
*
*
Siska menyandarkan kepalanya pada Darren, begitupula Darren menyandarkan kepalanya pada kepala Siska. Keduanya masih di ayunan di halaman depan rumah. Dan Sudah satu jam berlalu sejak keduanya pindah kesana.
"Terimakasih, Darren." Ucap Siska tiba-tiba, setelah 3 menit keheningan terjadi di antara keduanya.
"Tidak, aku yang terimakasih. Terimakasih karena suda sembuh dan kembali sehat." Balas Darren membuat Siska tersenyum dalam diamnya.
Keduanya kembali diam. Memejamkan mata, menikmati semilir angin yang menerpa wajah. Sangat sejuk dan menenangkan.
"Darren? Sepertinya, besok aku pulang. Aku akan menyerahkan pekerjaan disini pada Kakak pertama. Dan untuk renovasi rumah-rumah yang kubeli, sebelumnya kita juga sudah membicarakannya. Aku serahkan padamu, dan kirimkan saja tagihan biayanya." Ucap Siska.
Pulang.
Dia butuh kembali ke rumah. Sakit yang dialaminya kemarin adalah salah satu hal yang membuat Siska ingin kembali. Sendirian itu sangat tidak enak. Meski ada Sahni dan Bu Arum, tetap saja mereka masih tahap orang baru dihidupnya.
Siska tidak pernah jauh dari keluarganya selama ini. Mungkin itu juga hal yang menyebabkannya menyibukkan diri sampai lupa istirahat dan mengisi perut.
Sebelumnya ada Uni, ada Darren, tapi Minggu kemarin ia benar-benar sendirian. Sangat sepi. Apalagi sejak kelahirannya Kembali. Keinginannya sangat kuat, yakni hidup bahagia dengan keluarganya. Adapun Darren, adalah suatu takdir yang datang tiba-tiba, yang menambah kesenangan dihidupnya.
"Meski aku enggan melepasmu pulang, tapi aku tahu aku akan sangat sibuk dalam 3 bulan ini. Jadi, aku akan membiarkanmu pulang. Sisanya, serahkan padaku saja." Balas Darren.
Siska kemudian menganggukkan kepalanya. Ia mengangkat kepala yang disenderkannya, dan menatap Darren. "Kenapa aku baru sadar, jika kau terlihat tampan, sih?" Celetuk Siska tiba-tiba, dengan senyum genit.
Darren menatapnya heran. "Ada apa denganmu?" Tanyanya, seraya menebak maksud dari perkataannya yang sangat tiba-tiba.
"Aku hanya memujimu! Apa tidak senang?" Tanya Siska sewot, mendelikkan matanya.
"Hmm tentu saja senang. Memangnya siapa yang tidak suka dipuji, terlebih oleh orang spesial dihidupnya? Hanya saja, pujian yang keluar dari mulutmu terdengar mengandung tujuan tertentu. Apa aku salah?" Tanya Darren, dengan tatapan memicing, menyelidik raut Siska.
Siska kemudian terbahak. "Kau memang paling tahu diriku!" Serunya senang. "Aku ingat aku belum membayar uang rumah pada manajer agen. Nanti bantu aku bayarkan, apa boleh? Aku akan menyuruh kakak pertama untuk mentransferkan uangnya nanti." Lanjut Siska dengan mata menyipit.
Tujuan Tertentu. Darren menebaknya dengan benar. Lihat wajah merayunya tersebut. Darren hanya bisa menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Kemudian membalas senyumnya, sama-sama menyipit.
"Baik, serahkan padaku." Balas Darren akhirnya. Kemudian menyentil dahi Siska.
Nakal. Kebiasaan memujinya ini selalu ditambah dengan niat terselubung. Siska sangat, amat, jarang sekali memuji orang. Jadi, jika ia mulai memuji, waspadalah. Ia sedang menginginkan sesuatu darimu.
"Ada lagi?" Tanya Darren tersenyum lembut. Menatap Siska yang sedang mengusapi keningnya dengan bibir maju, cemberut.
Siska menggelengkan kepalanya, merajuk. "Hanyasaj, jangan menyentil dahiku! Itu sakit." Gerutunya.
"Siska?" Panggil Darren.
"Apa?!" Tanya Siska sewot.
"Aku minta bayaran, atas tugas-tugasmu." Balas Darren masih dengan senyum.
"Perhitungan denganku?! Ah baik! Tidak jadi saja, nanti biar aku yang mengerj---hmmp!" Siska membelalakkan matanya. Ucapan sewotnya terpotong, kala Darren menciumnya.
Darren melepaskan ciumannya sekejap, "Balas aku dengan ini." Ucapnya berbisik, kemudian kembali mencium Siska dalam-dalam.
"EKHEM!"
Siska terkejut, dan mendorong Darren dengan refleks.
DUGH!
"Asshh." Ringis Darren dengan mata terpejam, dan kedua tangan yang memegangi belakang kepalanya.
"Ah! Kau baik-baik saja?" Tanya Siska seraya mendekati Darren yang tertunduk dengan kepala berdenyut. Ia menahan rasa sakit kepalanya.
Siska langsung memegang kepala Darren dan melihat kondisi kepalanya. Ikut meringis juga, karena suara yang dihasilkan oleh benturan terdengar sangat keras.
Siska kemudian beralih menatap Ayahnya. "Bapak! Lihat, apa yang bapak lakukan." Ucap Siska.
"Menyalahkan Bapak? Bukankah kau yang mendorong Darren?" Tanya Suherman, tidak mau disalahkan.
"I-itu kan karena Bapak mengejutkan aku!" Ucap Siska sedikit memekik.
"Yasudah, artinya salahmu." Balas Suherman. "Oh ya, jangan sembarangan, lihat situasi, lihat, di sana ada orang yang menonton juga masih tidak sadar! Haih, anak muda!" Ucap Suherman, seraya berlalu meninggalkan teras depan rumah. Kembali masuk setelah berhasil mengganggu kedua sejoli yang sedang kasmaran.
Siska kemudian melihat ke arah yang ditunjuk oleh Suherman. Ada Sahni, Haris, Satria, juga Chika. Keempatnya langsung mengangkat tangan dan menyapa Siska yang menatap. Seketika, Siska merasa wajahnya memanas, pipinya memerah langsung.
"Darren!" Geram Siska, malu sekali. "Rasakan itu, rasakan! Kau menyebalkan! Tidak tahu situasi!" Pekik Siska kemudian pergi, berlari meninggalkan ayunan dan Darren yang masih kesakitan.
Darren yang ditinggalkan, ingin menghentikan Siska tapi tidak. Ia menatap keempat orang di samping, dengan tajam dan raut suram. Menunjuk keempatnya, memperingati keempatnya hanya dengan tatapan dan gerakan.
Keempatnya meneguk ludah dengan takut-takut.
"Apa kita akan selamat?" Tanya Haris.
"Tidak, tunggu di kantor, bosmu akan membuat kita lembur nanti." Balas Sahni.
"Aku tidak akan, bukan?" Tanya Satria.
"Entahlah, bos, mungkin kita juga akan terkena imbasnya?" Tanya Chika, berbalik bertanya pada Satria.
Keempatnya kemudian menghela nafas bersamaan. Apa salah mereka sebenarnya? Itu bahkan ketidak sengajaan melihat dan mengganggu hal yang keduanya lakukan. Lagipula ini bukankah masih tengah hari? Lalu keduanya yang bermesraan di luar kan?
Jadi, kenapa pula keempatnya yang salah disini? Padahal mereka hanya datang atas urusan pekerjaan. Dan sekalian menjenguk. Tapi, malah terkena imbas semuanya.
"Bukankah sangat tidak etis menyalahkan kita?" Tanya Satria.
"Memang, tapi Darren lain dari pada yang lain." Balas Haris.
"Kunjungan malah berujung petaka." Gumam Chika lirih.
"Kita berkunjung di waktu yang salah." Timpal Sahni.
"Apa maksudmu? Siapa yang tahu mereka akan melakukannya di ruang terbuka begini, kan?" Ucap Haris.
"Kau yang paling tahu, bos, mu!" Desis Sahni seraya memukul lengan Haris. Nada suaranya sewot dan kesal.
"Tidak perlu memukulku!" Ucap Haris, seraya melebarkan matanya.
"Memangnya kenapa? Aku ingin, memukul, ya tinggal pukul! pukul! pukul!" Ucap Sahni, seraya terus memukuli Haris yang beralih meringis dan menahan pukulan istrinya.
Sahni baru selesai bekerja dua kali lipat akhir-akhir ini, juga sedang dalam masa periodnya, dan Haris baru saja kembali dari luar negeri. Keduanya memiliki emosi yang tinggi saat ini karena rasa lelah.
"Jangan bertengkar! Astaga!" Seru Satria.
"Kenapa jadi kalian berdua para kakak yang bertengkar?" Tanya Chika meringis.
*
*