya." Ucap ibunya seraya tertawa.


"Baiklah, baiklah, Ma. Cepat beli lauk untuk makan siang, dan makan malam. Sisanya simpan, ingat. Untuk kakak kedua, sebetulnya Siska juga sudah memisahkan uangnya. Jadi, uang ini Mama simpan, ya." Bisik Siska seraya tersenyum, membuat senyum ibunya kian melebar.


"Baik, kalau begitu Mama pergi belanja dulu." Ucap ibunya kemudian berlalu, meninggalkan Siska dan Ergan yang ternganga melihat perubahan sikap ibunya barusan.


"Apa-apaan sikap Mama itu? Tadi mengomeliku sampai menarik kuping, aku kesakitan. Tapi sekarang? Aiyoo, uang memang bisa merubah segalanya." Dengus Ergan, menggerutu kesal.


"Aih, sudah, sudah, ayo bantu panaskan air. Kita akan mulai buat eksperimen!" Seru Siska.


"Ha? Maksudmu?" Tanya Ergan bingung.


"Kita akan buat minuman untuk besok! Percobaan dulu, jika semua orang di rumah suka, maka percobaan berhasil, bu Wasilah juga pasti akan suka." Ucap Siska.


"Ya! Betul! Jadi cepatlah bergerak, kita akan mulai membuat minumannya." Ucap Siska.


Ergan kemudian memanaskan air, di sisi lain, Siska mulai menuangkan kopi instan merek good day ke dalam wadah. Kemudian menuangkan cincau ke dalam wadah juga, yakni wadah yang berbeda. Masing-masing pakai satu wadah. Sedangkan Gula pasir, dan susu kental cair, Siska tetap diamkan di bungkus dan kalengnya.


"Sudah panas, kak!" Seru Ergan.


"Bawa kemari, tuangkan ke atas wadah yang ada kopinya." Ucap Siska, membuat Ergan menuangkan air panas ke dalam wadah yang Siska maksud.


Jadilah kopi dengan warna coklat, dengan aroma harum yang menggugah. Siska kemudian mengaduknya sampai semua kopi merata.


"Tunggu sampai dingin, deh. Harusnya pakai blender, jadi tidak perlu air panas seperti ini." Ucap Siska. Yang kemudian ia menjadi kepikiran membeli blender dan membeli penutup cup otomatis yang biasa dipakai penjual jus.


"Kak, sekarang saja. Lagipula ini akan diminum oleh kita sendiri, kan?" Tanya Ergan.


"Oke! Kau keluarkan es batu dari kulkas dulu. Yang kotak-kotak kecil." Titah Siska, seraya menunggu Ergan, ia membuka susu kental manis yang ada di kalengan. Membuat lubang di atasnya sedikit.


"Ini, kak!" Ucap Ergan seraya menyimpan es batu yang dimaksud Siska.


"Tolong ambil gelas tinggi satu." Ucap Siska lagi. Membuat Ergan dengan cepat mengambilnya.


"Nah, kopi instan ini, tambahkan lagi gula dan susu kental manis secukupnya, kemudian aduk lagi." Ucap Siska seraya menaburkan gula dan susu bersamaan dengan takaran. "Setelahnya, aduk sampai merata." Lanjut Siska.


Kemudian ia mengambil gelas dan menyimpannya di depannya. Menambahkan cincau yang memang sudah dibentuk memanjang atas request annya di kios penjual cincau dan agar-agar tadi. Ditambahkan ke dalam gelas kosong tersebut. Setelahnya, Siska menambahkan susu kental manis, membentuknya di gelas agar terlihat bergaris-garis.


Setelah selesai, Siska pun menuangkan kopi yang telah diseduh sebelumnya ke dalam gelas tersebut. Hingga cincau yang ada di bawah, terbang ke atas begitu saja. Ada yang mengambang, ada pula yang tetap tenggelam.


"Lalu, tambahkan es batu kotak-kotak, dan tadaa~" Ucap Siska seraya mengangkat gelas yang kini sudah terisi penuh. "Cappucino Cincau siap diminum!" Lanjutnya seraya tertawa, karena sadar dirinya mengikuti perkataan ala-ala chef yang sedang membuat sesuatu.


"Wah! Gampang sekali buatnya?!" Tanya Eegan, matanya bahkan sudah tidak bisa lepas dari gelas Yanga da di tangan Siska. Ia ingin sekali mencicipi minuman yang disebut oleh kakaknya Cappucino Cincau ini. Terlihat sangat menggugah, tenggorokannya mendadak kering.


"Tentu, dong! Cobalah, enak tidak." Ucap Siska seraya menyodorkan gelas pada Ergan. Membuat Ergan menerimanya dengan semangat.


Tentu saja, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Terlebih dirinya memang sangat ingin mencobanya.


"Eummm! Enak sekali! Segar! Manisnya juga pas! Takaranmu bagus!" Ucap Ergan dengan mata melebar, memuji minuman yang dibuat Siska, mengangguk dengan semangat. Dankembali menyeruputnya sampai habis tak bersisa.


Siska terbahak. "Memang enak! Ayo, kita buat untuk yang lain, masih ada banyak yang tersisa." Ucap Siska seraya menuangkan semua cincau ke dalam wada yang berisi kopi. "Oh ya, jika ada yang tidak suka kpi juga bisa diganti dengan minuman instan lain dengan varian coklat, nanti kita coba buat lagi." Lanjut Siska. Seraya mengadukan semua bahan dalam satu wadah.


Ergan yang peka pun mengambil gelas lainnya, hanya saja ukurannya sedang, tidak tinggi seperti tadi. Kemudian menuangkan cappucino cincau dalam wadah ke gelas-gelas tersebut. Untuk semua orang yang ada di rumah, Siska akan memberi tester agar semuanya dapat memberi masukan untuk minuman ini.


Minuman yang di kehidupan pertamanya, sempat viral pada tahun 2013 an. Minuman ini jadi digandrungi masyarakat sekitar tahun itu.


*


*