
*
*
Setelah menidurkan Uni dengan waktu yang cukup lama, karena memang bukan jam tidurnya, Siska kembali turun ke bawah, tidak khawatir meninggalkan Uni sendirian karena memang ada Ayahnya yang sedang istirahat juga, bedanya ia tidak tidur, tapi sedang menonton televisi, barulah kakak keduanya yang tidur di sebelah Ayahnya.
Setelah turun, Siska mengeluarkan ponsel, ia mendownload aplikasi untuk mengedit menu. Kemudian, juga mengeluarkan kertas yang sebelumnya telah ia tulisi menu apa saja yang akan ia tampilkan dan buat di kedai barunya ini.
Cirambay dan Cireng isi ayam suwir tentu saja akan menjadi menu andalan kedainya. Lalu cappuccino cincau juga akan masuk list tentu saja. Sisanya adalah Teh Rosella dengan anjuran minumnya, lalu Seblak, sosis dan bakso bakar, juga cilok ayam suwir. Tentunya dengan harga yang masih bisa dijangkau oleh para pelajar.
Cirambay tetap dengan harganya, 10.000. Cireng isi juga tetap dengan harganya, 1' 2000, 5' 8000, 10' 17000. Cappuccino Cincau Siska tetapkan harganya 10.000. Teh Rosella, karena 3 daun kering saja sudah cukup jadi akan dihargai 7000, dengan anjuran minum 3x sehari. Seblak ini karena variannya bermacam-macam, diawali Harga 7000, yang paling mahal bisa sampai 20.000 sesuai porsi dan jenis yang akan dimasak. Untuk Sosis bakar, yang sedang dihargai 8000, yang besar akan dihargai 12.000. Pun dengan Bakso bakar perbakso dihargai 3000 dengan besaran bakso sedang. Satu tusuk isi 3 bakso, bisa lebih murah yakni 8000 saja.
Siska mengedit menu dengan serius, menetapkan setiap font, juga foto untuk dimenu dengan cermat. Sampai 30 menit berlalu, ia telah selesai mengedit menu tersebut dan mengangguk dengan puas. Lalu menyimpannya ke file miliknya setelah didokumenkan.
Setelahnya, ia membuka aplikasi pesan berlogo hijau untuk mengirim pesan pada Ergan. Ia mengirimkan dokumen menu tersebut pada Ergan, untuk di print dan dilaminatingkan sekalian, Membuat Salinan sebanyak 300 menu saja. Siska berani, karena sebelumnya Ergan membawa uang banyak ke sekolah, untuk jaga-jaga. Laku benar saja Siska menyuruhnya mem-print menu.
Ia mengirim pada Ergan agar sepulang sekolah nanti Ergan dapat langsung mem-print nya dan melaminatingnya. Jadi ia tidak perlu susah-susah bolak balik setelah ini. Karena selain harus menjemput Uqi, ia juga masih harus mengambil papan nama juga berbelanja.
Siska menghela nafas, sepertinya dirinya masih harus mengambil uang di bank. Uang modalnya kurang. Untuk belanja bahan bahkan tidak ada yang tersisa. Kira-kira ia butuh 5 jutaan untuk belanja bahan. Karena ia yakin, besok akan sangat padat, dari pagi jam 10 an kedai buka sampai agak malam pukul 9 nan.
Ya, Siska telah menetapkan jam operasional kedainya. Dari jam 10 pagi sampai 9 malam. Kenapa Siska memilih buka kedai sampai jam 9 malam, karena ia pikir akan ada beberapa anak muda yang nongkrong di kedainya ini. Apalagi jika ada Wi-Fi gratis? Ah bisa dipikirkan ke depannya untuk memasang Wi-Fi sendiri, agar pelanggan bisa menjadi lebih nyaman ke depannya.
Sebelum pergi mengambil uang ke bank, Siska lebih dulu pergi ke sekolah dasar untuk menjemput Uqi, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Uqi pukul dua belas akan keluar dari kelasnya untuk pulang. Jadi Siska sudah harus ada disana tepat waktu.
Sesampainya di sekolah dasar, betul saja, Uqi sudah menunggu di pintu masuk gerbang sekolah. Tidak dianjurkan di depan gerbang, ditakutkan ada anak-anak yang hilang tanpa sepengawasan pihak sekolahnya.
Siska cukup senang jika begini, jadi ia tenang meski ke depannya mungkin akan telat menjemput anaknya. Tapi tentu tidak dianjurkan telat.
"Uqi! Ibu disini, kemarilah, ayo kita pulang." Seru Siska, memanggil Uqi yang masih ada di dalam, sedangkan dirinya memanggil dari luar gerbang.
Uqi yang sedang berbincang dengan teman barunya, kemudian menatap Siska yang memanggilnya, ia menatap ibunya dengan senyum lebar. Setelahnya berpamitan pada teman barunya. Tapi tanpa Uqi tahu, teman barunya terlihat sangat murung saat ini.
Dan pemandangan tersebut, tak luput dari penglihatan Siska yang dengan jelas melihatnya. "Uqi sayang, bagaimana sekolahnya? Senang tidak?" Tanya Siska seraya mengusap kepala Uqi lembut.
Uqi menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Ya, Bu, itu sangat menyenangkan, aku dapat banyak teman baru, juga kau tahu, Bu? Aku dipuji guruku tadi, karena bisa membaca lebih lancar dari pada teman-temanku yang lain, hehe." Adu Uqi dengan senyum ceria terpatri di bibirnya.
"Benarkah? Wah, hebatnya anak ibu! Bagus, ibu bangga pada Uqi! Tapi ingat, ke depannya harus masih sering belajar, mengerti? Meski Uqi lebih pintar dari orang lain, jangan pernah meremehkan orang lain, oke sayang?" Ucap Siska tersenyum lebar.
"Mengerti, Bu! Aku akan minta diajari oleh paman Ergan nanti, jadi Uqi bisa semakin pintar dan pintar lagi!" Seru Uqi semakin semangat, ia terlihat sangat tidak sabar dengan meminta pengajaran pada paman kecilnya itu nanti.
"Baiklah, tapi boleh menganggu pamanmu jika dia sedang tidak sibuk saja, mengerti?" Nasihat Siska. Yang dibalas anggukkan semangat oleh Uqi. "Tapi, Uqi, dia temanmu? Kenapa dia sendirian? Coba tanya, apa ada yang menjemputnya atau tidak? Jika tidak, nanti kita ajak pulang bersama saja." Lanjut Siska yang ternyata masih sesekali memperhatikan anak laki-laki yang tadi mengobrol dengan senang bersama anaknya.
"Ah, teman baruku, Zen. Sepertinya aku dengar dari beberapa teman, kedua orang tuanya sibuk bekerja Bu. Biasanya ia pulang sendiri, sepertinya? Tapi, aku tidak yakin juga, hehe." Balas Uqi seraya tertawa menampilkan deretan giginya.
"Begitu? Kalau begitu, ayo ajak dia pulang bersama. Pergilah." Ucap Siska, yang kemudian Uqi pergi dengan patuh, dan mengobrol sebentar dengan Zen.
"Halo, Zen, ya? Ini ibunya Uqi, Zen tidak keberatan pulang bersama kami?" Tanya Siska, tidak basa basi lagi karena tahu anaknya sudah memberitahu niatnya. Tak lupa senyum lembutnya ia tampilkan, agar Zen lebih nyaman.
"Apa boleh? Tidak merepotkanmu eung--?" Tanya Zen dengan wajah gugup yang lucu.
"Tentu boleh, tidak, tidak, panggil ibu saja seperti Uqi, oke?" Ucap Siska tersenyum, kemudian mengelus kepala Zen lembut, membuat Zen lebih rileks dibuatnya.
"Eum, ibu, kalau begitu aku akan pulang bersama kalian. Terimakasih sebelumnya." Ucap Zen seraya tersenyum, mulai menghilangkan kegugupannya.
"Baiklah, kalau begitu, ibu boleh tahu dimana rumahmu, Zen?" Tanya Siska lagi.
"Aku biasanya pulang dijemput oleh pegawai kakekku, tapi kadang juga pulang sendiri ke kios kakekku di pasar. Ayah tidak ada waktu menjemputku." Ucap Zen dengan bibir berkedut, terlihat sedih.
"Apakah kios di pasar?" Tanya Siska. Dan Zen menganggukkan kepalanya. "Ah kebetulan, kalau begitu, kami juga membuka kedai dekat pasar tapi lebih tepatnya mungkin dekat alun-alun, jadi searah. Ayo, kita pulang sekarang saja." Ucap Siska tersenyum. Kemudian meraih tangan Uqi dan Zen di kedua tangannya, kiri dan kanan.
Ketiganya pun pulang, menggunakan angkutan umum yang melewati pasar. Dengan senang, Uqi dan Zen mengobrol, sesekali Siska juga menimpali obrolan keduanya jika ditanya. Begitu seterusnya, sampai ketiganya sampai dan turun dari angkutan umum tersebut.
Zen mengarahkan Siska dan Uqi untuk mengikutinya. Karena Siska dan Uqi ingin tahu juga kios milik kakek yang dibicarakan oleh Zen. Terlebih Siska, meski awalnya Zen menolak diantarkan sampai kios, tapi ia khawatir, takutnya ada apa-apa dengan Zen diperjalanan ke kios kakeknya, apalagi ini pasar, ramai.
Sampai akhirnya, Zen berganti dan menunjukkan kios kakeknya. Siska terkejut bukan main. Kios bos gendut yang biasa ia beli bahan-bahan. Si pemilik kios yang punya satu anak duda. Haha, kenapa dunia begitu sempit, ringis Siska.
"Kakek, Zen pulang." Ucap Zen seraya masuk ke dalam kios dengan senyum lebar.
"Aiyo, cucuku, pulang sendiri lagi hm? Maafkan kakek ya, hari ini pegawai kakek tidak datang, jadi kakek tidak bisa menyuruhnya menjemputmu." Ucap pemilik kios tersebut.
"Tidak apa-apa kakek, aku pulang dengan temanku dan ibunya, itu mereka." Tunjuk Zen pada Siska yang masih mematung tidak percaya.
"Yooo, gadis ini, kau ternyata?! Kenapa dunia sempit sekali, sampai kau juga mengantarkan cucuku kemari? Ngomong-ngomong, terimakasih sudah mengantarnya!" Ucap pemilik kios dengan senyum lebar, ia menghampiri Siska dengan senang.
"Ah, bos, haha. Aku juga tidak menyangka jika kakek yang dia maksud adalah kau." Ucap Siska tertawa canggung.
"Aku kan sudah bilang dulu, aku ada satu orang anak, dia duda, haha. Apa aku bilang dulu dia tidak punya anak? Sebetulnya ibunya mengirimkan kembali anaknya kemari. Jadi beginilah, sudah satu bulan dia disini, hahaha." Ucap pemilik kios seraya mengibaskan tangannya.
"Ah begitu, ya," Ucap Siska mengangguk paham. Hak asuh anaknya jatuh pada ibunya. Jadi anak laki-lakinya terbilang duda tanpa anak begitu.
"Benar, apa kau tertarik menjadi Ibu sambung Zen?" Tanya pemilik kios, bercanda.
"T-tidak, astaga bos, kau ini. Aku masih ada urusan, aku pergi dulu, oke. Zen, kami pulang dulu, sampai jumpa besok ya!" Ucap Siska dengan terburu-buru pergi meninggalkan kios tersebut. Meninggalkan Zen yang melambai senang dan pemilik kios yang terbahak melihat respon Siska.
*
*