
*
*
Setelah acara lamaran berlangsung, besoknya Darren datang dan menunggu Siska untuk berolahraga bersama. Tapi yang aneh adalah, Tuan Edden, yakni Ayah Darren sama-sama datang dengan motor baru yang diberikan Siska padanya. Dengan tampilan khas orang yang mau riding, tak lupa kacamata hitam bertengger, Tuan Edden terlihat sangat keren di pagi hari.
Siska menyapa calon Ayah mertuanya, dan hasilnya adalah Tuan Edden datang untuk ayahnya, Suherman. Siska kebingungan awalnya, tapi bingung berubah terkejut tak lama setelah Ayahnya keluar dengan tampilan yang sama dengan Tuan Edden.
Siska bahkan terbatuk keras melihat Suherman yang tampak bergaya. Tampak kekinian dengan celana jeans, jaket Levis, sneakers, juga kacamata yang sama yang dipakai Tuan Edden. Tak lupa, helm tanpa kaca dipakainya.
Setelah ditanya, ternyata keduanya mau touring bersama. Suherman sudah berkabar sejak kemarin malam dengan Tuan Edden dan beginilah hasilnya sekarang. Keduanya tampak sangat akrab.
Siska kemudian tertawa melihat keduanya. Tapi tak lama sebelum keduanya pergi, Siska meminta keduanya bersampingan dan bergaya. Dengan latar belakang motor baru keduanya, keduanya difoto oleh Siska.
Siska tersenyum dengan ringisan kecil. Ia kemudian memposting foto tersebut ke sosial medianya. Dengan caption 'Kedua Ayah kekinian' Tak lupa emoticon 😎 Siska tambahkan setelahnya. Setelah puas melihat like dan komentar yang masuk, Siska tertawa kecil, tidak menanggapi banyak dan mempersilahkan keduanya segera berangkat.
Setelah keduanya berangkat, tak menunda waktu lagi, Siska dan Darren pun ikut meninggalkan pekarangan rumah dan berolahraga bersama. Niat awal Siska adalah lari pagi di sekitar taman. Tapi karena Siska banyak dilihati orang lain, alhasil Darren yang tidak suka pun membawa Siska ke tempat GYM yang hanya diisi oleh keduanya saja.
Hari berlalu cepat setelah itu, Siska dan Darren sama-sama menyiapkan semuanya sendiri. Gedung, undangan, dekorasi, cathering, dan lainnya. Keduanya tidak merepotkan para orang tua sama sekali. Meski sama-sama menyiapkan, tapi Darren dan Siska jadi jarang bertemu karena kesibukkan Darren di perusahaannya. Terkadang, Darren harus bolak balik desa, kabupaten, dan ibukota untuk mengurus pekerjaan dan bertemu Siska.
1 bulan kemudian, Darren dan Siska semakin disibukkan oleh urusan masing-masing. Lebih tepatnya, Darren. Semua pekerjaan untuk bulan depan, ia kerjakan semua dari awal bulan Febuari tersebut. Agar saatnya tiba, ia bisa dengan santai mengambil cuti nikahnya.
Apalagi, selain gedung, dekorasi, Cathering dan lainnya, dalam 2 minggu kedepan keduanya juga sudah harus melakukan fitting baju dan foto pre wedding.
Fitting baju akan dilakukan 2 kali berturut-turut. Untuk pengukuran ukuran tubuh dan model bajunya. Juga untuk percobaan pencocokan gaunnya nanti. Apalagi, baju yang dipesan sebanyak 4 warna berbeda. Putih untuk pengucapan janji suci, yang kedua berwarna biru dipakai setelah keduanya sah menjadi suami istri. Setelah pukul 2 siang berganti menjadi warna merah muda, lalu pada pukul 7 malam diganti menjadi warna hijau tosca.
Menurut jadwal, acara akan dilakukan dari pukul 9 pagi sampai pukul 9 malam. Karena banyaknya tamu undangan yang di undang, juga banyaknya susunan acara yang harus keduanya lewati.
Meski Siska sudah berdiskusi dengan Darren perihal jadwal dan gaun pengantinnya, tapi Darren hanya bisa merangkumnya menjadi satu hari pelaksanaan dari pukul 9 sampai pukul 9 lagi. Membuat Siska menghela nafas, menikah begitu rumit. Padahal dulu dirinya hanya menikah sederhana saja, juga berlangsung selama 6 jam saja.
Tapi kini, wajar saja sih, karena Darren merupakan bagian dari keluarga Wistara, alhasil Siska juga hanya menerima dengan patuh. Daripada acaranya dilangsungkan selama 2 hari 2 malam, menjadi satu hari satu malam merupakan keuntungan juga. Jadi Siska tidak perlu terlalu lelah besoknya.
Apalagi, permintaan kedua orang tua Darren lah yang meminta acara dilaksanakan selama dua hari dua malam. Tapi karena bujukan Siska, Darren menyetujui untuk mempersingkat acaranya. Setelah banyak diskusi, akhirnya semuanya pun sepakat dengan pelaksanaan satu hari satu malam. Dari pukul 9 pagi, sampai pukul 9 malam.
Jadwal telah ditetapkan, Siska dan Darren masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Karena selain Darren yang menyibukkan diri untuk membereskan pekerjaannya, Siska juga sama-sama menyelesaikan laporan keuangan dari tiga kedai. Pengiriman minuman untuk memasok market ibu mertuanya juga dihentikan sementara. Ditambah, Siska juga masih sibuk meyerahkan dan menandatangani jual beli rumah yang ia miliki di Turnuksio Residence.
Darren tahu sendiri, selain perusahaan kontruksi, ia juga punya property dan Aset dimana-mana atas nama Wistara, termasuk market-market ibu mertuanya yang sebetulnya sudah mulai diserahkan pada Darren sendiri. Jadi, selama dua bulan, ia benaran mengejar penyelesaian pekerjaannya. Sedangkan untuk pekerjaan barunya, akan ia serahkan pada Sahni dan Haris nantinya, keduanya yang akan mengatur semuanya agar tidak perlu melibatkan Darren dalam kurun waktu 10 hari setelah pernikahan.
Siska menolak dengan berbagai alasan, yakni kedai tidak ada yang mengurus, tapi kedua kakak langsung maju dan membantah dengan akan mengurus kedai dengan baik. Lalu menolak lagi dengan alasan Uqi dan Uni tidak bisa ditinggal lama, tapi kedua orang tua dan Ergan berjanji akan menjaga Uqi dan Uni dengan baik selama keduanya pergi. Alhasil, setelah ikut dibujuk oleh dua orang tuanya, Siska pun menghela dan setuju dengan pasrah. Tidak ada alasan lagi bagi dirinya untuk menolak.
Lalu ada Ibu Siska dan Ibu Darren, yang sering janjian untuk belanja bersama. Entah membeli bahan dapur, membeli baju dan kebutuhan rumah, sampai ke makan berdua dan perawatan di salon berdua, keduanya lakukan bersama. Siska sampai terheran karena ibunya, Estika sebelumnya tidak tertarik dengan semuanya. Tapi begitu disatukan dengan ibu Darren, malah menjadi ibu sosialita. Begitupula ayahnya.
Siska mengurut keningnya yang terasa penat. Dua bulan ini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Tapi setelah memikirkan hal yang akan dilaksanakan di masa depan, hal yang akan hadir dalam dua Minggu ke depan, Siska merasa sedikit bersemangat meski kepalanya pusing, juga penat.
Pengorbanan selama dua bulan, baik bagi Darren maupun bagi Siska sendiri, adalah hal yang sama-sama ditunggu dengan antusias. Jadi, pusing, lelah, dan penat, akan dihadapi demi masa depan yang menanti keduanya. Keduanya sama-sama berjuang menyambut kebahagiaan bersama.
Siska berhenti mengurut keningnya ketika ponselnya berdering, menandakan panggilan masuk dari Darren. Siska tersenyum kecil, kemudian mengangkatnya.
"Sayang, aku pulang besok. Lusa kita harus fitting baju terakhir, sekalian foto prewedding." Ucap Darren dengan nada lembut, di seberang telfon, ia bahkan tersenyum dengan sendu.
Selain fitting baju dan prewedding, Darren juga sangat rindu pada wanita yang ditelfonnya. Sudah 3 Minggu sejak fitting baju pertama, ia tidak bertemu dan hanya berkabar lewat ponsel saja. Rindunya kini sudah menggunung, dan ia juga mau pulang lebih awal untuk menghabiskan waktu dengan calon istrinya.
"Bukankah masih lusa? Kenapa besok? Pekerjaanmu sudah selesai semua?" Tanya Siska.
"Eum, belum. Tapi aku sudah tidak bisa menahan rinduku! Jadi, besok pulang, sekalian istirahat. Mengisi ulang energi dengan memelukmu erat-erat!" Ucap Darren yang membuat Siska tertawa kecil.
Selain semakin manja, ia juga semakin sering mengucapkan kata-kata manis pada Siska sejak lamaran berlangsung. Siska tidak keberatan, hanya saja jantungnya yang terasa berat setiap kali Darren bersikap manja dan berkata manis padanya. Membuatnya berdebar, tidak karuan.
""Setelah fitting baju dan foto prewedding, kembali ke ibukota lagi?" Tanya Siska kemudian.
"Benar, aku akan pulang 3 hari sebelum acara. Lagipula, kita dilarang bertemu kan? Itu menyebalkan, tapi, aku tidak bisa melanggarnya, betapa menyedihkannya nanti." Ucap Darren dengan sedih.
"Setelah acara, kau bisa puas melihatku. Jangan sedih." Balas Siska tertawa.
Keduanya mengobrol sampai larut, sampai Siska mengantuk dan akhirnya tertidur. Uqi dan Uni sudah tidak tidur di satu kamar yang sama dengan Siska. Keduanya sudah dipindah ke kamar masing-masing. Alhasil, meski Siska telfonan sampai larut malam, Uqi dan Uni tidak akan terganggu.
Darren yang melihat Siska sudah tertidur, akhirnya mematikan panggilannya setelah mengucapkan selamat malam dengan lembut.
*
*