
*
*
Begitu sampai rumah, Siska membersihkan diri. Dan menggantikan baju Uqi juga Uni. Setelahnya menidurkan keduanya. Setelah keduanya tidur, Siska kemudian keluar kamar dengan membawa uang tambahan untuk pembayaran sekolah Ergan yang masih menunggak.
Pun dengan ibunya yang ternyata tidak tidur, tapi malah menonton televisi, melihati serial kesukaannya. Siska tidak melihat kedua kakak ipar, Geri, dan Ergan, mungkin keempatnya sudah tidur.
Siska duduk di samping ibunya, kemudian mengeluarkan uang 1.5 juta dan memberikannya pada ibunya yang fokus menonton. Siska sengaja menghalangi pandangannya dengan uang. Dan responnya benaran membuat Siska tertawa. Matanya melebar dengan berbinar begitu melihat uang.
"Aiyo, cepat, cepat kemarikan." Ucap ibunya seraya tersenyum malu-malu.
Siska kembali tertawa melihatnya. Sejak kapan ibunya bisa membuat ekspresi begini, sih.
"Simpan lah uangnya, lalu istirahat. Jangan menonton lagi, besok harus bangun pagi. Menyiapkan sarapan untuk Bapak dan kedua kakak. Setelahnya, mama juga harus ke sekolah Ergan untuk melunasi pembayaran bukan?" Ucap Siska mengingatkan sang ibu.
"Sebentar lagi, oke? Lihat itu, jam 10 juga habis kok." Ucap ibunya keras kepala.
"Ma, jangan seperti Uni sulit diberitahu, ya. Cepatlah, cepatlah, masuk kamar dan istirahat." Ucap Siska seraya menarik ibunya sampai berdiri. Kemudian mematikan televisi seenaknya.
Ibunya menghela nafas, "Ya, ya, baiklah, baiklah, aku pergi istirahat." Ucap ibunya menurut, kemudian pergi ke kamarnya sendiri. Meninggalkan Siska yang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sifat ibunya yang satu ini.
Setelahnya, Siska kemudian menghampiri kamar Ergan dan membuka pintu kamarnya diam-diam. Sengaja, untuk memeriksa apakah Ergan tidur atau malah memainkan ponselnya.
Dan keputusan Siska menghampiri Ergan benaran bagus, Ergan bukannya tidur malah memainkan game di ponselnya. Dia ini ketularan Geri, ya? Tapi Geri sangat penurut. Dia tahu batasan, jam game nya juga sudah ditentukan oleh ibunya, Santi.
Kreeek
Siska sengaja membuka lebar-lebar pintu kamarnya, membuat Ergan sadar akan kedatangan Siska dengan tangan bersedekah, menatapnya datar.
"K-kak? Sedang apa?" Tanya Ergan basa basi, padahal tahu jika kakaknya sedang mengecek dirinya. Karena sebelumnya, memang dirinya disuruh tidur agar besok segar ketika sekolah.
"Menurutmu?" Tanya Siska balik bertanya.
"Aiya baik, baik, satu game ini saja. Setelahnya aku tidur, oke, kak? Tanggung sekali, jadi aku bereskan ini dulu." Ucap Ergan.
"Ya, teruskan, aku akan menunggu disini." Ucap Siska kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding kamar Ergan, dan menatapi Ergan yang bermain game.
Ergan yang ditatapi begitu, tentu saja tidak nyaman, akhirnya ia menyerah, tidak membereskan game, dan pergi tidur dengan patuh.
Siska menganggukkan kepalanya, kemudian memperingati Ergan jika sampai dia kembali memainkan ponsel, lihat saja, Siska akan menyitanya.
Ancaman yang membuat Ergan tidak berani macam-macam. Jadilah ia sangat amat patuh malam ini.
Setelahnya, Siska menutup pintu dan kembali ke kamarnya sendiri. Merebahkan dirinya dan tidur.
Seraya menunggu keduanya matang, Siska pun membersihkan dirinya lebih dulu di kamar mandi. Begitu keluar, ia terlihat segar dan kembali ke dapur untuk melihat apakah kedua masakannya sudah matang atau belum.
Masih belum.
Tapi kemudian kedua kakak iparnya bangun dan sama-sama membersihkan diri. Setelahnya, keduanya membantu Siska memasak untuk sarapan. Lalu, terlihatlah ibu, Geri dan Ergan yang sama-sama bangun pukul 5 pagi. Dan ketiganya langsung membersihkan diri.
Berbeda dengan para wanita, Ergan dan Geri langsung memakai sergamnya masing-masing. Sedangkan Putri, begitu makanan selesai dibuat, setengah 6 langsung pergi ke desa sebelah. Pulang ke rumah ibunya, untuk mengurus anaknya yang sama-sama masuk sekolah hari ini.
Kemudian, sepeninggal putri, barulah Siska membangunkan Uqi dan Uni. Setelah sebelumnya membawa air panas ke kamar mandi dan mencampurnya dengan air dingin. Siska kemudian memandikan keduanya yang masih terlihat mengantuk.
Setelah semuanya selesai, makanan juga sudah siap. Sarapan pagi, dimulai dengan penuh kehangatan, meski para lelaki tidak ada di rumah.
"Ergan, berangkat sendiri dulu saja untuk hari ini. Geri dan Uqi harus mendaftar dulu. Jadi kakak ipar dan aku akan sama-sama ikut untuk mengurus pendaftarannya. Mama nanti akan ke sekolahmu, untuk melunasi uang sekolah yang menunggak selama dua semester kemarin. Jangan lupa, jemput Mama dan tunjukkan tempatnya. Aku akan mengabari jika Mama pergi nanti." Ucap Siska Menyuruh Ergan pergi sendiri, dan ibunya akan menyusul.
"Aiyo, tidak perlu, Mama akan berangkat pukul setengah 9, jadi pukul 9 nanti sudah ada di sekolahmu. Tunggu saja di gerbang pukul segitu, izinlah pada guru kelasmu nanti, oke?" Ucap ibunya agar tidak membuat yang lainnya repot.
"Eum, baik Ma, Kak." Balas Ergan yang saat ini sedang minum air, setelah makan dengan kenyang.
Perasaan gembira ini, Ergan bahkan tidak mendambakannya setelah sekian lama hidup dalam keadaan kekurangan uang. Tapi, lihatlah hari ini. Kesabarannya ternyata malah memberikannya perasaan ini hari ini. Semangat dan antusiasmenya juga sangat tinggi, terlebih ia memakai semua hal baru hari ini.
Terlebih, Ergan malah lebih ingin melihat, bagaimana respon semua orang, melihat Ergan si miskin datang dengan semua hal baik, dan baru hari ini. Ah, bukannya ia sombong, tapi dua semster ini ia cukup sabar ketika diremehkan oleh teman bahkan gurunya karena ia tidak kunjung membayar uang sekolah. Jadi, diam-diam Ergan merasa tanpa mengatakan apapun mereka pasti akan tercengang sendiri melihat tampilannya hari ini.
"Baiklah, pergilah, bukankah hari ini kau harus mengikuti upacara terlebih dulu?" Ucap Siska mengingatkan. "Jangan lupa topinya, jangan sampai kau dihukum, oke?" Lanjutnya mengingatkan. Membuat Ergan mengangguk dan tertawa, karena memang hampir lupa tidak membawa topi.
"Kalau begitu aku berangkat, Ma, kak, kakak ipar." Pamit Ergan, kemudian berlalu pergi, tidak diantar ke depan, tapi terdengar dari suara motornya yang menjauh.
Sepeninggal Ergan, Geri akhirnya keluar kamar dengan perasaan yang sama gembiranya dengan Ergan. Senyum sumringahnya benar-benar terlihat pagi ini.
"Ayo, sarapan dulu. Kita berangkat pukul setengah 8 saja. Hari ini ada upacara dulu, jadi bisa lebih santai." Ucap Santi, menyapa anaknya. Membuat Geri mengangguk dan duduk di samping Santi, lalu sarapan.
Sedangkan Siska, menyuapi Uqi dan Uni bersamaan. Keduanya sengaja Siska suapi agar makanannya tidak kemana-mana, juga agar lebih cepat.
Sedangkan ibunya yang sudah lebih dulu sarapan, kini sedang memisahkan nasi, lauk dan pauk untuk dibawa ke kedai, untuk ketiga lelaki yang mestinya, saat ini masih terlelap dengan pulas. Karena mungkin, bisa saja mereka begadang hanya untuk menyelesaikan renovasi kedai yang tersisa.
Pagi itu, ditutup dengan kesibukan masing-masing. Ibunya yakni Estika, Siska dan Santi pukul setengah 8 sama-sama pergi, bersamaan, meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Ketiganya pergi dengan tujuan berbeda.
Ibunya hendak ke kedai, Siska ke sekolah dasar untuk mendaftarkan Uqi, dan Santi ke sekolah menengah pertama untuk mendaftarkan Geri.
*
*