Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Keberhasilan Negosiasi dan Emosi Tertahan Ergan


*


*


Bu Wasilah kemudian melihati Siska yang langsung membuka kotak di depannya, terlihat ada dua botol minuman dengan bulir yang tidak diketahui dirinya apa itu. Beserta es batu yang mulai mencair di dalam kotak, ia tebak, agar minuman di dalam kotak tetap dalam keadaan dingin.


"Sengaja aku bawa dalam keadaan seperti ini, agar minumannya tetap dingin, karena minuman ini lebih enak diminum dalam keadaan dingin." Ucap Siska seraya tersenyum, kemudian mengangkat dua botol tersebut dan menyimpannya di atas meja, di tengah-tengah. Sedangkan kotak yang dipakai, Siska simpan di space lain, agar tidak menghalangi.


"Kenapa ada dua botol?" Tanya Wasilah dengan penasaran, karena sesungguhnya Siska hanya menjanjikan satu jenis minuman. Tapi kini ia membawa dua, memang terlihat sama, tapi warnanya jelas berbeda. Yang satu lebih pekat warnanya.


"Ah, sebelum itu, izinkan aku memperkenalkan produknya dulu. Minuman ini bisa disebut Cappuccino Cincau. Kenapa demikian karena bahan dasar utamanya adalah kopi dan cincau. Bisa disingkat menjadi Capcin, agar lebih pendek dan ringan di sebut." Ucap Siska.


"Jadi bulir yang ada di dalam botol itu cincau? Dan air dengan warna mocca ini kopi?" Tanya Wasilah memperjelas. "Lalu kenapa botol yang satu warna airnya terlihat berbeda? Terlihat lebih pekat?" Lanjutnya bertanya.


"Oh, satu botol ini aku ganti bahan dasar utamanya menjadi coklat. Aku mempertimbangkan beberapa orang yang menderita penyakit lambung, tentu mereka tidak bisa meminum kopi, bukan? Jadi aku membuat variasi yang ramah akan orang yang punya penyakit lambung. Jadilah seperti ini, meski bahannya beda, tapi tetap saja kita sebut Cappuccino Cincau." Ucap Siska, menjelaskan dengan telaten. Ia bahkan sempat memutar botol ke atas dan ke bawah sekali, jadi cincaunya terlihat berguliran.


"Ah, bagus, bagu, idemu ini hebat sekali. Tapi, aku masih harus mencobanya. Kau tahu sendiri pembukaan bulan depan menyangkut beberapa tamu penting, selain daganganmu yang harus dikemas menjadi cantik, minuman ini juga harus sesuai selera." Ucap Wasilah seraya tersenyum.


"Eum! Tentu, silahkan coba dulu saja." Balas Siska kemudian mempersilahkan Wasilah mencoba Cappuccino Cincau yang dibawanya. Yang langsung diambil Wasilah dan mencobanya satu persatu langsung dari botolnya.


Begitu mencoba, mata wasilah melebar, ua menatap Siska dengan terkejut.


"Apakah enak?" Tanya Siska, sedikit ragu, tapi ia cukup percaya diri dengan rasanya, hanya saja untuk kalangan atas itu menjadi berkurang, karena biasanya mereka minum minuman bermerk sejenis kopi internasional asal Amerika, yang berlogo wanita rambut panjang dengan mahkota, berwarna hijau.


"Kau luar biasa! Ini enak! Aku pilih ini, dan juga coklat ini, buat saja keduanya. Jadi nanti para tamu bisa memilih varian sendiri." Ucap Wasilah bersemangat.


"Benarkah? Kalau begitu, kita sepakat? Ayo tandatangani perjanjiannya. Apa Bu Wasilah sudah membawanya?" Tanya Siska jadi ikut antusias. "Tapi, Bu, untuk biaya, akan ada tambahan, karena botol minumannya cukup mahal. Juga, pengemasan untuk cireng dan cirambaynya, karena memakai kotak buatan sendiri, modalnyapun lebih besar. Aku minta maaf, aku tidak mempertimbangkan hal-hal ini sebelumnya, jadi mendadak menambah biaya, tidak sesuai perjanjian di awal." Lanjut Siska, ia menatap Wasilah dengan tatapan ragu.


Sebetulnya tidak berharap banyak juga, tapi ia mencoba peruntungan, karena ini merupakan usaha borongan pertamanya. Ia begitu teledor tidak memperhatikan harga barang-barang tersebut di awal, dan hanya meminta 20 juta untuknya.


Tapi, yah, kalaupun Wasilah menolak nanti, Siska cukup tahu diri. Tidak mungkin juga Wasilah bisa langsung setuju, terlebih keduanya sudah sepakat soal harga sejak awal. Jadi, bisa saja ia juga mengeluarkan sedikit modal tambahan, anggap saja untuk mempromosikan minuman yang akan diluncurkan ini. Siska cukup yakin, pasti akan ada beberapa orang besar yang meminta dikirimkan produknya.


"Oh itu, tenang saja! Apa aku kemarin sudah bilang padamu jika uang 20 juta ini hanya uang muka saja?" Tanya Wasilah tersenyum. Ia mengerti, ia juga pebisnis, melihat peluang bisnis Siska yang menjanjikan, tentu saja dirinya tidak akan menipunya dengan uang kecil begini, Terlebih, melihat minuman ini, dirinya jadi punya satu ide untuk beberapa cabang market miliknya di berbagai kota.


"Jadi maksudmu 20 juta ini uang muka, dan masih akan ada uang untuk pelunasannya?" Tanya Siska, meski semangat, ia tetap bersikap tenang di depan Wasilah.


"Ya, tapi dengan satu syarat." Balas Wasilah.


"Apa itu?" Tanya Siska.


Siska tersenyum senang begitu mendengarnya, Wasilah ingin dirinya men-supply cappuccino cincau dalam botol ke setiap market miliknya. Betapa beruntungnya dirinya, selain dapat keuntungan, dia juga dapat rekan kerjasama jangka panjang.


"Tenang, untuk setiap supply, aku akan membayat sesuai harga, tapi karena aku membeli banyak setiap bulannya, ongkos pengiriman kau yang tanggung, bagaimana?" Tanya Wasilah kembali bernegosiasi.


"Baik, begitu saja. Untuk harga perbotol, ah begini saja, aku akan mengepaknya dalam kardus, jadi nanti bisa dihitung per kerdusnua saja. Untuk harganya, nanti aku kabarkan lagi saja. Harus menghitung bahan dan lain-lainnya dulu. Bagaimana?" Tanya Siska balik.


Keduanya teru mengobrol, bernegosiasi satu sama lain, sampai mencapai kesepakatan akhir dan menandatangani perjanjiannya. Uang muka 20 juta juga langsung disodorkan pada Siska, sedangkan 30 juta sisanya akan diberikan bulan depan, begitu semua barang telah ada.


Meninggalkan Siska dan Wasilah, kita beralih pada Ergan dan Uqi serta Uni yang berada di meja lain di restoran Adamas ini. Posisi meja keduanya lumayan jauh, jadi keduanya tidak bisa melihat kegiatan satu sama lain.


Terlebih Ergan, yang sebetulnya merasa penasaran dengan pembicaraan dua wanita. Tapi, apa daya, ia tidak bisa meninggalkan dua keponakannya yang masih kecil begitu saja. Jadi ia hanya bisa duduk menemani keduanya, perekaman video untuk konten juga sudah diselesaikan, Ergan pun hanya menemani Uqi dan Uni makan, seraya sesekali bercanda ria.


Tapi kesenangan ketiganya tidak bertahan lama, sampai ayah dari kedua keponakannya tiba-tiba saja datang dan mengacaukannya. Aldo datang denga wanita yang waktu itu ada di rumahnya.


Ergan menatap datar Aldo yang menyapanya dengan akrab, Uqi menatap Aldo dengan enggan, ia benci Ayahnya, dan Uni yang paling kasihan, ia ketakutan dengan kedatangan Aldo, mengingat dirinya pernah melihatnya memukuli ibunya sampai kepalanya berdarah.


"Kalian makan enak tapi tidak mengajak aku, ayahmu?" Tanya Aldo pada kedua anak kecil di samping Ergan. Untung saja Uni berada di tengh-tengah antara Ergan dan Uqi, jadi ia bisa menyembunyikan dirinya pada pamannya.


"Ada urusan denganmu?" Tanya Ergan tajam. "Sepertinya tidak, kan? Bukankah kau sudah membuang kakak dan keponakanku?" Sindirnya, mengingatkan Aldo.


Aldo tidak punya malu, masih berani mendatangi padahal sebelumnya sudah membuang. Tapi Aldo sendiri sebetulnya enggan, hanya saja wanitanya melihat Siska dan anak-anaknya masuk ke restoran mewah ini, tentu saja ia iri dan menyuruh Aldo mengikutinya, untuk kemudian numpang makan dengan mereka.


Aldo sebetulnya sudah menolak mebtah-mentah ide ini, tapi apa boleh buat, wanitanya sangat keras kepala, dan mengancam meninggalkannya. Tentu saja ia kalah telak. Apalagi, wanitanya merupakan anak dari kepala desa dengan kekayaan yang lumayan.


"Aku hanya ingin menyapa anakku saja, kebetulan bertemu disini, jadi kenapa kita tidak makan bersama saja, kan? Aku juga merindukan mereka berdua." Ucap Aldo, yang kemudian duduk di meja tersebut, di kursi kosong yang kebetulan ada dua, wanita Aldo tentu langsung mengikuti Aldo, duduk dengan senyum lebar.


"Disana masih banyak meja kosong, silahkan pindah ke meja lain." Ucap Ergan datar.


"Aiyoo, kita saling mengenal, kenapa begitu sungkan? Duduk bersama juga akan membuat suasana semakin ramai kan? Lagipula disini juga masih kosong." Ucap Aldo, ia berani, terlebih Siska tidak ada disini. Entah kemana perginya, ia tidak terlalu peduli.


Ergan menggeetakkan giginya, menahan emosi. Ia tidak bisa semena-mena ditempat kelas atas begini, ia tidak bisa mempermalukan kakaknya. Terlebih, sebetulnya dirinya juga harus menjaga dua keponakannya yang masih polos. Ia harus melakukan sesuatu dengan penuh pertimbangan mulai sekarang.


*


*