
*
*
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali semua orang bangun dan menyiapkan bahan serta dagangan untuk Siska berjualan. Termasuk Kakak dan Kakak ipar pertamanya, Kakak ipar kedua masihlah belum bisa bergerak bebas karena rasa sakit yang dirasakannya. Bukan sembarangan, di keroyok warga pasar, tentulah memar dan sakit bukan hanya di satu tempat.
Siska yang melihatnya pun senang, dengan begitu pekerjaan bisa lebih cepat, juga bisa menambah jumlah dari pencetakannya pula. Sebab siapa yang tahu akan banyak pembeli yang memborong seperti kemarin, jadi Siska perlu menambahkan jumlah cireng dan cirambayna.
"Kira-kira jika 2000 buah, apakah akan habis terjual?" Tanya Siska pada Ergan, karena memang Ergan yang tahu perihal pasar dari pelanggan di kiosnya. Jadi ia menatap adiknya itu, siapa tahu bisa mengira-ngira.
"Habis, kak! Bukankah kemarin banyak orang yang tidak kebagian? Terlebih, bukankah kita juga sering menutup kios lebih awal daripada yang lain? Datang pukul 9, kadang tutup juga pukul 11, ada juga kalanya kita tutup pukul 10. Jika belum habis, mungkin kios akan buka lebih lama, dari biasanya. Aku yakin ini akan habis!" Ucap Ergan dengan nada semangat.
"Hah? Sebanyak apa pembelimu, adik ketiga? Satu jam saja habis terjual? Ah aku pusing, membayangkan penuh sesaknya kios jualanmu." Ucap Santi dengan nada bingung.
Putri bahkan Ibu mertuanya tertawa, seperti melihat dirinya di masa lalu. Keduanya juga sama terkejutnya melihat dan mendengar fenomena ini.
"Ah tidak banyak, hanya puluhan orang saja kok. Hanya saja memang mereka suka memborong daganganku." Ucap Siska seraya mengibaskan tangannya.
"Ratusan, kakak ipar pertama. Dan itu memenuhi kios setiap paginya, begitu kios dibuka semuanya berkerumun rebutan dan antri panjang. Kadang ada beberapa orang yang datang lebih pagi dari pemilik kiosnya sendiri!" Ucap Ergan dengan antusias tinggi. Ia suka menceritakan hal ini, kesuksesan dan keseruan yang dijalani olehnya ketika mendampingi sang kakak. Siapa yang tidak senang? Justru berbangga diri, seperti yang dilakukan Ergan.
"Benaran? Woah! Hebat!" Seru Santi semangat. Sedangkan Rendra hanya tersenyum, menggelengkan kepalanya maklum. Tapi diam-diam senang, karena istrinya akhirnya kembali menjadi dirinya sendiri lagi disini. Perasaan lega, meski sedikit, tetap saja melegakan.
"Benar loh! Nanti kakak ipar pertama ikut aku saja kalau mau." Ajak Siska ringan, tadiny sekedar basa basi, tapi langsung disetujui oleh Santi. Membuat Siska agak terkejut, tapi kemudian mengangguk senang, itu artinya ada tambahan pekerja kan hari ini di kios. Jadi dirinya tidak akan terlalu sibuk karena ada yang membantu.
"Ya! Aku akan mengajak Geri juga! Kakakmu biar di rumah saja, tidak usah dibawa, oke?!" Ucap Santi seraya tersenyum.
"Apa maksudmu, begitu, hm?" Tanya Rendra dengan tatapan intens.
"Nanti malah membebani, kau kan tidak bisa melakukan hal benar jika di rumah. Selalu mengacaukan pekerjaanku. Geri bahkan lebih pintar darimu." Cibir Santi, mengejek suaminya, membuat semua yang mendengarnya tertawa, sedangkan Rendra sendiri mendengus sebal.
"Yasudah, aku bantu bapak saja dikebun." Rajuknya seraya menghela. Memang sih, dirinya selalu mengacaukan pekerjaan yang dikerjakan Santi jika di rumahnya di kota sebelah. Tapi tidak baik berkata begitu kan? Dirinya juga punya malu. Tapi, yah, apa boleh buat, lagipula ini keluarganya. Mereka juga sudah familiar dengan kebiasaannya yang satu ini.
Semuanya berbincang dengan senang, mencetak seraya bercanda ria, seolah lupa pada hal yang terjadi kemarin. Yang membuat semua orang gugup dan sedikit takut. Kurang lebih, Siska inilah yang membuat semuanya hangat kembali. Kecanggungan pun tidak ada, meski dulu dirinya sempat bertengkar dengan kakak-kakaknya perihal masalah pernikahannya dengan Aldo, si bajingan tidak bertanggung jawab itu.
Sampai dua jam kemudian, pukul setengah sembilan, semuanya telah selesai, dan siap dijual. Siska, dan Ergan tidak lagi memakai sepeda, tapi meminjam mobil tetangga, sekalian minta diantar ke kios. Pun dengan pulangnya nanti akan ada penjemputan begitu Siska menghubungi tetangganya tersebut, jadi Siska membayarkan uang sewanya sekalian untuk pulang di muka.
Sesampainya di sebrang kios, keempat orang yang mau ke kios tentu saja terkejut dengan keberadaan banyak manusia yang melebihi pelanggan Siska kemarin. Siska, Santi, Geri dan Ergan, saling bertatapan menanyakan apa yang terjadi, tapi semuanya menggeleng nihil, tidak tahu ada apa dengan para manusia yang berkumpul di depan kiosnya tersebut.
Keempatnya menyebrang, kemudian dengan memeluk berkata permisi,.membuat beberapa menotice kedatanga keempatnya yang masing² membawa 3 box makanan.
"SUDAH DATANG!"
"BERI JALAN! BERI JALAN!"
"AH AKU TIDAK SABAR! CEPATLAH BUKA KIOSNYA NONA!"
"YA, KAMI INGIN MENCICIPI MAKANAN POPULER INI."
"BENAR-BENAR!"
Tanpa perlu di perintah, semuanya langsung berbaris dengan rapi, ke belakang. Seolah sudah paham dengan peraturannya. Siska sampai terbengong-bengong, tapi ia tetap produktif menata semua jualannya dengan rapi.
"Nona, aku mau cirambay 20 bungkus!" Ucap orang pertama yang berada dibarisan, paling depan.
"Hah? kau yakin?" Tanya Siska bingung.
"Ya, nona, cepatlah bungkusan untukku." Ucapnya lagi, membuat Santi langsung bergerak, karena Siska masih setengah sadar menghadapi kerumuman padat disini.
Meski Santi terkejut melihatnya, tapi ia sangat bersemangat. Jadi ia segera mengambil alih pekerjaan Siska, membuat Siska mundur. Lagipula, Santu juga sudah tahu harganya. Dia aktif bertanya ketika diperjalanan. Jadi langsung saja dipraktekan.
Ergan juga Geri tidak tinggal diam. Keduanya meminjam meja dari kios sebelah, dan membuka lapak di sebelah kios. Jadi ada dua antrian pembeli. Ada yang menuju Siska dan Santi, ada juga yang menuju Geri dan Ergan.
Tapi tahukah, antrian yang dimiliki dua remaja laki-laki ini lebih banyak. Semuanya malah gadis-gadis muda. Sesekali juga mereka miminta foto bersama dengan keduanya.
Geri dan Ergan bingung, tapi keduanya iya-iya saja selagi pelanggan senang. Tanpa tahu kenapa semuanya malah berbuat begini. Terlebih pada Ergan.
Satu jam kemudian, dagangan laris terjual. Lebih cepat habis dari biasanya, apalagi jumlah dagangan yang kali ini cireng isi ayam suwir mencapai 2000 buah, dan Cirambay 1000 buah. Beberapa pelanggan lama malah tidak kebagian, membuatnya mengeluh kecewa.
Siska kelelahan, pun dengan Geri dan Ergan. Berbeda dengan Santi yang tatapan matanya masih membara. Apalagi melihat tumpukan uang di hadapannya. Siapa yang tidak akan antusias melihat uang begitu banyak hanya dengan berjualan gorengan saja?
"Paman kecil, mungkinkah mereka begitu karena melihat video yang paman kecil posting kemarin malam? Itu populer dalam semalam?" Tanya Geri dengan nada lemah. Tenaganya terkuras habis. Menghadapi para gadis sangat tidak mudah.
"HAH? VIDEO APA?" Pekik Siska langsung berteriak. "Video mukbang, kah? Sudah kau posting? Tapi bukankah aku meminta meninjaunya terlebih dahulu?! Kenapa langsung dipoating?!" Lanjutnya seray menatap Ergan, memelototinya.
"Euu-- K-kakak, hehehe." Ucap Ergan, menunjukkan ekspresi tanpa rasa bersalah. Masih tersenyum juga menatap kakaknya dengan sedikit gugup.
"Kau benar-benar, ya!" Desis Siska masih memelototi adiknya yang kini menciut. Wajahnya memucat, gugup sekali.
"K-kakak, aku tidak bermaksud, ah itu, kemarin k-kalian mengobrol lama. A-aku jadi tidak sabar, lalu kebtulan ada Geri, dia bilang videonya bagus, membuatnya menjadi ingin memakan apa yang kita makan juga, j-jadi, aku, euuu l-langsung saja p---"
"KERJA BAGUS, ADIK! KAU HEBAT!" Seru Siska seraya mengacungkan dua jempolnya. Ia menatap Ergan bangga dengan nada antusias yang tinggi.
Ergan yang barusan berbicara dengan terbata-bata, rahangnya jatuh seketika. Betapa respon kakaknya ini membuat dirinya terkejut. Siapa yang akan menyangka melihat respon awalnya yang hendak marah malah akhirnya jadi memuji?!
Siapa yang bisa melakukan hal ini jika bukan kakaknya sendiri? Menakut-nakuti di awal, tapi akhirnya dipuji. Benar-benar deh, membuat jantungnya hampir-hampiran copot saja. Ini sangat menyebalkan.
"KAK! TIDAK BAIK BEGITU." Seru Segan protes kesal. Merajuk.
"Hahaha, siapa suruh kau penakut, adik kecil." Ejek Siska.
Geri bahkan terbahak melihat drama pendek barusan. Ekspresi paman kecilnya benar-benar sangat lucu. Berbeda dengan anaknya, Santi tetap saja hanyut dalam dunianya sendiri, melihati uang yang menumpuk di depannya.
"IBU! SADARLAH!" Pekik Geri, pada akhirnya berteriak menyadarkan Santi. "Ibu, kau mata duitan!" Ejek Geri berlanjut. Karena ibunya tidak kunjung sadar. Masih tersenyum-senyum sendiri menatap tumpukan uang, dengan tangan yang meraba dan memegang uang tersebut.
*
*